
DOR ...!!! DOR ...!!! DOR ...!!!
Suara tembakan terdengar berulang-ulang, dan peperangan pun pecah di jalanan dan di tengah keramaiannya kota. Masyarakat di sekitar dibuat ketakutan dan langsung berlarian untuk berlindung. Ashgard langsung menghujani peluru ke arah para pengendara yang mengejar dua mobil milik mereka. Serangan yang cukup tak terduga itu berhasil mengacaukan fokus mereka.
"Terus tembak mereka! Ingat, sasaran kalian hanya mereka, jangan menembak orang lain selain mereka!" Berlin memberikan perintahnya sembari mengingatkan rekan-rekannya. Dirinya tidak mau ada orang lain selain dari pihak-pihak yang bersangkutan terluka. Meskipun, di dalam situasi yang sudah cukup kacau ini apapun bisa terjadi.
"Bos, kita dapat keuntungan, sih!" ujar Asep dengan nada cukup tinggi melalui radio, diikuti oleh suara-suara tembakan yang terdengar.
"Mau bantai mereka, 'kah?" tanya Aryo.
"Kalian percaya diri?" sahut Berlin meyakinkan rekan-rekannya.
"Gas!" seru semua rekan-rekannya secara serempak dan sangat yakin.
"Dam, blokade terowongan di bawah jalan layang ini, dan kalian yang di atas terus berikan perlawanan ke mereka!" pinta Berlin kepada Adam melalui radionya.
"Siap!" sahut Adam.
Kedua mobil itu pun langsung membanting stir mereka, dan membuat blokade yang menutup jalan di dalam terowongan tepat di bawah jalan layang tersebut.
"Jaga dirimu!" ucap Adam kepada Sasha sebelum dirinya turun dari mobil dengan pistol yang sudah siap di tangan.
"Kim, lindungi belakang ku!" pinta Berlin ketika turun dari mobil bersama Kimmy. Kimmy pun melaksanakan perintah tersebut dan menjaga bagian belakangnya. Sedangkan Berlin bersiap dengan pistolnya dan mengarahkannya ke arah para pengendara yang sebelumnya mengejar dirinya.
Berlin pun mulai menembak diikuti oleh Adam di sampingnya seraya berlindung di balik mobilnya. Sedangkan Kimmy dan Sasha menjaga bagian belakang mereka.
Orang-orang berjaket putih itu tampak kepanikan akibat serangan yang dibangun oleh Ashgard. Banyak dari mereka mencoba untuk memberikan perlawanan, dan banyak juga dari mereka yang berlari mencari perlindungan. Namun sepertinya usaha mereka terpatahkan karena Ashgard tampaknya sangat tidak ingin melepas mangsanya.
"Ayo, maju! Beberapa dari mereka sudah jatuh!" teriak Faris melalui radionya, ia tampak sangat berambisi untuk menghabisi lawannya.
"Hei, jangan terlalu percaya diri, ingat!" tegas Berlin.
"Perlahan dan kuasai, kalian bisa menghabisi mereka dari atas, kalian mendapatkan posisi menguntungkan!" timpal Adam.
"Baik, kalian ikuti aku!" Asep pun mula menggerakkan motornya bersama Kent di boncengannya. Ia dan beberapa regu pemotor mulai turun dari atas jalan layang tersebut, sedangkan beberapa lagi sengaja ditinggalkan di atas jalan layang untuk menjaga posisi teratas.
"Tetaplah di sini!" pinta Berlin kepada Kimmy dengan sangat tegas.
Mengetahui rekan-rekannya sudah berada di depan dan baku tembak dengan orang-orang berjaket putih yang tersisa. Berlin pun ikut maju ke sana, ia berlari diikuti oleh Adam di belakangnya.
"Tu-tunggu, Berlin!" teriak Kimmy. Namun dirinya tidak bisa mengejar dan menghentikan langkah Berlin karena perintah.
"Jangan bunuh mereka, sebisa mungkin sisakan satu!" pekik Berlin ketika berlari mengarah rekan-rekannya yang berada di trotoar. Dirinya dapat melihat sudah ada cukup banyak orang-orang berjaket putih yang tergeletak di atas jalanan dalam keadaan bersimbah darah.
"Sialan ...! Sangat sulit jika harus memecah kekompakan mereka. Kita harus mundur sekarang!" seorang pria berpakaian jaket putih dan terdapat bekas luka bakar pada wajah bagian kanannya melihat baku tembak yang terjadi. Ia tampak sangat kesal dengan apa yang terjadi di sana, dan terpaksa dirinya harus mundur bersama beberapa rekannya yang tersisa agar tidak tertangkap oleh mereka, Ashgard.
__ADS_1
Sedangkan tampaknya Ashgard sudah mulai memenangkan baku tembak yang terjadi. Cukup banyak korban yang berjatuhan dari pihak lawan, sedangkan tidak pada Ashgard.
"Rampas! Lumayan," ujar Kent menggeledah dan mengambil barang bawaan dari tubuh lawan-lawannya. Begitu pula dengan rekan yang lain, mereka tampak merampas semua barang bawaan termasuk senjata api yang dibawa oleh orang-orang berjaket putih itu.
"Bos," panggil Salva seraya menyeret seorang pria berjaket putih dan menghadapkannya ke depan Berlin.
Kondisi pria itu cukup memprihatinkan, terdapat luka tembak pada kedua kakinya dan satu luka tembak pada bagian lengan kanannya. Wajah pria itu tampak sangat ketakutan, dan tambah ketakutan ketika Berlin menatapnya dengan sangat tajam. Aura pembunuh yang sangat mengerikan sangat terlihat melalui tatapan tajamnya.
"Tenang saja, kami akan membiarkanmu untuk hidup, kecuali pihak medis terlambat dalam memberikan pertolongan dan membiarkanmu kehabisan darah." Berlin berbicara dengan nada dan sikap yang sangat dingin. Ia berbicara sudah seperti tidak memilki belas kasihan sama sekali, bahkan dengan ekspresi datarnya.
Wajah pria itu meringis kesakitan dan terlihat sangat pasrah, bahkan ia tampak sangat siap untuk mati di saat itu juga. Luka pada sekujur tubuhnya sudah sangat menyiksa bagi dirinya.
"Nico ... Nicolaus yang menginginkan kalian! Maka dari itu kami mengejar kalian tadi!"
Belum sempat Berlin bertanya, pria yang berlutut di hadapannya sudah langsung memberikan jawaban tanpa ia minta. Mendengar jawaban tersebut dirinya tidak begitu terkejut.
"Si Br*ngs*k itu?!" gusar Adam mengepalkan tangannya.
"Apa alasannya mencari kami?" tanya Asep.
"Aku ... tidak tahu, ka-karena ... aku hanya ... dipekerjakan olehnya," jawab pria itu sangat terbata-bata karena harus menahan rasa sakit yang luar biasa pada tubuhnya.
"Sudah, cukup! Kita tinggalkan saja dia, polisi dan pihak medis akan segera ke sini, dan sebaiknya kita segera meninggalkan lokasi sebelum mereka datang." Berlin menyudahi percakapan tersebut, dan segera pergi dari lokasi kejadian. Rekan-rekannya pun mengikuti arahannya, dan mereka segera meninggalkan lokasi tepat sebelum polisi dan ambulans datang.
Pria yang terluka itu mulai tergeletak tepat ketika ambulans datang dan mendengar suara sirine. Pandangannya mulai memburam dengan darah yang terus keluar dari luka-luka pada tubuhnya. Ia memejamkan matanya dan berharap mati karena tidak ingin mendekam di penjara.
"Jika sudah seperti ini, lebih baik aku mati saja," batinnya dengan mata yang sudah terpejam. Ia tak bisa merasakan tubuhnya lagi, dan dirinya hanya bisa mendengar suara sirine yang meraung-raung di sekitarnya.
***
Pukul 21:05 malam.
Berlin dan rekan-rekannya sudah kembali dan berkumpul di markas. Dirinya dapat melihat rekan-rekannya yang tampak sudah cukup lelah atas apa yang terjadi malam ini. Ketika dirinya turun dari mobil bersama Kimmy, tiba-tiba Kina berlari dengan cukup panik menghampirinya.
"Bos, tolong Bobi! Dia terluka," pinta Kina dengan mata berkaca-kaca di hadapan Berlin.
Pandangan Berlin langsung tertuju kepada Bobi yang terlihat kesakitan seraya memegangi lengan kirinya yang berdarah. "Kimmy!" ucap Berlin melirik kepada Kimmy yang saat itu berdiri di sampingnya.
"Baik!"
Kimmy langsung mengambil kotak pertolongan pertama dan berlari ke arah Bobi yang terduduk di sofa ruang utama. Dirinya melihat luka tersebut, dan beruntung itu hanyalah luka akibat terserempet oleh peluru.
Berlin pun mengumpulkan rekan-rekannya yang ada di sana dan tampak sedang beristirahat untuk membicarakan sebentar tentang apa yang terjadi hari ini.
"Semuanya baik-baik saja? Semua sudah lengkap berada di sini, dan tidak ada yang terluka selain Bobi?" tanya Berlin berdiri di depan semua rekannya yang kini berdiri di hadapannya.
__ADS_1
"Iya, bos!" sahut rekan-rekannya.
"Seperti yang kalian ketahui, kondisi kita saat ini sedang memanas dengan pihak Clone Nostra, dan terutama Nicolaus. Kita masih tidak tahu apa tujuan mereka sebenarnya, dan mengapa mereka terus memerangi kita."
Berlin mulai angkat bicara di hadapan rekan-rekannya mengenai hari ini. Semua rekannya terlihat sangat memperhatikan dirinya, termasuk Bobi yang sedang diobati oleh Kimmy di sana.
"Apapun yang terjadi di sana tadi, anggap saja konflik antar kelompok seperti biasa," ucap Berlin.
Tak lupa dirinya juga memberikan peringatan kepada teman-temannya untuk lebih berhati-hati kedepannya. Mengingat Clone Nostra bukanlah kelompok amatir, Berlin mengkhawatirkan beberapa hal dan semuanya soal keselamatan rekan-rekannya.
Setelah berbicara di depan teman-temannya. Dirinya pun menyuruh mereka untuk segera beristirahat. Namun tiba-tiba Faris menyela dengan berkata, "um ... apakah aku boleh berbicara?"
"Tentu," sahut Berlin.
Faris tiba-tiba maju ke hadapan rekan-rekannya dan berdiri di samping Berlin. "Semuanya, aku ingin meminta maaf soal ... kepemimpinan ku yang buruk tadi," ucap Faris lalu menundukkan kepalanya.
"Aku juga minta maaf kepadamu, bos. Aku tidak becus untuk berada di posisi itu," lanjutnya lalu menundukkan kepalanya kepada Berlin.
Semua rekannya yang menyaksikan hal tersebut dibuat tertegun dan terdiam, begitu pula dengan Berlin. Berlin tersenyum mendengar permintaan maaf itu.
"Tidak apa, itu bukan salahmu, Faris. Aku yang mengambil keputusan untuk memberikan kesempatan memimpin kepadamu, dan aku juga memiliki alasan untuk itu. Jadi, angkatlah kepalamu!" pintanya.
Semua rekannya menatap Berlin dengan tatapan penasaran. Alasan? Pertanyaan itu tercetus di kepala mereka masing-masing.
"Alasan apa, bos?" tanya Adam.
Berlin dapat melihat semua tatapan yang penuh penasaran dari rekan-rekannya. Dirinya pun memberitahukan alasannya agar tidak terjadi sebuah kesalahpahaman.
"Aku hanya ingin melihat ... bagaimana kalian jalan tanpa perintah atau arahan dariku, dan aku ingin melihat seberapa percaya kalian satu sama lain."
"Yah ... anggap saja itu tadi uji coba," lanjutnya.
Semuanya masih terdiam namun dengan suasana yang berbeda. Berlin dapat merasakan suasana kekecewaan dari rekan-rekannya yang tak bisa menunjukkan yang terbaik. Pandangan mereka semua langsung tertunduk ke bawah.
"Meskipun menurutku hasilnya memang sedikit mengecewakan, tetapi aku salut ... dan ... bangga dengan kalian. Walau tidak ada arahan yang pasti, kalian memiliki inisiatif untuk bergerak serta percaya satu sama lain. Dan sekalinya ada arahan yang pasti, kalian langsung kompak."
Berlin tersenyum bangga terhadap rekan-rekannya. Mendengar hal tersebut, pandangan mereka yang sebelumnya tertunduk kini kembali terangkat dengan ekspresi senang dan lega.
"Kami akan berusaha agar tidak mengecewakan lagi!" seru Aryo bersemangat.
"Aku senang dapat mengenalmu, Berlin." Adam tersenyum senang kepada Berlin.
"Ya, aku senang bisa memiliki kalian," batin Berlin hanya tersenyum.
.
__ADS_1
Bersambung.