Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Pelabuhan #194


__ADS_3

Berjumlah tiga motor dengan masing-masing motor dua orang berboncengan. Mereka semua sangat mencolok dengan jaket berwarna mereka yang mereka pakai, dan dapat dipastikan mereka semua bersenjata serta berbahaya. Sekelompok orang yang terindikasi anggota dari Red Rascals, terlihat memasuki Area Pelabuhan Kota, dan berhenti di sebuah halaman parkir yang sangat luas di dalam pelabuhan.


Mereka turun dari masing-masing kendaraan, dan kemudian berkumpul. Ternyata tak hanya enam orang, mereka banyak sekali ketika berkumpul di sana, bahkan sepertinya area tersebut dijaga ketat oleh orang-orang berjaket merah. Tidak ada warga sipil atau orang lain, selain hanya orang-orang berjaket merah yang berkumpul di halaman parkir tersebut.


Anehnya, dari pihak keamanan pelabuhan tidak menunjukkan reaksi apapun. Mereka tampak membiarkan begitu saja, bahkan seolah memang "sengaja" tidak mempedulikan Red Rascals melakukan pertemuan di sana. Melihat hal tersebut, Kimmy yang memantau dari kejauhan, tepatnya dari atas sebuah bangunan yang berada di depan pelabuhan langsung menaruh rasa curiga.


"Pasti ada yang tidak beres," cetus Kimmy, duduk di atas lantai atap bangunan dan bersandar pada dinding pembatas. Tidak sendirian tentunya, di atap bangunan tersebut dirinya ditemani oleh rekan wanitanya yakni Kina.


Terlihat ada sekitar lima penjaga dengan seragam berwarna biru tua yang berjaga di pos pintu masuk pelabuhan. Namun ketika orang-orang berjaket merah yang sudah jelas-jelas membawa senjata itu masuk, mereka terlihat cuek bahkan mempersilakan masuk komplotan itu. Semua gerak-gerik dan aktivitas di sana telah dilihat oleh Kimmy dan Kina, bahkan juga rekan-rekan yang satu kelompok dengan dirinya.


"Ya, para penjaga itu, jangan-jangan mereka dibayar oleh Red Rascals?" cetus Kina, ikut duduk di samping Kimmy, dan langsung mengutarakan kesimpulan pertamanya setelah melihat semua kejanggalan itu.


Kimmy menggeleng dan menjawab, "entahlah, tetapi aku tidak yakin, karena ini pasti ada hubungannya dengan pistol perak yang berada di tangan mereka."


"Iya, juga! Seharusnya pistol-pistol itu milik Clone Nostra, 'kan? Apakah ... Red Rascals--" belum selesai Kina berbicara dan membuat kesimpulan serta asumsi lain. Kimmy sudah menyela dengan berkata, "kemungkinan besar seperti itu, tetapi ... entahlah."


Kimmy berbalik badan, dan menoleh serta melihat ke arah lahan parkir pelabuhan melalui sela-sela dinding pembatas sembari berkata, "sementara ... tugas kita adalah mencari tahu dan mengumpulkan informasi, dan jangan terlalu cepat menyimpulkan walau dengan kemungkinan yang besar bisa terjadi."


"Aku akan membuat laporan soal ini kepada Berlin," ucap Kina, mengeluarkan ponsel dari saku jaket hitamnya, dan mulai mengetik untuk mencatat semuanya tanpa ada yang direkayasa dan terlewat.


Waktu pada ponsel tersebut menunjukkan pukul tiga sore. Setelah selesai mencatat laporan dan mengirimkannya kepada Berlin. Kina kembali menyimpan ponsel miliknya sembari berkata, "tidak terasa, sudah tiga jam."


"Ya, dan masih ada kurang lebih lima jam untuk kita," sahut Kimmy, serius, meraih radio yang ia letakkan di samping dan kemudian bertanya, "apakah ada gerak-gerik lain?"


"Negatif!"

__ADS_1


"Tidak terpantau."


"Belum ada."


Rekan-rekan yang satu kelompok dengannya langsung menjawab pertanyaannya. Mereka semua tersebar hampir di setiap titik di sekitar pelabuhan, dan berbaur dengan orang-orang atau warga sipil sekitar.


"Kimmy, mereka terlihat seperti sedang menunggu sesuatu, gak sih?" cetus Kina, menatap curiga sekelompok orang berjaket merah di sana. Mereka terlihat berkumpul, dan menghadap ke arah sebuah kapal kargo berwarna biru yang berukuran amat besar.


"Apakah ada yang melihat sosok Felix Alarico di sana?" tanya Kimmy menggunakan radio komunikasinya. Dirinya tidak bisa melihat jelas setiap wajah orang-orang berjaket merah itu, karena posisi mereka memang membelakangi dirinya dan menghadap ke arah sebuah kapal kargo besar yang sedang berlabuh di dermaga sana.


"Tidak ada," jawab Galang pada radio tersebut.


"Bagaimana dengan Bobi? Dia seharusnya memiliki pengelihatan yang lebih jelas," cetus Rony.


Bobi yang berada di atas atau atap dari sebuah gudang yang letaknya tepat di samping pelabuhan dan dermaga tersebut pun menjawab, "tidak ada, aku tidak melihat orang itu."


"Tidak, meskipun terbilang dekat, namun dengan jarak tiga blok sepertinya cukup sulit untuk menguping pembicaraan mereka," jawab Bobi sebelum kemudian lanjut angkat bicara dengan berceletuk, "kalau mau, aku bisa sedikit lebih dekat, jika memang diperbolehkan."


"Tidak, cukup! Aku perlu kau memotret beberapa gambar, bisa?" sahut Kimmy, menolak saran Bobi dan kemudian memberikannya tugas.


"Tentu saja bisa!" jawab Bobi.


Kimmy kembali duduk di atas atap, dan bersandar pada dinding pembatas sembari menghela napas, "aku sempat terkejut dengan ide nekat Bobi," gumamnya.


Kina tertawa kecil melihat Kimmy yang terlihat sedikit panik ketika Bobi menyampaikan ide nekat itu secara tiba-tiba, "tenang saja, selama kau yang membuat serta memberi keputusan, teman-teman akan nurut, kok! Berlin sudah menegaskan beberapa hal kepada kita, dan aku yakin mereka tidak akan ada yang bandel," ucapnya.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, bahkan sudah lebih dari satu jam. Orang-orang berjaket merah itu hanya berdiri di sana, tidak banyak melakukan gerak-gerik mencurigakan. Mereka hanya berdiri, saling berbincang santai, dan terlihat masih menunggu sesuatu dari kapal kargo berwarna biru itu.


Karena kapal kargo itu hanya berlabuh di sana dan tidak bergerak sama sekali, walaupun di dek atas kapal terlihat membawa banyak sekali kargo-kargo entah itu kosong atau isi. Berdasarkan rasa penasaran, Kimmy sempat melihat jadwal pelabuhan yang informasinya ia simpan di dalam ponselnya. Dari jadwal yang ia lihat, dirinya menemukan kejanggalan lagi.


Berdasarkan jadwal resmi pelabuhan, kapal kargo berwarna biru itu harusnya bertolak pergi dari dermaga pada pukul empat. Namun sampai di detik ini, dan waktu sudah menunjukkan hampir jam lima sore. Kapal itu hanya mematung saja di salah satu dermaga itu.


"Dari tadi mereka nungguin apa, sih? Lama-lama kesel juga aku!" dengus Kina, kesal karena sudah lebih dari satu jam dirinya hanya berdiam diri di posisi yang sama seperti Kimmy.


Kimmy melihat kapal kargo itu dari posisinya berada dan kemudian berkata, "sepertinya apa yang mereka tunggu ada di dalam kapal itu."


"Kalau kau lihat jadwal ini, kapal itu seharusnya sudah pergi dari dermaga itu setengah jam yang lalu. Namun buktinya, sampai sekarang benda berukuran raksasa itu hanya diam di sana, sama seperti apa yang dilakukan oleh orang-orang jaket merah itu," lanjut Kimmy, memberikan ponselnya yang berisikan jadwal resmi keberangkatan kapal pelabuhan kota kepada Kina di sampingnya.


Kina menerima ponsel tersebut, dan memastikan jadwal yang dimaksud sebelum akhirnya berpendapat, "apakah maksudmu ... kapal itu sudah direkayasa? Maksudku ... mereka tak hanya merekayasa penjaga pelabuhan, namun juga kapal itu," ucapnya.


Belum sempat Kimmy menjawab dan menanggapi pendapat tersebut. Tiba-tiba saja Bobi berbicara melalui radio dengan mengatakan, "ada yang berjalan keluar dari kapal, lihat! Laki-laki berambut cokelat kehitaman, dengan jas dan celana panjang berwarna putih. Dia berjalan dikawal oleh dua orang berjaket merah, salah satunya adalah wanita, dan diikuti oleh orang keempat yang keluar."


"Bagaimana ciri-cirinya? Seperti apa orang yang terakhir berjalan keluar itu?" sahut Kimmy, meminta ponsel Kina, dan memanfaatkan kamera pada ponsel tersebut dan memakai fitur zoom agar dirinya juga dapat melihat apa yang sedang terjadi di kejauhan sana.


"Dia ... Felix Alarico, aku bisa pastikan kalau itu memang dirinya!" jawab Bobi, nadanya menurun dan terdengar pelan.


Semua yang dikatakan oleh Bobi memang benar adanya. Empat orang muncul, berjalan perlahan keluar dari pintu samping kapal. Salah satu dari ketiga orang itu berpakaian serba putih, dengan jas putih dan celana putih rapi. Berdasarkan ciri-ciri dan caranya berpakaian, Kimmy langsung dapat menyimpulkan kalau dia pasti salah satu anggota dari Clone Nostra.


Sedangkan tiga orang sisanya adalah orang dengan pakaian jaket merah, satu orang wanita dan dua orang pria, yang di mana si pria yang paling terakhir keluar dari kapal tersebut adalah sosok dari Felix Alarico, ketua dari kelompok merah atau Red Rascals.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2