
"Mengapa kau bisa ada di sini?!"
Tatapan tajam dan waspada yang ditunjukkan oleh Siska tidak dapat dipungkiri lagi. Kedua tangannya masih menodongkan pistol ke arah seorang pria di hadapannya. Dirinya benar-benar tidak menyangka akan kehadiran sosok pria misterius itu yang ternyata adalah Carlos Gates Matrix yang kini berada di depan matanya.
"Kau ... benar-benar di sini ...?!" gumam Nadia berjalan perlahan keluar dari area teras rumah mendekati Siska.
"Nadia, apa yang kamu lakukan? Jangan keluar sebelum aku menyuruhmu keluar!" cetus Siska ketika menyadari keberadaan sahabatnya yang kini ada tepat di belakangnya.
"Aku sebenarnya tidak ingin sampai terlihat olehmu di sini, Nadia. Namun karena kau sudah melihatku, apa boleh buat?" Carlos meraih secarik surat yang tersimpan pada kantong jaket hitamnya.
"Siska, aku di sini tidak ada niatan untuk menyakiti kalian. Justru aku di sini karena amanah dan tugas yang Berlin berikan kepadaku," lanjut Carlos sembari menunjukkan surat tersebut kepada Siska dan juga Nadia.
Surat itu adalah surat resmi dengan stempel resmi milik pemerintah serta departemen pertahanan. Isi dari surat tersebut adalah perjanjian yang dibuat antara Berlin, dan Garwig, dengan Carlos. Pada penghujung surat tersebut juga terdapat tanda tangan milik ketiga orang yang terlibat dalam perjanjian.
Setelah melihat surat itu asli dan itu adalah surat resmi milik pemerintah dan departemen pertahanan. Siska menurunkan bidikannya namun tidak dengan kewaspadaannya terhadap pria bernama Carlos itu. Apalagi seingatnya Carlos adalah tahanan yang divonis penjara seumur hidup akibat aksi kriminal kejam yang ia lakukan serta keterlibatannya dengan kelompok bernama Mafioso.
Di tengah ketegangan antar Carlos dengan kedua wanita itu. Raungan sirine tiba-tiba saja terdengar dari kejauhan dan semakin mendekat. Menyadari keberadaan aparat yang semakin dekat, Carlos berpamitan dengan berkata, "maaf, aku tidak boleh terlihat oleh aparat," ucapnya sembari membalikkan badannya membelakangi Siska dan Nadia.
Sebelum Carlos melangkah pergi, dirinya menyempatkan untuk menyampaikan beberapa patah kata kepada Nadia, "Nadia, maafkan aku atas segala kelakuan buruk yang pernah ku lakukan padamu, dan aku ingin mengucapkan ... selamat atas kehamilan anak pertamamu," ucapnya seraya sedikit melirik kembali ke belakang untuk melihat paras milik wanita itu.
"Segeralah pergi! Kalian tidak boleh berada di sini, karena area ini akan sangat berbahaya untuk kalian!" lanjutnya sembari mengulas senyuman yang cukup pahit sebelum kemudian beranjak pergi dari sana, dan menghilang dari hadapan kedua wanita itu.
Semua tutur kata yang diucapkan oleh laki-laki bernama Carlos itu benar-benar tulus tanpa adanya intonasi pemaksaan sama sekali. Siska benar-benar tidak menyangka atas segala yang diucap oleh Carlos kepada Nadia, begitu pula dengan Nadia sendiri.
Pria itu kini benar-benar menghilang dari hadapan mereka berdua. Di saat yang bersamaan, mobil-mobil polisi pun berdatangan. Di antara beberapa mobil polisi itu, terdapat Prawira yang turun dari salah satunya dan kemudian berlari ke arah Nadia untuk memastikan keadaannya.
"Nadia, kau ... baik-baik saja, 'kan?!" cetus Prawira tampak begitu mengkhawatirkan kondisinya.
"I-iya, aku tidak apa-apa, terima kasih." Meskipun semua yang sempat terjadi sebelumnya cukup membuatnya syok, namun dirinya merasa baik-baik saja karena sedari tadi Siska selalu menemaninya dan membuatnya merasa aman.
DEG.
Tetapi di saat yang bersamaan, kepalanya menolak untuk baik-baik saja. Tiba-tiba saja rasa pusing menyerang kepala milik Nadia. Memang sudah seharusnya bagi dirinya untuk istirahat di waktu-waktu seperti ini.
"Nadia? Hei, kepalamu pusing?" tanya Siska yang langsung dengan sigap merangkul sahabatnya agar tidak terjatuh akibat sempoyongan.
__ADS_1
"Bawa dia ke mobil! Aku akan kirim kalian ke tempat aman," ucap Prawira kepada Siska.
"Maafkan aku karena tadi tiba-tiba membangunkan dirimu, Nadia." Siska merasa sedikit bersalah atas kelakuannya. Namun permintaan maaf itu mendapat penolakan dari Nadia ketika sudah berada di dalam mobil dengan mengatakan, "jika kamu tidak membangunkan ku, aku mana mungkin tahu kalau kita sedang dalam bahaya."
Sempat terulas senyuman manis pada bibir merah muda milik Nadia. Namun senyuman tersebut perlahan memudar, dan timbul suatu kecemasan di dalam benaknya. Setiap kali dirinya merasa takut, gelisah, dan khawatir, kepalanya terasa pusing.
"Jangan terlalu banyak pikiran! Itu tidak baik untuk kesehatan ibu hamil!" celetuk Siska tiba-tiba menasihati sahabatnya.
Nadia tersenyum tipis dan kemudian berkata, "iya, makasih, Siska," ucapnya sembari mengelus-elus perut besar miliknya sendiri. Pergerakan-pergerakan yang ditimbukkan oleh si kecil dari dalam sana selalu dapat membuat hatinya yang awalnya gelisah menjadi tenang.
"Berlin, kamu baik-baik saja di sana, 'kan? Cepatlah pulang, kami menunggumu," batinnya dengan penuh berharap.
***
Pukul 03:10 pagi, Pulau La Luna.
Berlin telah berhasil menghubungi Garwig dan meminta agar penjemputan dapat dilakukan lebih awal, terlebih penjemputan terhadap rekan-rekannya yang mengalami luka berat.
Garwig pun telah mengatur jadwal penjemputan tersebut. Pada pukul tiga lewat tiga puluh menit akan ada dua helikopter yang diterbangkan menuju pulau guna menjemput orang-orang yang menerima luka berat. Sedangkan tepat pada pukul empat, Ashgard beserta regu milik Prime seutuhnya baru dapat kembali ke kota dengan menggunakan transportasi laut.
"Hei, di mana tersangka yang selamat?" tanya Berlin kepada salah seorang aparat yang berjaga di kamp.
Aparat tersebut pun menunjukkan serta mengarahkan Berlin menuju ke sebuah tenda khusus para tersangka yang selamat. "Di sini, pak," ucap aparat itu ketika sampai di depan tenda.
Tepat di depan tenda tersebut terdapat dua aparat yang berjaga, di sisi-sisi tenda sekaligus di belakang tenda juga dijaga oleh masing-masing dua aparat bersenjata. Tak salah lagi, ini tenda yang Berlin cari.
Ketika Berlin hendak masuk, kedua aparat yang berjaga di depan sempat akan menghalanginya. Namun mengetahui itu adalah dirinya, kedua aparat itu mengurungkan niatnya.
"Sudah seharusnya kalian mati," gumam Berlin ketika membuka tirai tenda tersebut dan mendapati beberapa orang dari Clone Nostra yang masih hidup. Meski tidak banyak, hanya tersisa lima orang saja. Namun itu cukup membuatnya muak untuk melihat orang-orang seperti mereka.
"Berlin?" cetus seorang aparat yang kebetulan berjaga di dalam tenda.
Berlin bingung, lantaran laki-laki yang tampaknya seumuran dengannya dapat mengetahui namanya sedangkan dirinya tidak tahu siapa orang itu.
"Siapa?" cetus Berlin namun tidak mendapat tanggapan dari aparat tersebut.
__ADS_1
"Ada keperluan apa ke sini?" tanya aparat itu.
"Saya mencari Nicolaus berada," jawab Berlin.
Mendengar jawaban itu, aparat yang ia temui di dalam tenda pun langsung mengajaknya keluar tenda tanpa berbicara banyak.
"Maaf, saya tidak memperkenalkan diri saya di awal, karena saya tidak ingin identitas saya didengar oleh para tersangka," ucap aparat itu ketika sudah keluar dari tenda yang berisikan beberapa orang Clone Nostra yang tertangkap.
"Perkenalkan, saya Flix. Flix Gates Samudera," ucap pria bernama Flix itu sembari berjabatan tangan dengan Berlin.
Flix? Marga Gates? Berlin belum pernah mendengar nama ini di dalam marga keluarga besarnya. Flix dapat membaca ekspresi bingung tersebut, dan baginya wajar jika Berlin bingung sebelum kemudian ia menjelaskannya.
"Saya memiliki cerita saya sendiri, mengapa nama saya bisa sampai memiliki marga keluarga besar anda."
"Jauh sebelum saya menjadi Perwira, pada saat masih Tamtama. Pak Garwig telah membimbing saya, bahkan sampai sekarang."
"Beliau sangat baik dengan saya, bahkan sudah saya anggap seperti ayah sendiri."
Flix tiba-tiba terkekeh dengan sendirinya pada kalimat terakhir dan kemudian berkata, "mungkin orang-orang yang sebatang kara seperti saya dahulu akan menganggap seperti itu juga."
Berlin tersenyum mendengar hal tersebut. Dirinya jadi mengetahui mengapa Flix bisa sampai memiliki marga keluarga Gates pada nama panjangnya. Dari cerita singkat tersebut, Berlin sudah langsung dapat menyimpulkan bahwa Garwig-lah yang menjadi sosok penting bagi Flix bisa memiliki marga tersebut.
"Ya, sekarang aku paham. Berarti ... kita keluarga, bukan?" cetus Berlin.
Flix tersenyum lebar dan tampak begitu senang mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin. Kegembiraan tidak dapat disembunyikan dari kedua matanya yang tidak dapat menunjukkan kebohongan.
"Aku tidak menyangka akan memiliki saudara sehebat dirimu," celetuk Flix.
"Di mana hebatnya diriku? Aku hanya pembunuh yang tidak dapat melakukan apa-apa jika tanpa kehadiran rekan-rekan ku," jawab Berlin sembari bercanda gurau.
Flix menggelengkan kepalanya dan mengatakan, "bukan itu yang ku maksud."
"Yang ku maksud adalah ... jati dirimu yang sangat mempengaruhi rekan-rekanmu," lanjut Flix dengan intonasi bicara yang begitu serius.
.
__ADS_1
Bersambung.