Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Serius Dengan Rencana Ini? #233


__ADS_3

Waktu terus berjalan di antara derasnya hujan yang masih mengguyur, namun intensitas hujan tersebut perlahan menurun diiringi oleh waktu yang perlahan menuju ke tengah hari. Tepat pada pukul sebelas lewat lima puluh menit siang hari, keempat wilayah yang masih dalam status diserang oleh Red Rascals perlahan tenang, tidak terdengar ataupun terlihat kekacauan seperti saat pertama kali penyerangan itu terjadi. Namun dengan tenangnya suasana yang tercipta, bukan berarti kelompok yang identik dengan warna merah itu hanya diam dan tidak bertindak melakukan apapun untuk langkah mereka selanjutnya. Perlahan mereka mengirimkan beberapa orang dari mereka, bersenjata, berjalan menuju ke cincin perimeter paling luar yang dijaga ketat oleh pihak kepolisian. Jarak tempuh yang dibutuhkan adalah sekitar satu kilometer, dan dengan jarak segitu mereka tampak sungguh percaya diri untuk bergerak tanpa memanfaatkan kendaraan yang mereka miliki.


Berlin masih berada di posisinya, bersandar di dalam sebuah gang dan terlihat tengah menunggu seseorang di sana, sembari menunggu serta memantau jalanan utama yang masih sepi. Tak lama, seorang laki-laki bermantel hitam panjang seperti dengan miliknya, berjalan mendekatinya melalui dalam gang tersebut, "maaf menunggu lama," sapa laki-laki itu yang rupanya adalah Kent.


"Kau lumayan lama, ya ...?" sahut Berlin, tersenyum tipis dan menghela napas.


Kent menghentikan langkahnya ketika sudah berhadapan dengan Berlin, dan kemudian bersandar pada dinding gang yang ada bersebrangan dengan Berlin, "aku harus sedikit memutar agar tidak ketahuan serta dicurigai mereka," jawab Kent.


"Pergerakan terakhir mereka sekitar dua ratus lima puluh meter dari posisi kita, dan mungkin akan membutuhkan sekitar lima menit," lanjut Kent sembari menoleh, memandangi jalanan utama yang kosong melalui mulut gang yang tak jauh darinya berada.


Setelah berbicara demikian. Tatapan Kent tiba-tiba saja tajam dan sangat serius kepada Berlin, bahkan laki-laki itu tidak segan untuk membuat kontak mata secara langsung dengan Berlin yang notabenenya adalah lelaki yang sering disegani oleh banyak orang.


"Bos, apa kau benar-benar serius dengan rencana penyergapan ini?" tanya Kent, tanpa melepas sedikitpun kontak matanya dengan Berlin.


"Jika ditanya 'benar-benar serius atau tidak?', maka jawaban yang bisa ku berikan hanyalah ... aku sekadar serius dengan rencana ini, namun tidak 'benar-benar' serius." Berlin menjawab pertanyaan itu dengan datar dan sikap tenangnya seperti biasa.

__ADS_1


Pria itu kemudian sedikit mendongakkan pandangannya ke atas langit, menatap awan-awan mendung itu, dan membiarkan rintik hujan kecil-kecil membasahi wajahnya sembari berkata, "risiko dalam rencana ini sangatlah besar, namun juga dengan keuntungannya jika kita bisa melaksanakannya dengan baik."


Berlin kembali menatap rekannya yang masih menatap dirinya tepat di hadapannya dan kemudian lanjut berkata, "jika kita berhasil, kita akan bisa mengikis jumlah serta mengacaukan formasi mereka. Namun jika kita gagal, maka yang hancur adalah kita."


"Kali ini ... semuanya hanya bergantung pada posisi, waktu, dan kesempatan dalam kesempitan ketika baku tembak pecah. Tinggal bagaimana cara kita memanfaatkan beberapa faktor tersebut," lanjut Berlin kembali, sebelum akhirnya selesai berbicara.


"Apakah rekan-rekan kita yang ada di tempat lain juga akan melakukan hal yang sama?" tanya Kent.


Berlin mengangguk menjawab pertanyaan tersebut, "ya."


Berlin tersenyum tipis mendengar pertanyaan tersebut, apalagi ketika mendapati raut wajah cemas dan khawatir dari rekannya, meskipun laki-laki yang ada di hadapannya sungguh pandai memainkan ekspresi dan perannya untuk tetap tenang. Namun sayang sekali, kedua mata milik Kent tidak dapat menyembunyikan semua itu, dan hal tersebut dilihat serta diketahui oleh Berlin langsung.


"Kent, kegagalan itu pasti ada, mau itu kegagalan kecil atau besar." Berlin berbicara, sebelum kemudian menoleh ke arah jalanan utama yang terlihat dari mulut gang tersebut, memperhatikan rintik-rintik hujan yang terus membasahi jalanan itu dan membuat beberapa genangan air di sana.


"Namun ... entah mengapa aku percaya kepada mereka, aku percaya dengan rekan-rekan ku kalau mereka dapat saling melengkapi dan menutupi sekecil apapun kegagalan yang bisa saja terjadi," lanjut Berlin dengan senyuman kecil yang terukir dengan sendirinya.

__ADS_1


Kent juga ikut tersenyum mendengar laki-laki yang sangat berpengaruh terhadap Ashgard itu tersenyum, apalagi ketika menyebut soal kepercayaannya dengan rekan-rekannya, "begitu, ya ...?" gumamnya.


"Ya, dan aku juga percaya padamu, aku mengandalkan dirimu," sahut Berlin, kemudian menoleh dan menatap langsung wajah milik rekannya dengan tatapan serius tanpa tersenyum.


Perbincangan mereka berdua pun akhirnya terhenti, dan harus berakhir sejenak karena pergerakan dari para target mereka berdua sudah mulai dekat. Lima menit sudah berlalu, dan sesuai dengan perhitungan yang sudah disebutkan oleh Kent sebelumnya. Dari kejauhan arah Utara, Berlin dan Kent dapat melihat beberapa orang berjaket merah yang menenteng senapan-senapan mereka berjalan perlahan kemari.


Setelah mengetahui serta melihat pergerakan dari kelompok merah yang perlahan mendekat. Berlin melirik ke arah kedua atap bangunan yang bersebrangan dengan gang yang ditempati olehnya. Ia melihat kedua personel yang sudah bersiap di kedua atap bersebelahan itu terlihat sangat siap untuk melakukan sergapan, dan kemudian memberikan kode dengan dua kali lambaian dan berakhir dengan satu kepalan tangan.


"Kau siap, 'kan?" tanya Berlin, mengambil kembali sebuah pistol berwarna perak yang sebelumnya ia sarungkan dan bergelantung di pinggangnya.


Kent tersenyum sinis menjawab, "tentu saja!"


"Baiklah, aku tantang dirimu untuk bisa menjatuhkan korban lebih banyak dariku! Jika kau berhasil, aku akan memberikan bonus padamu setelah tugas kita selesai," sahut Berlin, menatap tajam dan serius dengan menyeringai sinis kepada rekannya.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2