Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Incar Para Petinggi #121


__ADS_3

Di bawah sebuah pohon yang terletak di sudut halaman belakang Gedung Balaikota. Berlin terduduk dan bersandar di sana, dan sedikit berlindung dari rintik gerimis hujan yang masih turun membasahi. Ditemani oleh Kimmy, dirinya sempat berbicara dan menanyakan beberapa hal kepada rekannya itu, salah satunya adalah pertanyaan mengenai Nadia dan Akira.


"Akira dan yang lainnya baik-baik saja, Berlin. Dan ku yakin anak itu juga sudah bertemu dengan Nadia," ucap Kimmy yang duduk di samping Berlin sembari sibuk memasang sebuah gips untuk pergelangan kaki milik lelaki itu agar cederanya tidak terlalu parah.


Berlin tersenyum mendengar kabar baik itu, hatinya juga merasa lebih tenang dan lega ketika mendengarnya. "Lalu di mana Asep? Dia tidak terluka, 'kan?" tanya Berlin kemudian, dari awal dirinya memang tidak melihat adanya kehadiran Asep di antara rekan-rekannya yang datang menolongnya.


Kimmy mengulas senyuman ketika mendengar pertanyaan itu, dan kemudian menjawab, "dia memiliki perannya sendiri dalam konflik ini, dia---"


DUAARR ...!! DUARR ...!!!!


Ucapan Kimmy terpotong ketika dua ledakan terjadi yang berasal dari atap, bahkan percikan apinya terlihat dari tempat Berlin berada.


"Ambil senapan kalian, kita harus membantu mereka!" titah Berlin kepada Sasha, Kina, Aryo, dan Kimmy. Bahkan dirinya sendiri juga ikut memaksakan diri untuk berdiri, dan hendak mengambil pistol milik Kimmy yang diletakkan tepat di samping pohon itu.


"Tidak! Kau tidak bisa ikut, biarkan kami saja yang ke sana!" tegas Kimmy menahan Berlin untuk berdiri, dan memintanya untuk kembali duduk. Tak lupa juga dirinya mengambil kembali pistol tersebut.


Kondisi kesehatan Berlin saat ini sangatlah tidak stabil, apalagi dengan cedera yang ia alami. Itu hanya akan memperlambat pergerakan Berlin sendiri, dan tentu akan sangat membahayakan dirinya sendiri.


"Kimmy, tetapi---"


"Berlin, sadarlah dan lihatlah kondisimu sendiri, kumohon ...!" ucap Kimmy memotong perkataan Berlin, sebelum kemudian menambahkan, "aku tidak bisa membiarkanmu dalam bahaya lagi, apalagi dengan cedera seperti ini."


Tatapan Kimmy cukup berkaca-kaca ketika meminta bahkan memerintah tegas kepada Berlin untuk tetap berada di tempat. Melihat hal tersebut, Berlin hanya bisa kembali terduduk di atas rerumputan dan bersandar di pohon itu.


"Kimmy, kami akan segera ke tempat Adam!" teriak Aryo dengan sebuah senapan serbu hasil rampasannya di kedua tangannya. Tak hanya dirinya, namun kedua rekan wanitanya yakni Sasha dan Kina juga siap dengan senapan hasil rampasan mereka masing-masing.


Kimmy mengusap kedua matanya, dan kemudian memalingkan pandangannya dari hadapan Berlin sebelum memutuskan untuk segera melangkah pergi dari sana dengan pistol miliknya.


SET!

__ADS_1


Langkah kedua kaki milik Kimmy tiba-tiba saja terhenti, ketika Berlin yang duduk di atas rerumputan itu dengan tiba-tiba menggenggam salah satu tangannya.


"Jumlah mereka sangatlah banyak, dan kelemahan yang mereka miliki berada di para petinggi Clone Nostra," ucap Berlin ketika menghentikan langkah dari rekan wanitanya itu.


Kimmy sontak menoleh dan kaget dengan genggaman kuat yang ia terima. Tangan milik sosok yang dari dahulu sangat hatinya idam-idamkan kini menggenggam tangannya, dan kejadian itu baru terjadi di saat ini sepanjang dirinya mengenal hingga dekat dengan Berlin.


"A-apa ya-yang kamu la-lakukan?!" tanya Kimmy dengan sikap yang sangat gugup, bahkan bibirnya seolah gagap. Kedua pipi milik wanita itu cukup dibuat merah dengan apa yang dilakukan oleh Berlin.


"Aku hanya ingin memberitahumu satu hal itu, dan juga ingin mengingatkan untuk segeralah kembali serta jangan sampai terluka." Dengan santai dan tenangnya seolah tidak menyadari perasaan Kimmy saat ini, Berlin menjawab pertanyaan tersebut sembari secara perlahan ia melepaskan genggaman tangannya.


"DASAR!!"


PLAAKK ...!!!


"Ughh ...!!" gumam rekan-rekannya terkejut ketika menyaksikan Kimmy yang secara tiba-tiba menampar salah satu pipi milik Berlin. Sesaat setelah memberikan tamparan itu, Kimmy langsung beranjak pergi menghampiri rekan-rekannya, dan hendak membantu Adam dan yang lainnya.


"Hah ...?! Apa yang ...?" Berlin begitu terkejut dengan satu tangan memegangi pipi kirinya yang ditampar cukup keras. Ia hanya bisa terduduk di bawah pohon itu, sembari mengingat-ingat apa yang ia katakan kepada Kimmy.


***


"Kim, apa yang terjadi?" tanya Kina.


"Ya, apa yang terjadi tadi? Kamu menampar Berlin?!" timpal Sasha.


"Jalankan menampar, aku kontak mata dengan Bos saja tidak berani," sahut Aryo.


Mereka berempat bersama dengan Kimmy perlahan melangkah kembali masuk ke dalam Gedung Balaikota melalui pintu belakang dengan senapan-senapan yang mereka bawa. Sembari berjalan, rekan-rekan Kimmy tampaknya juga bingung dengan apa yang baru saja dilakukan oleh Kimmy terhadap Berlin.


"Aku hanya ingin membuatnya sadar! Yah, kalian tahu sendiri, Berlin itu orangnya nekat, 'kan?" sahut Kimmy, dirinya memalingkan wajahnya yang cukup memerah itu dari jangkauan pandang teman-temannya. Dan ya, jawaban yang diberikan oleh Kimmy kepada rekan-rekannya adalah sebuah alasan yang dibuat-buat.

__ADS_1


"Um, okay," gumam Kina tidak ingin berkomentar lebih banyak lagi, begitu pula dengan Sasha dan Aryo yang lebih memilih diam.


Berdasarkan apa yang mereka bertiga lihat dari kejauhan, mereka sepertinya tahu apa yang baru saja terjadi di sana. Apalagi dengan sikap Kimmy yang tiba-tiba saja tidak mau melihat ke arah rekan-rekannya, seolah menyembunyikan ekspresi wajahnya. Mereka telah mengetahui kalau itu adalah soal 'hati', maka dari itu ketiga temannya lebih memilih diam setelahnya.


Sasha berjalan berdampingan tepat di sisi Kimmy. Ia merangkul rekannya itu dan berkata, "Kim, apakah kau siap memberi pelajaran kepada para keparat itu?" tanyanya dengan maksud dan tujuan untuk mengalihkan sedikit suasana hati.


"Ya, tentu saja ...! Aku sudah muak dengan semua ini," sahut Kimmy dan kemudian menghela napas. Dirinya tiba-tiba saja teringat soal apa yang dikatakan Berlin sebelumnya soal 'kelemahan Clone Nostra'.


Kimmy pun menyampaikan kelemahan yang ia ketahui dari Berlin kepada ketiga rekannya itu, "oh iya, Berlin sempat memberitahuku ... bahwa kelemahan Clone Nostra ada di para petingginya," ucapnya.


"Jika kita habisi petinggi mereka, maka itu akan mematikan pergerakan, tindakan, serta rencana keroco-keroco Clone Nostra," lanjutnya.


"Ada masuk akalnya juga asumsi tersebut, tetapi bagaimana caranya kita mengincar petinggi-petinggi mereka? Dan bagaimana ciri-ciri fisik para petinggi itu?" sahut Kina.


Aryo tiba-tiba saja mengeluarkan beberapa kertas dari dalam saku jaket hitamnya, dan menunjukkan kertas-kertas tersebut kepada tiga rekannya. Tampaknya dirinya menyimpan informasi mengenai identitas orang-orang yang terduga memiliki peran sebagai petinggi di dalam sindikat bernama Clone Nostra itu. Tak hanya informasi nama, namun Aryo juga menunjukkan foto-foto para petinggi yang tertempel pada kertas-kertas itu.


Kimmy dan ketiga rekannya sempat menghentikan langkah, dan bersembunyi di balik rak-rak buku yang berukuran besar di salah satu ruang aula di dalam gedung.


"Karina El Claunius, sepertinya dia j*l*ng yang menjengkelkan!" gumam Kimmy, sorot matanya tajam dengan tatapan tidak suka ketika melihat foto profil milik Karina.


"Lalu kita akan mengincar mereka? Kurasa itu tidak mudah," ucap Sasha.


"Sebelum itu, kita tentu harus berkoordinasi terlebih dahulu dengan Adam dan yang lainnya," ucap Kimmy sembari melanjutkan langkahnya secara perlahan, dan sebelum kemudian berlatih menjadi langkah yang begitu cepat, "maka dari itu, kita harus cepat membantu mereka! Mereka pasti sedang kesulitan!" lanjutnya.


"Ya!"


"Intinya hajar aja sudah mereka semua!"


"Oke, hajar mereka semuanya!!"

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2