
Dalam kurun waktu lima belas menit. Pihak kepolisian langsung memenuhi perbukitan Shandy Shell, lokasi yang ditangkap oleh kamera milik helikopter kepolisian. Namun sayangnya mereka tidak menemukan apapun dan siapapun di dalam hutan-hutan perbukitan itu.
"Sial, ke mana mereka?!" gusar Prawira ketika sampai di lokasi bersama dengan rekan-rekan bersenjatanya.
"Maaf, pak. Helikopter kita kehilangan visual mereka, seketika radar helikopter terganggu dan sistem navigasi pada helikopter rusak. Hal itu membuatnya harus melakukan pendaratan darurat segera," ucap salah satu anggotanya.
Prawira terdiam ketika mendengar hal tersebut. Seketika dirinya langsung menarik mundur semua personelnya untuk segera kembali ke kota. Ketika dalam perjalanan di dalam mobil dinas hitam miliknya, ia langsung menghubungi Garwig soal apa yang terjadi pada sistem helikopter milik kepolisian. Prawira menyimpan sebuah kecurigaan mengenai hal tersebut.
...
"Bos, kita sudah siap dalam segala aspek. Tinggal tergantung dengan perintah serta arahan anda." Di sebuah tebing tepat di tepi laut, seorang pria terlihat tunduk kepada pria lain berpakaian tuksedo putih yang kini berdiri tepat di hadapannya.
"Baiklah, kita lakukan sekarang, dini hari ini juga! Aku mau ketika fajar tiba, kita sudah berhasil menguasainya." Titah pria itu dan terlihat begitu menyimpan ambisi tersendiri soal kekuasaan.
"Baik!" sahut pria yang tunduk itu, dan kemudian beranjak pergi dari sana.
Pria dengan tuksedo putih itu menghela napas panjang dengan memejamkan matanya untuk sesaat. Aroma laut yang sedang pasang di malam ini dapat ia rasakan beserta ketenangan angin malam.
"Sayang, semua anak buah kita sudah siap. Dua regu telah dibagi, dan masing-masing regu diketuai oleh Farres dan Doma. Sedangkan di regu ketiga yaitu regu utama tetap akan dirimu-lah yang memimpin."
"Sekarang tinggal kapan kita akan mengeksekusinya," ucap seorang wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Karina. Ia berjalan menghampiri pria itu yang ternyata adalah Tokyo sembari berbicara.
"Tepat pukul dua, kita langsung bergerak! Dan tepat pukul dua lebih tiga puluh menit, aku nggak mau tau kita harus sudah menguasai Shandy Shell dan Paletown." Tokyo berbalik badan dan menghadap ke arah Karina dengan tatapan penuh dengan ambisi.
"Lalu bagaimana denganku?" cetus Karina menatap dalam kedua mata milik pria yang kini berada tepat di hadapan wajahnya.
"Kau ikut denganku! Ini akan menjadi konflik yang cukup panjang dan sangat berbahaya," sahut Tokyo sembari beranjak berjalan menjauh dari tempat itu menuju ke kumpulan rekan-rekannya.
Karina tersenyum senang mendengar hal tersebut, dan secara tidak langsung dirinya kegirangan setelah mendengar keputusan Tokyo untuknya. Ia pun menyusul langkah laki-laki itu dan kemudian berjalan berdampingan dengannya.
***
Pukul 01:45 dini hari.
DUAARRRR ....!!!!
Empat ledakan tiba-tiba saja terjadi begitu hebat, dan ledakan itu seketika meruntuhkan dinding perbatasan area vila. Saking besarnya keempat ledakan itu, Nicolaus dapat melihatnya dari kejauhan sejauh 250 meter. Seluruh anak buahnya langsung tertuju ke sana dengan senapan-senapan mereka.
__ADS_1
Ashgard mulai memasuki area vila, dan semakin mendekati bangunan vila yang berada di atas dari sebuah bukit kecil. Namun di tengah-tengah, Berlin harus menghentikan langkahnya dan juga rekan-rekannya sejenak. Karena dirinya dapat menyaksikan begitu banyaknya personel Clone Nostra yang berlarian mondar-mandir dengan tangan penuh senapan.
"Cari mereka! Jika ketemu, langsung habisi!"
"Gunakan semua persenjataan kalian! Jika perlu gunakan bom untuk meledakkan mereka!"
Teriak-teriak beberapa dari orang-orang itu ketika berlarian. Semua ucapan itu ditujukan untuk Ahsgard, dan Berlin tentu mengetahui hal tersebut. Beruntung dirinya dan juga rekan-rekannya masih terlindungi dari balik gelapnya hutan.
"Jadi begini rasanya ingin membunuh seekor harimau, namun kita berada di dalam kandang yang dipenuhi banyak harimau kelaparan. Aku suka dengan andrenalin ini," celetuk Asep.
"Senang bisa mengenal kalian, teman-teman," timpal Aryo.
"Kita pasti dapat melalui ini semua bersama-sama, tenanglah!" sahut Kimmy.
Beberapa dari rekannya saling meyakinkan dan mempercayakan satu sama lain ketika berada di dalam situasi yang sangat menegangkan ini. Karena jika mereka menginjakkan kaki sedikit saja keluar dari balik semak-semak dan pepohonan itu, maka dapat dipastikan akan banyak sekali timah panas yang akan melayang ke arah mereka.
"Mavi, di mana pintu masuk ruangan bawah tanah itu?" tanya Berlin kepada Mavi di sampingnya.
Mavi mengulurkan tangannya dan menunjuk ke arah lereng bukit kecil di sana, tepat di bawah bangunan vila yang amat megah itu. "Di balik pepohonan itu, terdapat pintu darurat ruang bawah tanah. Kita dapat melewati pintu darurat itu untuk menuju ke sana," ucap Mavi.
"Namun untuk ke sana, kita harus melewati satu batalion dari mereka. Mau tidak mau, akan terjadi pertukaran timah panas dan pertumpahan darah," ucap Berlin mengingatkan rekan-rekannya.
"Baik, Bos!" sahut rekan-rekannya dengan masing-masing pistol yang sudah siap di tangan mereka.
Berlin kembali memalingkan pandangannya ke arah dari sebuah gudang yang berada tepat di lereng bawah halaman vila. Ia melihat beberapa perlengkapan seperti bahan peledak dan kotak penuh dengan amunisi.
"Kita akan bergerak ke arah gudang itu, dan kemudian merampas serta menggunakan segala suplai yang ada. Kalian semua paham?" cetus Berlin dengan ide yang tiba-tiba saja terlintas di kepalanya. Semua rekannya mengangguk paham, dan terlihat telah siap untuk kembali melakukan pergerakan agresif.
"Tidak ada waktu lagi, saatnya kita bergerak!"
TAP ... TAP ... TAP ...!!!!
Ashgard langsung bergerak cepat mendekat ke arah gudang itu. Dengan tetap melalui semak-semak dan pepohonan yang amat padat dan gelap. Mereka dapat bergerak dengan cukup leluasa.
Ketika sudah cukup dekat dengan gudang yang dimaksud. Mereka kembali berhenti dan mulai menyebar ke beberapa titik, namun tetap masing-masing posisi mereka tidak saling berjauhan. Terpantau lebih dari dua puluh orang yang tengah berjaga di sekeliling gudang tersebut.
DESING ...!!! DESING ....!!!!!
__ADS_1
Desing peluru melesat dengan sangat cepat yang berasal dari balik gelapnya hutan dan dalam waktu yang bersamaan, lebih dari sepuluh orang yang sedang berjaga di sekitar gudang itu langsung tergeletak tak bernyawa.
"TEMBAKAN!"
"Asalnya dari dalam hutan!"
Teriak beberapa personel dari Clone Nostra yang tampak cukup kepanikan ketika mendapat serangan secara tiba-tiba. Namun sayangnya orang yang berteriak-teriak itu dibuat jatuh tersungkur dalam keadaan bersimbah darah setelah sebuah meluru melesat menembus kepalanya.
Gubrakk ...!!!
Mendengar keributan yang terjadi di sekitar gudang, membuat semakin banyak orang dari Clone Nostra yang berdatangan. Melihat hal tersebut, Ashgard tak tinggal diam. Berlin dan rekan-rekannya tetap melancarkan tembakan-tembakan ke arah setiap orang yang berdatangan, dan alhasil mereka semua tergeletak seolah setor nyawa setelah berdatangan satu persatu.
Namun karena saking banyaknya pihak Clone Nostra, itu membuat seolah usaha Ashgard untuk melumpuhkan setiap orang dari mereka percuma. Ashgard tetap didesak terus menerus oleh mereka karena kalah jumlah.
DOR ... DOR ...!!
Secara membabi buta, setiap personel Clone Nostra yang berdatangan ke arah gudang itu menembaki setiap semak dan pepohonan yang ada. Karena saking gelapnya hutan tersebut, mereka tidak dapat kehadiran Ashgard di sana. Maka dari itu mereka memilih untuk menembaki setiap sisi gelap itu secara brutal.
"Sial, sepertinya usaha kita percuma!" celetuk Adam berlindung di balik sebuah pohon dari tembakan-tembakan itu.
"ARGHH!!" tiba-tiba salah satu dari rekan Berlin terjatuh dengan keadaan berlumuran darah di lengan kirinya.
"Salva tertembak!" teriak Vhalen begitu panik ketika melihat pria itu tergeletak di antara hujan peluru yang ada. Posisi Vhalen berada di balik pohon dan cukup jauh dari Salva.
"Vhalen, tetap di sana! Salva, Tetap merunduk! Jangan bergerak sama sekali dari sana!" tegas Berlin menyaksikan hal tersebut. Posisi Salva cukup sulit untuk diselamatkan, lantaran ia bersembunyi di balik sebuah batu dan di sekitar batu tersebut adalah semak-semak yang cukup terbuka.
Berlin berjalan merunduk melalui semak belukar dan menghampiri Adam. Ia pun memberikan sebuah perintah kepada Adam, "alihkan perhatian mereka dengan ini! Aku dan Kimmy akan ke tempat Salva, dan membawanya pergi dari batu itu," titahnya sembari memberikan sebuah benda lonjong berwarna merah yang rupanya itu adalah suar.
"Siap, bos!" sahut Adam.
"Baik dengarkan aku, semuanya!" tegas Berlin menggunakan radionya. "Adam akan melakukan pengalihan dengan menggunakan suar genggam, dan kalian berikan tembakan perlindungan secara serempak sesuai dengan aba-aba ku. Apakah sudah jelas?!"
"Jelas, bos!" sahut mereka.
"Baik, lakukan itu ... sekarang!"
.
__ADS_1
Bersambung.