Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Kontra #197


__ADS_3

Ashgard terus melakukan pergerakan, bahkan tidak ingat waktu. Hari sudah malam, bahkan sudah melewati batas waktu yang sudah ditentukan. Sepanjang hari ini, beberapa informasi dan bukti telah mereka peroleh. Bukti serta informasi yang diperoleh mengacu kepada Red Rascals yang diduga masih memiliki keterikatan dengan Clone Nostra.


Malam ini, pada pukul delapan. Berlin kembali berkumpul dengan rekan-rekannya di ruang tengah. Untuk sementara waktu, dirinya telah menarik mundur semua regu yang sebelumnya terbagi. Namun Ashgard tetap memiliki seseorang yang akan terus melakukan pergerakan di luar sana. Seseorang yang dipercaya serta diberikan amanah oleh Berlin sendiri.


"Waktu kalian sudah mencapai batas, jadi aku mempersilakan kepada kalian untuk beristirahat dan menikmati waktu malam ini. Kerja bagus buat kalian di hari pertama persiapan kita, dan kalian berhasil membawa beberapa informasi serta bukti berharga."


Berlin yang duduk di sebuah sofa single seat, berbicara kepada teman-temannya yang bersantai pada posisi mereka masing-masing di ruang tengah itu. Beberapa dari mereka ada yang juga duduk di dua sofa panjang, dan beberapa ada yang berdiri dan bersandar pada sofa-sofa itu.


"Apakah kita tidak ingin mencari tahu lagi? Apalagi di malam hari, kau tahu sendiri bagaimana dunia kriminal di malam hari 'kan, bos?" cetus Kent yang bersandar di belakang sofa panjang yang diduduki oleh Kimmy dan Sasha.


"Iya, aku cukup setuju dengan apa yang dikatakan Kent," timpal Kimmy.


"Bagaimana kalau kau membagi tugas kepada kami lagi?" cetus Adam.


Dari ketiga orang kepercayaannya yang aktif sekali berbicara, hanya Asep yang diam dan berdiri tepat di sebelah sofa yang Berlin duduki. Seolah laki-laki itu tahu apa yang akan menjadi jawaban Berlin atas pertanyaan-pertanyaan itu, dan dirinya seolah telah bersiap akan mendengarkan beberapa argumen serta pedebatan yang bisa saja terjadi.


"Kalian tenang saja, karena aku telah mengirimkan orang untuk tetap bergerak di luar sana." Berlin menjawab semua pertanyaan serta cukup menyanggah saran dari rekan-rekannya. Jawaban Berlin diucapkan dengan intonasi yang sungguh tenang.


Mendengar jawaban tersebut, tentu langsung membuat rekan-rekannya yang berkumpul di sana bertanya-tanya. Berlin mengirimkan orang? Siapa? Tentu itu menjadi pertanyaan, apalagi mengingat seluruh anggota Ashgard saat ini malam ini juga lengkap berkumpul di ruang tengah tersebut.


"Siapa orang yang kau maksudkan?" sahut Kimmy, menatap penasaran bercampur curiga Berlin.


"Kau mengirimkan orang?" timpal Kina.

__ADS_1


"Tunggu! Kau tidak pernah membahas soal 'orang' ini dengan kami, bos. Atau apakah memang kita sudah pernah membahasnya bersama, dan hanya aku yang tidak menyimaknya?" cetus Adam, berbicara dengan tatapan tajam dan seriusnya.


"Jelaskan pada kami siapa orang yang kau maksudkan itu!" sahut Kimmy, berbicara dengan intonasi tegas kepada Berlin, dan berhasil membuat situasi hening serta terasa cukup dingin.


"Iya, jika memang ada anggota baru, mengapa kau menutup-nutupinya?" timpal Sasha.


"Kau menyimpan rahasia di balik kami, ya ...?!" tatapan Kina menatap tajam dirinya dengan penuh rasa curiga.


Setelah jawaban yang diberikan oleh Berlin. Rata-rata yang berani angkat bicara dan bertanya langsung kepada Berlin adalah rekan-rekannya yang wanita, sedangkan mereka yang laki-laki lebih cenderung diam kecuali Adam.


Asep yang berdiri tepat di sebelah Berlin hanya diam, sedikit tertunduk, dan kemudian menghela napas berat. Karena untuk saat ini hanya dirinya yang tahu siapa orang yang dimaksudkan oleh Berlin, selain Berlin sendiri yang memberikan orang itu tugas.


"Orang yang ku maksudkan adalah Carlos Gates, dan aku memberikannya tugas sebagai informan," jawab Berlin, tenang dan dengan sikap yang dingin seperti biasa, walaupun posisinya saat ini sedang ditekan oleh hampir seluruh tatapan tajam dari rekan-rekannya.


"Carlos?!" sahut Kimmy, terbelalak dan terkejut dengan nama yang disebutkan.


"Kau tidak sedang berbohong kepada kami, 'kan?" lanjut Sasha yang duduk bersebelahan dengan Adam.


"Ini bukan bulan April, sih. Jadi ... apa yang dikatakannya bukan sebuah kebohongan semata," sahut Asep yang berdiri tepat di sebelah Berlin. Sikapnya juga sama dengan Berlin, begitu tenang dan datar, karena memang dirinya sudah terkejut lebih awal daripada rekan-rekannya.


"Asep, kau sudah mengetahui soal ini?!" tanya Faris, menatap curiga Asep.


Tatapan beberapa rekannya pun sempat berpindah kepada Asep, sebelum akhirnya kembali menatap tajam dan curiga Berlin yang duduk di sebelah Asep.

__ADS_1


"Yah ... aku tidak terkejut seperti kalian, karena aku sudah terkejut di awal," jawab Asep.


"Berlin, jelaskan pada kami!" ucap Kimmy, meskipun dengan intonasi yang terdengar datar, namun memiliki kesan yang sangat tegas bahkan memerintah.


Berlin menghela napas, namun tidak mengeluh dengan situasi yang sepertinya sedang panas ini. Jauh sebelum situasi ini terjadi, dirinya sudah menebak bahwa situasi seperti ini akan terjadi. Dirinya berencana untuk membawa sekaligus memperkenalkan sosok Carlos Gates, yang sebenarnya tidak perlu dikenalkan pun rekan-rekannya sudah tahu, namun perkenalan itu sebagai formalitas anggota baru.


Tetapi ternyata rencana tersebut tidak bisa ia realisasikan, dan membuat Berlin harus beralih ke rencana kedua, yakni berbicara langsung dan siap menerima berbagai argumen panas dari rekan-rekannya.


Meskipun jauh sebelum situasi tersebut terjadi, Berlin telah menyiapkan beberapa kata dan dialog yang akan ia gunakan untuk menjelaskan. Namun ternyata itu tidak semudah yang ia kira. Kata-kata tersebut rasanya seperti sulit untuk ia utarakan.


"Berlin, jangan diam saja!" tegas Kimmy.


"Bagaimana kau harus menjelaskannya pada kami?" timpal Adam.


Dua pertanyaan dari kedua orang yang paling Berlin percaya, tentu semakin membuat dirinya sulit untuk menata kosa kata sebelum berbicara.


"Aku tahu apa yang membuat kalian terkejut, dan apa yang membuat kalian khawatir. Namun ... aku sarankan untuk tidak terlalu berlebihan dalam rasa khawatir tersebut." Asep tiba-tiba saja menyela pembicaraan, dan membuka omongan dengan sikap yang begitu tenang, sembari menatap tajam satu-persatu wajah rekan-rekannya.


Omongan yang diberikan oleh Asep, tentu memberikan Berlin sedikit waktu tenang sebelum kemudian dirinya yang angkat bicara dan menjelaskan semuanya.


"Aku minta maaf, karena memang aku tidak pernah membicarakan soal gabungnya Carlos dalam kelompok kita. Aku memutuskan hal tersebut karena beberapa hal." Berlin memulai angkat bicara, dengan tenang dirinya perlahan menjelaskan.


"Yang perlu kalian ketahui sebelum aku menjelaskan semuanya. Carlos Gates sudah terikat kontrak denganku, bahkan jauh sebelum kita berangkat ke Pulau La Luna, baik dalam konteks pekerjaan dan juga personal, dan dalam kontrak tersebut ada banyak aturan yang akan siap mengekang dirinya. Jadi dia tidak dapat bertindak seenaknya, apalagi membahayakan diriku atau orang-orang yang dekat denganku. Karena jika dia melakukannya, maka ancaman mengerikannya adalah hukuman mati."

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2