Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Akhir CN #140


__ADS_3

Tokyo El Claunius, dan Farres El Claunius. Dua orang petinggi terakhir dari Clone Nostra yang tersisa, dan kini telah berhasil diamankan serta ditangkap oleh Berlin. Berlin berhasil membuat Tokyo tunduk di hadapannya, tanpa harus keluar tenaga untuk menghajar pria berjas putih itu.


Dengan ditaklukkannya dan ditangkapnya Tokyo, itu berhasil membuat Cassano dan Red Rascals kocar-kacir tak karuan. Beberapa dari mereka masih ada yang nekat melakukan perlawanan, namun usaha tersebut sia-sia karena dari pihak aparat langsung mengamankan tindakan mereka. Sedangkan beberapa lagi memutuskan untuk melarikan diri.


Namun pihak dari Prawira dan Garwig dengan sigap langsung mengamankan mereka semua, yang kebanyakan orang-orang dari Cassano yang tertangkap.


"Aku tidak percaya kalau mereka akan terpengaruh dengan trik yang kau gunakan itu, Berlin." Carlos menghampiri Berlin yang perlahan dipapah oleh Kimmy untuk menepi.


"Sepertinya kau dapat membaca rencana ku, ya?" sahut Berlin tersenyum.


"Udah, cukup! Kau tidak boleh bertindak seenaknya lagi!" tegas Kimmy setelah melepas Berlin dan membiarkannya untuk bersandar pada sebuah pagar pembatas di pinggir halaman itu.


Berlin melihat ke arah sekitarnya, dan dirinya sudah tidak melihat dan mendengar lagi adanya baku tembak yang sebelumnya terus terjadi. Pihak aparat kini sedang disibukkan untuk meringkus banyak kriminal dari tiga kelompok yang berbeda yakni Clone Nostra, Cassano, dan Red Rascals.


"Sepertinya ... aku tidak akan bertindak seenaknya lagi, kok! Kau tenang saja, Kimmy," ucap Berlin sebelum kemudian menghela napas dan bersandar santai pada pagar tersebut.


Situasi yang sebelumnya sangatlah kacau, kini telah dapat dikendalikan dan diambil alih kembali oleh pihak berwajib. Namun meski begitu, Berlin tampaknya masih memasang tatapan curiga dan penuh dengan kewaspadaan terhadap Tokyo El Claunius yang dengan gampangnya menyerahkan diri begitu saja.


"Tokyo memang sudah seharusnya untuk terus dicurigai, sampai pihak pengadilan memutuskannya!" ucap Carlos ketika menyadari tatapan tajam dan waspada itu.


"Menurutmu ... apakah akan baik-baik dengan menyerahkannya ke pihak berwenang?" cetus Berlin bertanya. Tampaknya kepercayaannya terhadap pihak berwenang masih saja kurang.


Carlos menggelengkan kepala dan menjawab, "aku tidak tahu."


"Berlin, sudahlah! Serahkan dan percayakan saja mereka kepada yang berwenang!" cetus Kimmy yang berdiri tepat di samping kiri Berlin.


Pandangan Berlin sedikit tertunduk dan tiba-tiba terulas senyuman tipis pada wajahnya, "ya, mungkin kau benar," ucapnya.


Kimmy menoleh dan menatap ke arah Berlin sembari mengulas senyuman manisnya, sebelum kemudian berbicara, "karena semuanya telah selesai, habis ini segeralah pulang, Berlin ...! Aku yakin Nadia pasti menunggumu, dan dia pasti khawatir sangat kepada dirimu. Tidak baik membuatnya terus tenggelam dalam rasa kekhawatirannya, 'kan?"


"Iya, aku benar-benar ingin pulang ...!" sahut Berlin dengan spontan berkata demikian. Meskipun dirinya berjauhan dengan istrinya yakni Nadia hanya satu hari. Namun setelah semua yang terjadi, itu cukup membuat hatinya merasa sangat rindu akan rumah dan sosok cantik Nadia.


Carlos diam-diam menyimpan senyuman tipisnya ketika melihat saudara laki-lakinya itu tersenyum senang. "Baiklah, sepertinya durasiku untuk berada di dekatmu sudah habis, Berlin. Aku harus segera kembali ke Federal, karena jika tidak masa tahanan dan hukuman yang diberikan padaku akan ditambah," ucap Carlos sembari melangkah dan hendak beranjak pergi dari situ.


"Tunggu! Memangnya kau betah di sana?" sahut Berlin, dan itu berhasil menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Tentu saja tidak! Tetapi aku tidak ingin hukumanku ditambah, hukuman penjara seumur hidup saja sudah seperti hukuman mati, apalagi kalau benar-benar hukuman mati. Aku tidak mau itu!" jawab Carlos dengan sedikit menoleh ke belakang ke arah Berlin.


"Baiklah, segeralah kembali ke sana, dan tunggulah surat dariku!" ujar Berlin dengan senyuman tipisnya.


"Aku akan menantinya!" sahut Carlos, sebelum kemudian benar-benar pergi dari lokasi tersebut.


...


Pukul 15:00 sore.


Pihak medis dari rumah sakit kini telah berdatangan memenuhi lokasi Area Balaikota, setelah lokasi tersebut telah dinyatakan aman dan dijaga sangat ketat oleh pihak militer. Terpantau banyak sekali ambulans yang memenuhi halaman depan Gedung Balaikota. Pihak medis satu persatu menangani setiap korban yang terluka, dan mengevakuasi korban yang tewas. Semua dilakukan dengan senyap tanpa harus menggunakan sirine yang bisa saja membisingkan, karena di sana terdapat lebih dari sepuluh ambulans.


Tak hanya para pihak medis yang berdatangan, namun dari para awak media yang hendak meliput juga turut berdatangan. Namun langkah mereka semua terhenti di perimeter luar yang dijaga ketat oleh para aparat berseragam polisi dan juga militer. Mereka semua tidak diperbolehkan terlalu dekat dengan area Gedung Balaikota, karena bisa saja mereka menghambat jalannya evakuasi para korban.


"Berlin!!" terdengar suara teriakan dua orang laki-laki dari kejauhan. Berlin menoleh ke arah perimeter dalam yang berada sangat dekat dengan Gedung Balaikota, dan dirinya dapat melihat adanya Galang dan Rony yang tertahan di sana oleh para aparat yang berjaga.


"Flix, biarkan mereka berdua masuk!" pinta Berlin kepada sosok Flix yang saat itu berada di dekatnya, ketika dirinya hendak dipindahkan ke dalam sebuah ambulans.


Flix pun menghampiri kedua rekan dari Berlin yang tertahan akibat ketatnya penjagaan di perimeter. Setelah mereka berdua diperbolehkan untuk masuk ke dalam area gedung. Galang dan Rony pun langsung berlari menghampiri Berlin yang tampaknya sedang diperiksa oleh dua orang dari pihak medis di dalam dari sebuah ambulans.


"Maafkan kami! Kami berdua seharusnya sudah kembali ke sini sedari tadi, namun terhenti oleh banyak polisi di luar sana," ucap Rony.


Galang dan Rony tertunduk sembari terkekeh kecil sembari berkata, "itu idenya Rony, bos," celetuk Galang.


"Loh, kok aku?!" sahut Rony terlihat panik.


"Memang idemu, 'kan?!" sahut Galang.


"Sudah, cukup ...! Kalian bisa lanjutkan cekcok itu setelah pulang dari sini," sela Berlin. Di dekatnya terdapat dua petugas medis laki-laki yang sedang mengobati luka pada lengan kiri dan kaki kanannya.


"Oh iya, bos. Sepertinya Nadia sangat-sangat mengkhawatirkan dirimu---" cetus Galang, sesaat sebelum mulutnya dibungkam oleh Rony, "mengapa kau mengatakannya? Apakah tidak apa-apa memberitahukannya kepada bos?" bisik Rony.


"Nadia? Kalian bertemu dengannya?" sahut Berlin bertanya.


"I-iya," jawab Rony dengan kepala sedikit tertunduk.

__ADS_1


"Apa yang kalian katakan padanya? Dan apa yang dia bicarakan pada kalian?" tanya Berlin, tatapannya terlihat begitu tajam seperti biasa.


Galang dan Rony sempat menatap satu sama lain, namun mereka tetap membicarakan semuanya kepada Berlin tanpa ada yang ditutup-tutupi. Berlin mendengar semuanya, dan tidak melihat adanya kebohongan di mata milik kedua rekannya itu.


Sesaat setelah pembicaraan mereka bertiga, Prawira bersama dengan Kimmy datang menemui Berlin di belakang ambulans tersebut.


"Berlin, ada yang ingin berbicara denganmu," ucap Kimmy kepada Berlin sesaat setelah semua lukanya diobati oleh dua petugas medis yang ada di sana.


"Hei, bagaimana keadaanmu sekarang?" ucap Prawira menyapa dan menanyakan kabar kondisi dari Berlin.


Berlin sempat tertawa kecil, menghela napas sesaat sebelum kemudian menjawab, "lebih baik dari sebelumnya," jawabnya sembari melihat ke arah pergelangan kaki kanannya yang kini telah benar-benar terbalut gips dengan cukup kuat.


"Tidak parah, 'kan?" cetus Kimmy, ekspresi cukup khawatir kepada Berlin.


"Tidak, tenang saja ...!" jawab Berlin.


"Berlin, aku ingin mengucapkan dua kalimat padamu." Prawira berdiri di samping Berlin yang terduduk di belakang ambulans.


"Pertama, aku ingin meminta maaf sebesar-besarnya atas segalanya. Aku telah membiarkanmu sampai terluka seperti ini, dan mungkin aku juga telah menyeret mu ke dalam semua permasalahan yang ada."


"Kedua, aku juga ingin berterimakasih sebesar-besarnya atas segala usaha yang telah Ashgard berikan. Kontribusi kalian sangat besar, dan itu sangat membantu kami. Kalian benar-benar luar biasa!"


Berlin hanya diam menunggu sampai Prawira benar-benar menyelesaikan kata-katanya. Ketika Prawira selesai, dirinya mulai berbicara dengan berkata, "bagaimana dengan Boni? Di mana dia sekarang berada?" cetusnya yang justru bertanya mengenai Boni Jackson.


Berlin terlihat tidak begitu peduli soal komentar serta pujian yang diberikan oleh Prawira, berbanding jauh dari rekan-rekannya yang terlihat senang ketika Prawira memberiman pujian serta terima kasih itu.


"Dia telah diamankan beserta beberapa antek-anteknya yang juga tersangka dan terlibat dalam membocorkan berbagai informasi penting pemerintah," jawab Prawira.


Berlin menatap tajam dan serius Prawira, sebelum kemudian berkata, " bisakah kau menyampaikan 'terima kasih' ku padanya?"


Apa yang dikatakan oleh Berlin sontak membuat Prawira cukup terkejut. Bahkan tak hanya Prawira, namun ketiga rekannya yang sampai saat ini berada di dekatnya juga sangat terkejut setelah mendengar apa yang dikatakan.


"Berlin, mengapa kau malah berterima kasih kepada penghianat itu?" cetus Kimmy bertanya dengan kedua mata penuh dengan rasa penasaran.


Berlin memandang ke arah langit mendung di sore hari ini dan menjawab, "karena dia telah membukakan beberapa fakta tentang tragedi yang menewaskan kedua orang tuaku, yang sebelumnya masih menjadi misteri dan selalu membuatku bertanya-tanya dengan sendirinya."

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2