
Pukul 12:00 siang.
Pulau La Luna.
Nicolaus Matrix. Pria itu kini tengah menunggu seseorang di sebuah dermaga. Dirinya tidak sendirian berada di dermaga tersebut, karena ada Tokyo bersamanya.
"Apa kau yakin dengan keputusan mu?" tanya Tokyo yang berdiri di ujung dermaga, berbicara dengan Nicolaus yang berdiri tepat di belakangnya.
Di saat yang bersamaan, dua orang pria berjaket putih pun datang menghampiri Nicolaus. Menyadari kedatangan mereka berdua, Nicolaus pun memberikan sebuah amplop berwarna putih yang tampaknya berisikan pesan kepada dua orang itu.
"Sampaikan padanya, dan kalian tidak punya hak untuk mengetahui isi dari surat ini!" tegas Nicolaus kepada dua orang itu ketika surat miliknya telah berpindah tangan.
"Baik!" sahut dua laki-laki itu seraya menundukkan kepalanya, sebelum kemudian akhirnya mereka berdua pun beranjak pergi dan menghilang begitu saja.
Setelah dua pria yang tampaknya tunduk padanya itu pergi. Nicolaus kembali menghadap ke arah Tokyo yang berdiri di depannya dan dalam posisi membelakanginya. Dirinya tidak melupakan pertanyaan awal Tokyo dan kemudian memberikan jawabannya, "ya, aku ingin mengundangnya."
Mendengar jawaban tersebut, Tokyo hanya tersenyum sinis. Ia tampak tidak habis pikir dengan rencana apa yang akan digunakan oleh pria bernama Nicolaus Matrix itu. Namun, dirinya akan memberikan dukungan berupa pasukan dan kelengkapan persenjataan.
"Baguslah kalau begitu, aku tidak perlu repot-repot menyiapkan segalanya untuk bepergian ke kota. Apalagi, aku harus mengurus regu pengganggu dari aparat yang sudah singgah di pulau kita dari lama."
***
DESING ...!!!
Suara desing peluru terdengar beberapa kali di sebuah lapangan tembak pada Kediaman Gates. Di sore hari yang cerah ini, seorang pria tampak sedang fokus mengasah kemampuan menembaknya di sana. Beberapa kali ia menjatuhkan papan sasaran yang berjarak cukup jauh hanya dengan pistol miliknya.
Di tengah ia sedang asyik menembaki papan-papan sasaran itu. Tiba-tiba seorang pria lain datang menghampirinya dari belakang.
"Berlin, apakah tidak masalah aku datang ke sini?" tanya pria itu yang tidak lain dan tidak bukan adalah Asep.
Berlin menghentikan aktivitas menembaknya dan menjawab, "tidak masalah, aku yang memutuskan hal itu."
"Ayo ikut aku, aku akan menunjukkan sesuatu padamu!" pinta Berlin menyarungkan kembali pistolnya, dan kemudian beranjak pergi dari lapangan tembak itu.
Mereka berdua pun berjalan kembali ke kediaman bersama-sama. Asep beberapa kali sempat dibuat kagum dengan lingkungan dari Kediaman Gates. Dirinya benar-benar tidak menyangka akan masuk ke dalam sebuah kediaman yang memiliki lahan yang sangat luas. Benar-benar kediaman orang kaya.
__ADS_1
"Bolehkah aku bertanya? Kenapa hanya aku yang kau panggil untuk ke sini?" tanya Asep terheran-heran ketika berjalan melalui sebuah taman di belakang rumah itu bersama dengan Berlin.
"Karena aku memerlukan mu," jawaban yang cukup singkat diberikan oleh Berlin.
Asep kembali terdiam dengan beberapa pertanyaan di kepalanya. Dirinya benar-benar bingung dengan maksud dari perkataan Berlin.
Langkah demi langkah Berlin bersama rekannya itu mendatangi sebuah ruangan yang tampaknya adalah ruang bekerja.
"Duduklah!" pinta Berlin lalu duduk di sebuah kursi balik meja kerja yang ada di sana. Sedangkan Asep duduk di sebuah sofa yang tidak jauh dari meja tersebut.
Berlin meletakkan sebuah amplop berwarna putih yang tampaknya berisikan surat di atas mejanya. Dirinya membuka surat itu dan memperlihatkan isinya kepada Asep.
"Surat ini ...?!"
Asep cukup dibuat terkejut dengan surat itu, ditambah lagi ketika dirinya membaca siapa pengirim dari surat itu. Ya, nama Nicolaus Matrix tertulis jelas di balik dari sebuah pesan singkat yang ada di surat itu. Selain pesan rupanya terdapat sebuah foto yang menunjukkan sebuah vila yang sangat mewah, dan vila tersebut berada di atas dari sebuah bukit kecil yang berlokasi di Pulau La Luna.
"Sepertinya ... Nicolaus menjawab niatmu, Berlin," ucap Asep ketika membaca sebuah pesan yang isinya sangat-sangat singkat.
"Mengapa kau tidak langsung saja membicarakan ini dengan teman-teman?" lanjutnya bertanya.
Berlin terdiam sejenak mendengar pertanyaan itu, sebelum kemudian memberikan jawabannya.
Asep menghela napas dan malah sedikit tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin. Dirinya benar-benar tidak menyangka Berlin akan berpikiran seperti itu.
"Kau memang Berlin yang ku kenal, sih! Dari dahulu keputusanmu selalu saja di luar dugaan," gumam Asep sembari menggelengkan kepalanya.
"Tetapi kau tahu Nicolaus adalah buronan nasional, 'kan?" lanjut Asep kembali bertanya.
"Ya, aku tahu itu, dan sekarang aku juga tahu ... pria itu adalah dalang di balik pembunuhan kedua orang tuaku." Berlin bersandar pada kursi miliknya, sembari menjawab pertanyaan tersebut.
"Jadi itu alasan yang mendasarimu?" sahut Asep. Namun sayangnya pertanyaan itu tidak mendapat jawaban dari Berlin yang memilih untuk diam.
"Berlin, asal kau tahu, meskipun beberapa dari kami akan kontra dengan keputusan yang akan kau ambil. Namun, kami semua akan selalu mendukung apapun keputusanmu, dan akan melakukan apapun perintah serta arahanmu."
"Lalu apa yang harus aku lakukan dengan ini?" lanjut Asep kembali bertanya.
__ADS_1
"Aku memerlukan peranmu untuk melacak di mana lokasi bangunan vila ini berada! Hanya kau yang bisa ku andalkan dalam hal seperti ini."
"Tenang saja, ini gampang bagiku!" sahut Asep sedikit tersenyum sinis.
Mendengar permintaan itu, Asep tidak bisa menolaknya. Ia menerima sebuah potongan gambar dari dalam surat itu, dan menyimpannya ke dalam saku.
"Ngomong-ngomong, bagaimana dengan tanggapan Nadia? Prawira? Garwig? Apakah mereka sudah mengetahui soal rencana dan niatmu?"
"Mereka belum tahu soal rencana ku ini," jawab Berlin dengan sedikit menundukkan kepalanya.
Asep tiba-tiba mendekatkan dirinya, dan meletakkan kedua tangannya di atas meja milik Berlin. Dengan tatapan yang sangat serius, ia berbicara, "kau tidak bisa menyembunyikannya dari mereka bertiga, Berlin. Terutama dari Nadia," ucapnya.
"Kau harus memberitahukannya kepada mereka, terutama kepada Nadia. Dia berhak mengetahui segala rencana dan keputusanmu, Berlin."
***
"Apakah kalian yakin? Bukankah masa tugas kalian sudah cukup di sana? Aku bisa mengirim unit untuk menjemput kalian kembali ke kota."
Di sebuah ruang kerja pribadinya. Garwig tampak sedang menghubungi seseorang melalui ponselnya. Beberapa kali ia berbicara dalam telepon tersebut.
"Baik, pilihan ada di tangan kalian, keputusan ada di tanganmu, Prime. Meski begitu aku akan tetap memantau kalian dari kejauhan, dan perintah serta arahanku adalah mutlak!"
"Dimengerti, Pak!" terdengar suara Prime menjawab melalui ponsel yang tengah menempel di telinga kiri Garwig.
Setelah telepon tersebut dimatikan. Garwig duduk di sebuah kursi balik meja kerjanya, dan bersandar di sana. Ia terlihat sedang memikirkan sesuatu sembari menatap ke arah langit-langit ruangan.
"Masalah-masalah yang rumit," gumamnya sembari menghela napas berat.
Sebuah berkas yang tergeletak di ujung meja pun diraih olehnya. Berkas itu berisikan soal kasus-kasus yang sedang terjadi saat ini. Bahkan nama Clone Nostra pun tercantum di dalamnya.
"Pengkhianat harus segera dicari dan diringkus, kalau tidak maka semuanya akan jadi lebih kacau," gumamnya ketika membalikkan beberapa lembar berkas itu.
Beberapa lembar telah ia balik, dan berakhir pada sebuah catatan berisikan kasus-kasus yang dibuat oleh sindikat bernama Clone Nostra. Kasus-kasus yang tercatat di sana sangatlah beragam, dan cukup membuat pusing jika ingin menebak apa tujuan sebenarnya yang dicari serta diinginkan oleh Clone Nostra.
"Kau berhasil membuat musuhmu kebingungan, Tokyo. Setelah ini, apa yang akan kau lakukan?"
__ADS_1
.
Bersambung.