Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Keberangkatan #70


__ADS_3

Menjelang pagi hari yang sangat cerah, namun ini terlalu awal bahkan mentari pagi saja belum begitu terlihat di ufuk timur. Berlokasi di pelabuhan sebelah tenggara kota, beberapa kapal milik penjaga perbatasan sedang berlabuh di sana. Di tempat itu juga terlihat Ashgard tengah bersiap-siap untuk segera berangkat. Perlengkapan dan perbekalan sudah benar-benar cukup hingga tujuan mereka tercapai, lebih tepatnya tujuan Berlin.


Berlin terlihat sedang berbicara dengan Garwig dan beberapa aparat di sana untuk mengatur keperluan yang dibutuhkan. Namun ditengah kesibukannya, ia menoleh dan melihat ke arah Nadia yang tampak tidak bisa lepas memandanginya dari kejauhan. Ya, Nadia ada hadir di sini untuk mengantar keberangkatannya.


Beruntung ada Kimmy yang dapat menangani urusan perlengkapan itu. Berlin pun beranjak pergi begitu saja dari Garwig dan beberapa rekannya, lalu mendekati istrinya yang tampak berdiri berdampingan dengan Siska.


Berlin merasa tidak tega melihat ibu hamil itu harus berdiri cukup lama dan hanya memandangi dirinya yang sibuk sendiri. Namun itulah yang diinginkan oleh Nadia, ia sulit untuk duduk dengan tenang karena mengetahui suaminya yang akan segera berangkat ke pulau.


"Berlin, kamu tidak ingin mengurungkan niatmu ...?" tatapan Nadia begitu menyimpan harapan dengan pertanyaan yang ia utarakan. Namun belum Berlin memberikan jawabannya, dirinya sudah lebih dahulu mengetahuinya. Jawabannya adalah, "tidak, aku tidak bisa mengurungkannya, maaf."


Nadia mengulas senyum tipis dan terlihat cukup pahit setelah mendengar jawaban itu. Dirinya sempat menghela napas yang cukup gemetar dan berkata, "kamu memang Berlin yang ku kenal, sih," ucapnya sembari mengelus pipi milik lelaki itu dengan satu tangan lembutnya. Tatapannya cukup berkaca-kaca memandangi paras tampan pria yang kini di hadapannya.


Berlin menggenggam tangan lembut itu dan kemudian berkata, "aku berjanji akan segera pulang setelah semua urusanku selesai," ucapnya sembari mengulas senyum.


Nadia mengangguk pelan dan kemudian memohon satu hal sebelum Berlin berangkat, "bisakah aku memohon satu hal padamu sebelum kamu berangkat?"


"Apa itu?" sahut Berlin.


"Kumohon ... jangan melakukan hal yang gegabah di sana, jagalah dirimu dan keselamatan mu." Nadia sedikit menunduk sembari mengelus perut besar miliknya sendiri sembari melanjutkan perkataannya, "aku -- lebih tepatnya kami ... menunggu kedatanganmu di rumah, Berlin," lanjutnya sembari kembali mengangkat kepalanya dan menatap Berlin dalam-dalam.


Berlin tersenyum dan cukup tersipu ketika mendapat tatapan itu. Ia menangguk pelan dan kemudian berkata, "aku pasti akan kembali," ucapnya seraya mengulas senyuman tulus.


"Maaf mengganggu, Bos. Kami sudah siap, tinggal menunggu arahannya saja," ucap Adam menghampiri Berlin dengan sedikit tidak enak hati karena menyela pembicaraan.

__ADS_1


"Oh, baik. Kalian tunggu dahulu di sana, dan beri aku waktu sebentar, ya?" sahut Berlin menoleh ke arah Adam.


"Baik, Bos." Adam menundukkan sedikit kepalanya, dan kemudian beranjak pergi dari sana kembali berkumpul dengan rekan-rekannya.


Berlin kembali melanjutkan waktunya dengan Nadia yang belum selesai. Mendengar apa yang dikatakan oleh Adam baru saja, membuat jantung Nadia cukup berdebar tiba-tiba. Rasa cemas yang berlebihan kembali menyelimuti dirinya.


DRAPP ...!!


Berlin sedikit terkejut karena secara tiba-tiba Nadia memeluk erat dirinya dan kemudian berkata, "jangan pergi ke sana, Berlin. Perasaanku tidak ingin kamu pergi ...!" ucapnya dengan nada bicara yang cukup bergetar dipenuhi perasaan cemas.


"Aku sudah mengatakannya beberapa kali, bukan? Percayalah dan yakinlah, semuanya akan baik-baik saja. Aku akan baik-baik saja, sayang." Ketenangan yang luar biasa ditunjukkan Berlin ketika memeluk sang istri dan berbicara dengannya.


"Aku ingin kita hidup tenang tanpa adanya ketakutan akan ancaman dari mereka-mereka. Aku harus melakukan ini, pergi ke pulau itu dan menyelesaikan urusanku di sana. Kurasa ... ini sudah menjadi konsekuensi ku." Berlin kembali berbicara dalam posisi masih mendekap ibu hamil itu dengan penuh ketulusan. Tidak hanya Nadia yang tidak ingin melepaskan pelukan itu, tetapi Berlin juga menginginkan hal yang sama.


Ketika Berlin melepaskan pelukan itu, ia mendapati kedua mata indah milik sang istri yang berkaca-kaca menatapnya seolah menginginkan dirinya untuk mengurungkan niatnya.


"Doakan aku, ya?" lanjutnya sembari tersenyum dan menyeka air mata yang sedikit menetes di pipi lembut milik Nadia, sebelum kemudian mencium keningnya. Intonasi berbicaranya begitu lemah lembut dan penuh dengan ketulusan.


***


Gelombang air laut begitu tenang dan tidak terlalu besar pada pagi ini. Tokyo tampak sedang bersama dengan Nicolaus memandangi bibir pantai melalui taman belakang vila.


Di saat yang bersamaan, seorang pria yang memiliki peran sebagai informan milik Tokyo pun datang secara tiba-tiba. Ia seolah tiba-tiba saja muncul di belakang kedua orang itu.

__ADS_1


"Bagaimana? Apakah ada kabar atau berita?" tanya Tokyo tanpa memalingkan badan ataupun pandangannya ke belakang untuk menghadap pria itu.


Sebelum memberikan jawabannya, pria itu menundukkan kepalanya terlebih dahulu sebelum kemudian akhirnya berkata, "ada beberapa kabar yang mungkin harus anda ketahui."


"Pertama, pihak kita yang berada di kota di bawah pimpinan sementara Farres sudah benar-benar siap, tinggal menunggu arahan untuk mengeksekusi aksi."


"Kedua, pengganggu Ashgard pada pagi buta tadi berangkat menggunakan jalur laut melalui pelabuhan kota menuju pelabuhan utara pulau ini."


"Ketiga, pihak berwajib tampaknya belum begitu memahami soal kita, jadi lebih cepat kita mengeksekusi aksi maka lebih cepat pula keinginan anda terwujud."


Setelah menyampaikan ketiga informasi tersebut. Pria itu pergi begitu saja setelah mendapat perintah untuk pergi dari Tokyo.


"Berlin sudah bergerak menuju pulau ini, dan aku sudah memberimu beberapa kekuatan dari perlengkapan dan anak buah. Sisanya ... lakukan apa saja yang kau suka, terserah mau kau apakan dia ... yang terpenting urusan kalian berdua bukanlah urusanku," ucap Tokyo sebelum kemudian beranjak berjalan pergi meninggalkan Nico sendirian di sana.


"Tokyo, tunggu!" pinta Nico yang lalu menghentikan langkah Tokyo ketika hendak masuk ke dalam vila.


"Lalu, apa yang selanjutnya akan kau lakukan?" tanya Nicolaus.


Tokyo sedikit menoleh dan melirik ke belakang ke arah Nico sembari tersenyum sinis setelah mendengar pertanyaan itu. Ia memberikan jawaban yang cukup singkat dan sulit untuk dimengerti oleh Nico apa maksudnya. "Bukankah aku sudah pernah mengatakannya? Mungkin ... aku akan mencoba untuk mengukir sejarah baru," jawabnya dan kemudian pergi begitu saja.


Mengukir sejarah baru? Namun Nicolaus memilih untuk tidak peduli dengan jawaban yang sempat membuatnya bingung itu. Ia lebih fokus pada ambisinya yang tertuju kepada Berlin. Dirinya tidak menyangka Berlin akan benar-benar datang ke pulau ini.


"Sepertinya kau tidak berubah, ya, Berlin? Kau tetap nekat seperti yang dahulu," gumamnya sendiri.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2