Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Menyerang Dari Titik Buta Musuh #127


__ADS_3

Pukul 10:00 pagi.


James yang mengambil alih komando dari personel gabungan yang saat ini berada tepat di depan Gedung Balaikota, harus dihadapkan dengan sebuah informasi atau laporan yang cukup mengejutkan. Pihak aparat masih terlibat baku tembak yang masih terjadi sedari tadi.


"Kami melihat adanya pergerakan lain dari arah perbukitan perbatasan Shandy Shell dan Kota Metro. Pergerakan masif, mereka terbagi menjadi dua kelompok---"


Informasi atau laporan yang dilaporkan oleh co-pilot dari salah satu helikopter polisi yang saat ini mengudara harus terpotong. Secara tiba-tiba helikopter tersebut mengalami masalah pada sistemnya, terutama radar dan penangkapan sinyal.


"Suara kalian terputus. Apakah terjadi sesuatu? Halo? Tolong jawab segera!!" ucap James menggunakan radio komunikasi miliknya.


"Ka--mi mengalami ... permasalahan--"


"Sist--em terga-nggu, Pak. Kami ... memi--nta izin untuk ... mela--ku-- pend-aratan da--rurat!"


"Baiklah, izin diberikan!" sahut James. Meskipun suara dari co-pilot itu putus-putus, namun dirinya masih dapat memahami apa yang dikatakan.


Karena informasi atau laporan sebelumnya terpotong dengan adanya permasalahan yang datang secara tiba-tiba. James dengan sigap segera berlari dan pergi menuju ke sebuah mobil karavan milik kepolisian untuk menghubungi markas pusat.


Di tengah ia berlari mengarah ke mobil karavan tersebut. Langkahnya terhenti oleh seorang laki-laki berseragam militer yang tiba-tiba berkata, "pantauan udara kami menangkap adanya pergerakan dua kelompok berbeda di perbatasan perbukitan Kota Metro dan Shandy Shell."


"Pergerakan masif mereka mengarah ke sini, dan jika kita tetap berada di sini maka posisi kita akan terkunci dari dua arah yakni depan dan belakang."


James cukup terkejut mendengar informasi atau laporan tersebut, yang merupakan laporan yang ingin disampaikan oleh salah satu pantauan udara milik kepolisian. Dirinya hendak mengambil sebuah keputusan, namun mengingat posisinya saat ini hanyalah komandan sementara. James mengurungkan niatnya untuk itu, dan lebih baik menyampaikan laporan serta informasi tersebut kepada Prawira.


Dengan keputusan yang menurutnya lebih bijak, James langsung menghubungi Prawira menggunakan radio komunikasinya dan menyampaikan soal laporan tersebut.


***

__ADS_1


"Target adalah wanita berjas putih itu--"


Belum selesai Berlin berbicara, ucapannya terpotong oleh Adam yang tiba-tiba saja berkata, "kami sudah tahu rencananya, segera kita lakukan saja!"


Seketika radio hening setelah Adam berbicara dengan memotong perkataan Berlin. Berdasarkan intonasi atau nada bicara Adam, Berlin dapat paham atau mengetahui bahwa saat ini rekannya itu tengah terlibat konflik amarah di dalam hatinya.


"Ya, lakukan!" pinta Berlin dengan tegas.


BANG ...!! BANG ...!!!


Tembakkan secara masif dilakukan oleh Kimmy, Adam, dan rekan-rekannya. Tak hanya mereka, namun dari personel militer yang ada di sana juga membantu mereka.


Situasi aula utama pada gedung itu benar-benar kacau, dan lebih kacau. Komplotan Karina terus menerus menembaki ke arah lorong tempat Adam, Kimmy, dan rekan-rekannya beserta pihak militer berada.


"Flix, apakah kau membawa sesuatu yang menarik di dalam kantongmu?" tanya Berlin melirik ke arah kantong-kantong yang ada pada celana taktis milik Flix.


"Sebentar, seharusnya ... ada ...." Flix membuka kantong tersebut dan memeriksa dalamnya. "Nah! Ini dia!" cetusnya menemukan sebuah granat tangan yang masih dalam keadaan terkunci dengan pin.


Berlin tersenyum sinis melihat benda tersebut, dirinya menerima granat tangan itu sembari bertanya, "hanya satu?"


"Dua," sahut Flix mengambil satu granat tangan lagi dari kantong kedua.


"Bagus, kita bisa meriahkan pesta mereka dengan ini," celetuk Berlin dengan senyuman sinis.


Flix menggenggam granat tangan tersebut, begitu pula dengan Berlin. Mereka berdua saling menatap tajam dan mengangguk. Merasa sudah siap, keduanya melepaskan pin pada dua granat tangan itu sebelum kemudian dilemparkan ke arah kumpulan komplotan milik Karina yang berada di tengah aula tersebut.


DUUAAARRRR ...!!!!

__ADS_1


Ledakan tersebut berhasil mengenai dan membuat komplotan itu terpecah, bahkan korban pun berjatuhan karena saking tepatnya lemparan Flix dan Berlin.


Sesaat setelah ledakan terjadi, Berlin tak ingin hanya diam dan melihat lawan-lawannya menderita akibat granat tangan yang ia lempar. Dirinya ingin membuat para lawannya lebih menderita lagi. Ia dengan sigap langsung menembaki kumpulan orang berpakaian putih itu dengan pistolnya, begitu pula dengan Flix.


"SERGAPAN!!"


"DARI SISI KIRI!"


Fokus dan pandangan mereka kini tertuju ke arah Berlin dan Flix yang berlindung di balik pilar-pilarnya tepi aula. Mengetahui hanya ada dua orang yang menyerang dari titik buta. Karina memerintahkan, "mereka cuma dua orang, habisi mereka!! ITU DIA BERLIN, HABISI DIA!!!" tegas Karina, ambisinya meningkat ketika melihat adanya Berlin yang bersembunyi di salah satu pilar.


"Aku berhasil mengalihkan perhatian mereka yang kini tertuju padaku. Ini kesempatan kalian, manfaatkanlah!" ucap Berlin berbicara menggunakan radio komunikasi tersebut kepada rekan-rekannya.


***


Pukul 10:10 pagi, Perbukitan Perbatasan Kota Metro dan Shandy Shell.


Di antara perbukitan dan hutan-hutan yang ada, terpantau cukup banyak pergerakan dari dua pihak kelompok yang berbeda. Mereka tidak terlihat menggunakan pakaian serba putih seperti yang dikenakan oleh pihak Clone Nostra. Kedua kelompok tersebut identik dengan pakaian warna merah dan ungu mereka.


Dua kelompok tersebut terlihat bersatu, sehingga membuat jumlah mereka terlihat sangat banyak. Bahkan jika ditotal, jumlah total kedua kelompok tersebut bisa sebanding dengan Clone Nostra.


Mereka semua bersenjata lengkap, bergerak senyap perlahan mendekati ke arah perbukitan kota dan area Gedung Balaikota.


"Felix tidak bisa dipercaya, jadi kita harus berhati-hati dengan mereka," ucap sosok pria berjaket ungu bernama Kibo kepada salah satu orang kepercayaan pada kelompoknya.


"Ya, tentu saja jangan mudah percaya dengan mereka dan harus lebih waspada, karena Red Rascals terkenal dengan kelicikan mereka," sahut anak buah pria yang saat ini berlutut di hadapan Kibo.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2