
Di sebuah rumah yang cukup mewah dan modern, dengan keamanan yang tinggi tentunya. Garwig tampak sedang bersiap untuk segera berangkat bekerja. Di rumah tersebut dirinya tidak sendiri, banyak pelayan dan juga penjaga yang ikut menempati rumahnya itu.
"Permisi, Komandan. Ada surat yang datang siang ini untuk anda," ucap seorang penjaga dengan pakaian santai berjalan menghampiri Garwig yang saat itu berada di teras. Ia memberikan sebuah lampiran yang dimaksud dengan surat itu.
"Surat?" Garwig pun menerima surat yang diberikan. Ia membuka lampiran kertas itu, dan membaca isinya. Ternyata itu bukanlah surat yang berisikan sebuah pesan. Melainkan berisikan sebuah laporan mengenai kasus-kasus perampokan yang telah terselesaikan.
Garwig merasa senang mendapatkan kabar baik dan angin segar melalui laporan yang ia terima. Pada akhir atau penghujung laporan, terdapat nama sang pengirim yang ternyata adalah Prawira. Dan di bawah nama pengirim, Prawira juga menuliskan kalau kasus-kasus itu selesai berkat campur tangan Ashgard yang ikut menyelesaikannya.
"Seharusnya mereka tidak ikut campur dalam hal ini," gumam Garwig lalu mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
Ketika panggilannya terhubung. Garwig pun mempertanyakan, "Prawira, apakah kau meminta bantuan Ashgard untuk menyelesaikannya?" pertanyaan itu langsung tercetus kepada seseorang yang ia hubungi yaitu Prawira.
Prawira pun menjawab, "tidak, pak. Terakhir Berlin meminta beberapa informasi mengenai kasus-kasus perampokan kepada kami dengan alasan untuk menyelidiki keterkaitan Clone Nostra dengan semua kasus ini."
"Aku pun memberikannya, dan setelahnya ... kasus-kasus itu pun dapat terselesaikan, dan para pelaku yang belum tertangkap pun juga sudah diamankan."
"Aku sendiri tidak tahu apa yang dipikirkan oleh Berlin, tetapi yang jelas ... dia membantu kita," lanjut Prawira setelah memberikan sedikit penjelasan yang kemudian membuat Garwig sedikit mengerti.
"Baiklah, jika seperti itu kejelasannya. Yang jelas, aku sangat tidak menginginkan Ashgard ikut campur dalam masalah kepolisian! Aku hanya ... tidak ingin Berlin dan rekan-rekannya terbebani." Selesai Garwig berbicara, ia pun segera menutup panggilan suara tersebut.
.
~
.
Di sore menjelang malam harinya, Berlin tampak sibuk dengan beberapa dokumen pentingnya yang harus ia kerjakan di atas meja kerjanya. Dokumen-dokumen itu berisikan tentang informasi penting dan kasus-kasus mengenai Clone Nostra.
"Informasi segini saja masih belum cukup," gumam Berlin menggelengkan kepalanya. Ia menghela napas panjang, bersandar seraya memandangi sebuah foto dirinya dan Nadia yang ada di sudut meja tersebut.
"Rasanya aku ingin berlibur," gumamnya ketika memandangi foto tersebut.
Tok ... Tok ... Tok ...!
"Masuk!" pinta Berlin mempersilakan kepada seseorang yang telah mengetuk pintu ruangannya.
Orang yang mengetuk pintunya ternyata adalah Kimmy dan Asep. Mereka berdua pun masuk dengan membawa sebuah buku catatan kecil di tangan Kimmy.
"Bos, catatan brankas mingguan," ucap Kimmy memberikan buku catatan miliknya kepada Berlin.
__ADS_1
Apa yang dilakukan oleh Kimmy sudah menjadi kewajibannya di setiap minggu. Dirinya harus memberikan catatan itu berdasarkan isi brankas Ashgard.
"Asep, ada perlu apa?" tanya Berlin karena dirinya melihat kehadiran Asep di ruangannya.
"Oh, aku ingin menunjukkan ini padamu," sahut Asep lalu memberikan sebuah foto pada ponselnya kepada Berlin. Ia meletakkan ponsel miliknya di atas meja kerja Berlin, dan membiarkan Berlin melihatnya.
Berlin pun melihat sebuah foto yang ditunjukkan, bahkan terdapat rekaman gambar juga. Pada foto dan rekaman gambar tersebut menampilkan beberapa orang dengan pakaian rapi serba putih tampak melakukan transaksi di sebuah tempat yang sangat tertutup dengan orang-orang berjaket serba merah.
"Dari mana kau dapat ini?" tanya Berlin menatap tajam Asep yang berdiri di hadapannya.
"Dari Kent yang kebetulan merekam serta menyaksikan langsung transaksi itu," jawab Asep.
"Tak hanya Kent, tetapi juga ada Sasha dan Rony di sana yang juga melihatnya," sambung Kimmy yang ternyata juga mengetahui soal itu.
"Panggil tiga orang itu!" pinta Berlin kepada dua rekannya.
"Ba-baik."
Kimmy dan Asep pun memanggil ketiga orang yang dimaksud untuk menghadap Berlin dan menjelaskan semuanya. Berlin tidak ingin ada kesimpangsiuran dalam mendalami informasi mengenai Clone Nostra.
Ketika ketiga rekan yang dimaksud datang. Mereka pun memberikan kesaksian yang ada pada rekaman gambar itu kepada Berlin. Secara rinci dan berurutan, masing-masing dari mereka memberikan penjelasan dengan sangat jelas tanpa adanya kesalahan.
"Ya, apa yang kami lihat di sana itu nyata," sambung Sasha.
"Orang-orang Clone Nostra tampak melakukan sebuah transaksi itu, orang-orang berjaket serba merah itu memberikan sejumlah uang kepada orang-orang Clone Nostra itu." Rony ikut menimpali pembicaraan itu agar Berlin dapat merasa lebih percaya.
"Tetapi kami tidak tahu transaksi apa yang mereka lakukan di sana," ujar Kent.
Berlin mendengar semua itu. Tidak ada terlihat kebohongan, dan dirinya juga percaya dengan apa yang dikatakan oleh rekan-rekannya. "Lokasi?" tanyanya kemudian.
Kent dan kedua rekannya pun menjawab, "distrik selatan kota, atau wilayah industri."
"Apa?" sahut Kimmy terkejut.
"Apa orang-orang berjaket merah itu adalah pihak dari geng motor?" gumam Asep berpikir.
Berlin cukup terkejut dengan jawaban tersebut, lantaran kemarin dirinya habis dari tempat itu untuk bertemu dengan para geng motor itu. Rekan-rekannya tampak memiliki kecurigaan terhadap geng motor yang berada di balik orang-orang berjaket serba merah itu. Namun tidak dengan Berlin, dirinya justru tidak mencurigai geng motor.
"Tidak, jaket merah yang mereka kenakan bukanlah jaket geng motor, mereka kelompok yang berbeda dari geng motor," sela Berlin menatap tajam nan serius rekan-rekannya yang berdiri di depannya.
__ADS_1
Pandangan dari teman-temannya pun langsung tertuju menatap Berlin setelah berbicara demikian. Mereka cukup terkejut dengan apa yang dikatakan Berlin. Kelompok lain?
"Seperti yang kita ketahui, Clone Nostra adalah sindikat besar yang memiliki peran lebih dalam perdagangan. Mungkin ... kelompok merah itu ingin membeli sesuatu dari mereka," ujar Berlin.
.
~
.
Di tengah malam, dan di sebuah pulau tropis yang sangat indah dan luas namun cukup terpencil. Aktivitas di pulau itu tampak tidak termakan oleh waktu. Meski waktu menunjukkan pukul tengah malam dan menuju dini hari. Tetapi masih banyak sekali orang-orang yang tampak sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing.
Di atas dari sebuah bukit kecil yang terletak di tepi pulau. Terdapat sebuah vila yang sangat mewah nan megah. Vila itu berbalut warna putih keperakan yang akan mengkilap jika tersorot cahaya. Pada balkon vila yang megah itu terdapat seorang pria berpakaian jas serba hitam. Pria itu juga tampaknya memiliki bekas luka bakar pada wajah bagian kanan.
Ketika pria itu berdiam diri di atas sana. Tiba-tiba seorang pria lain dengan pakaian jas serba putih menghampirinya. Ia menghampiri dengan membawa dia buah cangkir berisikan minuman anggur.
"Nico, menikmati suasana malam, huh?" tanya pria berpakaian serba putih kepada Nico seraya memberikan satu cangkir minumannya.
"Apa yang sedang orang-orang mu lakukan?" Nico malah kembali bertanya dengan pandangan tak bisa lepas dari area halaman depan vila yang sangat luas itu.
Di sana terdapat banyak sekali pria dengan pakaian serba putih dan membawa senjata di badan mereka. Mereka tampak sangat sibuk memindahkan kotak-kotak kayu dari dalam vila menuju ke sebuah mobil box pengangkut barang berwarna hitam yang sudah terparkir di depan halaman. Entah apa yang mereka pindahkan, dan entah apa yang ada di dalam kotak-kotak kayu itu. Tetapi mereka sangat berhati-hati memindahkannya.
"Bisnis," jawab pria yang kini berdiri tepat di samping Nico.
"Dasar, Mafia perdagangan," gumam Nico lalu terkekeh dengan sendirinya seraya mengingat kalau dahulu dirinya juga mengerjakan pekerjaan yang sama.
Pria itu tersenyum tipis dan melirik ke arah Nico lalu berkata, "aku sangat menyayangkan nasib Mafioso, tanpa Mafioso ... Clone Nostra tidak memiliki penantang dalam urusan perdagangan ini. Jadi terlalu boring jika tidak ada rival atau saingan."
"Nasi sudah menjadi bubur, mau bagaimana lagi? Dahulu ku kira semua rencana yang ku miliki adalah yang terbaik, namun ternyata tidak. Dan dahulu aku juga terlalu meremehkan lawanku ... Berlin dan kelompoknya." Nico berbicara dengan sendirinya seraya menikmati secangkir anggur yang ia bawa.
"Aku tahu, maka dari itu aku tidak akan meremehkan Anak Emas Gates itu, termasuk juga dengan Ashgard," sahut pria itu lalu meminum secangkir anggurnya.
Nico menghela napas panjang lalu berkata, "aku iri denganmu, kau memiliki segalanya, harta, tahta, wanita, bahkan pulau ini, dan bahkan apapun yang kau inginkan. Andai Mafioso ku masih ada, aku merindukan masa-masa di mana aku memiliki otoritas di atas orang-orang ku."
Pria itu tertawa kecil mendengar apa yang dibincangkan oleh rekannya. "Jika kau menginginkan kuasa atau otoritas, maka tunggulah sampai waktunya tiba! Aku sudah merencanakan hal itu," ucapnya.
"Aku akan menunggunya, seperti yang kau katakan, kawanku ... Tokyo," sahut Nico menoleh dan menatap rekannya itu dan lalu bersulang dengannya.
.
__ADS_1
Bersambung.