
Baku tembak masih terjadi dan berlanjut tanpa henti, menjadikan pusat kota atau lebih tepatnya Distrik Komersial menjadi tempat atau wilayah konflik tersebut. Namun beruntungnya sudah distrik itu sudah dikosongkan, dan sudah dipastikan oleh Ashgard bahwa tidak ada lagi warga sipil yang ada di dalam distrik. Semua orang-orang tidak bersalah itu sudah dievakuasi dan diamankan di luar distrik, dan informasi mengenai para warga yang sudah aman telah sampai di telinga Prawira.
Prawira dan Garwig masih berada di area gedung pengadilan. Keduanya telah menerima beberapa informasi masuk mengenai peperangan atau baku tembak yang sedang terjadi. Bahkan informasi itu sepertinya tidak hanya sampai kepada dua orang penting tersebut, melainkan juga sampai di telinga para awak media yang tengah meliput dan menunggu kabar kelanjutan dari sidang yang tengah berlangsung dari luar gerbang gedung pengadilan.
Ketika Prawira dan Garwig berjalan di halaman dan terlihat oleh para wartawan di sana, beberapa kali teriakan terdengar bersahutan memanggil mereka berdua, bahkan beberapa langsung melemparkan pertanyaan mengenai apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana.
Namun keduanya diam dan bungkam, meskipun masing-masing telinga mereka berdua sama-sama mendengar beberapa panggilan serta pertanyaan tersebut. Tetapi mereka berdua tidak ingin menjawabnya, atau mungkin lebih tepatnya tidak ingin terlalu cepat memberikan jawaban dan berbicara di depan publik mengenai situasi yang sedang terjadi.
Persidangan di dalam gedung pengadilan masih berlangsung dengan serius dan tenang. Tidak ada perdebatan atau argumen-argumen, bahkan juga tidak ada yang berbicara selain hakim dan orang-orang yang ditunjuk oleh hakim untuk bicara. Semua berlangsung dengan baik, lancar, dan sungguh tenang meskipun situasi jauh di luar sana bisa terbilang sangat kacau.
"Apakah kau masih ingin menahan anggota untuk berangkat mengatasi situasi yang ada?" tanya Garwig, berjalan di bawah rintik deras hujan bersama dengan Prawira menuju ke halaman samping pengadilan, sedikit menjauh agar tidak terlalu terlihat dari gerbang utama gedung pengadilan.
Prawira menghentikan langkahnya, menatap serius Garwig dan mengangguk sebelum kemudian berkata, "Ashgard yang akan mengatasinya, Berlin sendiri telah menghubungi diriku secara langsung dan meminta izin untuk mengambil alih otoritas sementara operasi lapangan, hingga situasinya tenang dan terkendali."
"Lalu kau memberikannya?" sahut Garwig, ragu dan ingin memastikan.
Prawira menghela napas sejenak sebelum akhirnya berbicara, "sebenarnya pada awalnya aku ragu untuk memberikan izin tersebut, apalagi mengingat jumlah pelaku lebih banyak daripada personel yang dimiliki Ashgard saat ini. Walaupun aku menitipkan delapan personel tambahan, tetapi sepertinya tetap saja mereka masih kalah jumlah."
"Namun setelah menerima beberapa laporan dari Berlin mengenai apa yang sebenarnya terjadi di lapangan, aku pun memutuskan untuk memberinya izin dan lebih memfokuskan para anggota untuk mengawal serta mengamankan perimeter persidangan sesuai dengan rencana," lanjut Prawira, selesai berbicara.
"Laporan?" tanya Garwig kembali, karena memang dirinya tidak begitu tahu-menahu soal apa yang sebenarnya sedang terjadi di luar sana, dan mengapa baku tembak atau peperangan tersebut bisa terpicu hingga tercipta.
Tanpa berbasa-basi Prawira pun menjawab dan memberikan penjelasan mengenai laporan yang ia terima langsung dari Berlin melalui ponsel genggamnya.
__ADS_1
"Ada tiga kelompok kriminal yang saat ini sedang terlibat dalam peperangan di Distrik Komersial, tiga kelompok tersebut adalah Clone Nostra, Cassano, dan Red Rascals. Namun di antara dari tiga kelompok itu, terdapat satu kelompok yang sepertinya tengah menjadi incaran dua kelompok lainnya, yakni Red Rascals."
"Cassano ...?" gumam Garwig, mengerutkan dahinya, melipat kedua lengannya di atas dada dan kemudian menghela napas, berpikir serta mengingat-ingat soal kelompok yang baru saja tercetus melalui mulutnya.
"Benar, dan sepertinya memang sulit bagi kita untuk membasmi mereka, walaupun ketua kelompok mereka telah kita tangkap dan saat ini mendekam di Federal," ucap Prawira, menanggapi kebingungan Garwig yang cukup terlihat itu.
Setelah memberikan sedikit jawaban untuk kebingungan Garwig mengenai kemunculan Cassano kembali. Prawira kembali melanjutkan penjelasannya yang belum selesai.
"Berdasarkan informasi yang ku terima dari Ashgard, atau lebih tepatnya dari Berlin. Clone Nostra dan Cassano terlihat bergerak secara bersamaan dan beriringan, mereka terlihat sedang bekerjasama untuk menyerang habis-habisan Red Rascals."
Prawira mengambil ponsel dari dalam sakunya, kemudian membuka sebuah rekaman video yang ia dapatkan dari Berlin, dan menunjukkan rekaman tersebut kepada Garwig.
"Mereka terlihat sungguh berambisi untuk menggempur Red Rascals, terlihat dari pihak ungu itu tidak menyerang pihak putih, bahkan mungkin mereka malah saling membantu. Sedangkan si merah benar-benar ditekan dan dibuat cukup kewalahan oleh si ungu dan si putih." Prawira berbicara ketika ia memperlihatkan rekaman video tersebut kepada Garwig di hadapannya.
Prawira menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku mantel hitam yang dikenakan olehnya. Sesaat setelah itu Garwig kembali bertanya, "apakah Ashgard akan baik-baik saja? Sepertinya kita terlalu membebankan tanggung jawab yang besar kepada mereka," ucapnya dengan cukup menyimpan rasa khawatir, terlebih dan tentu saja semua peristiwa yang saat ini terjadi di sana melibatkan Berlin di dalamnya.
"Tentu saja aku tidak akan diam saja, tepat di luar distrik tersebut aku sudah menempatkan beberapa penembak jitu dan regu taktis yang siap masuk jika Ashgard kewalahan, tanpa sepengetahuan mereka, sih." Prawira lanjut berbicara sebelum akhirnya mengakhiri penjelasannya.
***
Waktu menunjukkan pukul satu lewat lima menit siang, dan peperangan di Distrik Komersial masih saja berlanjut. Setelah melewati beberapa menit, Berlin akhirnya menerima informasi dari rekannya yang memantau yakni Asep, dan kemudian langsung membuat keputusan di saat itu juga.
"Kita langsung bergerak dengan sedikit memutar ke Utara, dan kemudian masuk, hajar, dan lumpuhkan mereka yang berjaket merah! Jangan tembak atau sedang mereka yang berpakaian putih dan ungu!" ucap Berlin menggunakan radio komunikasinya, dan dapat didengar oleh semua rekan dan personel yang mengikutinya.
__ADS_1
Perintah serta arahan tersebut tentu sempat membuat keraguan di antara rekan-rekannya, akan tetapi mereka patuh dan yakin saja dengan keputusan yang dibuat oleh Berlin. Namun sepertinya sulit bagi personel titipan pihak aparat yang terlihat sangat meragukan Berlin.
"Bos, bukankah ini terlalu berisiko?" tanya Sasha sambil mengendarai mobilnya.
"Memang, namun di sinilah keuntungan kita ...!" sahut Berlin.
Sasha hanya mengangguk dan mengikuti saja apapun arahan serta perintah yang diberikan oleh orang yang paling ia hormati itu. Begitupula dengan rekan-rekan yang lain, namun tidak dengan personel dari pihak aparat itu. Salah satu dari beberapa motor yang dikendarai mereka perlahan berjalan mendekat dan sejajar dengan mobil milik Berlin yang sedang melaju.
"Apakah anda yakin? Kita bisa menjadi santapan tiga kelompok itu! Apalagi kelompok ungu dan putih yang tiba-tiba saja masuk." Sebuah kalimat diucapkan oleh pengendara motor itu dengan penuh keraguannya.
Berlin tidak begitu terkejut dengan keraguan yang tersimpan, baginya itu adalah hal wajar, apalagi mengingat serta menyadari kalau memang keputusan yang ia buat sendiri bisa terbilang sungguh nekat.
"Cukup ikuti dan jangan langgar jika tidak ingin mengacaukan! Apakah dapat dimengerti?!" sahut Berlin melalui kaca jendela yang terbuka itu.
Pengendara motor itu kembali sedikit menjauh agar tidak terlalu dekat dengan mobil, karena cukup berbahaya dan dapat memicu kecelakaan. Setelah pengendara itu menjauh, Sasha tiba-tiba saja melemparkan sebuah pertanyaan, "mengapa kau begitu yakin untuk membuat keputusan seperti ini?"
"Maaf, bukannya aku meragukan, tetapi ... bukankah ini cukup nekat?" lanjut Sasha, tak lupa dengan kata maafnya.
Berlin terkekeh kecil mendengar hal tersebut dan menjawab, "memang nekat, sih. Tetapi entah mengapa aku yakin saja, apalagi aku memiliki rekan-rekan seperti kalian," jawabnya sembari tersenyum.
"Aku sangat mengandalkan kalian ...!" lanjutnya menatap jalan di depan dengan tatapan santai meskipun di tengah situasi yang bisa dibilang cukup tegang ini.
Sasha hanya tersenyum-senyum dengan sendirinya ketika mendengar hal tersebut. Dalam hati paling dalamnya, ia merasa senang karena ternyata kepercayaan Berlin dari dahulu tidak pernah berubah, masih percaya dengan teman-temannya.
__ADS_1
.
Bersambung.