Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Jalan-jalan #171


__ADS_3

Nadia mengendarai mobilnya perlahan, melalui lalu lintas di jalanan yang sangat ramai di jam pulang kerja. Meski begitu, sepertinya perjalanan tersebut menjadi perjalanan yang menyenangkan bagi Akira, yang duduk di kursi tengah sembari celingukan melihat pemandangan jalanan dari balik jendela kaca mobil.


"Mama, jalan-jalan sebentar, dong ...! Jangan langsung pulang, ya?" ucap Akira, celingukan kepada Nadia melalui tengah-tengah kursi.


"Iya, sayang. Ini juga lagi jalan-jalan, 'kan?" jawab Nadia, sungguh dengan intonasi dan sikap yang lembut, melirik ke arah spion tengah untuk dapat melihat gadis itu yang duduk manis di kursi tengah.


Akira menyunggingkan senyuman lebarnya, menatap ke arah spion tengah, sebelum akhirnya memainkan pandangannya kembali ke arah luar jendela. Melihat ekspresi riang serta tingkah laku putrinya yang terlihat sangat gembira sekali, membuat hati Berlin sangat tenang.


Nadia melirik ke arah suaminya, tersenyum dan berkata, "kita ... sedikit memutar sebentar, ya?"


"Iya, selama itu membuatnya senang," jawab Berlin, tersenyum, terdengar tenang sembari melirik ke belakang untuk dapat memastikan keberadaan Akira.


Di sebuah perempatan menuju ke wilayah perbukitan kota. Nadia merubah rute perjalanannya yang seharusnya lurus, namun dirinya berbelok ke kiri, sedikit memutar melalui lereng perbukitan kota.


Jalanan di wilayah perbukitan kota tidaklah terlalu ramai, tidak seperti jalanan di pusat kota yang sangat padat, bahkan hingga menciptakan kemacetan panjang tidak bergerak.


"Sayang, setelah makan malam, aku harus pergi ke Balaikota untuk bertemu dengan Garwig. Boleh, 'kan?" ucap Berlin, meraih sebuah topik pembicaraan untuk mengisi perjalanan tersebut. Di kursi tengah mobil, anak bernama Akira itu terlihat sangat antusias. Berkali-kali ia berpindah dari kanan ke kiri, menyentuh kaca jendela mobil, dan melihat ke arah luar dengan tatapan berbinar-binar.


"Bersama aku?" tanya Nadia, mengurangi kecepatan mobilnya karena jalanan yang berliku.


"Enggak, kamu bisa istirahat di rumah. Pertemuanku dengan Garwig akan sedikit membahas soal pekerjaan, dan aku ke sana bersama dengan beberapa rekanku," jawab Berlin, tersenyum.


Nadia sempat melirik, sebelum akhirnya harus fokus kembali ke arah jalanan di depan. Bumil itu memberikan jawabannya dengan berkata, "boleh, tetapi jangan pulang malam-malam, ya ...!"


Berlin tersenyum mendengar jawaban tersebut, "iya, jam sebelas malam, aku sudah ada di rumah," ucapnya, meraih serta mengelus perut ibu hamil itu sebelum akhirnya melanjutkan bicaranya dengan berkata, "kalau aku terlalu malam, kamu juga jangan lupa istirahat ...! Tidak perlu sampai menunggu aku di ruang tamu," lanjutnya, menatap lembut sang istri.


Nadia mengangguk nurut, tersenyum, berkata, "iya."


...


Perjalanan itu berlangsung cukup lama. Dari awalnya suara Akira yang terdengar sangat antusias, kini berubah menjadi hening. Nadia sempat melirik ke arah spion tengah mobil, begitu pula dengan Berlin yang menoleh ke belakang untuk memastikan. Anak itu terlihat tertidur cukup luas di atas bangku lembut itu. Ia terlihat cukup lelah, sepertinya lelah karena bermain hampir seharian dengan teman-temannya selama di panti asuhan.


"Dia tidur," ucap Berlin.


"Iya, biarin saja," Nadia tersenyum hangat setelah memastikan putrinya yang sudah tak bersuara, karena tertidur.


Melihat sang putri yang sudah tertidur. Nadia pun mengambil rute tercepat untuk segera kembali ke rumah, lebih tepatnya ke vila. Hanya memerlukan waktu sekitar lima belas menit. Tepat pada pukul enam, mereka bertiga akhirnya sampai di vila yang cukup besar itu.

__ADS_1


"Akira biar aku saja yang menggendongnya," ucap Berlin, sesaat setelah Nadia memarkirkan mobilnya di halaman.


"Kamu yakin? Bisa?" sahut Nadia, cukup cemas, mengingat kondisi Berlin yang belum sepenuhnya pulih, berjalan saja masih harus dibantu oleh sebuah tongkat untuk menjaga keseimbangannya.


"Bisa, tenang saja ...!" jawab Berlin, tersenyum, dan mengacungkan jempolnya.


Berlin pun turun dari mobil, perlahan mengunakan tongkatnya, berpindah ke pintu belakang untuk menggendong Akira yang masih tertidur. Perlahan, pria itu mengangkat dan menggendong tubuh kecil putrinya, keluar dari mobil.


"Papa, kita udah sampai rumah, ya?" cetus Akira, bertanya dengan suara yang terdengar masih lemas. Anak itu diam saja, apalagi ketika berada di gendongan Berlin.


"Iya," jawab Berlin, dengan tangan kiri menggendong tubuh anak itu, sedangkan tangan kanan terus memegang tongkatnya untuk berjalan.


"Papa, memangnya papa enggak apa-apa berjalan sambil menggendong Akira seperti ini?" ucap Akira, yang sebelumnya menaruh kepalanya di atas pundak milik Berlin, kini menoleh dan menatap pria itu dengan kedua mata yang terlihat masih mengantuk. Lirikan mata anak itu lebih tertuju ke arah tangan kanan milik Berlin yang terus memegang tongkatnya, dan berakhir turun ke arah kaki kanan milik pria itu yang masih terbalut perban. Tongkat tersebut terus berjalan, mengikut langkah kaki milik Berlin.


Berlin tersenyum, tertawa kecil, dan menjawab, "tidak sama sekali, tuh! Buktinya, saat ini Papa bisa menggendong Akira dengan mudah, dengan satu tangan."


Akira tersenyum, melakukan kontak mata dengan pria tersebut sembari berkata "Papa keren!" celetuknya.


Pujian dari Akira, membuat Berlin tertawa kecil mendengarnya, "keren, 'kan?" sahutnya.


"He'em!" gumam Akira, tersenyum, mengangguk, sebelum kemudian merangkul, memeluk serta kembali menaruh kepalanya tepat di atas pundak kiri milik Berlin.


Berlin terus melangkah mengikuti Nadia, menuju teras rumah, dan kemudian masuk ke dalam rumah. "Mama, kita mau makan apa malam ini? Akira lapar, nih!" cetus Berlin, sedikit berteriak kepada Nadia yang sudah lebih dahulu masuk dan berada di ruang tamu.


Dengan senyuman manis yang tersungging. Nadia menoleh, dan menjawab, "kamu mau makan apa, sayang?" menjawab dengan melemparkan pertanyaan kepada Akira.


Mendengar pertanyaan itu, membuat Akira menoleh, "apa, ya? Nasi goreng?" jawabnya, spontan tanpa berpikir panjang.


Berlin tertawa kecil mendengar jawaban tersebut, "kamu lagi pengen makan nasi goreng?" tanyanya kepada anak itu.


"Kayaknya, deh. Akira baru makan itu sekali sama Kak Alana," jawab Akira.


"Oh, ya?" sahut Berlin, sembari melangkah melalui ruang tamu menuju ke dapur dan ruang makan.


Akira mengangguk, "iya, dahulu Kak Alana pernah beli itu, dan aku dikasih olehnya."


"Enak? Pedas, nggak?" ucap Berlin, bertanya lagi, berbincang-bincang dengan putrinya yang masih berada di gendongannya.

__ADS_1


"Enak!" jawab Akira, lalu kemudian menggelengkan kepalanya sembari berkata, "enggak pedas."


"Kalau begitu kamu harus cobain nasi goreng buatan Mama! Pedas banget!!" ucap Berlin, sampai di depan meja makan, dan menurunkan Akira dari gendongannya.


"Pedas? Tetapi Akira enggak suka pedas," ucap Akira, mendongak untuk dapat menatap Berlin.


"Tenang aja, Papa kamu suka melebih-lebihkan!" sela Nadia, melangkah, dan berdiri tepat di belakang Akira. "Yuk, duduk!" lanjut bumil itu sembari mengarahkan putrinya untuk duduk di meja makan.


"Jadi ... kamu mau Mama masakin nasi goreng?" cetus Nadia, melangkah mendekati sebuah lemari es besar tepat di sebelah sebuah kompor listrik.


"Iya! Mama bisa bikinnya, 'kan?" sahut Akira berseru, terlihat antusias. Anak itu duduk manis, sembari menunggu.


Bukannya Nadia yang menjawab pertanyaan itu. Namun justru Berlin yang duduk tepat bersebrangan dengan Akira, yang menjawabnya dengan berkata, "Mama kamu jago masak, minta aja menu apapun padanya, pasti dimasakin!"


"Iya, aku masakin, asalkan tolong kepekaannya aja," sahut Nadia, kemudian melirik tajam kepada Berlin, sembari kedua tangannya sibuk mempersiapkan bumbu-bumbu dapur.


Berlin tertawa kecil, tersenyum, melihat ke arah sang istri yang sedang sibuk itu. Ia segera beranjak dari kursinya, menghampiri, serta berniat untuk membantu bumil itu.


"Akira juga mau bantu!" seru Akira, turun dari kursinya.


"Akira tunggu saja di meja makan, ya? Ini enggak terlalu ribet, kok! Jadi tidak perlu banyak bantuan, biar Papa aja yang membantu," jawab Nadia, menoleh, sedikit menunduk dan tersenyum hangat kepada putrinya yang berdiri tepat di belakangnya.


"Baik!" Anak itu nurut sekali, melangkah kembali ke kursinya.


Waktu terus berjalan, dan perlahan satu-persatu menu makan malam telah tersaji di atas meja makan. Kedua mata Akira berbinar-binar, terlihat sangat antusias, apalagi piring kosong miliknya telah sangat siap dan tidak sabar untuk diisi oleh makanan.


"Mama, aku mau itu!" Akira menunjuk telur dadar buatan Nadia yang ada di salah satu dari sekian piring. Nadia pun meraihnya, dan memindahkan telur dadar itu ke atas piring milik Akira yang sekarang sudah terisi oleh nasi goreng.


"Nasi goreng itu bakal kurang, kalau enggak pakai ini ...!" cetus Berlin, menunjukkan sebuah kerupuk di tangannya.


"Akira mau coba!" sahut Akira, meraih toples yang berisikan kerupuk. Setelah itu, ia mulai langsung menyendok makanya, dan dengan lahap memakannya.


"Enak!!!!" seru anak itu, dengan mulut penuh dengan nasi goreng. Kedua matanya berbinar-binar.


"Pelan-pelan, sayang ...!" ucap Nadia, tersenyum, mengingatkan putrinya.


Makan malam itu berlangsung hangat dan harmonis, bahkan beberapa kali ditambahi dengan beberapa obrolan dan gurauan santai.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2