Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Alasan #159


__ADS_3

Sore hari yang sangat cerah, langit berwarna jingga terang. Kediaman Keluarga Besar Gates diramaikan oleh banyak sekali anak-anak, rekan-rekan Ashgard, dan beberapa anggota keluarga Gates. Acara kecil itu akhirnya dimulai, dengan kedatangan Garwig yang sebenarnya cukup terlambat. Acara kumpul itu rencananya akan dimulai pukul tiga sore. Namun Garwig baru datang pukul empat.


Suara Garwig dapat terdengar jelas. Ia sepertinya tengah berbicara di depan para tamunya, yang rata-rata adalah orang yang dibawa oleh Berlin. Ia mengucapkan beberapa kata terima kasih atas kehadiran mereka semua, yang semakin membuat pesta kecil itu ramai dan seru, apalagi dengan kehadiran anak-anak itu.


Garwig juga beberapa kali menyebut soal situasi yang sudah perlahan memilih semenjak kekacauan yang disebabkan oleh Clone Nostra. Tak hanya itu, namun ia juga sempat menyebut-nyebutkan soal Berlin dan Ashgard yang juga berperan andil dalam memulihkan kekacauan beberapa hari yang lalu.


Meriah tepuk tangan dapat terdengar, sesaat setelah Garwig selesai berpidato singkat dan kemudian berkata, "silakan menikmati waktu dan banyak hidangan di sini! Kalian sudah dianggap sebagai keluarga, jadi jangan sungkan-sungkan, ya!"


Berlin dapat mendengar semua suara itu dari tepi kolam ikan di belakang gazebo tersebut. Jaraknya tidak terlalu jauh, jadi semua yang dikatakan oleh Garwig dapat ia dengar. Jujur saja, dirinya merasa tidak suka atas apa yang dikatakan oleh Garwig karena kebanyakan menyanjung dirinya.


Carlos masih diam, pandangannya tertunduk, murung. Pertanyaan yang sudah ia pertanyakan kepada Berlin beberapa menit yang lalu masih belum mendapat jawaban pasti.


"Ayo ikut aku! Lebih baik kita sedikit menjauh dari sini, agar tidak terganggu oleh suara-suara mereka." Dengan perlahan, Berlin melangkah dengan bantuan tongkatnya, menjauh dari kolam tersebut menuju bagian belakang taman.


Berlin menghampiri sebuah pagar beton yang membatasi akhir tanah rerumputan tersebut, dan bersandar di sana. Diikuti oleh Carlos yang hanya diam, masih sedikit kecewa karena belum menerima jawaban serta alasan apapun dari Berlin mengenai pertanyaannya.


"Carlos, sesuai dengan kontrak yang sebelumnya sempat kita buat. Maka aku akan mengajukan untukmu kebebasan bersyarat." Berlin mulai berbicara, menjawab pertanyaan saudaranya, ketika situasi lebih agak tenang dan jauh dari keramaian.


"Namun tidak ada tertulis dalam kontrak yang kita buat, bahwa kau akan mengajukan kebebasan bersyarat itu," sahut Carlos, lugas.


Apa yang dikatakan oleh Carlos memang benar. Berlin tak menulis soal pembebasan bersyarat itu. Tak ada hitam di atas putih yang ia buat dengan Carlos mengenai pembebasannya. Itu mungkin yang membuat Carlos saat ini terlihat cukup bingung dan penasaran dengan alasannya.


"Berlin, kau tahu, 'kan? Aku telah berbuat jahat, kepadamu, kepada orang yang kau cintai, bahkan hampir membunuhnya ...!"


"Tak hanya itu, aku juga berkhianat kepada keluarga ku sendiri!"


"Tempat yang paling cocok untuk orang seperti ku adalah di Penjara Federal! Menghabiskan sisa waktu hidupku di sana, menjalani hukuman seumur hidupku!"


Berlin hanya diam, menunggu sampai Carlos berhenti hingga akhir kalimatnya. Sesaat setelah Carlos menyelesaikan kalimat akhirnya. Berlin melirik tajam kepada saudaranya di samping, dan berkata, "aku bisa saja mengirim dirimu kembali ke sana, bahkan aku bisa membuatmu tidak lagi harus menjalani hukuman seumur hidup, dengan merubahnya menjadi hukuman mati."


Carlos berdebar, kedua matanya membesar, terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Berlin. Karena jujur saja, dirinya merasa belum siap untuk menerima hukuman mati.


Berlin kembali memalingkan pandangannya, tertuju ke arah langit yang berwarna jingga cerah, disusul oleh banyaknya burung yang beterbangan menuju kembali ke sarang mereka.


"Tetapi aku tidak ingin melakukan itu, Carlos." Berlin kembali berbicara, menggeleng, menyanggah pernyataannya sendiri. "Meskipun aku tahu kau pantas mendapatkan hukuman yang mengerikan itu," lanjutnya.


Carlos yang sebelumnya terlihat cemas, kini menjadi lebih tenang dan lega ketika mendengar apa yang baru saja Berlin katakan. "Lalu apa alasanmu mengajukan pembebasan itu?"

__ADS_1


Tanpa melihat ke arah Carlos yang berdiri di sampingnya. Berlin menjawab, "karena kau adalah saudara ku."


Carlos langsung dibuat tertegun dengan apa yang dikatakan oleh Berlin. Ia tidak lagi mengajukan pertanyaan, bahkan tidak ingin berbicara. Diam membisu, seolah alasan singkat itu berhasil membungkamnya.


"Dan entah mengapa, aku merasa ... aku harus mengajukan pembebasan bersyarat itu untukmu," lanjut Berlin, dengan pandangan kini sedikit tertunduk.


Carlos tersenyum tipis, menggelengkan kepalanya, mengangkat bahunya dan berkata, "sepertinya banyak ucapan terima kasih saja tidak akan cukup."


"Berlin, dahulu kau memiliki kesempatan untuk membunuhku, namun itu tidak kau lakukan. Dan sekarang kau membebaskanku dari tempat mengerikan itu."


Carlos menoleh, menatap serius saudaranya sembari melanjutkan kata-katanya, "aku benar-benar bingung dengan apa yang kau pikirkan, Berlin."


"Aku adalah musuhmu, aku sempat memiliki niat serta ambisi dalam hatiku untuk membunuhmu. Tak hanya itu, aku juga sempat menjadikan istrimu sebagai tawanan ku, dan di waktu itu aku juga melukainya."


"Di sisi lain, aku berkhianat kepada keluarga besar kita, bergabung dengan pihak Matrix untuk memerangi keluarga sendiri."


"Lalu sekarang dengan mudahnya kau membebaskanku? Membiarkanku kembali? Bahkan saat ini jarak kita sungguh dekat, dan aku bisa saja berbuat jahat padamu dengan menusukmu atau semacamnya. Apakah kau tidak memikirkan itu?"


Berlin hanya diam, menunggu sampai Carlos selesai berbicara. Sepanjang laki-laki itu berbicara, menyinggung cara berpikirnya, dan apa yang sebenarnya ia rencanakan. Berlin tidak mau terlalu pusing untuk menanggapi berbagai sindiran itu.


Ketika Carlos sudah benar-benar selesai. Berlin justru malah tertawa kecil, sebelum kemudian dirinya mengambil bagiannya untuk angkat bicara.


"Kalau soal penghianatan yang kau lakukan, aku tidak begitu peduli, karena memang aku tidak mengingat apapun soal masa lalu kita, masa lalu keluarga ini."


"Dan yang terakhir, entah mengapa ... aku percaya dan aku yakin, kau tidak akan bertindak seperti itu, Carlos ...!" ucap Berlin, menoleh, menatap tajam Carlos di sampingnya, dan dengan intonasi yang terdengar sungguh tajam nan dingin.


Namun sepanjang percakapan yang dilakukan, Carlos masih belum bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaan awalnya. Tetapi bukannya memberikan jawaban yang jelas. Berlin malah beranjak melangkah perlahan pergi dari sana kembali menuju gazebo, meninggalkan Carlos yang masih terpaku dengan banyaknya pertanyaan dalam benaknya.


Carlos langsung menyusul langkah pria yang berjalan menggunakan tongkat itu, "tunggu!"


Berlin memelankan langkahnya, membiarkan Carlos menyamai langkahnya tepat di samping.


"Berlin, jujur saja aku masih bingung! Jelaskan padaku, mengapa kau membebaskanku ...?! Mengapa kau seolah memberiku kesempatan? Apakah kau memaafkanku atas semua tindakan yang pernah ku lakukan?"


Berlin menghentikan langkahnya ketika berada tepat di belakang gazebo tersebut. Ia menoleh, tatapannya tenang namun tajam, aura seorang pemimpin begitu terasa hanya dari sepasang iris mata berwarna hitam mempesona itu.


"Ada banyak alasan yang tidak bisa diucapkan dengan kata-kata, Carlos. Anggap saja ... aku ingin mengujimu," ucap Berlin, tenang.

__ADS_1


"Aku ingin tahu dan ingin melihat, apakah kau dapat memperbaiki semua yang telah kau kacaukan atau tidak," lanjut Berlin.


Menguji? Kening Carlos dibuat berkerut, bingung. Ia hanya terdiam, tidak dapat berbicara apapun lagi. Berlin sepertinya terlalu memiliki banyak hal yang membuatnya bingung, sulit untuk memahaminya.


Tatapan Berlin yang sebelumnya tenang, kini sedikit tajam dengan tatapan yang sungguh dalam menatap ke arah sepasang mata milik Carlos yang mirip seperti miliknya.


"Aku melihat adanya perubahan dalam dirimu, Carlos. Sepertinya peran dari Federal sungguh memiliki dampak penting untukmu, ya ...?" ujar Berlin, intonasinya sungguh pelan, namun terdengar tajam nan dingin.


Carlos tak berkutik, apalagi menyadari tatapan tenang yang terasa tajam itu, bahkan dirinya tak berani untuk melakukan kontak mata dengan Berlin. Pandangannya lebih dominan tertuju ke arah bawah, menghindari kontak mata yang Berlin lakukan.


Setelah berbicara seperti itu, Berlin kembali melangkah pergi, menjauhi Carlos yang masih berdiam diri di sana. Namun langkah pria itu sempat berhenti, menoleh ke belakang dan berkata, "tunggu apa lagi? Apakah kau tidak ingin bergabung dalam pesta kecil ini?"


"Oh, ba-baik!" Carlos tersadar dari lamunan singkatnya. Ia langsung menyusul langkah Berlin.


"Papa!" suara Akira terdengar dari kejauhan, berlari kecil menghampiri kehadiran Berlin.


Berlin sempat menoleh dan melirik kepada Carlos yang berjalan di sampingnya sembari berkata, "Carlos, mungkin ... kau bisa menemukan jawaban atas pertanyaan awalmu dalam acara kecil ini."


"Ku harap kau dapat menikmati suasananya, dan selamat bersenang-senang ...!" lanjut Berlin, sebelum kemudian perhatiannya ia alihkan kepada Akira yang semakin dekat.


"Papa, papa dari mana aja? Akira cariin dari tadi," ucap Akira, riang sekali.


"Papa nggak ke mana-mana, kok!" sahut Berlin, membelai lembut kepala milik gadis kecil itu. "Oh iya, katanya ada banyak kue, ya? Akira sudah cobain belum?" lanjutnya.


"Udah! Enak banget!!! Papa harus coba, deh! Dan katanya, kue-kue itu buatan Tante Siska!" Anak itu langsung menjawab dengan sangat antusias dan bersemangat. Keceriaannya benar-benar tidak dapat terbendung.


Namun keceraian itu tiba-tiba saja meredup, setelah pandangan Akira sedikit celingukan ke arah belakang Berlin. "Papa, itu siapa?" cetusnya, berbisik, bersembunyi di balik kaki-kaki Berlin, dan celingukan ke arah Carlos yang masih berdiam diri di sana dengan tatapan penasaran.


"Oh, dia Om Carlos, Akira mau kenalan dengannya?" sahut Berlin, sempat menoleh ke belakang, dan kembali kepada Akira. Anak itu menjawab dengan menggeleng canggung, dan begitu malu-malu. Berlin hanya tertawa kecil, tersenyum melihat sikap putrinya.


"Hei, apakah kau masih mau di situ?" cetus Berlin, menoleh ke belakang.


"I-iya, tunggu ...!" jawab Carlos, kemudian melangkah mendekati Berlin.


Berlin dengan menggandeng Akira di tangan kanannya pun segera kembali ke pesta yang sudah dimulai beberapa menit sebelumnya. Sepanjang ia melangkah, dirinya dapat menyadari betapa penasarannya Akira kepada sosok Carlos yang berjalan di kirinya. Beberapa kali anak itu sempat melirik, menoleh kepada Carlos secara sembunyi-sembunyi, sebelum kemudian membuang muka kembali. Melihat tingkah laku putri angkatnya, Berlin hanya tersenyum bahkan beberapa kali tertawa kecil, membiarkannya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2