
Ashgard kini telah terbagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama dipimpin oleh Adam dengan lima orang rekannya yakni Kent, Sasha, Salva, Vhalen, dan Aryo. Sedangkan kelompok kedua dipimpin oleh Kimmy dengan lima orang rekannya yakni Bobi, Kina, Faris, Galang, dan yang terakhir adalah Rony. Pembagian kedua kelompok tersebut termasuk ke dalam rencana Berlin di awal, namun juga sedikit tidak sesuai dengan rencana awalnya.
Pada awalnya, Berlin sendiri berniat untuk turut ikut ke dalam salah satu dari kedua kelompok yang ia bagi. Namun rekan-rekannya cukup tidak setuju dengan hal itu, mengingat kondisi kakinya yang masih belum bisa berjalan dan berlari dengan normal. Mereka mengusulkan untuk dirinya tetap berada di Kediaman Ashgard, bersama dengan Asep yang memiliki peran penting di ruang kerjanya sendiri.
Karena hasil dari musyawarah dan voting yang sempat dilakukan lebih cenderung kepada Berlin untuk menetap di kediaman. Jadi mau tidak mau Berlin juga harus setuju dengan keputusan yang diambil secara bersama.
"Baiklah, kelompok Adam akan pergi ke Distrik Barat, dan berpencar di sana. Mengapa distrik tersebut, karena berdasarkan berkas yang kita terima dari Garwig kemarin, wilayah tersebut akhir-akhir ini didominasi oleh orang-orang dari Red Rascals."
"Sedangkan kelompok yang akan dibawa oleh Kimmy, kalian akan pergi dan berkeliaran di area tepi kota dekat dengan pelabuhan. Pantau semua pergerakan yang ada di sana, dan tetap usahakan untuk tidak terlalu menarik perhatian."
Berlin berdiri di depan rekan-rekannya yang tengah berkumpul di ruang tengah, dan menjelaskan lokasi mana saja yang akan disambangi oleh dua kelompok yang telah ia bagi.
"Waktu kalian dari jam dua belas siang sampai menjelang malam, maka dari itu aku memberlkebebasan untuk kalian menikmati waktu tersebut, namun tetap tidak melupakan tugas dan tidak bertindak di luar batasan!"
Estimasi waktu yang diberikan cukuplah lama, kurang lebih delapan jam. Maka dari itu Berlin cukup memberikan kebebasan untuk rekan-rekannya, bebas menikmati waktu sesuka mereka. Namun meski begitu, dirinya tetap membuat aturan untuk rekan-rekannya agar tidak bertindak seenaknya.
Dengan penjelasan yang telah ia sampaikan, rekan-rekannya tampak begitu paham dan mengerti serta patuh dengan perkataannya. Berlin sempat melihat waktu pada sebuah jam tangan yang melingkar di pergelangannya, dan waktu sebentar lagi menunjukkan pukul dua belas siang. Dirinya pun segera membubarkan mereka, dan membiarkan mereka untuk mempersiapkan beberapa perlengkapan yang perlu dibawa.
Bersama dengan tiga rekan kepercayaannya, Berlin perlahan melangkah menaiki anak tangga, menuju ke lantai dua, dan masuk ke ruang kerjanya. Terlihat sekali wajah cemas dari sosok Berlin. Lelaki itu menghentikan langkahnya ketika berada tepat di depan meja kerjanya, berbalik badan menghadap ketiga rekannya, dan kemudian bersandar pada tepian meja tersebut.
"Adam, Kimmy. Kira-kira apakah teman-teman dapat menjalankannya dengan baik?" tercetus sebuah pertanyaan dengan tatapan yang menyimpan sedikit ketidakyakinan terhadap rekan-rekannya.
__ADS_1
"Maksudku, bukan aku tidak mempercayai kalian semua. Namun, mengingat ini adalah kali pertama bagi kita," lanjut Berlin, kemudian menghela napas.
Adam kemudian angkat bicara, menjawab ketidakyakinan Berlin dengan berkata, "aku tahu kekhawatiran mu, kau khawatir kalau teman-teman akan bertindak seenaknya layaknya mereka dahulu, 'kan?"
"Kau tenang saja, aku dan Kimmy yang akan mengendalikan mereka," lanjut Adam, sempat menoleh kepada Kimmy yang berdiri tepat di sampingnya.
"Ya! Dan kurasa apa yang kau cemaskan tidak akan terjadi, karena mereka begitu patuh pada dirimu, Berlin," timpal Kimmy, tersenyum dan melanjutkan, "kau bisa percaya dan memegang kata-kata ku!" lanjutnya, penuh dengan keyakinan.
Mendengar apa yang dikatakan oleh mereka berdua, tentu cukup membuat Berlin merasa lebih tenang. Topik pembicaraan itu kemudian beralih ketika Asep tiba-tiba saja menyela dengan mengatakan, "ngomong-ngomong, tadi pagi Siska datang ke sini, dan memberikan sesuatu untuk kita."
"Sesuatu? Apakah itu yang kau minta kemarin, Berlin?" sahut Adam, menatap Asep, dan kemudian beralih kembali menatap Berlin.
Namun pertanyaan itu langsung mendapatkan jawaban dari Asep yang berkata, "sepertinya bukan, karena aku sudah melihatnya."
Berlin mengangguk, "baik, ambil barangnya ...!" Asep pun segera beranjak pergi dari ruangan tersebut guna mengambil kotak atau barang atau sesuatu yang ia maksudkan.
Tak membutuhkan waktu lama, Asep kembali dengan sebuah kotak berwarna cokelat dan berukuran sedang. Ia meletakkan kotak tersebut di atas meja kaca pada ruang kerja Berlin, dan kemudian membuka tutup kotak itu dengan perlahan.
Di dalam sana terdapat beberapa berkas dan beberapa benda yang berbentuk seperti sebuah lencana berwarna emas. Pada permukaan lencana tersebut terdapat sebuah logo bintang milik Divisi Khusus Pemerintah, dan di bawah logo bintang tersebut tertera nama Ashgard yang terukir kecil di sana.
Berlin meraih berkas-berkas yang ada di dalam kotak itu sembari bertanya, "apakah kau sebelumnya sudah membuka kotak ini?" tanya Berlin kepada Asep.
__ADS_1
Namun Asep menjawab dengan menggelengkan kepalanya sembari berkata, "belum sama sekali, aku merasa itu bukan kuasaku untuk membuka kotak ini."
Kini di kedua tangan Berlin memegang dua lampiran berkas dari beberapa berkas lain yang masih berada di dalam kotak. Pada berkas lampiran tersebut, dirinya dapat melihat profil data diri mengenai Kimmy dan Adam, serta tertera posisi jabatannya di dalam Ashgard.
"Loh, ini 'kan foto ku!" cetus Kimmy, mengambil sebuah berkas dari salah satu tangan milik Berlin dengan tatapan cukup terkejut melihat foto profilnya yang terpampang pada berkas tersebut.
"Apakah Siska menyampaikan sesuatu padamu saat memberikan kotak ini?" tanya Berlin kemudian, sembari menyerahkan berkas milik Adam kepada pemiliknya.
"Ya, meminta maaf karena Garwig tidak bisa datang dan menyerahkan itu secara langsung, dan dia memberitahu diriku bahwa isi kotak ini adalah sesuatu yang penting untuk Ashgard dalam bertugas." Asep menjawab pertanyaan itu.
"Wah! Apakah ini untuk kita?" seru Adam, meraih sebuah lencana emas itu dari dalam kotak dengan tatapan berbinar-binar.
"Oh iya, dan dia memberiku sepucuk surat ini. Katanya ini dari Garwig, dan dia ingin kau membacanya, Bos." Asep mengambil sebuah surat yang masih tersegel dengan cap resmi pemerintahan, dan kemudian memberikan surat itu kepada Berlin.
Berlin menerima surat resmi yang masih tersegel sangat rapat itu, dan kemudian membacanya. Isi surat itu tidaklah terlalu panjang, cukup singkat. Setelah membacanya, ia menatap ketiga rekan kepercayaannya dan kemudian berkata, "beritahukan pada teman-teman untuk berdiri dan menunggu di depan ruangan ini! Aku akan memanggil satu-persatu, dan menyerahkan lencana ini."
"Baik," sahut Kimmy, sedikit menundukkan kepalanya, patuh. Begitu pula dengan Asep.
"Bos, lalu bagaimana dengan kami bertiga? Apakah kami boleh ambil lencana kami terlebih dahulu?" cetus Adam, menatap Berlin dengan tatapan antusias.
Berlin menghela napas dan kemudian menjawab, "baiklah, kalian bisa mengambilnya. Namun tetap sembunyikan sampai yang lain mendapatkannya!" ucap Berlin, dengan nada datar, namun tegas.
__ADS_1
.
Bersambung.