Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Keinginan Walikota #100


__ADS_3

"Bagaimana dengan kondisi Bobi dan Faris? Bagaimana juga dengan pemulihan yang sedang dijalani oleh Salva?"


Berlin menemui ketiga orang kepercayaannya yakni Asep, Kimmy, dan Adam di taman samping rumah sakit. Keempat orang itu berdiri dan berbincang di bawah sebuah pohon besar di tepi taman itu.


"Bobi dan Faris, kondisi mereka berdua sudah mulai membaik, begitu pula dengan perkembangan Salva. Namun mereka bertiga tidak boleh ke mana-mana, dan harus terus mendapatkan perawatan di rumah sakit hingga benar-benar pulih." Kimmy menjawab pertanyaan Berlin, sekaligus memberikan sebuah rekam medis kepadanya.


Berlin menerima rekam medis dari ketiga rekannya, dan dari rekam medis itulah dirinya dapat mengetahui penanganan apa yang tengah didapatkan oleh ketiga rekannya yang sedang dirawat itu. Tak hanya itu, dirinya juga dapat mengetahui apa saja luka yang diterima oleh ketiga rekannya.


"Biaya perawatan mereka juga cukup--" ucapan Kimmy soal biaya tiba-tiba saja dipotong oleh Berlin yang mengatakan, "berapapun biayanya akan ku tangani, asalkan mereka mendapat perawatan sekaligus penanganan yang terbaik."


Bagi Berlin yang terpenting adalah bagaimana caranya agar ketiga rekannya itu mendapatkan pemulihan yang terbaik dari rumah sakit, dan dirinya terlihat begitu tidak peduli dengan biaya yang akan ditanggung.


"Lalu sekarang apakah kita hanya akan berdiam di zona aman?" cetus Asep bertanya.


Berlin mengerti mengapa Asep menanyakan hal tersebut. Melihat kondisi dan situasi kota saat ini yang sedang sangat darurat. Tentu itu cukup membuat rekan-rekannya tidak dapat diam dan hanya melihat kehancuran kota, apalagi di kota ini juga mereka tinggal.


"Untuk sementara aku ingin kalian beristirahat terlebih dahulu," ucap Berlin, jujur saja di kepalanya saat ini benar-benar tidak memiliki keinginan atau rencana apapun.


"Ya, lebih baik kita tenang sejenak setelah semua yang terjadi di pulau," lanjut Adam yang tampaknya setuju dengan keputusan Berlin.


"Hei, ku dengar katanya walikota menghilang. Apakah itu benar?" celetuk Kimmy yang tiba-tiba saja membahas hal tersebut.


"Emang, iya? Aku malah baru dengar kabar itu darimu, Kim," sahut Asep.


Rekan-rekannya terlihat cukup terkejut mendengar kabar serta berita itu, lantaran rasanya berita tersebut hanyalah kabar burung dan sama sekali tidak mungkin terjadi. Namun berbeda dengan Berlin yang justru tampaknya telah memprediksi atau membaca bahwa situasi seperti ini akan terjadi.


Melihat ekspresi tenang yang ditunjukkan oleh Berlin, sepertinya cukup memancing rasa penasaran ketiga rekan kepercayaannya.


"Berlin, apakah kau tidak tertarik dengan berita ini? Berita ini tersebar di kalangan aparat, loh! Aku sempat mencuri-curi dengar obrolan mereka tadi," ucap Kimmy.


"Yah, Berlin yang biasanya, selalu tenang dan tidak menunjukkan ketertarikan terhadap kabar atau berita tentang pemerintah," celetuk Adam dengan intonasi bersenda gurau dan kemudian terkekeh kecil setelah selesai berbicara.

__ADS_1


"Tetapi, Berlin. Gimana menurutmu tentang berita itu?" tanya Asep.


Berlin bersandar pada batang pohon itu sembari melipat kedua lengannya di atas dada, dan kemudian menghela napas panjang.


"Jujur saja ... aku tidak terkejut jika memang berita itu benar adanya," ucap Berlin dengan tenang dan santainya.


Adam menghela napas dan bergumam, "seperti biasa, Berlin hampir selalu berhasil membuat kita penasaran."


"Berlin, apa kau mengetahui sesuatu?" tanya Kimmy yang tampaknya begitu penasaran setelah mendengar tanggapan Berlin mengenai berita yang ia bawa.


"Jauh sebelum kita berangkat ke pulau, aku sempat bertemu dengan Boni ... sekaligus juga bersama dengan Prawira dan Garwig di Gedung Balaikota," jawab Berlin dan kemudian sedikit menjelaskan apa yang ia ketahui dan ia curigai.


"Dalam pertemuan itu, aku sempat memancing keinginan dan ambisi Boni sebenarnya."


*


Flashback ON, #67


"Anda ... ingin saya melakukan apa?" celetuk Berlin dengan tatapan tajamnya mengarah kepada walikota. Tentunya tatapan itu cukup kurang sopan jika ditujukan kepada orang yang memiliki kedudukan sangat penting. Namun Berlin tidak peduli dengan hal tersebut.


"Katakan saja, pak! Katakan saja bahwa anda ingin saya menangkap buronan nasional itu, atau bahkan menghabisinya di sana. Tentu untuk hal itu tidak gratis, akan ada regulasi pembayaran yang harus anda bayarkan ke saya."


Secara blak-blakan Berlin berbicara demikian di depan walikota, dan hal itu sepertinya berhasil membuat walikota terkejut sekaligus kikuk. Prawira dan Garwig hanya diam ketika Berlin berbicara seperti itu.


"Apa maksudmu?!" sahut Boni terlihat cukup tidak terima. Ia begitu terlihat panik ketika Berlin beranggapan seperti itu.


"Sebelumnya maafkan saya atas sikap saya yang lancang kepada anda. Tetapi ... mata tidak bisa berbohong, Pak." Berlin menundukkan pandangannya namun tidak dengan kepalanya. Ia meminta maaf atas kelancangannya kepada walikota. Namun tatapan tajamnya masih saja tidak bisa lepas dari Boni yang terlihat cukup kikuk di kursinya.


"Pak, jika memang begitu keinginan anda, maka kita bisa bicarakan baik-baik," lanjut Berlin bersandar dengan santai pada sandaran kursinya sembari mengulas senyuman sinis.


"Berlin?! Tunggu! Jangan bilang ...?!" Sontak apa yang barusan Berlin ucapkan cukup untuk membuat Garwig dan Prawira terkejut.

__ADS_1


"Aku menginginkan bayaran yang sepadan dengan risiko yang tinggi, jika memang anda berkenan membayar kami ... Ashgard untuk menghadapi Nicolaus," lanjut Berlin tanpa menghiraukan kedua orang itu. Pandangannya tertuju kepada Boni yang duduk di balik meja kerjanya.


"Apa yang kau inginkan?" sahut Boni sepertinya tertarik dengan pembicaraan Berlin.


Flashback OFF


*


Berlin menceritakan soal pertemuan itu kepada ketiga temannya, tentu dirinya sembari melihat lingkungan sekitar dan memastikan agar tidak ada orang lain yang mendengarnya. Beruntung, kondisi lingkungan taman rumah sakit pada saat ini sedang cukup sepi.


"Kau meminta bayaran apa?" cetus Asep.


Berlin sedikit tertawa dan menjawab, "aku meminta sejumlah uang, yang tentunya aku tidak serius dalam hal tersebut."


"Namun berdasarkan apa yang ku lihat dari kedua matanya, dan cara berbicaranya kepadaku. Boni terlihat seolah ingin aku--atau lebih tepatnya kita pergi ke pulau, dan jauh-jauh dari kota ini," lanjutnya.


"Apa maksudmu ... dia ingin menyingkirkan kita?" gumam Adam terlihat cukup bingung, begitu pula dengan Asep dan Kimmy yang juga memasang wajah bingung dengan apa yang Berlin katakan.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu apa tujuannya. Namun entah mengapa aku merasa itu ada kaitannya dengan Clone Nostra," sahut Berlin menjawab.


Mengingat waktu yang sudah cukup lama berlalu, dan Berlin sudah menghabiskannya untuk ngobrol dengan teman-temannya. Dirinya pun memutuskan untuk segera kembali ke kamar inap milik Nadia, "sudahlah, aku ingin kembali. Pokoknya untuk sementara waktu kalian istirahatlah ...!" ucapnya kemudian beranjak pergi dari ketiga rekannya itu.


...


Sesampainya di kamar dan ketika membuka pintu kamar inap itu. Berlin dibuat terkejut dengan istrinya yang tiba-tiba menangis dengan sendirinya.


"Hei, ada apa, sayang? Apakah terjadi sesuatu padamu?" dengan sigap Berlin menghampiri Nadia yang terduduk dan tertunduk di tepi ranjang, dan kemudian memeluk calon ibu muda itu.


"Berlin, Akira dan yang lainnya ...."


Tatapan berkaca-kaca Nadia terangkat menatap kedua mata milik pria itu dengan sangat dekat. Kegelisahan dan kekhawatiran yang mendalam kembali terlihat di sana. Ekspresi syok Nadia juga dapat terlihat oleh Berlin, apalagi jarak di antara mereka berdua kini benar-benar terkikis dan sangat dekat.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2