
Di siang hari yang cerah ini, Berlin ditemani oleh istrinya terlihat tengah sibuk mengurus beberapa dokumen yang harus disiapkan. Mereka berdua menemui sosok Helena di panti asuhan, bersama dengan Akira yang tentunya ikut bersama keduanya. Berlin pun memberikan dokumen yang berisikan soal pengajuan adopsi atas anak perempuan bernama Akira.
Berlin sendiri terlihat cukup bingung, ketika duduk di sebuah sofa bersama dengan istrinya di dalam ruangan milik Helena. Melihat raut wajah sang suami yang terlihat bingung bercampur sedikit tegang, cukup untuk membuat Nadia yang duduk di samping pria itu tertawa-tawa kecil.
"Kamu kenapa ketawa? Ada yang salah, 'kah?" cetus Berlin, berbisik, bertanya.
Nadia tersenyum, "enggak, enggak ada yang salah, kok!" jawabnya, masih tersenyum-senyum dengan lirikan yang tak henti-hentinya melirik ke arah sang suami di sampingnya.
Tak berapa lama waktu berselang, Helena kembali dari meja kerjanya dengan membawa beberapa dokumen di tangannya, melangkah kembali menghampiri sepasang pasutri itu.
"Tenang saja, Berlin. Pengurusan dokumen untuk adopsi anak itu tidak rumit, kok." Helena tersenyum, melihat sosok Berlin yang terlihat cukup bingung itu.
Berlin tertawa, tersenyum, "mohon bantuannya, Nyonya Helena."
Helena mengangguk, tersenyum, dan berkata, "kalian hanya perlu menyiapkan dua puluh delapan dokumen yang akan diperlukan untuk pengajuan ke pengadilan."
"Dua puluh delapan ...?!" gumam Berlin, cukup terkejut mendengar hal tersebut.
"Serius?" timpal Nadia, yang tampaknya juga cukup terkejut.
"Iya, Nadia. Dahulu waktu Prawira mengadopsi dirimu, dia juga menyiapkan dokumen-dokumen itu," jawab Helena, ramah.
"Tetapi tenang saja, aku akan membantu kalian," lanjut wanita paruh baya itu dengan tersenyum ramah.
"Syukurlah, terima kasih." Berlin menghela napas sedikit lega, mendengar apa yang dikatakan oleh Helena.
"Papa, Mama! Kalian masih lama?" cetus Akira yang tiba-tiba saja berlari memasuki ruangan, diikuti oleh sosok Alana yang kini berdiri tepat di depan pintu ruangan.
Nadia menyambut kedatangan gadis kecil itu dengan sedikit memeluknya, menjawab, "sepertinya begitu, jadi kamu bisa main sama teman-teman kamu lebih lama."
__ADS_1
"Oh, begitu, ya? Yaudah, deh!" Akira tersenyum antusias, ia beranjak kembali menuju ke pintu keluar dengan berlari kecil sembari berteriak, "Akira main dahulu, ya!"
"Alana, titip sebentar, ya?" lanjut Nadia kepada Alana yang berdiri di depan pintu.
Alana tersenyum tulus dan menjawab, "jangan khawatir ...!" jawabnya, sebelum kemudian ia harus mengikuti langkah anak itu yang tak lama lagi bisa hilang dari pantauannya.
"Baik, saya akan buat catatan agar kalian tahu dokumen apa saja yang perlu disiapkan," cetus Helena, sesaat setelah anak itu pergi. Wanita paruh baya itu mengambil sebuah bolpoin dari dalam sakunya dan menyiapkan secarik kertas yang sudah ia bawa sedari tadi di atas meja.
***
Prawira masih berbincang banyak dengan Garwig di Gedung Balaikota. Banyak hal yang ia bahas dengan Garwig, salah satunya adalah pembicaraan tentang Carlos.
"Apakah kau memiliki rencana untuk Carlos?" tanya Prawira.
Pertanyaan tersebut membuat Garwig terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab, "entahlah, jujur saja aku masih bingung."
"Di mana dia sekarang?" lanjut Garwig bertanya soal keberadaan Carlos.
"Sebenarnya ... aku memiliki satu pekerjaan penting untuknya, namun aku tidak yakin untuk menyerahkan serta mempercayakan pekerjaan itu padanya." Garwig berbicara lugas.
"Cukup sulit," timpal Prawira.
Prawira beranjak dari sofa, melangkah menuju pintu keluar ruangan sembari berkata, "mau ikut cari angin di atas?"
...
Garwig bersama dengan Prawira berjalan menaiki anak tangga yang belum selesai direnovasi seratus persen, namun sudah bisa dilalui. Mereka mencapai atap gedung, dan kemudian menjadi posisi untuk melanjutkan perbincangan mereka.
Meskipun di siang hari yang cukup cerah, namun hembusan angin di atas situ terasa cukup sejuk, karena memang letak atau lokasi dari Gedung Balaikota berada di puncak bukit kota.
__ADS_1
"Rencana ke depannya, aku ingin memberinya sebuah pekerjaan, namun aku tidak yakin Berlin akan memperbolehkan hal tersebut," ucap Prawira, melangkah menuju salah satu sudut, dan bersandar pada pagar beton pembatas di atap itu.
"Kurasa benar, Berlin akan melarangmu," sahut Garwig, ikut bersandar di pagar yang sama.
Prawira menghela napas, tersenyum dan berucap, "kita percayakan saja kepadanya," menoleh kepada Garwig dan kemudian melanjutkan kata-katanya, "aku percaya padanya," ucapnya, tatapannya serius atas apa yang dikatakan.
Setelah berbicara demikian, Prawira kembali memalingkan pandangannya, melihat ke arah pemandangan gedung-gedung perkotaan yang terlihat di kejauhan sana.
"Ngomong-ngomong, bagaimana soal Ashgard? Apa keputusan Berlin?" tanya Prawira, mengubah jalannya topik pembicaraan.
"Beberapa waktu lalu, Berlin telah mengirimkan jawabannya, dan dia mengambil keputusan untuk mengambil tawaran yang ku berikan," jawab Garwig, begitu tenang.
"Jika memang seperti itu, aku sungguh mempercayakan dirinya padamu, Garwig. Jangan kau kecewakan dia ...!" ucap Prawira tegas, seolah sedang memperingatkan Garwig.
"Aku sudah membuatnya hilang ingatan, membuatnya kehilangan hampir semua kenangan indah di masa kecilnya, melupakan keluarga berharganya, bahkan juga membuatnya lupa terhadap orang tuanya. Selain itu, aku juga bisa dibilang telah membuatnya menderita."
"Aku ingin menembus semua kesalahanku di masa lampau, dengan memberikannya kesempatan tersebut."
Garwig berbicara secara blak-blakan mengenai beberapa kesalahan yang sangat membuat dampak bagi kehidupan yang Berlin jalani. Pria itu kemudian menoleh, menatap serius Prawira yang berdiri di sebelahnya sembari berkata, "tenang saja, aku tidak ingin membuat kesalahan lagi pada dirinya."
Tanpa membalas tatapan tersebut, Prawira masih memandang ke arah gedung-gedung perkotaan. Ia tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Garwig padanya, itu cukup membuatnya tenang soal Berlin.
"Lalu, kira-kira kapan dia dapat aktif bekerja?" tanya Prawira, tanpa menoleh, hanya sedikit melirik kepada Garwig di sampingnya.
Garwig memalingkan pandangannya, menatap ke arah pemandangan yang sama dengan Prawira, sebelum kemudian menjawab, "aku akan memanggil dia di esok hari, hanya untuk sedikit berbincang mengenai pekerjanya."
"Aku belum bisa menentukan kapan dia dapat aktif bekerja, karena aku juga harus memperhatikan kondisinya. Aku tak bisa memaksanya," lanjut Garwig, kemudian menghela napas panjang.
.
__ADS_1
Bersambung.