
"Apakah kita akan terus di sini?!" teriak Kina bertanya kepada Kimmy yang berada sedikit berjarak darinya yang berlindung di balik sebuah lemari.
Kimmy dan ketiga rekannya masih berada di posisi dan tempat yang sama. Mereka masih mendapatkan keuntungan tersebut, dimana regu Clone Nostra yang tampaknya dipimpin oleh Doma masih terjebak di satu lorong yang tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil itu. Meskipun dalam keadaan sangat terdesak, mereka masih tetap melakukan perlawanan nekat terhadap Kimmy.
"Kita harus menghabisi Doma! Dengan begitu kita dapat menghen---"
DUAAARRR ...!!!
Sebuah ledakan tiba-tiba saja terjadi di dalam gedung, tepatnya di aula belakang Kimmy dan rekan-rekannya. Sesaat setelah ledakan tersebut, sekelompok orang berjas putih muncul dari balik asap-asap hitam yang terpecah akibat ledakan itu.
"DARI BELAKANG!"
Beberapa tembakan tiba-tiba menghujani Kimmy dan ketiga rekannya dari belakang, yakni dari sekelompok orang yang baru saja datang. Terpaksa mereka harus menggunakan beberapa perabot serta lipatan dinding dan beberapa pilar untuk melindungi tembakan yang saat ini bersumber dari dua arah yang berbeda.
"Oke, sekarang kurasa kita yang terkepung," cetus Aryo.
"Kim, ada rencana?" tanya Sasha yang berada di samping Kimmy yang tengah berlindung di balik beberapa pilar besar.
Sebelumnya Kimmy sempat memikirkan serta mengira hal seperti ini bisa saja terjadi, dan kini benar saja terjadi. Namun dirinya sangat dibuat bingung untuk memikirkan solusi atau jalan keluarnya.
"Kimmy, apakah kau ada ide?!" teriak Kina yang berada bersebrangan dengan lokasi Kimmy berlindung.
"Tunggu, bukankah itu Karina?" cetus Aryo melihat sosok yang tak asing dengan informasi identitas yang ia kantongi. Sosok bernama Karina itu membawa komplotan kedua Clone Nostra, dan menyerang Kimmy dari belakang.
"Si j*l*ng itu! Biar ku hajar saja langsung--"
"Tidak! Jangan! Jangan terlalu gegabah!" Kimmy menarik tangan Sasha dan mencegahnya untuk melakukan hal nekat itu.
"Doma, Karina. Mereka berdua berada dekat dengan kita, namun kita belum mengetahui pasti intensitas Tokyo dan Farres."
"Jangan terlalu gegabah! Itu hanya bisa merugikannya diri sendiri dan juga rekan."
Kimmy berbicara kepada Sasha dan sekaligus sedikit menasehatinya. Dirinya tidak ingin terlalu cepat mengambil aksi, dan gegabah seperti Berlin. Jujur saja dirinya tidak terlalu berani untuk melakukan hal nekat itu, tak seperti Berlin.
__ADS_1
"Lalu apa yang kita lakukan?" tanya Sasha.
Seketika Kimmy hanya bisa terdiam di antara pilar besar dan sebuah lemari besar yang melindungi dirinya dan rekannya untuk sementara waktu. "Berlin, di saat seperti ini, apa keputusan yang kamu buat?" batin Kimmy dengan pandangan sedikit tertunduk, dan meletakkan senapan yang ia bawa ke lantai keramik itu.
***
"Berhenti!"
Berlin dengan sigap bersembunyi di balik sebuah pilar besar di ujung dari sebuah aula gedung yang cukup luas. Tentu dirinya tidak sendirian, karena sosok aparat bernama Flix senantiasa bersamanya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Berlin kepada Flix yang tampak mengintip dari balik pilar yang digunakan untuk bersembunyi.
"Mereka tampak sedang menembaki sesuatu, ke arah lorong di mana tangga ke atap berada. Jumlah mereka cukup banyak, sekitar sepuluh orang," jawab Flix.
Suara baku tembak serta keributan dapat didengar jelas oleh Flix dan juga Berlin yang hendak menyusul rekan-rekannya. Flix kembali bersembunyi setelah mengintip dan melihat situasi yang terjadi di aula sana.
Flix sempat melirik ke arah pergelangan kaki milik Berlin yang terbalut perban putih itu dan berkata, "Berlin, kurasa sangat sulit bagi kita untuk melawan mereka semua."
Berlin mendengarkan apa yang dikatakan oleh Flix, namun tidak begitu memedulikan perkataannya. Ia tiba-tiba bertanya, "apakah kau punya radio komunikasi? Kebetulan radio milikku disita oleh Kimmy."
"Ada, memangnya kenapa?" sahut Flix mengerutkan dahinya menandakan dirinya bingung dengan apa maksud Berlin.
"Bisakah ku meminjamnya?" tanya Berlin.
Flix pun mengambil radio atau walkie-talkie miliknya dari dalam saku seragam taktisnya, dan kemudian memberikan benda tersebut kepada Berlin di sampingnya. Berlin menerima alat komunikasi tersebut, dan kemudian mengutak-atik frekuensi radionya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Flix bingung.
"Cek, cek? Apakah kalian mendengar suaraku?" cetus Berlin setelah mengganti frekuensi radio tersebut, dan kemudian menekan tombol bicara untuk berbicara.
"BERLIN?!"
"Berlin, dirimu kah itu?!"
__ADS_1
"Kok ... bukankah aku menyita radio milikmu?!"
Suara dari rekan-rekannya tiba-tiba saja terdengar melalui radio komunikasi yang kini Berlin genggam. Mereka kedengarannya sangat terkejut dengan kehadiran Berlin yang tiba-tiba masuk dan berbicara di dalam radio komunikasi tersebut.
"Dengarkan aku! Saat ini aku berada di aula tengah gedung--"
"Berlin, apa yang kau lakukan?! Mengapa kau begitu nekat, sih??!!!" teriak Kimmy terdengar cukup marah dengan apa yang dikatakan Berlin.
Berlin belum selesai berbicara, namun harus sedikit menjauhkan radio miliknya akibat suara Kimmy kedengarannya sangat marah kepadanya.
"Iya, aku tahu aku salah, Kim. Kau bisa ngomel dan marah padaku nanti ...!" sahut Berlin menanggapi apa yang dikatakan oleh Kimmy.
"Baik, dengarkan dahulu! Aku memiliki rencana," lanjut Berlin.
"Maaf memotong, Berlin. Sekedar informasi, kami di atas mendapat cukup bantuan dari pihak militer yang memanjat ke atap gedung," ucap Adam.
"Ya, aku sudah tahu dari Flix," sahut Berlin, sebelum kemudian melanjutkan apa yang ingin ia sampaikan, yakni soal rencana yang ia miliki.
***
Boni tampak sibuk mempersiapkan sesuatu di dalam ruangannya. Sebuah koper berwarna hitam yang sudah terkemas dengan rapi, dan sebuah pistol berwarna perak yang tergeletak di atas meja. Di saat yang bersamaan, Tokyo tiba-tiba saja memasuki ruangan tersebut dan berkata, "kau pikir aku tidak tahu dengan niatmu?"
SET!
Terkejut dengan kehadiran Tokyo tiba-tiba di belakangnya. Boni sontak mengambil pistol perak tersebut dan menodongkannya ke arah Tokyo.
"Tenanglah! Aku tak berniat untuk menghalangi dirimu, Boni." Tokyo menunjukkan sikap yang begitu tenang, meskipun sebuah senjata api yang terisi amunisi penuh kini tengah tertodong tepat ke arah wajahnya.
Tokyo membalikan badannya dan kemudian beranjak pergi begitu saja dari ruangan tersebut, meninggalkan Boni dengan rencana serta niatnya sendiri.
.
Bersambung.
__ADS_1