Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Doa dan Harapan #115


__ADS_3

Pukul 07:25 pagi.


"Apa yang kau lihat?" bisik Adam kepada Kent yang telah membuka paksa jendela tersebut, da kemudian melihat ke dalam ruangan.


"Dua penjaga bersenjata, duduk di kursi tepat di samping pintu masuk ruangan." Kent menjawab pertanyaan itu.


Tak hanya dua penjaga yang dilihat oleh Kent, namun juga terdapat lebih dari sepuluh tawanan yang berlutut di sudut ruangan. Adam tampak sedang berpikir bagaimana membungkam dan melumpuhkan dua penjaga di ruangan itu tanpa harus membuat keributan dan memancing penjaga lain untuk datang.


Adam berbalik ke belakang dan berbicara kepada Rony serta Kimmy. Tampaknya ia mendapatkan sebuah ide serta rencana.


"Dengar, aku dan Kent akan masuk terlebih dahulu ke dalam ruangan, mengendap-endap dan menghabisi dua penjaga di dalam sana. Setelah selesai, kalian satu persatu menyusul masuk ke dalam ruangan."


"Ingat, ada banyak sandera di dalam sana, dan sebisa mungkin buat para sandera itu tetap tenang!"


Adam berbisik-bisik dengan rekan-rekannya, sedangkan Kent sangat siap di depan jendela untuk masuk dan menghabisi dua keparat di dalam sana.


Tak ingin membuang waktu lebih lama lagi, Adam langsung bergerak bersama dengan Kent untuk menerobos masuk ke dalam ruangan. Sedangkan delapan orang rekannya menunggu serta berjaga di luar jendela.


"Kent, kita masuk dan langsung bersembunyi di meja itu! Sebisa mungkin jangan menimbulkan suara!" ucap Adam.


Kedua orang itu dengan pergerakan yang sangat senyap, apalagi dibantu dengan suara rintik hujan yang begitu deras. Mereka berdua dapat menyusup ke dalam ruangan itu tanpa menimbulkan suara sama sekali. Bahkan para tawanan yang ada di sudut ruangan tidak menyadari adanya kedatangan dua orang itu.


Ketika Adam dan Kent berhasil bersembunyi tepat di balik meja itu. Adam cukup dibuat terkejut dengan salah satu dari beberapa tawanan yang ada di sana melihat dirinya. Tawanan perempuan itu menatap Adam dengan tatapan yang begitu ketakutan, apalagi melihat Adam membawa sebuah pistol di tangannya.


Adam memberikan kode terhadap tawanan wanita itu untuk tetap diam dan tenang dengan menempelkan satu telunjuknya di depan mulut. Tampaknya Kent menyadari hal tersebut, dan mengeluarkan sesuatu dari dalam jaket berwarna hitamnya.


"Kau ... kau dari mana mendapatkan benda itu ...?!" bisik Adam terkejut dengan benda yang ditunjukkan Kent kepada satu tawanan wanita yang menyadari kehadirannya.


Kent rupanya menunjukkan sebuah lencana berwarna emas, yakni lencana Departemen Kepolisian Metro. Wajar saja Adam cukup dibuat terkejut dengan benda itu yang tiba-tiba ada di tangan Kent.


"Aku mengambilnya dari salah satu tenda di kamp personel gabungan, hehe," jawab Kent dengan intonasi berbisik sembari menjulurkan sedikit lidahnya seolah tidak berdosa.

__ADS_1


Adam hanya menghela napas dan menggelengkan kepala mengetahui kelakuan rekannya itu. Yang terpenting untuk saat ini adalah benda itu dapat membuat satu tawanan tadi tenang dan diam.


"Baik, sekarang apa?" bisik Kent bertanya, lirikannya tertuju pada salah satu penjaga yang tampak duduk manis di samping pintu dengan posisi membelakangi posisi dirinya berada.


"Kau bawa pisau?" tanya Adam mengeluarkan sebuah pisau kecil dari dalam saku jaket hitamnya.


"Ya, aku tahu yang kau pikirkan," sahut Kent.


"Sergap dari belakang, habisi, selesai. Kau paham?" ucap Adam menatap tajam rekannya itu.


"Tidak perlu kau kasih tahu, aku sudah paham," sahut Kent.


Keduanya perlahan bergerak keluar dari persembunyian meja itu, dan perlahan mendekati dua penjaga yang ada di dekat pintu masuk ruangan.


Ketika dua penjaga itu lengah ....


CRATT ....!!!


Adam dan Kent menyergap keduanya dari belakang, dan membuat kedua penjaga itu melumuri baju putih mereka dengan darah yang keluar dari leher mereka.


"Jangan khawatir, kami ada di pihak kalian ...!" ucap Adam berjalan di depan para tawanan yang berlutut itu.


"Kent, beritahu yang lain! Kent!" titah Adam kepada Kent yang tampak sibuk merampas persenjataan milik dua penjaga tadi.


"Oh, baik!" Kent segera beranjak kembali ke jendela yang sebelumnya dilewati oleh mereka berdua. Sedangkan Adam membebaskan beberapa tawanan yang terikat.


***


"Teddie, haus?"


"Kak Alana, Teddie haus katanya."

__ADS_1


Akira terlihat asyik bermain-main sendiri dengan boneka beruang berwarna putih miliknya. Beberapa kali ia berbicara dengan boneka tersebut, bahkan memperlakukan boneka itu layaknya seorang teman.


"Haus?" Akira meraih Teddie si boneka beruang itu dan berpura-pura memberikan minum dengan menempelkan sedotan dari sebungkus minuman teh miliknya pada mulut beruang itu.


"Udah? Yuk main sama Akira lagi!" ucap Akira menarik dan menggendong boneka beruang itu dan duduk manis di atas sofa ruangan.


Alana tersenyum melihat tingkah Akira yang sedang asyik bermain bersama bonekanya di atas sofa itu. Setelah itu dirinya memalingkan pandangan ke arah Nadia yang terduduk di atas ranjang dengan pandangan terus ke bawah.


Nadia tidak berbicara sama sekali, dan hanya tertunduk sembari menggenggam sebuah ponsel pada kedua tangannya. Ekspresi dan kedua matanya tampak begitu sendu, kekhawatiran serta kegelisahan masih menghantui benaknya.


Alana beranjak lebih dekat kepada ibu hamil yang sedang galau dan gelisah itu sembari berkata, "dia pasti akan baik-baik saja, Nadia. Percaya dan yakinlah ...!"


Mendengar apa yang dikatakan Alana, membuat Nadia semakin teringat kata-kata yang sering Berlin ucapkan padanya disaat dirinya mencemaskan keselamatan sang suami.


"Aku sudah berkali-kali mencoba untuk menghubunginya, tetapi ...." Nadia tiba-tiba saja lemas, menyadari hal tersebut Alana dengan sigap merangkul dan membiarkan bumil itu bersandar sebentar pada bahunya. Ponsel milik Nadia terlihat menyala, dan menampilkan kontak milik Berlin yang tidak ada respons walaupun berkali-kali dihubungi.


"Aku tahu, dan aku paham perasaanmu, Nadia. Tetapi kita hanya bisa berharap dan mendoakan yang terbaik untuk Berlin," ucap Alana sembari membelai rambut milik Nadia yang tergerai indah sedikit bergelombang.


Alana dengan perlahan merebahkan kepala milik Nadia di atas bantal empuk itu sembari berkata, "Nadia, aku akan selalu ada di sini menemanimu," ucapnya ketika melihat wajah cantik Nadia yang dibayang-bayangi oleh ketakutan akan suatu hal.


"Katakan saja padaku apa yang kamu butuhkan, ya ...!?" lanjut Alana dengan intonasi bicara yang begitu lembut. Ia meraih ponsel milik Nadia yang sudah mati itu, dan kemudian meletakkannya di atas meja tepat di samping ranjang.


"Kamu haus?" tanya Alana. Namun Nadia menggelengkan kepala dan menjawab, "tadi aku udah minum, kok ...!" jawabnya sembari memasang senyuman yang terlihat begitu dipaksakan.


"Ya Tuhan, kumohon lindungilah di manapun Berlin berada ...!" batin Nadia sembari memejamkan mata sesaat, dirinya sangat berharap akan hal tersebut dalam benaknya.


***


Seorang pria berjubah hitam melihat peperangan yang terjadi di depan Balaikota dari kejauhan. Sebuah pistol berwarna hitam tampak siap di tangannya, dan dirinya akan pergi menuju ke gedung berwarna putih itu untuk suatu tujuan.


Dengan langkah pasti dan tidak terlihat adanya ketakutan dalam dirinya. Pria itu terus berjalan melalui jalanan setapak yang mengarah langsung ke Gedung Balaikota.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2