
Pertemuan Berlin dan ketiga rekan kepercayaannya dengan sosok Garwig telah menemui titik akhir. Dalam perjalanannya kembali ke vila, peraturan-peraturan yang ditunjukkan oleh Garwig sebelumnya telah berhasil menjadi trending topik pembicaraan di mobil tersebut. Ketiga rekannya tampak cukup kontra dengan seluruh peraturan yang terkesan sangat ditekankan untuk patuh dan tunduk, yang tentunya itu sangat bertentangan dengan pendirian Ashgard.
"Masa kita harus tunduk? Berlin, kau mendirikan Ashgard dari awal selalu menekankan untuk tidak tunduk kepada apapun dan siapapun. Kau tidak melupakan hal itu, 'kan?" ucap Adam, sembari menyetir.
"Ya, apalagi hal itu sudah tertanam di pemikiran rekan-rekan, dan tentunya ini akan menjadi masalah yang cukup besar bagi kita," timpal Kimmy.
"Berlin, lalu apa saja yang Garwig bicarakan denganmu tadi saat dia meminta berbicara empat mata?" tanya Asep menyela pembicaraan rekan-rekannya.
Berlin terlihat sangat tenang meskipun dua rekannya terus saja menghujani dirinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertujuan untuk memastikan keputusannya. Ia diam sejenak, menunggu sampai Adam dan Kimmy berhenti berbicara, sekaligus telah menyiapkan jawaban untuk membalas pertanyaan yang dilontarkan oleh Asep yang duduk di kursi tepat di belakangnya.
Setelah ketenangan kembali tercipta. Berlin kemudian mengambil kesempatannya untuk angkat bicara. Dengan intonasi datar, dan sikap yang terkesan dingin. Lelaki itu berkata, "aku mengerti apa saja yang kalian pikirkan, dan apa saja yang membuat kalian kontra dengan peran pekerjaan ini."
"Kurasa ... aku memang akan mengkhianati pendirian Ashgard yang telah ku buat sejak enam tahun kelompok kita berdiri. Karena aku berpikir, tak bisa selamanya kita terus berpegang teguh kepada pendirian itu. Jika terus seperti itu, aku pikir tidak akan ada proses dan kemajuan untuk kelompok kita."
Berlin menghela napas, bersandar santai pada kursinya, dengan pandangan ke depan melihat jalanan perbukitan kota yang berliku-liku.
"Jika kalian berprasangka aku mengkhianati pendirian yang ku buat hanya karena pekerjaan dan uang. Jawabannya bisa dibilang iya. Karena jujur saja, akhir-akhir ini aku memang sedang sangat memikirkan soal ekonomi. Tak hanya ekonomi keluargaku sendiri, tetapi aku juga tetap memikirkan kalian, dan ekonomi Ashgard."
"Kalian tetap menjadi tanggung jawabku, dan memastikan kalian memiliki hidup yang aman dan terjamin sudah menjadi tugasku. Maka dari itu aku menerima pekerjaan yang ditawarkan oleh Garwig, dan aku merasa masa depan Ashgard ada di peran serta pekerjaan itu."
Seketika ketiga rekannya dibuat terdiam, setelah Berlin selesai berbicara. Suasana hening kembali tercipta, dan kini benar-benar hening, tidak ada yang angkat bicara selain Berlin yang selesai dengan kata-katanya.
__ADS_1
"Iya, aku tahu soal tanggung jawab yang kau miliki atas kami, Berlin. Namun jangan sampai tanggung jawab itu melebihi tanggung jawab yang kau miliki atas keluargamu, istri dan anakmu ...!" Kimmy tiba-tiba angkat bicara dengan lembutnya, menyela keheningan yang ada.
"Benar itu!" timpal Adam, sempat sedikit menoleh kepada Berlin yang duduk tepat di sebelahnya, sebelum kemudian harus fokus kembali ke jalanan di depan karena dirinya sedang menyetir.
"Lalu, apa yang tadi kau bicarakan empat mata dengan Garwig? Aku masih penasaran soal itu," cetus Asep, terkesan cukup antusias dan penasaran atas pertanyaannya.
"Garwig berbicara kepadaku soal peraturan yang dia tunjukkan kepada kita, dan juga soal Divisi Khusus yang nantinya kita yang mengisi peran tersebut."
"Apa saja yang dia katakan?" sahut Kimmy, yang tampaknya juga ikut penasaran setelah Berlin memberikan jawabannya.
"Beberapa hal, salah satunya markas baru buat Ashgard," sahut Berlin, singkat. Ia memberitahu beberapa hal yang sempat ia bicarakan dengan Garwig sebelumnya soal pekerjaan itu, juga soal peraturan yang sempat dibahas oleh Garwig.
Pembicaraan mereka berempat terus berlangsung, dari topik pembicaraan yang serius, hingga yang hanya berisikan gurauan dan candaan. Pembicaraan tersebut baru berakhir setelah Berlin sampai di vila miliknya. Berlin sampai tepat waktu, jam digital yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan pukul sepuluh lewat lima puluh sembilan menit. Tepat waktu, seperti apa yang sempat ia janjikan kepada Nadia, sampai di rumah sebelum pukul sebelas malam.
"Kalian kembalilah ke rumah masing-masing, dan istirahatlah! Untuk soal tugas atau kapan mulai aktif bertugasnya, kita tunggu saja kabar dari Garwig," ucap Berlin, sudah berdiri di depan pintu vila yang tertutup rapat, bahkan dikunci dari dalam.
"Baik, bos ...!" jawab Asep, mewakili kedua rekannya.
"Kau juga istirahatlah! Tetap perhatikan kondisi kesehatanmu!" ucap Kimmy, dan perkataannya disetujui oleh Adam yang juga sependapat.
Berlin mengangguk, tersenyum berkata, "terima kasih."
__ADS_1
...
Lima menit kemudian, ketiga rekannya sudah bertolak pergi dari rumahnya, lebih tepatnya vila miliknya. Berlin perlahan membuka pintu yang terkunci rapat dari dalam menggunakan kunci cadangan yang selalu ia bawa.
Kleekk .... Perlahan pintu kayu besar itu terbuka, menampilkan kondisi ruang tamu yang sungguh gelap, sunyi dan sepi. Berlin menutup rapat kembali pintu tersebut, dan tak lupa untuk menguncinya. Sebelum menaiki tangga menuju ke lantai dua dan tiga, Berlin melakukan kebiasaannya terlebih dahulu yakni memeriksa setiap pintu serta jendela di dalam vila tersebut, memastikan apakah semuanya sudah benar-benar tertutup rapat dan terkunci. Setelah selesai memastikan, dan semuanya berhasil membuat hatinya tenang serta puas. Berlin baru melangkah menaiki anak tangga, melalui lantai dua, dan menuju ke lantai tiga.
Berlin membuka salah satu pintu kamar, dan dirinya langsung mendapati istri dan putrinya yang tampak tengah terlelap di balik selimut hangat. Lelaki itu masuk, dan menutup kembali pintu kamar itu rapat-rapat, kemudian berjalan, dan duduk di tepi ranjang, lebih dekat dengan sosok Akira yang tertidur tepat di tengah-tengah ranjang tersebut.
"Kelihatannya malam ini kamu tepat janji," gumam Nadia sedikit berbisik, sembari berbaring, dirinya mencoba untuk menatap sosok Berlin yang duduk di tepi ranjang tersebut dengan mata yang mengantuk.
"Sesuai dengan apa yang ku katakan sebelum berangkat, 'kan?" sahut Berlin, beranjak berdiri, melangkah sedikit memutari ranjangnya untuk lebih dekat dengan istrinya, dan kemudian mencium kening milik sang istri dari sisi lain ranjang.
"Apakah pertemuanmu dengan Garwig berlangsung lancar?" tanya Nadia, tersenyum.
Berlin tersenyum dan menjawab, "syukurlah lancar," ucapnya, asyik memandangi muka bantal yang cantik milik sang istri.
"Sudahlah, kamu lanjut tidur dahulu aja! Aku mau bersih-bersih badan terlebih dahulu," lanjut Berlin, kemudian dijawab oleh Nadia yang hanya mengangguk tersenyum. Lelaki itu langsung beranjak menuju ke kamar mandi di ujung kamar, sesaat setelah menerima jawaban tersebut.
.
Bersambung.
__ADS_1