
Bulan tampak bersinar begitu terang di langit yang bertaburkan bintang. Langit malam ini sangatlah cerah, bahkan tidak terlihat awan sama sekali. Banyak bintang yang bertaburan di langit itu, dan semuanya dapat dilihat jelas nan indah oleh mata telanjang.
Pada malam hari ini, Berlin memiliki waktu luang yang sangat panjang. Ia ingin menghabiskan waktu itu hanya untuk berdua bersama sang istri. Dirinya memilih sebuah tempat yang tidak jauh dari rumah, tepatnya berada di halaman belakang rumah kediamannya. Terdapat sebuah bangku taman di sana, dan juga sebuah kolam renang yang berukuran tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil.
Berlin duduk di bangku taman itu bersama sang istri, dan melihat ke arah langit. Sebenarnya ada tujuan lain selain hanya ingin menghabiskan waktu saja bersama Nadia. Dirinya ingin membicarakan soal tujuannya yang sudah bulat ingin mendatangi dan menemui Nicolaus di manapun Nicolaus berada.
Sebelum berbicara soal itu, Berlin sudah terlebih dahulu tahu bagaimana reaksi dan tanggapan istrinya jika mendengar soal tujuannya. Namun ia tetap harus membicarakannya, karena dirinya tidak ingin menyembunyikan sesuatu dari orang yang sangat ia cintai. Meskipun Berlin sendiri tahu, ini mungkin akan menjadi pembicaraan yang sulit.
"Kira-kira, kapan terakhir kali kita melihat langit malam yang seperti ini, ya?" gumam Nadia sembari menyandarkan kepalanya pada bahu milik lelakinya. Tangan kanannya sibuk menggenggam jari jemari milik Berlin, sedangkan tangan kirinya asyik mengelus perut buncit miliknya sendiri dengan penuh kasih sayang.
"Kapan, ya?" gumam Berlin tersenyum dan memasang wajah yang begitu ceria malam ini.
Nadia hanya tersenyum dan memejamkan matanya sejenak pada sandaran itu. Dengan intonasi yang pelan, dirinya mulai melayangkan sebuah pertanyaan kepada suaminya.
"Berlin, kita harus menyiapkan nama untuk anak kita. Apakah kamu sudah kepikiran?" ucapnya sembari membuka matanya dan menoleh untuk bisa menatap wajah lelaki itu.
Berlin sedikit salah tingkah dengan pertanyaan itu, lantaran dirinya baru kepikiran ketika pertanyaan tersebut ia dengar. Dengan tertawa kecil, ia menjawab, "um ... nama, ya?"
"Jangan bilang kamu belum terpikirkan?!" cetus Nadia sembari mengerucutkan bibirnya yang justru membuatnya tampak imut di mata Berlin.
"Iya, aku belum kepikiran." Berlin mengakuinya tanpa pikir panjang. Ia mendaratkan sentuhan hangatnya pada perut milik wanitanya sebelum kemudian berkata, "alangkah lebih baiknya, kita pikirkan setelah tahu dia laki-laki atau perempuan."
Nadia tersenyum, "iya. Di pemeriksaan terakhir dia malu-malu, sih," ucapnya lalu terkekeh kecil sembari menimpa tangan milik Berlin yang asyik mengelus-elus perutnya dengan jemarinya.
__ADS_1
Berlin ikut tertawa mendengar hal itu. Sentuhannya dapat merasakan adanya sedikit pergerakan dari dalam perut buncit milik sang istri. Pergerakan-pergerakan kecil mulai terasa di sana, dan berhasil membuat hatinya merasa tenang ketika merasakan pergerakannya.
"Kamu bisa merasakannya?" gumam Nadia tiba-tiba bertanya dengan tatapan lembutnya kepada Berlin yang berada sangat-sangat dekat dengannya.
Berlin tersenyum bahagia dan mengangguk mendengar pertanyaan itu. Usia kandungan istrinya sudah memasuki usia empat bulan. Pada usia ini, pergerakan si kecil mulai dapat dirasakan.
"Sepertinya dia sulit diam, ya?" gumam Berlin sedikit menunduk untuk bisa menatap kedua bola mata indah milik sang istri. Telapak tangannya masih dapat merasakan pergerakan-pergerakan kecil dari dalam perut buncit milik Nadia yang sedari tadi tidak ada hentinya.
Nadia tertawa kecil dan tersenyum bahagia mendengar pertanyaan itu. "Dia selalu senang ketika disentuh Papanya," jawabnya dengan senyuman yang tidak pudar.
Melihat ekspresi ceria itu, berhasil membuat Berlin mengurungkan niat awalnya. Dirinya merasa ini bukanlah momen yang tepat untuk membicarakan tentang hal itu.
***
Berada di sebuah gudang tidak terpakai yang terletak di atas dari sebuah bukit utara Danau Shandy Shell. Sekelompok orang yang berjumlah lebih dari sepuluh orang. Mereka tampak mempersiapkan perlengkapan senjata mereka.
"Setelah perampokan terakhir yang Clone Nostra buat, hingga saat ini sangatlah sunyi tidak terdengar suara sirine. Membosankan, tidak ada suara sirine semacam kota syariah."
Seorang pria berjaket putih dan menenteng sebuah pistol berwarna perak tampak berbicara dengan sendirinya. Ia berdiri di tepi dari sebuah lereng bukit, dan memandang ke arah pemukiman Shandy Shell yang terletak di seberang danau dari tempatnya berada.
"Farres, kau sudah siap?" seorang pria lain yaitu Doma berjalan menghampiri orang itu yang ternyata adalah Farres.
Farres memberikan jawabannya hanya dengan sebuah anggukan kecil kepala, dan tanpa menoleh untuk menghadap ke arah Doma yang berdiri di belakangnya.
__ADS_1
Setelah mendengar jawaban tersebut, Doma kembali beranjak pergi dari sana meninggalkan Farres sendirian.
"Terlalu aman kadang memang nyaman," gumamnya dengan sendirinya. Pandangannya memandang ke arah indahnya pemandangan Danau Shandy Shell dan pemukiman penduduk dari kejauhan.
Di dalam genggamannya sudah terdapat sebuah pistol berwarna perak dengan amunisi yang sudah terisi. Tatapannya tajam dan ekspresi sangat dingin seakan tidak sabar untuk menarik pelatuk dari senjata apinya. Entah ia akan melontarkan timah panas itu ke mana dan akan terkena siapa. Yang jelas, rasa nafsu untuk menembak cukup menggebu-gebu dalam dirinya.
Farres menghela napas untuk dapat mengendalikan emosionalnya. "Aku harus mengikuti Clone Nostra dan perintah Tokyo, kau tidak boleh terlalu terburu-buru, Farres!" cetusnya seolah dengan menasihati dirinya sendiri.
"Sudahlah, lebih baik aku segera menjalankan perintahnya," gumam Farres kemudian berbalik badan dan beranjak pergi dari sana.
Setelah dirasa cukup untuk menyendiri di sana. Farres pun segera kembali dan menemui rekan-rekannya yang sudah siap untuk berangkat.
Pada awal hari atau pagi-pagi buta ini. Farres mendapatkan tugas untuk mengkoordinasikan dua kelompok aliansi yang dimiliki oleh Clone Nostra. Dirinya akan menemui dua kelompok itu, dan memberikan koordinasi mengenai pergerakan serta langkah selanjutnya yang akan diambil oleh Clone Nostra.
Perintah atau tugas ini langsung ia dapatkan dari Tokyo. Meskipun Tokyo masih berdiam diri di Pulau La Luna. Namun sepertinya itu tidak menjadi batasan baginya untuk dapat terus memantau perkembangan kelompoknya yang saat ini sudah berada di dalam wilayah yurisdiksi pemerintahan Kota Metro.
Entah bagaimana caranya, tetapi Tokyo akan dapat selalu tahu apa saja yang dilakukan oleh para anak buahnya itu. Seolah, ia memiliki banyak mata baik di dalam ataupun di luar wilayah yurisdiksi pemerintahan Kota Metro.
Maka dari itu, Farres dan rekan-rekannya tidak dapat bertindak seenaknya atau melanggar ketentuan yang dibuat oleh Tokyo.
Tokyo El Claunius, benar-benar pria yang mengerikan.
.
__ADS_1
Bersambung.