
Pagi yang tampaknya tidak terlalu cerah dengan langit berwarna abu-abu, dan juga diwarnai dengan kondisi serta situasi yang masih darurat. Garwig hendak menggerakkan personelnya guna melakukan rencana awalnya. Beberapa personel telah ia tempatkan di beberapa titik tertentu di ketiga wilayah yakni Shandy Shell, Paletown, termasuk juga di beberapa sudut Kota Metro.
Tak hanya personel militer saja, namun dari pihak kepolisian juga turun mengambil peran dalam aksi penanganan yang sesaat lagi akan dilaksanakan ini.
Sedikit berbeda dengan rencana yang dimiliki oleh Garwig. Prawira lebih memfokuskan aparatnya untuk menyusuri setiap distrik kota guna memantau sekaligus melakukan penyergapan terhadap orang-orang Clone Nostra yang berkeliaran di jalanan kota.
"Dua unit helikopter sudah mengudara seperti yang kau inginkan," ucap Prawira berjalan menghampiri Garwig.
Saat ini mereka berdua sedang berada di tengah taman kota yang amat luas. Di taman itulah mereka berdua menjadikan tempat sementara untuk markas personel gabungan. Selain tempatnya yang sangat strategis berada di tengah kota. Tempat itu juga memiliki lahan yang amat luas dan sangat cocok bila dijadikan kamp atau markas sementara. Di sisi lain karena situasi kota yang sangat darurat ini, taman itu benar-benar kosong tanpa adanya aktivitas dari warga sipil.
"Di mana helikopter-helikopter itu sekarang berada?" sahut Garwig bertanya.
"Keduanya saat ini sedang berada di udara Kota Metro, tepatnya di distrik barat dan pusat," jawab Prawira.
"Bagus, tetap kuasai wilayah udara kota dan sebisa mungkin jangan sampai disadari oleh pihak musuh!" ucap Garwig tegas.
"Namun bagaimana dengan Shandy Shell dan Paletown? Bukankah kita juga harus melakukan tindakan untuk kedua wilayah itu juga?" tanya Prawira.
Garwig melangkah dan mendekati sebuah kolam ikan yang cukup besar di tengah taman itu. Ia berdiri tepat di pinggir kolam sembari melihat pantulan langit berwarna abu-abu itu, sebelum kemudian berkata, "jangan terburu-buru, Prawira."
"Menurut laporan, ada banyak warga sipil juga yang ditawan oleh mereka di beberapa tempat di sana," lanjut Garwig sebelum kemudian membalikkan badannya, menatap dengan wajah serius ke arah Prawira sembari berbicara, "kita juga harus mewaspadai rencana perlawanan mereka."
Di tengah perbincangan antara kedua orang penting itu. Tiba-tiba saja seorang aparat pria dengan baju militer berlari menghampiri Garwig dan berkata, "izin melaporkan laporan terbaru, Pak, bahwa mereka telah melakukan pergerakan di wilayah Paletown secara tiba-tiba."
"Maksudnya?" sahut Garwig mengerutkan keningnya.
"Wilayah Paletown perlahan ditinggalkan oleh orang-orang berbaju putih itu, dan wilayah Shandy Shell perlahan diperkuat oleh mereka," jawab aparat itu.
Setelah menerima laporan tersebut, aparat itu kemudian beranjak pergi dari sana dengan izin dari Garwig. Prawira terlihat cukup terkejut mendengar laporan serta kabar itu. Dalam benaknya bertanya-tanya, "dari manakah Clone Nostra tahu soal rencana Garwig?"
Namun berbeda dengan Garwig sendiri yang sepertinya sudah menduga akan hal itu. Ia menghela napas dan berkata, "apa ku bilang, 'kan? Rencana perlawanan mereka sepertinya sudah mulai disusun," ucapnya kepada Prawira.
"Tetapi bagaimana bisa mereka tahu rencanamu?" sahut Prawira.
__ADS_1
Garwig langsung menjawab, "rencana klasik, menyerang sisi lemah lawan." Dirinya melangkah dan hendak berpapasan dengan Prawira yang berdiri diam di sana. Ketika hendak berpapasan, ia berhenti dan kemudian berkata, "siapapun orang-orang di balik Clone Nostra, aku yakin otak-otak mereka bukanlah otak penjahat biasa."
"Persiapkan pihak mu, Prawira. Karena aku yakin hari ini akan terjadi kontak senjata berskala besar," lanjut Garwig sebelum kemudian bergegas pergi menuju ke tenda persediaan.
***
"Semua pihak kita telah mundur dari wilayah Paletown, dan merapat ke area Shandy Shell. Bagaimana dengan beberapa tawanan yang kita tahan di Paletown? Apakah perlu kita terus membawa mereka?"
Tokyo mendapat laporan dari sosok tangan kanannya yaitu Farres yang menemui dirinya di halaman depan Gedung Balaikota. Ia pun menjawab pertanyaan Farres dengan berkata, "tinggalkan saja mereka, atau lakukan sesuka kalian terhadap mereka. Terserah kalian mau apain mereka," jawabnya dengan sangat enteng ketika mengatakannya.
"Bagaimana dengan Cassano dan Red Rascals? Dan juga bagaimana dengan seluruh personel kita?" tanya Tokyo ketika melangkah berjalan menuju ke sebuah pagar pembatas di tepi halaman, dan dengan santainya bersandar di sana.
"Cassano dan Red Rascals telah siap di Distrik Timur dan Distrik Barat. Sedangkan personel kita, mereka selalu siap kapanpun perintah yang akan kau katakan, bos." Farres langsung menjawab tanpa berbasa-basi.
Tokyo mengangguk-angguk dan tersenyum tipis mendengar laporan kalau seluruh pihaknya telah siap. Sedangkan Farres, dirinya tampaknya memiliki suatu laporan yang hendak ia sampaikan kepada Tokyo.
"Oh ya, aku ingin melaporkan suatu hal yang mungkin saja penting," ucap Farres yang lalu mendapat tanggapan Tokyo yang langsung ingin dengar apa laporannya, "apa hal itu?"
"Kami menangkap visual dari helikopter polisi yang terlihat mengudara di Distrik Timur. Apakah kau menginginkan kami melakukan tindakan terhadap helikopter itu?" kata Farres dengan tatapan seolah menginginkan sesuatu dari Tokyo.
"Lakukan tugasmu, dan tunjukkan keahlianmu! Buat helikopter itu kebingungan," titah Tokyo.
Farres menyeringai senang mendengar serta menerima perintah tersebut. Ia menundukkan kepalanya dan kemudian segera beranjak dari sana guna melaksanakan perintah dari Tokyo.
***
Pukul 06:00 pagi, Rumah Sakit Pusat.
Nadia membuka matanya perlahan dan terbangun dari tidurnya yang sebentar. Dirinya benar-benar merasa tidak nyaman, dan rasanya ingin segera pulang. Tidak ada tempat yang lebih nyaman daripada rumah sendiri, itulah yang saat ini sedang dirasakan oleh calon ibu muda itu.
"Berlin di mana, ya ...?" gumamnya, kedua matanya memindai seluruh ruangan dan tidak mendapati sosok yang diinginkannya.
Di saat yang bersamaan, tiba-tiba saja ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja kecil tepat di sebelah ranjang bergetar menandakan adanya panggilan masuk. Nadia pun perlahan beranjak duduk dengan kaki bergelantungan di tepi brankar, dan meraih ponsel tersebut serta membaca sebuah nama yakin 'Bunda Helena' pada kontak yang menelepon dirinya.
__ADS_1
Tanpa basa-basi, Nadia menerima dan menjawab panggilan suara itu, "halo, Bunda?"
"Nad ... Maaf mengg ... anggu, tetapi ... ka--"
Suara milik Helena terputus-putus dan tidak dapat terdengar dengan jelas. "Bunda, suaramu putus-putus," ucap Nadia, namun sepertinya Helena tidak mendengar hal tersebut.
"Kami ... sangat membutu-- bantuanmu," ucap Helena pada panggilan suara itu. Terdengar wanita paruh baya itu berusaha untuk berbicara sekuat-kuatnya agar dapat didengar dan dipahami oleh Nadia.
Nadia diam dan mencoba untuk memahami setiap kata yang keluar dari mulut Helena melalui panggilan suara tersebut meskipun terputus-putus.
"Bantuan bagaimana? Apa yang terjadi?!" sahut Nadia, yang kini sepertinya cukup didengar oleh Helena.
"Clon-- Nostra, mereka ... ad-- di sin--"
"Kami ... terjeb-- di pant-- asuhan, dan tid--ak bisa ... pergi ke zon-- am---"
Tutt ... Tutt ... Tutt ...!!!
Panggilan suara itu tiba-tiba saja terputus oleh sinyal yang sangat buruk dari Helena. Setelah mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Helena, walaupun dia mengatakannya dengan terputus-putus dan terbata-bata. Namun Nadia cukup menangkap dan memahami apa maksud dari perkataan Helena.
DEG.
"Clone Nostra? Ternyata mereka masih berada di panti asuhan?!"
Seperti terkena serangan dadakan yang berhasil membuatnya syok sekaligus lemas. Kini pikiran serta hati Nadia benar-benar tidak dapat tenang. Dalam benaknya terlintas soal beberapa pertanyaan mengenai keselamatan orang-orang panti asuhan.
Nyonya Helena, Alana, dan Akira, serta anak-anak dan beberapa pekerja panti asuhan. Bagaimana dengan keselamatan mereka? Dan apakah mereka akan baik-baik saja? Pertanyaan-pertanyaan itu menghantui benaknya, apalagi ketika dirinya memikirkan soal anak kecil bernama Akira itu.
"Mereka terjebak di sana, apa yang bisa aku lakukan ...?" gumam Nadia tertunduk, wajahnya kembali diwarnai dengan kekhawatiran serta kegelisahan yang cukup mendalam. Kedua tangannya mengatup di atas pahanya dan saling menggenggam satu sama lain. Di saat itu juga, tiba-tiba setetes air mata jatuh membasahi kedua tangannya.
"Ya Tuhan, kumohon lindungilah mereka ...!" batinnya dengan penuh harapan dalam hatinya.
.
__ADS_1
Bersambung.