Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Hari yang Sangat Indah #13


__ADS_3

Di tempat lain namun masih di waktu yang sama, tepatnya berada di markas Ashgard. Asep tampak sedang sibuk sendiri dengan layar komputernya yang terus menyala sedari tadi. Ia tampak sedang melakukan pencarian akan suatu hal.


Di tengah kesibukannya. Tiba-tiba Kimmy memasuki ruangan lalu bersandar pada pintu ruang kerjanya dan kemudian berkata, "padahal kemarin Berlin sudah menyuruhmu untuk menghabiskan waktu akhir pekan mu terlebih dahulu, 'kan?"


Asep sedikit terkejut dengan kehadiran Kimmy yang tiba-tiba itu. Dirinya tertawa kecil dan lalu berkata, "maaf, aku terus kepikiran jika tidak segera ku mulai dan ku selesaikan," ucapnya menoleh ke belakang dan menghadap Kimmy yang berdiri di sana.


Kimmy tampak menghela napas berat lalu bergumam, "dasar!" seraya memejamkan matanya dan sedikit tertunduk. "Aku tidak tahu apa yang akan dikatakan Berlin, tetapi ku harap dia senang dengan apa yang kau lakukan." Kimmy berbicara lalu pergi begitu saja dari ruangannya. Ia tampak tidak ingin mengusik atau mengganggu kesibukan rekannya.


Asep pun kembali ke layar monitornya. Ia melanjutkan pekerjaannya di sana, dan tampak sangat fokus sekali.


"Aku akan berusaha untuk tidak mengecewakan mu, Berlin!" batin Asep. Ia Tidak peduli apa yang akan dikatakan oleh Berlin nantinya jika mengetahui hal ini. Tetapi yang jelas apa yang ia lakukan ini sudah cukup membuat hatinya sedikit lega karena tidak terus kepikiran untuk memulainya.


Sedangkan di ruang tengah, tampak terdapat Adam yang berbincang dengan Sasha dan juga Faris di sana. Kimmy berjalan menghampiri mereka dan duduk di sofa tepat di sebelah kiri Sasha.


"Ada apa?" tanya Sasha.


"Padahal Berlin kemarin menyuruhnya untuk menikmati akhir pekan, tetapi Asep malah bertindak seenaknya." Kimmy menjawab dan memberitahukan keluh kesahnya. Meskipun dirinya merasa tidak masalah dengan apa yang dilakukan oleh Asep. Namun dirinya hanya takut Berlin akan menindak apa yang dilakukan oleh rekannya itu.


"Biarkan saja dia, mungkin itu caranya untuk menikmati akhir pekannya," ujar Adam yang duduk tepat di sebelah kanan Sasha.


"Aku hanya takut dia akan terkena omelan dari Berlin," gumam Kimmy tampak sedikit resah.


Namun Adam malah tertawa setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Kimmy. "Aku yakin Berlin tidak akan membuang-buang tenaga untuk mengomeli hal sepele itu," ucapnya kemudian.


"Tenang saja, aku juga akan berbicara kepadanya nantinya," lanjut Adam beranjak dari sofa untuk mengambil minuman di sebuah kulkas yang berada di sudut ruang utama.


Kimmy menjadi merasa sedikit lega mendengar apa yang dikatakan oleh Adam. "Syukurlah Berlin yang sekarang bukanlah Berlin yang dahulu," batinnya lalu tersenyum dengan sendirinya.


"Sasha, apakah kau haus?" cetus Adam ketika membuka lemari pendingin itu.


"Mentang-mentang ada pacarmu di sini, kau tidak peduli lagi dengan temanmu yang juga haus ini?!" celetuk Faris melipatkan kedua lengannya di atas dada, dan dengan nada menyindir serta sedikit ketus.


Adam tertawa mendengar celotehan itu. "Baik, baik, nih buat kalian!" Adam berjalan kembali menghampiri ketiga rekannya itu dengan membawa minuman kaleng masing-masing untuk mereka.


Kimmy ikut tertawa dan tersenyum mendengar serta melihat kelakukan rekan-rekannya. Ia menerima minuman yang diberikan, lalu meminumnya bersama-sama.


.


~


.


Pukul 14:00 siang.


Pusat Perbelanjaan Metro.


Setelah berkeliling ke sana ke mari untuk mencari apa yang akan dibutuhkan. Troli yang didorong oleh Berlin pun akhirnya penuh dengan belanjaan. Nadia pikir semuanya sudah cukup, dan terakhir yang perlu dilakukan adalah membayar semua barang belanjaan itu di kasir.

__ADS_1


Terlihat antrian cukup padat dari kasir pertama sampai terakhir. Berlin pun memilih kasir yang memiliki antrian yang tidak terlalu banyak atau panjang. Mereka hanya butuh beberapa menit saja untuk menunggu serta mengantri.


"Bagaimana?" tanya Nadia berdiri di samping Berlin dan sedang mengantri bersama.


"Bagaimana apanya?" sahut Berlin kembali bertanya seraya menoleh dan menatap Nadia di sampingnya.


"Nanti saja, setelah kita selesai mengantri," jawab Nadia tampak tersenyum dengan sendirinya. Pandangannya ke depan dan siap melangkah maju jika orang di depannya selesai membayar di kasir.


Setelah antrian yang sedikit memakan waktu itu. Berlin pun segera menyelesaikan pembayaran di kasir, ia membayar semua barang belanjaan dengan kartu kredit miliknya.


Setelah menyelesaikan transaksi tersebut. Berlin pun membantu Nadia membawakan barang-barang belanjaannya yang sudah terbungkus oleh plastik putih yang cukup besar. Berlin pun mengikuti Nadia yang berjalan menuju pintu keluar dari pusat perbelanjaan itu.


"Apakah kamu bosan?" tanya Nadia ketika berjalan menuju pintu keluar kepada Berlin di sisinya.


Berlin tersenyum dan menjawab, "kurasa ... tidak begitu membosankan karena ada kamu, sih." Ia menjawab dengan melirik dan sedikit nada menggoda wanitanya itu.


"Dasar kamu ini!" sahut Nadia melirik tajam namun seraya mengulas senyumnya.


"Setelah ini, kamu mau ke mana lagi?" tanya Berlin sesampainya di mobilnya yang terparkir tak jauh pada halaman parkir utama pusat perbelanjaan. Ia memasukkan serta menata barang-barang belanjaan itu di bagasi mobilnya.


Nadia tampak bingung mendapat pertanyaan itu. Ia terdiam dan terlihat memikirkan jawabannya. Karena ini akhir pekan, dirinya sangat ingin menghabiskan waktunya bersama Berlin. Namun dirinya justru bingung harus melakukan apa di waktu yang sangat luang ini.


"Ada apa? Kok kamu kelihatan bingung, sih?" cetus Berlin menoleh kepada wanitanya itu.


"Ah, um ... anu ... sebenarnya aku tidak memiliki rencana apapun hari ini selain berbelanja, hehehe," jawab Nadia seraya mengulas senyumannya yang terlihat sangat canggung.


Berlin menghela napas dan tersenyum mendengar hal tersebut. "Baiklah kalau begitu, ayo naik! Aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ucap Berlin lalu masuk dan duduk di kursi pengemudi, sedangkan Nadia duduk di bangku penumpang tepat di sebelahnya.


"Ada deh!" sahut Berlin terlihat sangat merahasiakan hal tersebut dari Nadia.


"Kebiasaan!" gerutu Nadia seraya mengerucutkan bibirnya. Ia tampak sebal dengan sikap Berlin yang terlihat sedang mempermainkannya.


"Namun sebelum itu, kita harus mempulangkan barang-barang belanjaan ini!" lanjut Nadia namun terlihat masih sebal.


"Baik, baik, siap!" jawab Berlin tersenyum.


Berlin terkekeh melihatnya, ia tersenyum melihat sikap wanitanya yang terlihat sedang sebal itu. Berlin pun segera mengendarai mobilnya, dan pergi dari pusat perbelanjaan itu menuju ke tempat yang ia maksud.


~


Pukul 16:00 sore.


Setelah mempulangkan semua barang belanjaan itu. Berlin pun kembali berangkat dan menuju ke tempat yang ingin ia tuju bersama dengan Nadia.


"Apakah kita akan pergi ke gunung?" tanya Nadia menoleh kepada Berlin yang sedang menyetir di sampingnya, lalu kembali memalingkan pandangannya ke arah jendela mobil.


Dalam perjalanan, Berlin menuju ke wilayah paling Utara dari Kota Metro. Wilayah tersebut adalah wilayah pegunungan, dan berbatasan langsung dengan wilayah Shandy Shell.

__ADS_1


"Ah, nggak seru! Kamu sudah bisa menebaknya," sahut Berlin yang justru kini terlihat sedikit sebal. Namun di sisi lain ia menyimpan senyuman senang karena melihat Nadia yang juga terlihat sangat senang ketika diajak jalan-jalan bersamanya.


Setelah melewati jalanan pegunungan yang berliku dan cukup ramai dengan kendaraan karena akhir pekan. Berlin pun sampai di sebuah tempat yang sangat tenang dan letaknya tepat di atas dari sebuah bukit.


Di atas bukit tersebut terdapat sebuah kedai yang pada saat itu juga terlihat cukup banyak pengunjung yang datang. Berlin memarkirkan mobilnya di halaman parkir kedai itu.


"Ayo! Kita sudah sampai," ujar Berlin turun dari mobilnya bersama Nadia.


"Yah, kedainya tidak terlalu mewah, sih. Tetapi menu di sini enak-enak, kok! Mereka juga menjual berbagai macam kue, dan aku yakin kamu suka dengan suasananya." Berlin berjalan menuju pintu masuk kedai itu dengan menggandeng Nadia.


"Aku tidak peduli tempat ini mewah atau tidak, yang terpenting bagiku hanyalah bersamamu," lirih Nadia sedikit melirik lalu sedikit menunduk menyimpan pipinya yang mulai merona.


Berlin hanya tersenyum mendengarnya. Ia berjalan menuju ke sebuah meja yang letaknya berada di ruang terbuka. Ia memutuskan untuk memilih meja tersebut.


Nadia terlihat terpana dengan pemandangan yang disajikan dari tempatnya dan Berlin berada. Lika-liku jalanan yang dilaluinya di lereng bukit terlihat sangat jelas dari atas situ. Beberapa perbukitan dan pegunungan juga terlihat. Semuanya terlihat sangat hijau dan asri. Ditambah lagi ia bisa melihat Danau Shandy Shell dari atas situ, meskipun danau tersebut terlihat sangat jauh sekali sehingga membuatnya terlihat sedikit kecil.


Suasana di atas bukit itu juga terasa sangat nyaman baginya. Nadia sangat menyukai suasana yang seperti ini. Sejuk, tenang, dan diiringi dengan kicauan burung-burung liar. Begitu pula dengan Berlin. Menurutnya ini suasana yang tepat untuk mendinginkan hati dan pikiran.


"Permisi, Tuan. Silakan mau pesan apa?" seorang pelayan wanita yang sangat ramah datang menghampiri mereka berdua dengan membawa secarik kertas untuk mencatat pesanan.


"Kamu mau pesan apa?" tanya Berlin kepada Nadia yang duduk di depannya.


"Um, aku mau ... pesan ini ...!" Nadia pun memutuskan untuk memesan kue. Begitu pula dengan Berlin. Namun Berlin memesan kue yang berbeda dengan kue yang dipesan oleh Nadia. Meski begitu, mereka memesan minuman yang sama.


Pelayan itu pun beranjak pergi dengan catatan yang terisi dengan pesanan yang dipesan oleh Berlin dan Nadia.


"Bagaimana?" tanya Berlin menatap istri cantiknya di depannya. Namun pandangan Nadia sepertinya sangat sulit untuk lepas dari melihat pemandangan alam yang indah itu.


"Aku suka," jawab Nadia lirih. Dirinya terlihat sangat senang, bahkan keceriaannya tidak bisa disembunyikan lagi dari ekspresi wajahnya yang cantik itu.


"Hmm, sepertinya aku jadi yang kedua ... untuk dipandang olehmu," ucap Berlin sembari menopang dagunya, dan terus memandang ke arah Nadia seraya mengulas senyum padanya.


Nadia tertawa kecil mendengar apa yang dikatakan oleh lelakinya itu. "Maaf, sepertinya aku terlalu senang dengan ini," ucapnya sempat melirik ke arah Berlin, namun kembali memalingkan pandangannya ke arah pemandangan alam yang ada di depan matanya.


"Lihat! Itu Danau Shandy Shell, 'kan?" cetus Nadia sembari menunjuk danau yang terlihat kecil di kejauhan sana.


"Iya, karena ini perbatasan dan masih jauh untuk masuk ke area Shandy Shell, jadi danau itu terlihat kecil dari sini." Berlin menjawabnya, namun pandangannya tetap mengarah Nadia yang terlihat sangat senang dan ceria itu. Dirinya tersenyum dan juga merasa senang.


Tak lama kemudian menu yang dipesan pun datang dibawakan oleh pelayan tadi. Kue-kue beserta dua minuman yang dipesan itu dipindahkan dari nampan ke atas meja.


"Silakan dinikmati!" ucap pelayan wanita itu, lalu memberikan senyuman manisnya kepada dua pelanggan yang sedang ia layani.


"Terima kasih," sahut Nadia tersenyum kepada pelayan wanita itu. Pelayan itu pun kembali pergi untuk kembali bekerja melayani pelanggan yang lain.


Berlin pun menikmati kue-kue manis dan sedikit berwarna itu bersama dengan Nadia, ditemani juga dengan pemandangan alam yang indah itu. Dirinya benar-benar menginginkan momen-momen seperti ini. Menghabiskan waktu luang hanya untuk orang yang ia cintai.


Hanya di saat-saat seperti inilah Berlin dapat melupakan sejenak soal pekerjaan dan permasalahannya yang lainnya di pekerjaan. Ia sangat mengincar momen-momen seperti ini. Menghabiskan waktu sepenuhnya hanya dengan Nadia, dan bersantai dari semua beban pekerjaan. Hari yang sangat indah baginya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2