
Dua helikopter milik kepolisian tampak tengah mengudara mengelilingi area Balaikota dan sekitarnya. Tak hanya helikopter polisi saja yang mengudara, namun tampaknya ada beberapa helikopter dari pihak media yang meliput peristiwa tersebut.
Liputan dari beberapa wartawan dan media melalui helikopter itu disiarkan secara langsung melalui televisi, dan dapat disaksikan oleh semua orang. Hingga berita siaran langsung itu sampai kepada Nadia yang tengah melihat televisi dan secara tak sengaja melihat berita tersebut.
Sontak berita itu membuat Nadia terdiam dengan pandangan kosong. Melihat hal tersebut, Alana yang berada di sampingnya langsung meraih remote televisi itu dan lalu mematikannya.
"Mama, ada apa?" cetus Akira tampak bingung dengan sikap Nadia yang tiba-tiba saja melamun.
"Nadia, aku ingin keluar membeli sesuatu. Apakah kamu haus?" ucap Alana kepada Nadia, dirinya hendak mengalihkan perhatian ibu hamil itu dari berita yang barusan ia lihat.
"O-oh, ku-kurasa begitu," sahut Nadia terlepas dari lamunannya dengan raut wajah cemas.
"Ya sudah, aku tinggal dahulu. Akira, kamu temani mama di sini, ya?" ucap Alana kemudian kepada Akira.
Anak itu tersenyum ceria dan mengangguk, "baik! Akira akan jagain mama!" jawabnya menggunakan intonasi dan sikap yang penuh dengan semangat.
...
Alana telah beranjak pergi dari kamar tersebut, dan kini hanya ada Nadia bersama dengan anak perempuan itu. Dirinya beberapa kali dibuat terhibur dengan sikap dan ekspresi yang ditunjukkan oleh Akira padanya.
"Mama, coba lihat ini!" Akira tiba-tiba saja berlari kecil mengarah ke sofa, dan mengambil sebuah boneka beruang kecil berwarna putih yang terduduk di atas sofa tersebut.
Anak itu menunjukkan boneka kesayangannya kepada Nadia sembari bercerita beberapa hal. "Namanya Teddie, dia yang selalu menemani Akira saat Akira sendirian atau merasa takut," ucap anak itu sembari mengangkat dan menunjukkan boneka itu kepada Akira.
Nadia tertawa kecil dan tersenyum, "Teddie, mau temani mama, nggak?"
"Mau! Teddie sama Akira bakal di sini sama mama, bahkan selamanya ...!!" Akira menjawab pertanyaan itu sembari menggoyang-goyangkan boneka kecil di tangannya, seolah sedang bermain peran sebagai boneka beruang itu.
Nadia tertawa dan dibuat tersenyum lebar dengan sikap dari anak kecil itu. Dirinya tak tahan dengan tingkah laku menggemaskan yang ditunjukkan oleh Akira. Ia meraih kepala milik anak itu, dan kemudian membelainya dengan begitu lembut.
Menerima sentuhan yang begitu lembut itu, Akira tiba-tiba menaruh bonekanya di tepi ranjang dan kemudian secara perlahan perut milik Nadia.
"Hangat ...!" gumam Akira ketika sosok mama itu juga memeluk tubuhnya dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
"Di luar sedang hujan, kamu pasti kedinginan, ya?" ucap Nadia dengan senyuman yang tidak pudar ketika berhadapan dengan Akira.
"Sekarang udah enggak, selama dipeluk mama!" sahut Akira mendongak dan menatap Nadia dengan tatapan berbinar-binar sembari mengulas senyuman lebarnya.
Nadia lagi-lagi dibuat tersenyum dengan kelakuan dan ekspresi anak itu. Akira terlihat asyik dalam pelukannya, dan tampaknya gadis kecil itu begitu tahu ada sosok bayi di dalam perut milik Nadia. Beberapa kali ia mengelus-elus perut besar milik Nadia dengan kedua tangan mungilnya sembari berkata, "Mama, ada yang gerak-gerak di sini ...!" ucapnya dengan polosnya.
***
BOOM ...!!!
Di tengah curah hujan yang cukup deras. Sebuah ledakan yang berasal dari puncak perbukitan kota pun terjadi secara tiba-tiba, dan ledakan itulah yang menjadi sebuah pertanda terbukanya baku tembak atau perang secara frontal.
Bukannya lebih fokus untuk melakukan pertahanan. Namun Clone Nostra lebih memilih untuk mengambil peran sebagai penyerang. Mereka terlebih dahulu membuka peperangan dengan menembaki setiap aparat yang dilihat. Mengetahui hal tersebut tentu tak membuat personel gabungan gentar, dan baku tembak pun pecah.
Hanya dalam kurun waktu lima menit, area sepanjang perbukitan kota telah menjadi medan peperangan. Korban pun perlahan mulai berjatuhan baik di kedua belah pihak, namun pihak yang paling dirugikan tetaplah Clone Nostra. Karena mereka menghadapi pasukan terlatih militer Garwig yang tentunya dengan perlengkapan selengkap-lengkapnya.
"Dengar, kami akan mencoba untuk membuatkan celah untuk kalian. Kelompok yang dipimpin oleh Garwig akan terus menekan, begitu pula yang di sini."
"Flix, bawa mereka ke lereng bukit yang bersebrangan langsung dengan pinggiran gedung putih itu!" titah Prawira berteriak di tengahnya suara-suara baku tembak yang tiada henti.
"Baik, pak!" sahut Flix.
Ashgard kemudian bergerak di antara peperangan yang tengah terjadi itu. Dengan pakaian serba hitamnya, mereka jadi lebih mudah berbaur dan tidak dikenali sebagai Ashgard jika dilihat oleh beberapa orang dari Clone Nostra.
"Awas!" teriak Kimmy kepada Sasha sembari menarik rekannya itu untuk tiarap.
DOR!!
Kimmy secara spontan menembak satu orang berbaju putih yang berada cukup dekat dan hendak menembak salah satu rekannya yakni Sasha.
"Sasha, kau baik-baik saja?" tanya Kimmy.
Sasha perlahan bangkit dan terlihat sedikit terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, "aku tidak apa-apa, terima kasih."
__ADS_1
"Beruntung orang itu belum sempat menembak," gumam Kimmy.
"Baik, langsung ke posisi masing-masing! Kita akan sedikit menjauh dari personel gabungan," ucap Adam meminta hal tersebut kepada rekan-rekannya.
Mereka langsung mengisi posisi yang sudah ditetapkan oleh Adam sebelum melakukan aksi. Flix cukup dibuat kagum dengan formasi dan kekompakan yang ditunjukkan oleh kelompok itu Ashgard.
Setelah menuruni lereng perbukitan dan melewati beberapa pepohonan di sana. Ashgard akhirnya sampai di pinggir gedung pemerintahan itu. Namun untuk bisa sampai ke bangunan megah itu, mereka harus menyebrangi sebuah jalan setapak yang tentunya cukup terbuka dan akan menjadikan siapa saja yang lewat sebagai target tembak.
"Oke, sekarang bagaimana?" cetus Aryo bertanya.
"Aku bisa memberikan tembakan perlindungan untuk kalian," sahut Flix.
Namun secara tiba-tiba Asep berbicara melalui radio dengan mengatakan, "Kimmy, pakai tabletmu, aku akan mencoba memandu kalian untuk menyebrang."
"Aku akan memberikan tanda berwarna merah pada tablet itu, yang berarti itu adalah orang yang memiliki pandangan serta posisi tembak ke arah kalian. Sebaiknya kalian waspada terhadap orang-orang yang akan ku tanda ini," lanjut Asep.
Tablet? Tentu Flix yang mendengarnya dibuat bingung. Namun setelah melihat sendiri tablet yang dibawa oleh Kimmy, dirinya dibuat terkejut. Lantaran dirinya tahu bahwa sistem yang digunakan tentu adalah sistem rahasia milik negara, yang tentunya terikat oleh beberapa aturan serta undang-undang yang ketat. Namun Flix tampak tidak menghiraukan aturan yang ada, apalagi di tengah situasi yang sedang kacau ini.
"Aku sudah menandainya, apakah kalian melihatnya?" tanya Asep.
"Ya, dua orang di atap bangunan itu, dua orang lagi berada di pinggir bangunan, dan satu orang sisanya tampak menjaga ujung jalan setapak ini," sahut Adam.
"Baik, aku dan Aryo akan mengatasi yang di atap," ucap Galang.
"Aku akan atasi yang di jalan," ucap Kimmy.
"Dua orang sisa serahkan saja padaku," sahut Flix.
Adam tersenyum mendengar rekan-rekannya yang tampak begitu siap menghadapi kondisi serta situasi ini. "Baiklah, mari kita lakukan ...!"
.
Bersambung.
__ADS_1