Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Situasi Terambil Alih #244


__ADS_3

Sungguh pertemuan yang tidak diharapkan, tidak direncanakan, dan tidak diekspektasikan akan terjadi, namun terjadi di hari ini dan sore ini. Di bawah rintik hujan yang masih sama di Distrik Komersial. Clone Nostra dan Cassano saat ini berhadapan langsung dengan Berlin atau Ashgard. Seorang laki-laki bernama Clovis berdiri dengan tegap namun santai, menjadi perwakilan dari rekan-rekannya, dan berhadapan serta berbincang langsung dengan Berlin yang berdampingan dengan Carlos.


"Pemandangan yang tidak pernah ku duga, kalian berdua ternyata dapat berdampingan seperti ini," ucap Clovis, menatap tajam namun santai Berlin di hadapannya.


Nama serta sosok Berlin Gates Axel dan Carlos Gates Matrix sudah tidak asing lagi, terutama di kalangan para penjahat atau kriminal seperti Clovis dan rekan-rekannya. Mereka seakan menatap Berlin dan Carlos dengan tatapan tidak percaya bercampur dengan keheranan. Wajah-wajah mereka seolah bertanya-tanya, bagaimana bisa mereka berdua saling berdampingan bahkan terlihat sangat dekat sekali?


"Itu bukanlah urusan kalian," tanggapan singkat Berlin atas pernyataan yang dibuat oleh Clovis padanya.


Clovis hanya diam dan tersenyum tipis mendengar tanggapan tersebut, "ya, memang, sih. Kau benar," sahutnya.


Situasi kembali tenang dan sedikit canggung. Dari kedua belah pihak terdiam selama beberapa detik, sampai pada akhirnya Berlin memutuskan untuk melempar sebuah pertanyaan yang diperuntukkan kepada Clone Nostra dan Cassano.


"Lalu apa lagi yang kalian inginkan di sini? Apa urusan kalian? Dan apa keputusan kalian setelah ini?" tanya Berlin langsung kepada inti dari pembicaraan yang ia inginkan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut ia utarakan secara lugas dan tajam, sangat serius kepada Clovis di hadapannya.


"Urusan kami hanyalah dengan Red Rascals, bukan dengan kalian apalagi dengan persidangan yang sedang berlangsung. Jadi kalian tidak perlu khawatir." Clovis tanpa berbasa-basi banyak, ia langsung memberikan jawaban atas beberapa pertanyaan tersebut di hadapan Berlin.


"Dan kami menginginkan bagian dari hasil kami di lokasi ini, setelah itu kami akan pergi. Simpel, bukan?" lanjut Clovis, mengakhiri bicaranya.


Carlos sempat menoleh kepada Berlin ketika mendengar kalimat terakhir yang Clovis katakan, bagian mengenai 'hasil' tersebut. Tatapannya seolah sedang bertanya kepada Berlin, "apakah kau akan memberikan mereka kesempatan itu?" namun tanpa bersuara, hanya bertanya dan berbicara di dalam hati.


Berlin terkekeh kecil, mengangguk dan kemudian berkata, "simpel sekali," ucapnya kemudian menoleh ke arah sekitar dan kembali berkata, "baiklah, jasad serta barang-barang mereka yang ada di belakang kalian, itu adalah milik kalian. Sebaliknya, yang ada di belakang kami adalah milik kami."

__ADS_1


Clovis mengangguk menanggapi kesepakatan yang dibuat itu dengan berkata, "baik, aku terima kesepakatan itu."


"Namun ada satu hal yang tidak bisa ku jamin untuk kalian, yaitu aku tidak bisa berbuat apa-apa jika aparat mulai berdatangan dan menindak kalian semua. Jadi semuanya tergantung pada kemampuan dan kelincahan kalian," ucap Berlin dengan sesaat setelah Clovis selesai menanggapi kesepakatan yang ia berikan dan setuju terhadap kesepakatan tersebut.


Clovis hanya mengangguk paham dengan apa yang dikatakan oleh Berlin. Melihat sikap serta tanggapan yang ditunjukkan oleh Clovis, cukup membuat Berlin merasa keheranan karena sikap laki-laki itu sungguh berbeda sekali jika dibandingkan dengan sosok ketua dari Clone Nostra sebenarnya yakni Tokyo El Claunius.


"Lalu tunggu apa lagi? Waktu kalian tidak banyak, 'kan?" cetus Berlin.


Clovis pun segera menggerakkan rekan-rekannya, dan perlahan mulai beranjak pergi dari hadapan Berlin. Namun sebelum ia benar-benar meninggalkan tempat tersebut. Clovis sempat menatap serius Berlin serta Carlos dan berkata, "senang bisa melihat kalian," ucapnya kemudian beranjak pergi dari lokasi tersebut.


"Aneh," gumam Carlos heran melihat sikap Clovis yang bisa dibilang baik.


"Berlin, memangnya kau tidak tertarik untuk meringkus mereka tadi? Apalagi Clone Nostra dan Cassano juga terlibat dengan tindakan yang dilakukan oleh Tokyo, bukan?" tanya Carlos, berjalan bersampingan dengan Berlin kembali ke mobil.


"Tugas pada kontrak yang diberikan kepada kita adalah menjaga serta menangani jika terjadi suatu indikasi penyerangan terhadap persidangan, dan Clone Nostra serta Cassano tidak melakukan indikasi tersebut, hanya Red Rascals saja." Berlin menjawab pertanyaan tersebut ketika sudah sampai di mobil yang terparkir tak jauh dari lokasi pertemuan sebelumnya.


Ketika sudah berada di dalam mobil, Berlin lanjut berkata, "lagipula urusan menangkap atau meringkus mereka itu bukan tugas kita tetapi tugas polisi."


Carlos terkekeh dan kemudian menambahkan, "biar polisi pada bekerja, ya ...!" celetuknya bergurau dan kemudian tertawa dengan sendirinya.


Berlin juga ikut tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh saudaranya, "ku sarankan jangan berkata seperti itu di depan Prawira," ucapnya. Carlos masih terkekeh kecil dalam waktu beberapa detik kemudian, sembari ia menyalakan mesin mobil tersebut.

__ADS_1


"Tujuan kita mau ke mana?" tanya Carlos setelah mesin mobil menyala.


"Titik kumpul," jawab Berlin kemudian mengambil ponsel miliknya dari dalam saku.


***


Seorang laki-laki berjaket merah terlihat tengah mengendarai sebuah mobil sedan berwarna hitam bersama dengan seorang rekan wanita yang juga mengenakan jaket dengan warna yang sama dengan dirinya. Laki-laki itu rupanya adalah Felix, ia berkendara menjauh dari distrik dan pusat kota, dan dengan tujuan yang tidak dapat dipastikan.


Mobil tersebut melaju santai, kencang namun juga tidak terlalu kencang, melalui jalanan bebas hambatan yang ada di tepian kota, dan semakin keluar dari perbatasan Kota Metro. Hanya berdua, dan satu mobil itu saja ketika melaju. Kondisi lalu lintas tidak terlalu ramai, apalagi dalam kondisi hujan yang membuat jalanan bisa licin dan membahayakan.


"Aku tahu mengendalikan amarah itu memang sangatlah sulit, namun apa yang kau lakukan ini sangatlah bijak, Felix." Wanita itu berbicara kepada Felix yang sedang menyetir tanpa bersuara, hanya diam saja sepanjang perjalanan.


Namun dalam diamnya, Felix sebenarnya sedang sangat kacau. Dalam benak dan pikirannya tak karuan, memikirkan berbagai rencana, apalagi langkah dari kelompoknya berhasil dihentikan hanya dengan Ashgard, bukan aparat. Tentu hal itu sangat membuat Felix sakit hati ketika harus menerima kenyataan bahwa Red Rascals berhasil dikalahkan di Distrik Komersial.


"Hubungi relasi kita yang ada di luar negeri ...! Kita akan membutuhkannya," ucap Felix memecah keheningan yang sepanjang jalan ia ciptakan dengan tanpa berbicara.


"Baik," jawab rekan wanitanya.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2