
Suasana pagi yang dingin, langit yang cenderung dominan dengan warna abu-abunya, dan embun pagi yang masih terlihat membasahi dedaunan pada tumbuhan-tumbuhan yang ada di taman vila tersebut. Berlin hanya duduk diam menikmati suasana tenang tersebut, ya walaupun tidak terlalu tenang, suara Akira terdengar lamat-lamat sedang asyik bermain di taman itu, tepatnya di pinggir kolam ikan, lima meter di belakangnya.
Berlin membiarkan anak itu bermain sejenak bersama dengan istrinya, sedang dirinya duduk santai dan membiarkan pikirannya melayang. Untuk saat ini, terdapat satu hal yang mengganjal dalam benaknya, satu hal yang belum ia bicarakan dengan sang istri.
Sepuluh menit berlalu, Nadia melangkah perlahan menghampiri pria itu, dan kemudian langsung duduk tepat di sampingnya. Kehadirannya membuat Berlin langsung bertanya, "Akira di mana?" tanyanya, telinganya masih dapat mendengar suara lamat-lamat Akira yang tampak sedang asyik bermain.
"Tuh, lagi asyik sendiri dia," jawab Nadia, menoleh untuk memastikan keberadaan Akira. Setelah selesai memberi makan ikan-ikan di kolam, anak itu tampaknya masih asyik memandangi ikan-ikan di sana. Tak hanya itu yang dilakukannya, beberapa kali Akira berlarian di tengah-tengah taman, menghampiri banyak tanaman bunga, dan sempat mengejar kupu-kupu cantik yang cukup banyak beterbangan di sekitar bunga-bunga taman tersebut.
Berlin sempat melihat betapa riangnya gadis kecil itu ketika bermain di taman belakang vila miliknya. Senyumannya tertoreh jelas, sebelum kemudian kembali datar ketika perhatiannya kembali membuang ke arah pemandangan alam dan gedung-gedung perkotaan.
Tangan putih lembut, hangat, dan sangat halus milik Nadia tiba-tiba saja menggenggam salah satu tangan milik lelakinya. Seolah ia tahu pasti ada sesuatu yang mengganjal hati milik pria itu berdasarkan raut wajahnya, Nadia langsung bertanya, "ada sesuatu yang ingin kamu bicarakan?"
Berlin tersenyum tipis, tertawa kecil, menoleh dan menjawab, "kamu selalu saja bisa membaca ekspresi ku, ya?"
Dengan intonasi sombong, Nadia langsung menyambar, "tentu saja, aku 'kan istrimu!" jawabnya, sebelum kemudian ditimpa oleh tawanya yang terlihat dan terdengar sangat anggun.
Ekspresi anggun bercampur dengan ceria yang ditunjukkan oleh Nadia, berhasil membuat Berlin tersenyum kembali. Ia pun mulai berbicara mengenai hal yang mengganjal hatinya, dan seharusnya ia bicarakan hal ini beberapa waktu sebelumnya.
"Aku ingin membahas soal pekerjaan yang kemungkinan akan ku ambil nantinya, Sayang. Namun sebelum aku membuat keputusan, aku ingin meminta restu sekaligus izin darimu.". Berlin mulai berbicara dengan intonasi dan sikap yang begitu takzim dan sangat serius, berbeda sekali dengan Berlin yang dahulu.
"Pekerjaan apa itu? Apakah itu menjanjikan, dan menjamin?" sahut Nadia, bertanya dengan cukup antusias. Tentu dirinya akan terus memberikan dukungan untuk suaminya, selama pekerjaan itu baik.
"Garwig menawarkan sebuah pekerjaan serta peran penting padaku, lebih tepatnya juga pada Ashgard. Pekerjaan itu berhubungan dengan keamanan, terutama keamanan Walikota." Berlin langsung menjawabnya, dan sedikit menjelaskan mengenai detail pekerjaan yang ditawarkan padanya.
Mendengar jawaban serta penjelasan singkat itu, Nadia cukup dibuat tertegun dan terdiam sejenak. Bumil itu menelan ludah, dan tampak sedang berpikir dan mencemaskan sesuatu, sebelum akhirnya angkat bicara.
"Keamanan? Berarti ... kamu tidak akan jauh-jauh dari senjata api dan peluru, ya?" gumamnya dengan tatapan tentunya menyimpan sebuah kekhawatiran dan trauma tersendiri.
Berlin menoleh, menatap dalam-dalam istrinya, dan memahami adanya sedikit trauma tersendiri dari dalam diri Nadia. Namun tampaknya Nadia tidak begitu mengacuhkan soal trauma yang disimpannya, ia tiba-tiba saja berkata, "apakah artinya kamu akan menjadi bagian dari pihak aparat?" ucapnya, bola matanya membesar memancarkan antusias, dan seolah mencoba untuk mengubur dalam-dalam trauma tersebut.
Berlin mengangkat kedua bahu dan menjawab, "aku tidak tahu, apakah nantinya bisa disebut begitu atau tidak."
"Berlin," tatapan Nadia sungguh lembut, namun serius. Genggaman tangannya terasa halus dan hangat. Ia pun melanjutkan kata-katanya, "jujur dan jawablah pertanyaan ku!" ucapnya sebelum kemudian melemparkan sebuah pertanyaan dengan berkata, "apakah kamu ingin mengambil pekerjaan itu?" intonasi bicaranya meski terdengar pelan dan lembah lembut, namun ketegasan dalam dirinya dapat terlihat dari tatapannya yang tajam.
Berlin sendiri sudah mendistribusikan soal tawaran pekerjaan dari Garwig bersama dengan teman-temannya, terutama orang-orang kepercayaannya, dan mereka semua setuju serta ikut sesuai dengan keputusan yang nantinya akan ia buat.
__ADS_1
Sebuah motivasi untuk berubah, sungguh membuat Berlin berpikir sangat dalam dan serius mengenai tawaran pekerjaan itu beberapa waktu sebelumnya. Apalagi dengan kehadiran sosok sang istri yakni Nadia, serta calon bayi yang ada di dalam perut wanita itu, dan ditambah dirinya juga berencana mengangkat gadis kecil bernama Akira itu menjadi putrinya. Tentu saja dirinya tidak dapat terus berada di dunia kriminal itu, dan menafkahi keluarganya kecilnya dengan uang-uang kotor. Namun mencari pekerjaan baik di saat-saat sekarang tidaklah mudah, ditambah lagi dirinya memiliki rekan-rekan yang juga harus ia pikirkan.
Dalam benaknya setelah mendengar penawaran yang diberikan oleh Garwig beberapa hari yang lalu, tentu dirinya memiliki sebuah keputusan untuk diambil.
Berlin menggenggam erat kedua tangan milik wanitanya, dan kemudian menjawab, "ya, aku akan mengambilnya!" ucapnya dengan intonasi rendah, namun terdengar serta terlihat sangat serius dan bertekad kuat.
Mendengar jawaban itu, senyuman tipis nan lembut ditunjukkan oleh Nadia. "Berlin, aku senang jika kamu sudah berubah," ucap calon ibu muda itu dengan tatapan nanar penuh haru kebahagiaan.
"Aku akan mendukungmu! Meskipun tentu saja aku tahu bagaimana risiko pekerjaan yang akan kamu terima," lanjut Nadia, tersenyum manis, dan intonasi serta sikap bicaranya yang sungguh sopan nan penuh dengan lemah lembut. Ia tampak berusaha terlihat tidak menyimpan kekhawatiran yang berlebihan, walaupun tampaknya itu sangat sulit untuk disembunyikan.
Berlin tersenyum melihat ekspresi penuh cemas dari istrinya. Dengan sikap yang begitu tenang, genggaman yang masih ia eratkan, Berlin berkata, "jangan khawatir ...! Aku sudah melalui banyak hal, jadi tidak perlu takut atau khawatir! Kamu paham, 'kan, Sayang?"
Dengan begitu manja, Nadia melemaskan tubuhnya, menyandarkan kepalanya tepat di antara kedua lengan kuat lelaki itu. Sontak itu membuat dirinya tenggelam dalam pelukan dan sedikit dekapan hangat dari Berlin yang merespons kelakuannya.
Nadia mendengus dan menghela napas, sebelum kemudian berceletuk, "kurasa ini juga sudah menjadi risiko diriku menjadi istrimu. Jadi aku harus siap untuk apapun!" ucapnya, intonasi berbicara terdengar tak gentar dan seolah siap menghadapi apapun rintangannya.
Berlin mengelus lembut kepala milik sang istri yang kini ada di dalam dekapannya. Ia tersenyum mendengar apa yang dikatakannya, dan sempat terkekeh kecil.
"Aku selalu merasa, selama ada dirimu dan doamu, aku akan baik-baik saja dalam keadaan dan situasi apapun itu." Berlin menatap paras cantik dengan pipi merona milik sang istri, sebelum kemudian melanjutkan dengan berkata, "aku ingin kamu terus menjadi sumber motivasi dan dukungan untuk diriku, selamanya. Apakah kamu bersedia?"
Sesaat setelah mendengar jawaban itu, Berlin seketika mengecup kening milik Nadia dengan sungguh lembut, penuh dengan kasih sayang. Melihat wanita itu tersenyum bahagia, secara tidak langsung juga membuat hatinya merasakan hal yang sama. Senyumannya juga terus terpampang, dan mungkin tidak akan pudar jika terus melihat Nadia bahagia seperti saat ini.
"Mama!" suara Akira memecah keduanya. Anak itu berlari kecil menghampiri Berlin dan Nadia yang duduk di bangku yang sama, bahkan sangat berdekatan.
"Apa, Sayang?" refleks Nadia menanggapi panggilan itu.
"Mama, Akira lapar!" sahut Akira, memegangi perut kecilnya.
Berlin dan Nadia seketika dibuat terkekeh melihat ekspresi lucu itu, dan mendengar apa yang dikatakan oleh Akira. Kelihatannya anak itu sudah lelah setelah berlari-lari dan bermain sendiri di taman, sehingga sampai membuat perut kecilnya keroncongan.
"Bukankah kita sudah sarapan bersama tadi?" tanya Berlin.
"I-iya, tetapi ... Akira pengen makan sosis bakar sama telur dadar buatan Mama lagi!" sahut Akira, antusias sekali. Tatapannya yang antusias itu tertuju kepada Nadia, sebelum kemudian bertanya, "boleh, 'kan?"
Nadia tersenyum melihat wajah imut gadis kecil itu yang memasang ekspresi memohon padanya. Benar-benar menggemaskan. Jika tidak tahan, mungkin dirinya sudah mencubit-cubit pipi tembem Akira.
__ADS_1
"Kamu bagaimana? Mau ku buatkan juga yang sama dengan Akira?" tanya Nadia, berdiri dari bangku itu, dan bertanya kepada Berlin.
"Aku ... sandwich, deh! Kangen rasa sandwich buatan kamu," sahut Berlin, dengan sedikit menggoda istrinya itu.
"Sen ... wih? Apa itu?" celetuk Akira, sedikit memiringkan kepalanya, dan dengan ekspresi sungguh polos, tidak tahu seperti apa itu yang namanya "sandwich". Kedengarannya itu makanan yang enak, meskipun lidahnya sangat kewalahan untuk menyebutkan nama makanan itu.
"Akira nggak tahu?" sahut Berlin bertanya, mendekatkan dirinya kepada Akira yang berdiri di depannya.
Anak itu hanya menggeleng, ekspresinya seolah masih bertanya-tanya dengan sendiri mengenai bentuk dan rasa dari apa itu sandwich.
Nadia tersenyum hangat melihat ekspresi yang sungguh polos dari anak itu. Dirinya pun menggandeng salah satu tangan kecilnya, dan berkata, "yuk! Mama bikinin sandwich, nanti kamu boleh mencobanya kalau mau."
Seketika Akira langsung kegirangan, senang sekali, meloncat-loncat kecil, dan seolah tidak sabar. Ia menarik tangan Nadia sembari berkata, "ayo, Mama! Akira juga mau bantu bikinnya! Akira kepingin tahu bagaimana cara bikin 'sanwih' itu!"
"Sandwich, Sayang. Bukan 'sanwih'," sahut Berlin meralat ucapan Akira. Gadis kecil itu hanya tertawa girang saja.
"Kamu nggak mau ikut sekarang?" tanya Nadia kepada Berlin ketika hendak beranjak pergi ke dapur.
Berlin tersenyum, menggeleng, dan menjawab, "aku mau di sini sebentar, nanti aku susul ke dapur aja."
"Baiklah!" Nadia tersenyum mendengar jawaban itu. Dirinya pun segera beranjak pergi menuju dapur, sembari menggandeng gadis kecil di sampingnya yang tampak sudah tidak sabar.
"Mama, san ... sen ... ah--makanan itu bikinnya pakai apa, sih?" Akira bertanya, menyerah ketika lidahnya kesusahan mencoba menyebut kata "sandwich".
"Sandwich itu ada banyak macamnya, sih. Ada sandwich buah, ada sandwich daging, ada juga sandwich telur. Tergantung Akira mau Mama buatin yang mana?" jawab Nadia.
"Um ... Akira bingung, kayaknya enak semua. Akira ikutin saja Mama mau buat yang mana, hehehe!" jawab Akira, terkekeh kecil, dengan ekspresi riangnya yang masih terpampang jelas.
Percakapan mereka berdua terus terdengar sepanjang ketika jalan dari taman, masuk ke dalam, bahkan hingga sampai ke dapur. Suara mereka berdua terdengar jelas, hingga terdengar lamat-lamat menjauh. Berlin dapat mendengar semua percakapan itu, dan entah mengapa tiba-tiba saja dirinya tersenyum ketika mendengar semua percakapan dari kedua orang yang sangat berharga baginya.
Pandangannya masih tertuju ke arah pemandangan alam dan gedung-gedung perkotaan yang indah dilihat dari jauh, meskipun tampaknya cuaca di langit tidak begitu indah di pagi menjelang siang ini, lebih dominan dengan awan berwarna abu-abu. Namun dibanding dengan semua pemandangan itu, perhatian hati dan telinganya lebih tertarik dan fokus mendengarkan percakapan antara Nadia dan Akira di dapur, yang masih bisa terdengar lamat-lamat.
.
Bersambung.
__ADS_1