
Clovis dalam perjalanan bersama dengan salah satu rekan sekelompoknya, beranjak perlahan pergi dengan sedikit menjauh dari distrik tersebut menuju ke sebuah kelab malam yang masih tertutup rapat. Di halaman parkir depan kelab tersebut, terlihat beberapa orang berjaket putih yang tengah berkumpul, dan terlihat mereka sangat menantikan kehadirannya.
Laki-laki berjaket putih itu kemudian berdiri di depan rekan-rekannya. Memang jumlah Clone Nostra di tempat ini bisa dibilang tidak lebih dari dua puluh, karena hanya ini yang tersisa dari kelompok yang sebelumnya memiliki personel lebih dari lima puluh bahkan tembus hingga angka seratus orang lebih.
Dari segi jumlah Clone Nostra saat ini, sudah dipastikan mereka tidak akan bisa sebanding dengan Red Rascals yang masih memiliki sumber daya manusia yang berkali-kali lipat lebih banyak. Persenjataan mereka kini juga cukup terbatas, apalagi dengan berbagai tekanan dan desakan dari Red Rascals yang membuat mereka harus menuruti beberapa keinginan kelompok yang identik dengan warna merah itu. Beberapa gudang senjata yang sebelumnya milik Clone Nostra, kini telah berpindah hak milik karena kontrak atau hitam di atas putih yang sudah sempat terjadi.
Kini harapan terakhir dari Clone Nostra ada pada keputusan Clovis di hari ini. Rencana yang dimiliki Clovis tidaklah banyak, bahkan mungkin sangat terbatas, apalagi dengan situasi yang sangat tidak menguntungkan pihaknya. Bahkan beberapa waktu sebelumnya, laki-laki itu sempat beberapa kali berpikiran untuk mengubah rencana-rencana yang ada, karena beberapa faktor yang sudah dipastikan akan membawa Clone Nostra kepada kehancuran yang benar-benar hancur.
"Apa keputusanmu?" tanya seorang perempuan berambut panjang berwarna hitam, dengan jaket putihnya, melangkah ke depan dan sedikit mendekat kepada Clovis.
Clovis menatap masing-masing wajah cemas dan gelisah yang sangat terlihat, terukir dari masing-masing rekannya yang saat ini berdiri di depannya, berdiri di bawah derasnya hujan yang masih mengguyur tanpa henti. Perasaan bimbang dan gelisah, tentu dirasakan oleh Clovis, karena apapun keputusan yang akan ia ambil akan sangat berpengaruh dan berdampak kepada masa depan Clone Nostra. Antara bertahan, atau justru hancur. Dua jawaban itu ada di depan Clovis, namun dirinya tidak tahu rencana dan keputusan mana yang dapat membawa dirinya dan rekan-rekannya untuk meraih salah satu dari kedua jawaban tersebut.
"Apapun yang kita lakukan hari ini, akan sangat berpengaruh dan berdampak untuk masa depan kita. Akankah kita hancur di hari ini, atau justru kita bertahan. Kita tidak akan pernah tahu selama kita belum memutuskan, melangkah, dan bertindak." Clovis menarik napas panjang, sebelum akhirnya ia berbicara dengan lugas di depan rekan-rekannya.
"Ada beberapa risiko dalam beberapa keputusan yang sudah ku pikirkan dan ku pertimbangkan, salah satunya adalah mengacaukan persidangan, dan membawa Tokyo El Claunius keluar dari sana," lanjut Clovis, sebelum kemudian menghela napas berat dan tertunduk. Laki-laki itu perlahan menggelengkan kepalanya dan kemudian berbicara, "namun sayangnya, mau seberapa kuat kita mencoba, kita tidak akan pernah bisa melawan aparat, dan itu faktanya. Silakan bagi kalian yang tidak suka dengan pendapatku, dan bertentangan denganku, aku tidak menuntut kalian untuk sepemikiran dengan diriku."
__ADS_1
"Akan tetapi ... berbeda jika lawan kita selain aparat, kita masih bisa memperjuangkannya," lanjut Clovis dengan tatapan tajam dan seriusnya.
Apa yang dikatakan oleh Clovis pada kalimat terakhirnya, seketika membuat rekan-rekannya bingung dengan maksud dan tujuan sebenarnya laki-laki itu. Begitupula yang dirasakan oleh salah satu rekan wanita yang terlihat cukup dekat dengan Clovis, "maksud anda ...?" cetusnya bertanya.
"Beberapa waktu lalu, tepatnya pada tengah malam kemarin. Aku sempat menghubungi salah satu kelompok yang masih bisa bekerjasama dengan kita, dan aku tidak menyangka ternyata nasib mereka kurang lebih juga sama dengan kita."
"Kelompok?" sahut wanita berjaket putih yang berdiri di depannya.
"Cassano, mereka akan membantu kita untuk memberikan pelajaran kepada para penghianat itu," jawab Clovis dengan lugas.
"Baru saja aku membicarakan soal kalian," gumam Clovis, berbicara kepada salah seorang laki-laki yang tampaknya menjadi salah satu orang yang paling dihormati dalam kelompok ungu tersebut.
Kedua kelompok tersebut secara tidak langsung melakukan pertemuan di tempat itu. Clone Nostra dan Cassano, keduanya memiliki nasib yang sama, sama-sama diambang kehancuran, dan tidak memiliki banyak sumber daya. Peristiwa yang terjadi di sekitar Gedung Balaikota beberapa pekan yang lalu telah menghabiskan segala sumber daya yang mereka miliki, ditambah dengan Red Rascals yang tiba-tiba saja melarikan diri dari medan peperangan itu.
***
__ADS_1
"Lakukan saja sekarang, sudah waktunya ...!" ucap Felix kepada rekan wanitanya yang masih duduk di kursi kemudi. Mobil SUV berwarna hitam milik laki-laki berjaket merah itu terlihat tengah melaju perlahan melalui jalanan di area tepian kota, entah mau ke mana tujuan mereka berdua.
"Tujuan?" tanya wanita itu, sempat melirik ke arah spion tengah mobil untuk dapat melihat paras milik laki-laki berjaket merah yang masih duduk di posisinya.
"Titik pantau," jawab Felix, datar.
Wanita berjaket merah yang tengah menyetir itu pun perlahan meraih sebuah radio komunikasi yang ada di atas dashboard mobil, dan kemudian berbicara dengan menekan tombol bicara pada radio tersebut.
"Lakukan sekarang! Serang, tembak, habisi, bunuh, dan rampas semuanya ...!" ucap wanita itu dengan intonasi yang terdengar rendah namun tajam sama seperti tatapannya yang memandang ke arah jalanan yang sangat sepi di depan.
"Jangan lupa untuk cari tahu keberadaan Ashgard!" timpal Felix dengan sedikit menyela perkataan rekannya.
Laki-laki itu kemudian menoleh, memandangi ke arah luar kaca jendela mobil yang tertutup rapat itu. Salah satu tangannya mengepal kuat, apalagi setelah ia berbicara dan menyebut 'Ashgard'.
.
__ADS_1
Bersambung.