Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Apakah Ada yang Kamu Takutkan? #69


__ADS_3

Dua hari kemudian.


Semua persiapan telah selesai sepenuhnya, dan sekarang hanya tinggal keberangkatan. Berlin telah menentukan keberangkatannya yang tentunya disetujui oleh seluruh rekannya juga dengan pihak Garwig dan Prawira. Meskipun sempat terjadi konfrontasi antara keputusan yang ia buat dengan beberapa orang terdekatnya. Tetapi itu tidak mempengaruhi keputusan yang telah ia ambil.


Keputusan yang sangat berbahaya telah diambilnya, dan keberangkatannya untuk menjalani keputusan tersebut sudah dapat dihitung oleh waktu. Berlin sadar dengan betapa berbahayanya keputusan yang ia ambil. Namun tetap saja dirinya tidak menarik dan membatalkan keputusan tersebut. Keputusan yang telah ia buat sudah benar-benar bulat dan tidak dapat diganggu gugat. Tersimpan juga ambisi di dalam hatinya untuk menghadapi langsung orang yang menjadi dalang dalam tragedi terbunuhnya kedua orang tuanya.


Pada malam hari ini, Berlin terlihat sedang berduaan dengan sang istri di ruang keluarga yang berada di lantai dua kediamannya. Nadia sudah mengetahui soal kapan keberangkatan Berlin. Ia mengetahui hal tersebut dari Berlin sendiri yang sudah memberitahukannya.


"Berlin, aku takut ...," gumam bumil itu sembari menyandarkan kepalanya pada dekapan milik sang suami.


Nadia menyimpan ketakutan akan berbagai hal yang kini cukup menyelimuti dirinya, bahkan membuatnya sulit untuk tidur di malam ini. Hatinya benar-benar gelisah dan tidak bisa tenang.


"Semuanya akan baik-baik saja, sayang. Percaya dan yakinlah ...!" ucapnya sembari membelai sang istri dengan penuh kelembutan, Berlin selalu menekankan hal tersebut kepada istrinya.


Nadia tersenyum tipis dan berkata, "kamu lagi-lagi bilang begitu."


"Karena dengan percaya dan yakin, harapan kita bisa saja terwujud. Kira-kira begitulah yang ku yakini," sahut Berlin sembari mengulas senyumannya ketika berbicara.


"Sayang, apa kamu nggak takut dengan keputusanmu itu? Kamu benar-benar membuatku penasaran dengan dirimu yang kelihatannya tidak memiliki rasa takut itu." Nadia sedikit mendongak untuk bisa menatap langsung kedua bola mata tajam milik sang suami. Jarak di antaranya dengan lelaki itu sangatlah dekat, dan berhasil membuat sang suami sedikit gugup ketika mendapat tatapannya.


Berlin tersenyum mendengar pertanyaan itu dan bersiap untuk memberikan jawabannya. Ia memberikan sedikit kecupan manis pada kening milik wanitanya dengan penuh kasih sayang sebelum dirinya menjawab.


"Setiap manusia pasti memiliki ketakutannya masing-masing, dan ketakutan yang dimiliki itu berbeda-beda. Jangan dipikir aku tidak punya ketakutan, aku masih seorang manusia normal yang juga menyimpan rasa takut, sayang." Berlin menjawab pertanyaan itu dengan intonasi berbicara yang sungguh lembut. Jarang-jarang ia berbicara dengan intonasi berbicara yang lembut jika tidak dengan Nadia seorang.


"Lalu apa yang kamu takutkan? Kamu terlihat seperti tidak takut pada apapun ...?" cetus Nadia kembali bertanya sembari memasang wajah yang sedikit heran. Namun justru ekspresi itu malah menjadi imut di mata Berlin dan membuatnya sedikit tertawa kecil.


"Yang ku takutkan, ya ...?" gumam Berlin melemparkan pandangannya pada cerahnya langit malam bertabur bintang yang terlihat melalui jendela yang amat besar di ruang keluarga itu.

__ADS_1


"Ada beberapa hal yang ku takutkan, dan mungkin cukup sulit untuk dijelaskan dengan kata-kata. Salah satunya adalah ... aku takut ... keputusan yang ku ambil ini ... justru malah mencelakai orang yang sangat ku cintai," ucapnya kemudian kembali memandang paras cantik milik sang istri yang begitu dekat dengannya. Mendengar hal tersebut, Nadia terlihat cukup bingung dengan maksud dari perkataan suaminya.


"Tidak usah dipusingkan, ya? Tenang saja, semuanya akan berjalan dengan baik," lanjut Berlin kemudian kembali memberikan kecupan lembutnya pada kening milik sang istri.


"Berlin, kapan kamu akan pulang? Perginya nggak lama-lama, 'kan?" Nadia kembali menanyakan hal yang cukup sulit untuk Berlin menjawabnya. Dirinya tidak dapat memberikan janji atau kepastian mengenai hal itu.


"Setelah semua urusanku selesai, maka aku akan segera pulang, sayang. Dan kamu tenang saja, kamu nggak akan sendirian selama aku pergi." Berlin memberikan jawabannya tanpa harus menaruh sebuah kepastian atau janji di sana.


"Maksudmu?" cetus Nadia kembali dibuat bingung dengan kalimat terakhir yang Berlin katakan padanya.


"Aku telah menugaskan seseorang yang sangat dekat denganmu untuk menemanimu selama aku pergi, dan seseorang ini juga kamu anggap sebagai saudarimu," jawab Berlin.


Saudari? Nadia tersenyum tipis mendengarnya. Dirinya tahu siapa orang yang Berlin maksud itu. "Mengapa kamu mengutus seseorang untuk menemaniku?"


Satu tangan milik lelaki itu mendarat perlahan pada perut buncit milik Nadia. Berlin dapat merasakan beberapa pergerakan-pergerakan kecil yang berasal dari dalam perut istrinya. Sesekali dirinya mengusap-usap perut itu secara perlahan nan lembut penuh dengan kasih sayang.


Nadia tersenyum mendengar hal tersebut. Ia menyamankan sandaran kepalanya pada dada bidang milik sang suami sembari berkata, "Berlin, kurasa kamu berlebihan."


Berlin menggelengkan kepalanya dan berkata, "tidak, ini tidak berlebihan, sayang," lalu mengulas senyumnya.


Berhubung sedang membicarakan soal orang yang akan menjaga Nadia selama dirinya pergi. Berlin juga memberitahukan kepada istrinya bahwa akan ada satu orang lagi yang kemungkinan besar terlibat dalam hal ini.


"Oh iya, aku ingin memberitahumu kalau ada satu orang lagi yang kemungkinan besar akan terlibat dalam hal ini. Orang itu adalah ... Carlos."


Mendengar nama itu disebut, senyuman yang sebelumnya tampak pada bibir manis milik Nadia tiba-tiba saja memudar perlahan. "Carlos?" cetusnya sembari menatap Berlin dengan wajah terheran-heran.


"Ya, tetapi dia aku tugaskan berbeda dari Siska. Dia akan turun tangan jika sekenario terburuk dari yang terburuk terjadi. Jadi ... kamu jangan khawatir soalnya."

__ADS_1


"Kamu nggak akan dapat melihat atau bertemu dengannya selama sekenario terburuk yang ku pikirkan tidak terjadi." Dengan tenangnya Berlin menjawab keheranan sang istri.


"Tetapi bukankah dia sekarang berada di penjara?" cetus Nadia kembali bertanya.


"Soal itu aku dan Garwig yang mengurusnya, dan aku memutuskan untuk sedikit memberikannya kesempatan untuk ... mungkin berubah," jawab Berlin.


"Jika dalam tugasnya ia berhadapan denganmu, dia akan menyerahkan sebuah surat tugas kepadamu, dan di dalam surat itu terdapat tanda tanganku serta cap resmi dari instansi pertahanan pemerintah."


"Surat itu menjadi tanda bukti, jika dia melanggar peraturan yang ku buat dan melakukan sesuatu yang buruk padamu. Maka dia akan menerima hukuman yang jauh lebih berat dari sebelumnya, bahkan nyawanya pun akan menjadi taruhannya." Berlin memberikan kelanjutannya dalam berbicara. Ia terlihat sangat serius ketika berbicara dan memberitahu Nadia mengenai hal ini.


"Tetapi ... bagaimana jika dia nekat melanggarnya, Berlin?" tanya Nadia menatap Berlin sedikit cemas dengan hal ini.


"Maka dari itu, pokoknya jangan jauh-jauh dari Siska, ya?" jawab Berlin sembari mengulas senyum dan lalu mengelus kepala milik sang istri dengan penuh kelembutan.


Nadia mengangguk pelan. Ia kembali menyandarkan kepalanya pada dekapan milik lelakinya. Di malam ini dirinya benar-benar dibuat cukup sulit untuk tidur. Namun setelah sedikit berbicara dengan Berlin barusan. Hatinya sedikit lebih tenang daripada sebelumnya, dan rasa kantuk pun mulai melanda.


***


Bulan bersinar sangat terang, bahkan tidak terhalang sama sekali oleh awan di langit malam ini. Langit tengah malam yang indah, dimana banyak sekali bintang yang bertaburan. Benar-benar pemandangan yang menenangkan, diikuti dengan dinginnya angin malam yang berhembus sepoi-sepoi.


Pada tengah malam tepatnya pukul 12 pas ini. Seorang pria dengan tuksedo putih yang tidak lain dan tidak bukan adalah Tokyo. Ia tampak sedang berbicara dengan seseorang melalui sebuah telepon genggamnya yang tertempel di salah satu telinga.


Tokyo berbicara dengan sangat serius, dan di akhir pembicaraan sebelum mengakhiri telepon tersebut. Ia sempat mengatakan, "pastikan waktunya pas, dan eksekusi jalannya permainan! Kau tahu harus bagaimana dan melakukan apa, 'kan? Aku mempercayakannya padamu sampai diriku berlabuh ke pelabuhan kota, aku akan segera ke sana beberapa waktu lagi."


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2