Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Nyinyir #168


__ADS_3

Setelah melalui tingkat kesabaran yang sangat diuji, karena kepadatan lalu lintas pusat kota yang amat menguji emosi. Berlin bersama dengan istrinya akhirnya sampai di Kantor Polisi Pusat. Sesampainya dirinya di sana, Nadia disambut oleh beberapa polwan yang langsung berbisik-bisik mengenai kehadirannya. Namun kebanyakan, perhatian mereka justru tertarik kepada kehadiran Berlin yang terus berjalan di samping Nadia menggunakan tongkatnya.


"Hei, bukankah itu Nadia?"


"Ya, tetapi kau tahu nggak siapa yang bersamanya?"


Bisik-bisik mereka, dengan lirikan tajam terus melihat setiap gerak-gerik Nadia. Namun perhatian mereka justru tertuju kepada sosok Berlin yang terkesan sangat cuek, tidak peduli dengan keberadaan orang lain di sekitarnya.


"Bukankah pria itu?" bisik seorang aparat wanita dengan rekan wanitanya di balik meja resepsionis.


"Ya, dia yang membuat Tokyo El Claunius bertekuk lutut di kekacauan beberapa hari yang lalu," sahut rekannya, berbisik, setelah Berlin dan Nadia melewati meja kerja mereka.


Selain kedua aparat itu. Beberapa aparat lainnya, tidak laki-laki ataupun perempuan, mereka juga turut membicarakan soal Berlin, sesaat setelah Berlin bersama dengan istrinya berjalan melewati mereka semua.


"Ngeri sekali orang sepertinya ada di sini, apakah tidak apa?"


"Tetapi dia keluarga besar pendiri kepolisian."


"Pria itu mengerikan, asal kau tahu, dia terkenal dengan kekejamannya terhadap musuh-musuhnya."


"Ssstttt!!! Jangan keras-keras!"


Nadia sempat melirik kepada suaminya yang berjalan tepat di sampingnya. Meskipun mereka berbisik, namun suara mereka tetap masih bisa terdengar lamat-lamat oleh Nadia, yang seharusnya juga dapat didengar juga oleh Berlin. Namun ekspresi yang ditunjukkan oleh Berlin begitu datar, sangat tenang, dan terkesan sangat dingin, seolah tidak mempedulikan apa yang dikatakan oleh setiap aparat yang ia lalui.


"Wah, kalian sampai cepat sekali, ya?" cetus Netty, tersenyum, menyambut kedatangan pasutri itu di lobi kantor polisi.


Berlin berjabat tangan dengan wanita itu, begitu pula dengan istrinya. "Sebenarnya, pada saat aku menghubungi anda, saya sudah ada di perjalanan," ucapnya, memasang sedikit senyuman.


Netty tersenyum ramah, bahkan senang sekali, apalagi melihat kehadiran sosok bumil yang berada di sisi Berlin itu. Ia segera menjamu tamunya, mengajaknya menuju ke ruangan milik Prawira, "mari ikuti saya ...!"

__ADS_1


Dalam sebuah ruangan yang terasa cukup dingin, dan sangat nyaman sekali. Netty mempersilakan kedua tamunya untuk duduk sebentar di sebuah sofa berwarna merah yang ada di sana.


"Tunggu sebentar, ya? Prawira sedang dalam perjalanan ke sini," ucap Netty, sebelum kemudian lanjut bertanya, "mau dibuatkan minum apa?"


Mendengar pertanyaan tersebut, Nadia merasa tidak enak hati, dan alhasil ia langsung menjawab, "tidak perlu repot-repot!"


"Baiklah, kalau begitu saya tinggal sebentar." Netty tersenyum, sopan dan ramah sekali, sangat berbeda dengan beberapa aparat yang sempat berpapasan dengan Berlin dan Nadia.


Kini di ruangan tersebut hanya ada mereka berdua. Tenang, sunyi, dan dingin. Hanya terdengar suara AC yang membuat kondisi ruangan dingin, sangat berbanding jauh dengan cuaca di siang hari ini yang begitu panas.


"Berlin, jangan dipikirkan apa yang tadi mereka katakan, ya?" ucap Nadia, menggenggam salah satu tangan milik pria itu, dan menatap kedua mata milik sang suami yang duduk tepat di sampingnya.


Berlin tersenyum, seolah tidak keberatan dengan semua perkataan yang ia terima. Lelaki itu merangkul istrinya sembari berkata, "emang tadi mereka ngomongin apa aja? Saking aku tidak peduli, jadi aku tidak tahu apa yang mereka omongkan," ucapnya dengan intonasi yang terdengar enteng.


Nadia terkekeh kecil, tersenyum, mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh lelakinya. Ia menyandarkan kepalanya pada bahu milik suaminya sembari bertanya, "mengapa ... rasanya ... ini seperti ruangan milik kita sendiri, ya? Apakah tidak apa kita menunggu di ruangan ini?"


"Kalaupun semisal nanti dimarahi Prawira, kita bilang saja kalau Netty yang membawa kita ke sini," ucap Berlin, tersenyum, menganggap seolah itu bukanlah masalah besar.


Tok ... Tok ...!


Netty kembali masuk ke dalam ruangan, dengan membawa sebuah nampan berisikan dua buah cangkir teh manis hangat.


"Ya ampun, aku sudah bilang tidak usah, 'kan?" ucap Nadia, sangat tidak enak hati kepada Netty karena merasa sudah merepotkan wanita itu.


Netty tersenyum, tidak keberatan, bahkan dengan senang hati, "Prawira yang menugaskanku, dan kau tahu sendiri ... arti dari rantai komando, 'kan?" ucap Netty kepada Nadia, sembari meletakkan nampan serta dua cangkir itu di atas meja. Nadia tertawa, mengerti maksud dari apa yang dikatakan oleh Netty padanya.


"Kalau boleh tahu, apa keperluan kalian ke sini?" tanya Netty, memastikan kembali.


Berlin menjawab pertanyaan itu dengan berkata, "aku ingin bertemu dengan Prawira, berbincang sedikit dengannya, dan juga ... ingin mengajukan permintaan pembuatan SKCK."

__ADS_1


"hmm, surat itu, ya?" sahut Netty, tersenyum. "Kalau soal surat keterangan itu, sebenarnya aku bisa membuatkannya langsung," lanjut wanita itu, duduk di sebuah sofa single seat yang ada di dekat Nadia.


"Oh, ya?" sahut Berlin.


Netty mengangguk, sebelum kemudian bertanya, "sepertinya kamu sangat membutuhkan surat itu, memangnya untuk apa kalau boleh tahu?"


Berlin pun menjawab, memberikan sedikit kejelasan mengenai tujuannya mengajukan permintaan untuk membuat Surat Keterangan Catatan Kepolisian yang akan digunakan olehnya untuk pengajuan adopsi anak.


Netty terlihat cukup terkejut, tersenyum senang, dan seketika berkata, "benarkah itu?!"


Pandangan wanita berseragam itu langsung tertuju kepada Nadia sembari berkata, "berarti dia lahir langsung punya saudara, dong?" cetusnya, matanya tertuju kepada perut milik bumil itu, sebelum akhirnya kembali menatap kedua mata milik Nadia yang berbinar-binar.


Nadia tertawa kecil, tersenyum bahagia, "kurasa begitu," jawabnya.


"Merawat buah hati bukanlah hal yang mudah, loh! Apalagi kalian akan langsung merawat dua buah hati sekaligus," ucap Netty, mengingatkan sepasang suami istri itu.


"Ya, aku tahu," ujar Berlin, merangkul istrinya dan melanjutkan ucapannya, "dan kami sudah membuat keputusan bersama," ucapnya, tersenyum.


Netty tersenyum senang melihat betapa harmonisnya pasangan itu, "semoga kebahagiaan terus menyertai kalian berdua, dan keluarga kalian, ya ...!"


"Baiklah, aku akan segera urus surat yang kau perlukan, Berlin. Estimasinya mungkin akan memerlukan waktu sekitar ... dua jam," lanjut Netty.


"Mohon bantuannya!" sahut Berlin, tersenyum, dan sedikit menundukkan kepalanya, takzim.


Urusan soal pembuatan surat yang diperlukan untuk pengajuan adopsi anak telah menemui titik terang, dan akan dibantu oleh Netty. Sekarang, tujuan Berlin ke kantor polisi tinggal hanya untuk menemui Prawira. Ia ingin membicarakan beberapa hal, soal saudara laki-lakinya, yakni Carlos Gates Matrix.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2