
"Aku tidak menyangka kalau kalian masih sebegitunya memikirkan diriku. Bukankah kalian berdua seharusnya tengah mempersiapkan sidang pengadilan Tokyo El Claunius dan antek-anteknya?" dengan ekspresi terheran, Carlos bertanya kepada Prawira dan Garwig dengan lugas.
Prawira bersandar pada sofa yang didudukinya, di sebelahnya terdapat Netty, sedangkan tepat bersebrangan dengannya terdapat Garwig yang duduk bersebelahan dengan Siska. Keempat orang itu sedikit menoleh, memandang ke arah yang sama, yakni sosok Carlos yang duduk di sofa single seat.
"Persidangan itu sudah dijadwalkan, sudah dipersiapkan sedemikian rupa, dan hanya tinggal dilaksanakan. Maka dari itu aku menemuimu ke sini, selain niat, Berlin juga sempat memintaku untuk menemuimu dan membicarakan persoalan ini, Carlos." Prawira menjawab pertanyaan yang membuat Carlos heran dengan santainya
"Mengapa bukan dia sendiri yang bertemu denganku, bertatapan denganku?" sahut Carlos, spontan bertanya karena rasa penasarannya.
Dengan santainya, Siska yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu. Gadis itu berkata, "pria itu sudah berkeluarga, dan ini akhir pekan, ditambah di pagi tadi adalah jadwal persidangannya soal pengangkatan atau pengadopsian anak," ucap Siska, seraya menorehkan senyuman manis dan ramah.
"Baiklah," ujar Carlos, takzim.
"Tetapi tenang saja, kau sudah pasti akan menemuinya dalam beberapa hari kemudian. Aku bisa pastikan itu, karena Berlin menitipkan sebuah kartu nama kepadaku, dan dia minta kartu nama ini ku berikan kepadamu." Prawira merogoh saku kiri kemeja cokelat yang ia kenakan, mengambil sebuah kartu kecil dari dalam sana, dan memberikannya kepada Carlos.
Carlos menerima kartu nama tersebut dengan tangan kanannya, dan langsung membaca sebuah nama yang tertuliskan di atas kartu berwarna putih polos itu. Sebuah tulisan berwarna biru yang bertuliskan "Ashgard" dapat ia baca dengan jelas. Dirinya tidak begitu paham apa maksudnya, maka dari itu dirinya lagi-lagi bertanya secara spontan dengan mengatakan, "maksudnya apa ini?"
Garwig dan Prawira mengangkat kedua pundak mereka secara bersamaan ketika menerima pertanyaan tersebut. Mereka sama-sama angkat tangan dan menjawab, "jawabannya ada pada dirinya."
"Ya, jika kau menemui dirinya, maka kau akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan mu itu," timpal Prawira, tersenyum tipis, menyembunyikan jawaban atas pertanyaan itu, yang sebenarnya sudah ia miliki, karena dirinya telah berbincang banyak dengan Berlin sepekan yang lalu pada saat pembuatan surat keterangan.
Carlos mendengus sedikit kesal dan berkata, "mengapa tidak langsung pada intinya aja, sih? Kalian pasti sudah tahu jawaban dari pertanyaan ku, 'kan?!"
__ADS_1
Garwig hanya tertawa, begitu pula dengan Prawira yang kemudian berceletuk, "kalau begitu, tidak ada seru-serunya. Lagipula memang itu yang diinginkan oleh Berlin."
"Oke, baiklah ...!" sahut Carlos, bersandar, kemudian menghela napas. Laki-laki itu terlihat sangat patuh, tidak ada kontra dalam dirinya dengan semua keputusan yang dibuat oleh Prawira, Garwig, atau bahkan Berlin.
***
Waktu terus berjalan, membawa suasana sore yang amat sejuk dan indah dengan langit berwarna jingga. Di sebuah lahan parkir terpencil pada suatu titik lokasi yang terletak di lereng perbukitan kota. Ashgard tampak tengah melakukan pertemuan di sana, tanpa kehadiran Berlin. Mereka memanfaatkan tempat yang sangat sepi itu, apalagi sangat jauh dari pemukiman warga, untuk ngobrol satu sama lain.
Kimmy, Asep, dan Adam. Ketiga orang yang menjadi tangan kanan Berlin sejak Ashgard berdiri. Mereka mengumpulkan seluruh rekannya, dan membicarakan soal peran dari pekerjaan yang akan mereka jalani di beberapa hari kemudian.
"Garwig telah mengumumkan jadwalnya, dan kita dapat beraktivitas serta bertugas beberapa hari ke depan. Namun sebelum itu, pria itu akan membawa kita untuk melihat lokasi markas Divisi Khusus yang nantinya akan menjadi markas milik kita." Kimmy berbicara, bersandar pada sebuah mobil sedan putih, dengan sebuah tablet yang ia bawa dengan satu tangannya. Seluruh rekannya yang bersantai di area tersebut mendengarkan apa yang Kimmy katakan secara saksama.
"Markas?" cetus Rony, bersandar pada pagar kayu di tepi lahan parkir.
"Lalu bagaimana dengan bengkel lama yang pernah kita miliki? Bahkan kita sudah menganggap tempat itu sebagai rumah untuk Ashgard," sela Bobi, berdiri tepat di sebelah kekasihnya yakni Kina, bersandar pada mobil sedan berwarna abu-abu miliknya.
"Berlin sudah memikirkan untuk tempat itu, karena tempat itu berposisikan sangat berada di pusat kota, dan dapat dengan mudah dijumpai oleh orang awam. Kemungkinan besar, bengkel tidak terpakai itu akan menjadi bengkel sungguhan di suatu saat nanti." Adam menjawab pertanyaan Bobi, dengan santai dan tenang.
"Maksudmu, benar-benar sebuah bengkel yang dikelola untuk memperbaiki kendaraan, begitu?" tanya Aryo, duduk di kursi tengah mobil SUV berwarna hitam, dengan keadaan pintu terbuka agar dapat berbincang dengan rekan-rekannya di luar. Laki-laki itu tampak ingin memastikan asumsinya, setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Adam.
Adam sedikit menoleh, mengangguk pelan, dan berkata, "kemungkinan besar seperti itu."
__ADS_1
"Tunggu, tunggu! Markas yang akan ditunjukkan kepada kita itu bukankah fasilitas milik negara?" cetus Faris, tanpa menoleh, bersandar di sisi lain mobil milik Bobi dengan kedua lengan terlipat di atas dada.
"Iya, benar! Dan kita akan mendapatkan fasilitas itu," jawab Kimmy.
Beberapa rekannya terlihat cukup tercengang dengan kabar yang Kimmy bawakan, apalagi soal fasilitas yang akan mereka dapatkan, mereka tampak sungguh antusias dengan rasa penasaran yang seolah sudah tertumpuk layaknya gunung.
"Sepertinya aku perlu menegaskan sesuatu kepada kalian," ucap Kimmy, beranjak melangkah sedikit lebih jauh, dan berdiri tepat di depan rekan-rekannya yang tengah bersantai di posisi ternyaman mereka.
Kimmy menarik napas panjang, sebelum kemudian berkata, "perlu diingat kalau kalian harus lebih bijak dalam menggunakan berbagai fasilitas yang nantinya akan kita dapatkan! Perlu diingat juga kalau kalian harus lebih bijak juga dalam bertindak, dalam bentuk apapun terutama ketika kita sedang melakukan aksi atau bertugas!" ucapnya, ketus agar bisa terdengar oleh seluruh rekannya, tegas, tajam, dan sangat serius.
"Perlu diingat juga, bahwa kita bukan lagi sebuah kelompok kriminal yang bebas bertindak sesuka hati tanpa menggunakan hati dan pikiran," timpal Adam, dengan intonasi yang tenang namun dapat didengar oleh seluruh temannya.
"Berarti tidak ada kebebasan untuk kita kelak?" celetuk Salva.
"Iya, apakah kita harus selalu terkekang oleh peraturan?" timpal Galang.
Asep yang sedari tadi diam di dalam mobil karena sedang asyik memainkan video games pada ponselnya dengan keadaan kaca jendela terbuka, tiba-tiba saja tertawa kecil mendengar dua pertanyaan itu. Ia membuka pintu, turun dari mobil, dan kemudian bersandar sesaat setelah pintu tersebut ditutup. Dirinya berdiri tepat di sebelah Salva yang sedari tadi bersandar di sisi mobilnya.
"Kebebasan? Kurasa kita akan tetap mendapatkan hal tersebut. Lalu, terkekang oleh peraturan? Kurasa itu tidak akan terjadi." Asep berbicara dengan tutur kata dan intonasi yang terkesan sangat datar, tenang, dan dingin, menjawab kedua pertanyaan itu sekaligus. Namun kata-katanya belum selesai. Asep kemudian berbicara, "komando ... atau ... kedudukan tertinggi dalam Divisi Khusus yang nantinya akan kita isi, tetap akan berada di tangan Berlin. Ashgard tetaplah Ashgard, hanya saja akan terjadi beberapa perubahan dalam prinsip serta aturan kelompoknya, dan itu bertujuan untuk mencapai sesuatu yang lebih baik daripada sebelumnya."
"Bagaimanapun juga Berlin mengkhianati prinsip yang dia buat sendiri," cetus Galang, dan pernyataan itu didukung oleh Salva yang kemudian berkata, "dan kita tak lagi dapat melakukan tindakan kriminal serta aksi sebebas dahulu."
__ADS_1
.
Bersambung.