
Prawira dan Prime beserta personel aparat kepolisian miliknya dan juga sebagian personel militer yang dipercayakan Garwig kini telah berada tepat di depan gedung. Mereka menggunakan banyak kendaraan taktis anti peluru dan ledakan, yang langsung memblokade serta memenuhi halaman parkir serta jalanan yang ada di depan Gedung Balaikota itu.
Selama proses blokade tersebut, Clone Nostra terus menghujani tembakan tanpa henti ke arah beberapa mobil serta truk baja milik kepolisian. Namun usaha mereka percuma, karena setiap timah panas yang melesat dapat dengan mudah ditangkis oleh kendaraan-kendaraan baja tersebut.
"Buat perimeter, dan kepung area ini segera! Cepat!" titah Prawira terdengar oleh seluruh aparatnya.
Karena tidak mempan menyerang dengan hanya peluru, pihak musuh langsung menyerang menggunakan bahan-bahan peledak bahkan peluncur roket.
BOOMM ...!!!
Ledakan hebat sempat terjadi, namun beruntungnya peluncur roket itu membidik salah satu kendaraan taktis milik militer yang rupanya tahan dengan ledakan seperti itu.
"BODOH! BIDIK BARAKUDA MILIK POLISI, BUKAN KENDARAAN TAKTIS MILIK TENTARA!!!!"
Terdengar dan terlihat seorang pria berjas putih yang sangat marah dengan rekannya yang tampaknya adalah pengguna peluncur roket itu.
Melihat hal tersebut, Prawira langsung mengangkat senapan serbunya dan membidik ke arah pengguna roket itu, dan kemudian tanpa basa-basi langsung melumpuhkannya dengan satu tembakan.
"Prime, atur anggotamu untuk mencari tau pengguna peluncur roket milik mereka, dan segera lumpuhkan! Pasukan kita bisa kewalahan dengan adanya mereka," ucap Prawira menghampiri Prime di balik sebuah Barakuda milik kepolisian.
"Baik! Saya juga akan mencoba untuk mencari tahu apakah masih ada penembak jitu dari pihak mereka," sahut Prime, sebelum kemudian akhirnya beranjak pergi dari sana membawa beberapa anggota taktisnya.
Di saat itu juga, Prawira langsung menemui salah satu aparat perwiranya dan mempercayakan sebuah amanah padanya.
"James, aku serahkan yang di sini padamu. Tetap pertahankan posisi, dan buat mereka tidak dapat keluar dari area ini!" titah Prawira kepada perwira bernama James itu.
James terlihat cukup terkejut dengan perintah serta amanah dan tanggung jawab yang sangat besar diberikan kepada dirinya. Namun dirinya tidak dapat menolak perintah atasannya itu.
"Baik! Namun apa yang anda lakukan?" sahut James menjawab sekaligus bertanya.
"Garwig dan pihaknya mengepung dari bagian barat ke selatan, bahkan mereka juga menginvasi dari atap gedung," jawab Prawira sebelum kemudian menjelaskan, "maka dari itu, aku berencana untuk mengepung sekaligus mempersempit pergerakan mereka dari bagian barat ke selatan gedung."
"Dengan begitu kita dapat mengepung gedung putih itu dengan sempurna, dan mereka tidak akan bisa lolos!" lanjut Prawira.
__ADS_1
James mengangguk paham dan berkata, "tetap berhati-hatilah, pak! Walau sebenarnya saya mendapatkan tugas pribadi dari Bu Netty sesaat sebelum berangkat dari kantor pusat. Tetapi sepertinya tetap saja saya tidak dapat menghalangi atau menentang keputusan anda."
"Tugas pribadi? Apa tugas pribadi itu?" sahut Prawira menghentikan aktivitasnya yang tampak tengah mempersiapkan senapan serbu miliknya.
"Saya dipercayakan oleh Bu Netty untuk memastikan keamanan dan keselamatan anda," jawab James dengan tatapan jujur.
Prawira tersenyum tipis mendengar hal tersebut. Dirinya tidak dapat menyalahkan James yang menerima tugas pribadi di balik tugas resmi yang tengah dilakukan. Dengan satu tangan memegang salah satu pundak milik James, Prawira berkata, "ada banyak personel bersamaku, kau tenang saja!"
***
"Kalian sudah mengerti rencananya?" tanya Berlin menggunakan radio komunikasi milik Flix untuk berbicara dengan rekan-rekannya.
"Dimengerti dengan baik!"
Berlin telah berkoordinasi singkat dan menyampaikan rencana yang ia miliki kepada rekan-rekannya. Target atau sasaran telah ditentukan, yakni sosok pria bernama Doma dan wanita bernama Karina.
Berlin berencana untuk lebih memfokuskan hampir seluruh serangan kepada dua orang penting milik Clone Nostra itu. Berdasarkan asumsi yang sempat ia buat sebelumnya, dirinya bertujuan untuk melumpuhkan dua orang petinggi itu dan berharap dapat sedikit mengendalikan situasi serta keadaan.
Posisi Ashgard untuk saat ini terpisah dan terbagi menjadi tiga regu, yang terdiri dari regu milik Adam yang berada di atap gedung bersama dengan personel militer di atas sana, dan regu milik Kimmy yang saat ini berada di posisi serta situasi yang cukup sulit. Kimmy dan ketiga rekannya berada di sebuah aula kecil yang terletak tepat di depan lorong di mana anak tangga jalur menuju ke atap berada. Sedangkan Berlin berada di aula utama gedung, dan masih bersembunyi di balik pilar-pilarnya di area pinggir aula bersama dengan Flix yang menemaninya.
Sesaat setelah mendengar apa yang diucapkan oleh Berlin melalui radio komunikasi tersebut. Adam yang berada di atap langsung berkoordinasi dengan salah satu aparat militer yang tampaknya memegang kendali atas regu yang membantunya di atap. Situasi di atap benar-benar sudah terkendali, kecuali di tengah-tengah tangga dan lorong menuju ke aula tempat di mana Kimmy bersama dengan tiga rekannya terjebak.
"Baik, saya mengerti," ucap seorang aparat pria berseragam yang sebelumnya memeriksa kondisi luka yang diterima oleh Adam.
"Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kita tentu tidak ingin membuang waktu, 'kan?!" sahut Adam, dan kemudian beranjak dari perlindungannya dengan sebuah pistol dalam genggamannya.
Meskipun bahu kirinya terluka akibat tembakan, namun Adam tampaknya tidak ingin hanya diam dan menonton semuanya. Bersama dengan tiga rekannya yakni Kent, Galang, dan Rony, mereka bergerak menuju ke tangga. Tak hanya mereka berempat, namun dari pihak personel militer juga mengikuti langkah mereka.
"Ini begitu kejam, kita menembaki mereka yang tertahan di tangga itu?" celetuk salah satu aparat wanita ketika sempat melihat situasi tangga yang begitu menumpuk akan orang-orang berbaju putih itu.
"Setelah semua yang mereka perbuat terhadap kita semua?" sela Adam yang mendengar ucapan aparat tersebut, sebelum kemudian melanjutkan, "mereka adalah orang-orang kejam, dan kita harus manfaatkan keuntungan yang kita miliki untuk menghabisi mereka! Atau opsi kedua, yakni hanya menunggu sampai mereka mengembalikkan keadaan ... dan menghambisi kita."
Setelah berkata demikian dengan intonasi dan sikap berbicara yang sepertinya cukup berselimut amarah. Adam langsung mengangkat senjata apinya, dan menembaki setiap orang berbaju putih yang ia lihat di bawah tangga itu. Tak hanya dirinya, ketiga rekannya beserta beberapa aparat militer juga melakukan hal yang sama. Alhasil, pembantaian di tangga tersebut harus dilakukan, sebelum mereka mengembalikkan keadaan lagi dan menjadi jauh lebih buruk dari sebelumnya.
__ADS_1
"DARI ATAS!!"
"KITA BENAR-BENAR TERJEBAK!!!"
"AACCKKK ...!!!!!!"
Teriakan-teriakan dari para personel Clone Nostra yang terjebak di tangga itu dapat didengar begitu jelas, meskipun suara mereka berbaur dengan suara-suara tembakan yang terjadi.
Adam terlihat sangat berambisi ketika melakukan beberapa kali tembakan ke arah kumpulan orang-orang di bawah sana. Dari kedua matanya, tampaknya dirinya cukup dikuasai oleh amarah. Apalagi mengingat tentang apa saja yang Clone Nostra telah perbuat kepada Ashgard, dan juga salah satu rekan atau sahabatnya yakni Berlin. Sebuah dendam di dalam hatinya yang sepertinya berhasil mengambil alih kendali atas kedua tangannya untuk melakukan pembunuhan massal itu.
"Adam, cukup! DAM!!!" Kent tiba-tiba mendekati Adam dengan langsung memeluknya dari belakang, dan mengamankan serta menjauhkan rekannya itu dari jangkauan pistol yang sebelumnya digenggam.
Beberapa aparat militer telah menghentikan tembakan mereka, namun tidak dengan Adam. Jika Kent tidak menghentikannya, mungkin Adam akan terus melakukan tembakan itu hingga amunisi dalam pistolnya benar-benar habis.
Seolah tersadar dari amarah dan dendam yang sebelumnya menguasai dirinya. Adam tiba-tiba kembali dapat merasakan sakit pada bahu kirinya yang terluka akibat tembakan. Ia langsung memegangi kembali luka tersebut dengan satu tangannya, dan sedikit meringis kesakitan.
"Kau terluka ...?" gumam Kent melihat luka tembak pada bahu kiri Adam yang kini terduduk hanya terduduk di bawah.
"Adam, kau baik-baik saja?!" tanya Rony berlari mendekati Adam bersama dengan Galang.
"Aku tidak apa-apa, hanya luka kecil," sahut Adam sebelum kemudian menambahkan, "aku yakin kita belum selesai, Clone Nostra masih ada ... meskipun kita sudah membunuh banyak dari mereka."
"Ya, kita harus segera kembali ke bawah dan membantu Kimmy serta menemui Berlin," sahut Galang.
Kent menatap tajam dan serius ke arah rekannya bernama Adam itu, sebelum kemudian berkata, "aku tahu perasaanmu ketika menarik pelatuk untuk setiap peluru pada pistol yang kau gunakan tadi."
"Aku mengetahuinya karena aku juga merasakan perasaan yang sama. Namun jangan sampai perasaan itu terlalu menguasai dirimu, Dam ...!" lanjut Kent mengulurkan tangannya untuk membantu rekannya kembali berdiri.
"Maafkan aku, aackk ...!!" rintih Adam dengan terus memegangi lukanya yang masih berdarah itu.
"Sepertinya kita harus memberikan pertolongan pertama pada lukamu terlebih dahulu ...?" ucap Kent.
.
__ADS_1
Bersambung.