
"Apa yang terjadi?!"
"Orang-orang kita di belakang tewas terbantai oleh satu orang yang benar-benar gila, Bos! Dia benar-benar gila!"
Tokyo dibuat sangat terkejut dengan adanya keributan yang berasal dari halaman belakang Gedung Balaikota. Lantaran hampir semua anak buahnya yang berada di sana, semuanya dibunuh dan dihabisi hanya oleh satu orang pria tak dikenal.
"Bos, kami mendeteksi adanya pergerakan dari personel milik Garwig dan Prawira yang langsung tertuju ke sini." Di saat yang bersamaan, Doma tiba-tiba saja datang memasuki gedung dan langsung melaporkan hal tersebut kepada Tokyo.
"Mereka mengincar pertahanan kita," cetus Karina yang berdiri tepat di samping Tokyo.
Tokyo benar-benar harus dibuat berpikir, sebelum akhirnya melancarkan sebuah rencana yang ia simpan untuk situasi seperti ini. Dirinya berkumpul dengan Karina dan Doma, sebelum kemudian memberikan tugas untuk mereka berdua.
"Karina, bawa orang-orang terbaik kita dan habisi pria yang menghabisi orang kita di belakang!" titah Tokyo kepada Karina di sampingnya.
"Baiklah." Karina langsung melaksanakan perintah tersebut dan dirinya memilih beberapa orang anak buahnya untuk ikut, salah satunya adalah orang yang pertama kali memberikan laporan soal serangan dari belakang itu.
"Doma, lakukan saja sesuai dengan rencana yang sudah kita siapkan jauh-jauh hari!" pinta Tokyo kemudian kepada Doma.
"Baik, Bos!" Doma kembali beranjak pergi ke arah pintu utama gedung, tentu dengan sebuah senapan serbu yang berada di tangannya.
Sesaat setelah kedua tangan kanannya itu beranjak pergi untuk melaksanakan apa perintahnya. Tiba-tiba saja Boni perlahan mendekati Tokyo yang berada di ruang utama dari belakang sembari bertanya, "apa yang akan kau lakukan?"
"Apa yang akan ku lakukan?" gumam Tokyo mengulang pertanyaan yang ditanya oleh Boni.
Tokyo berbalik badan menghadap ke arah Boni yang tepat berdiri di belakangnya, sebelum kemudian berkata menjawab pertanyaan Boni, "aku akan mencoba untuk memanfaatkan situasi," ucapnya menatap tajam Boni dan kemudian beranjak pergi dari sana.
***
"Ternyata gedung ini luas juga," gumam Aryo.
__ADS_1
Adam dan rekan-rekannya terlihat tengah bersiap untuk keluar dari ruangan tersebut untuk menuju ke ruangan di mana Berlin dikurung. Namun melihat berdasarkan denah serta pantauan pesawat tanpa awak melalui tablet yang ia bawa. Gedung pemerintahan ini memiliki cukup banyak ruangan, dan juga sangatlah luas.
"Ruangan yang akan kita tuju berada tepat di belakang ruang utama, dan ruangan yang saat ini kita tempati adalah satu-satunya ruangan yang terletak di bagian paling belakang gedung," ucap Kimmy mencoba untuk membaca denah pada tablet yang dibawanya. Dirinya juga mencocokkan tablet tersebut dengan tablet yang dibawa oleh Adam.
"Untuk ke sana kita harus melewati sebuah lorong serta beberapa ruangan, dan masalahnya adalah ada banyak penjaga dari pihak Clone Nostra yang berkeliaran," timpal Kent.
"Ya, keluar dari ruangan ini saja sudah bisa menjadikan kita sebagai sasaran tembak," sahut Kina.
Adam harus memikirkan pergerakan yang akan dilakukan oleh pihaknya. Bagaimanapun caranya agar dirinya beserta rekan-rekannya dapat mencapai ruangan yang menjadi lokasi Berlin ditahan dalam waktu singkat. Namun permasalahannya adalah orang-orang Clone Nostra itu akan menjadi penghalang, apalagi mengingat jumlah mereka yang sangat banyak di gedung ini.
"Aku dan Kent akan membuka jalan, diikuti oleh Galang dan Rony, sedangkan Kimmy dan Sasha berada di bagian belakang."
"Aryo dan Kina, kalian berdua tetaplah di sini sembari berjaga siapa tahu ada yang lewat melalui pintu belakang."
Adam memberikan arahan serta posisi yang akan diambil rekan-rekannya dalam melakukan pergerakan di dalam gedung itu. Jujur saja mereka tidak tahu bagaimana struktur pasti dalam Gedung Balaikota. Pengetahuan mereka hanya berdasarkan dua denah yang diberikan oleh Asep dan juga Flix.
Sesaat setelah pintu ruangan itu terbuka...
DOR ...!! DESING ...!!
Beberapa peluru langsung menembaki dirinya dan juga Kent yang hendak keluar ruangan, namun beruntungnya peluru-peluru itu hanya membuat lubang pada pintu kayu tersebut.
Tak tinggal diam dan menerima semua serangan itu. Adam dan Kent keluar dari ruangan secara bersamaan, serta langsung memberikan tembakan balasan sembari berlari mengarah ke sebuah lemari besar yang berada tepat di tepi lorong.
"SEKARANG!!!" teriak Adam kepada beberapa rekannya.
Sesuai dengan formasi yang sudah ditentukan, enam orang dari Ashgard langsung keluar dari ruangan itu dan menembaki setiap personel Clone Nostra yang dilihat.
Langkah mereka sementara harus tertahan di lorong yang sebelumnya sempat dibahas oleh Kimmy. Halaman serta pintu belakang sudah dipastikan aman dan hanya menyisakan mayat-mayat yang melumuri pakaian putih mereka dengan darah mereka sendiri. Namun tidak dengan lorong tersebut, karena diujung lorong ada lebih dari sepuluh orang yang terus memberikan tekanan berupa tembakan membabi buta ke arah Ashgard.
__ADS_1
"Sekarang bagaimana?!" teriak Galang.
Beberapa rekan Adam tampak bersembunyi di balik beberapa perabotan kayu serta sudut dinding yang ada untuk melindungi diri dari peluru-peluru taham dan panas yang masih saja menghujani mereka.
***
Pukul 07:35 pagi.
Berlin masih terbaring ke samping dengan cukup lemas dan wajah yang pucat. Kedua tangan masih terikat kuat di belakang, bahkan hingga membuat pergelangan tangannya terluka. Luka-luka yang ada pada tubuhnya masih dapat ia rasakan begitu perih dan sakit, apalagi luka sayatan pada lengan kiri serta cedera pada pergelangan kaki kanannya.
Lantai ruangan yang terasa sangat dingin, dan udara ruangan yang semakin lama semakin membuat sesak. Namun Berlin merasa masih beruntung karena berkat mantel atau jubah hitam pemberian Kimmy cukup membuatnya dapat sedikit merasakan kehangatan. Ya walaupun suasana dingin jauh lebih mendominasi.
Napasnya kian berat, dan matanya yang sebelumnya terpejam perlahan terbuka dengan cukup lemah. Berlin dapat mendengar berbagai keributan yang terjadi dari balik pintu ruangan yang terkunci rapat itu. Suara-suara tembakan, suara-suara teriakan orang-orang yang kesakitan, bahkan hingga suara-suara ledakan yang berulang kali dapat ia dengar.
BOOMM ...!!
Di tengah keheningan dalam ruangan yang terasa begitu dingin itu. Tiba-tiba saja suara dentuman dapat terdengar dari balik tembok paling belakang ruangan. Bahkan efek dari dentuman itu menyebabkan dinding ruangan sisi paling belakang bergetar hingga retak.
Sontak dentuman itu menarik perhatian Berlin, dan membuatnya bertanya-tanya. Siapakah yang menyebabkannya? Dan mengapa tujuannya ke sini di antara baku tembak serta peperangan yang terjadi?
DUAAARRR ...!!!!
Pada ledakan kedua, tembok paling belakang ruangan Berlin berada tiba-tiba saja runtuh dan hancur akibat ledakan tersebut. Di balik tabir asap yang begitu tebal akibat ledakan yang baru saja terjadi. Muncullah seorang pria berjubah hitam dengan wajah yang belum terlihat begitu jelas akibat asap serta debu reruntuhan.
"Siapa ... kau ...?!" Berlin mencoba untuk bangkit sembari menanyakan identitas pria tersebut. Dirinya tidak tahu apakah pria itu kawan atau malah musuh. Karena jika pria itu musuh yang bermaksud menghabisinya, maka dengan kondisinya saat ini yang sangat jauh dari kata 'prima' tidak akan bisa berbuat banyak.
.
Bersambung.
__ADS_1