Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Informasi yang Sangat Menarik #46


__ADS_3

"Sumpah, rasanya pengen nembak ban!" teriak Aryo dengan sedikit kesal sembari terus melaju dengan motornya.


"Jangan!" sahut Adam yang tiba-tiba melaju mendekati motor yang dikendarai oleh Aryo.


Mobil putih itu terus melaju dan semakin menjauh dari pusat keramaian kota. Sedangkan Adam dan ketiga rekannya masih terus mengejar mobil itu menggunakan motor mereka.


Aksi kejar-kejaran itu masih terus berlanjut, hingga memasuki Zona Industri yang terletak dekat dengan Pelabuhan Kota. Tiga motor yang dikendarai oleh Adam dan rekan-rekannya dibuat sangat kewalahan dengan sangat licinnya mobil yang mereka kejar. Larangan untuk memberikan tembakan tampaknya cukup membuat mereka sangat kewalahan untuk mengejar.


"Dam, serius, kalau kita nembak udah pasti terkejar itu!" cetus Aryo ketika melaju bersampingan dengan motor Adam.


"Jika bukan mereka yang memulai, maka kita jangan memberikan tembakan!" sahut Adam dengan tegas.


Sesaat kemudian. Mobil itu melaju memasuki pintu samping pelabuhan yang dijaga oleh banyak orang berbaju putih. Melihat hal ini, Adam dan rekan-rekannya harus memberhentikan niat mereka untuk mengejar.


"Sialan!" gerutu Aryo kesal di atas motornya yang sudah berhenti. Di kejauhan sana adalah pintu samping pelabuhan, dan matanya menangkap orang-orang berbaju putih yang tampak mondar-mandir serta menutup gerbang pelabuhan ketika mobil sedan itu masuk.


Bobi berboncengan dengan Kina mendekati Aryo dan Adam menggunakan motor dan berkata, "pasti mereka akan kembali ke pulau."


"Lalu bagaimana sekarang? Kita tidak mendapatkan apapun, dan harus bilang apa kepada Berlin?" tanya Kina berada di boncengan Bobi kepada Adam.


Adam menghela napas dan menjawab, "kita kembali saja, dan berkumpul dengan yang lain. Kalau soal Berlin, biar aku yang berbicara padanya."


Sepanjang pengejaran. Adam sangatlah tenang, tidak dengan Aryo yang tampaknya sangat sulit untuk menahan nafsunya untuk menembak. Namun emosi tersebut dapat dikendalikan oleh Adam yang selalu mengingatkan serta menegaskan. Sedangkan Bobi dan Kina hanya mengikuti arahan saja.


***


"Tenang, mereka tidak akan mungkin berani mengejar sampai ke sini," ucap seorang pria berkulit putih berambut cokelat serta mengenakan tuksedo putih. Pria itu menyambut kedatangan mobil sedan berwarna putih yang memasuki pelabuhan, dan perlahan diangkut ke atas kapal yang cukup besar.


"Maaf, bos. Mereka sudah mengetahui kami," ucap pria berjaket hitam setelah turun dari mobil itu, dan kemudian menunduk di depan pria yang ia sebut 'Bos' itu bersama rekannya yang mengenakan jaket putih.


Pria dengan rambut cokelat dan tuksedo putih itu bukanlah Tokyo, bahkan warna rambutnya saja sudah berbeda dari Tokyo. Tetapi nampaknya ia memiliki kedudukan yang hampir sama dengan Tokyo, sampai-sampai disebut 'Bos' oleh pria berjaket hitam itu.


"Tak apa, sudah sewajarnya mereka menyadari kehadiran kalian." Sikap pria yang mengenakan tuksedo putih itu sangatlah dingin.


Di kala yang bersamaan. Tiba-tiba dari belakang terdengar suara wanita yang memanggil sebuah nama, "Dom!" panggilnya.


Pria dengan tuksedo putih itu langsung berbalik karena merasa terpanggil. "Ada apa, Nona?" tanyanya berjalan mendekati seorang wanita yang sangatlah cantik. Wanita itu adalah wanita yang biasanya bersama dengan Tokyo.


"Tokyo menghubungi mu," jawab nona tersebut lalu memberikan sebuah ponsel kepada pria yang dipanggil Dom itu.


Dom pun menerima ponsel tersebut, dan langsung berjalan menjauh dengan masuk ke dalam kapal dengan ponsel yang tertempel di telinga. Ia tampak langsung berbincang dengan Tokyo melalui ponsel tersebut.


"Pertemuan?" Dom menghentikan langkahnya ketika berada di geladak atas kapal. "Kapan pertemuan itu akan dilakukan?" lanjutnya bertanya. Ia menghentikan langkahnya, berhenti dan berdiri tepat di tepi geladak kapal menghadap ke arah laut.


Sesaat kemudian kapal itu berlayar menjauh dari pelabuhan, perlahan mengarah ke arah lautan sebelah tenggara.


***


Pada pukul empat sore. Setelah Berlin cukup menghabiskan waktunya di siang hari untuk bersama dengan istrinya. Di sore harinya, ia langsung berkumpul dengan rekan-rekannya di kediaman atau markas milik Ashgard.


Di ruang tengah yang cukup luas ini. Berlin yang baru sampai langsung disambut baik oleh semua rekannya di sana. Ketika sampai, pandangannya langsung tertuju kepada Kent yang tampak sedari tadi mengelus dada ketika duduk santai di sofa.

__ADS_1


"Kau baik-baik saja, Kent?" tanya Berlin ketika berjalan di depan Kent.


"Baik, bos. Hanya saja bekas operasi ini masih cukup mengganggu. Tetapi semuanya aman, kok!" sahut Kent.


Setelah dari Kent. Pandangan Berlin langsung tertuju kepada keempat rekan yang ia percaya untuk mengawasinya sejak pagi tadi. Mereka berempat tampak sedang duduk-duduk di sofa juga, dan tampak sedikit kesal serta kecewa. Berlin sendiri sudah dapat memahami apa yang membuat keempat rekannya itu kesal dan kecewa. Karena sebelum dirinya datang ke sini, Adam sudah lebih dahulu memberinya kabar melalui pesan singkat.


"Baik, semuanya berkumpul!" pinta Berlin kepada rekan-rekannya yang lalu langsung berkumpul di ruang tengah. Seperti biasa layaknya seorang pemimpin, Berlin berdiri di depan mereka semua yang sebagian duduk di sofa dan sebagian lagi tidak.


"Dam, bisakah kau berada di sampingku?" tanya Berlin mengulurkan satu tangannya mengarah kepada Adam yang duduk di sofa. Adam pun mengikuti permintaan tersebut, dan lalu berdiri tepat di samping Berlin.


"Mungkin beberapa dari kalian belum mengetahui soal dua orang penguntit yang dari kemarin selalu mengikutiku." Berlin mulai membuka pembicaraan di depan rekan-rekannya. Ketika ia membuka pembicaraan dengan langsung membawakan topik soal hal ini. Beberapa rekannya tampak cukup geram, terlihat dari ekspresi wajah mereka.


"Adam, Bobi, Kina, dan Aryo, mereka tadi sempat mengejar mobil penguntit itu. Namun, pengejaran itu tidak membuahkan hasil, dan dua orang penguntit itu masuk ke arah pelabuhan kota."


"Tetapi, di sisi lain Bobi telah berhasil mendapatkan sedikit hal yang menarik," lanjutnya.


Situasi kembali tenang dan diam. Berlin mengambil sebuah ponsel dari sakunya, dan membuka pesan singkat beserta potret dua orang pria yang terlihat sedang berbincang di pintu belakang rumah sakit. Terlihat ciri-ciri dua pria itu adalah satu orang petugas kebersihan rumah sakit, dan satu lagi pria berjaket hitam.


"Apa kalian mengetahui soal dua orang ini?" Berlin menunjukan foto yang diambil oleh Bobi kepada rekan-rekannya.


"Sepertinya aku pernah melihat pria berjaket hitam itu," gumam Asep ketika melihat orang yang tidak begitu asing di matanya.


"Hmm, berarti mereka memiliki banyak relasi di tempat-tempat penting, ya." Kimmy dan yang lain juga ikut bergumam serta menerka-nerka setelah melihat potret tersebut.


"Apakah kau mengetahui soalnya, Sep?" tanya Berlin kembali menyimpan ponsel miliknya


"Kirim foto itu ke aku saja, bos. Nanti biar aku cek, karena aku menerka seseorang yang memiliki ciri-ciri fisik sama seperti pria berjaket hitam itu," sahut Asep.


"Aku yang kirim saja, aku masih menyimpan fotonya," sela Bobi.


Bobi kemudian menjawab pertanyaan itu dengan mengatakan, "aku tidak tahu, karena ketika mereka berbicara suara mereka tidak terdengar. Jika aku mendekat, maka aku yang akan diketahui oleh mereka."


"Kita singkirkan saja dahulu apa yang mereka bicarakan di sana, karena aku ingin membicarakan hal yang mungkin lebih penting dari itu." Berlin menyela pembicaraan rekannya, dan kemudian menoleh kepada Adam di sampingnya.


"Dam, bisa kau ceritakan soal aksi kejar-kejaran kalian? Dan bisakah kau ceritakan soal apa yang kau lihat di pelabuhan itu?" tanyanya ketika menoleh dan menatap keadaan Adam di sampingnya.


***


Pukul 19:00 malam.


Pulau La Luna begitu tenang dan sunyi di malam hari ini. Di daerah utara pulau atau lebih tepatnya di kamp penjagaan yang dibangun beberapa waktu yang lalu. Prime tampak sedang berbincang dengan satu orang rekan kepercayaannya. Pria dari regu khusus itu adalah Flix, perwira muda yang cukup berbakat di usianya yang menginjak 23 tahun.


Prime berbincang bersama rekannya tepat di samping tendanya. Ia bersandar di sebuah pohon besar, sedangkan Flix duduk di atas sebuah batu yang tak jauh darinya.


"Bagaimana patroli mu?" tanya Prime.


Flix telah ditugaskan untuk melakukan patroli seharian ini guna mendapatkan informasi mengenai Clone Nostra di pulau ini. Segala informasi tentang Clone Nostra sangatlah penting, dan Prime tidak ingin melewatkan hal tersebut.


"Dan apa saja yang kau dapatkan?" tanya Prime lagi.


Flix menjawab dengan sedikit berbisik, "jumlah mereka sangatlah banyak, mungkin personel mereka berjumlah lebih dari seratus orang."

__ADS_1


"Saya juga melihat sendiri bawah persenjataan yang sering mereka bawa adalah senjata sekelas militer," timpalnya lagi.


"Sekelas militer? Senjata apa saja yang kau lihat?" tanya Prime lagi.


"Beberapa senapan serbu seperti Scar-L dan M-16, namun yang paling mencolok ... mereka sering menenteng AK47 ke mana-mana." Flix langsung menjawab serta menyebutkan jenis atau nama-nama senapan yang ia lihat selama berpatroli.


Prime menghela napas sangat berat dan menggelengkan kepala ketika mendengar hal tersebut. Dirinya tak habis pikir akan mendengar nama-nama senapan itu dari mulut Flix. Namun, jika memang itu yang dilihat Flix selama patrolinya, maka dirinya tak bisa menyangkal fakta tersebut.


"Setelah melihat persenjataan mereka, saya merasa ... ke depannya ... akan terjadi sesuatu yang tidak kita semua inginkan." Flix tertunduk lalu ikut menghela napas berat.


"Dan presentase untuk itu mungkin hampir seratus persen," celetuk Prime ikut menambahi apa yang dikatakan Flix.


"Lalu apakah kita akan tetap berjalan mengikuti rencana awal?" tanya Flix dan mengingat rencana awal yang dibuat oleh Garwig. Regu khusus ini dikirim ke Pulau La Luna tentu memiliki misi atau tujuannya sendiri, dan Garwig yang memberikan mereka misi tersebut. Misinya adalah mengumpulkan informasi sebanyak mungkin mengenai Clone Nostra dan pulau.


"Tentu kita tidak akan menghajar mereka di kandang mereka, yang ada kita akan rata dengan tanah jika seperti itu," jawab Prime.


Prime mulai sedikit beranjak dari sandarannya, dan berkata, "aku akan menghubungi Garwig dan menyampaikan soal persenjataan itu. Kau silakan pilih tiga orang untuk menemanimu berjaga!"


"Siap, pak!" sahut Flix berdiri dan dengan intonasi yang tegas.


***


Masih di malam yang sama. Tokyo tampak sudah menunggu di sebuah ruangan yang sangat tertutup di dalam villanya. Hanya ada dirinya sendiri di ruangan ini. Bahkan Nicolaus pun tidak bersamanya, karena memang dirinya tidak ingin orang itu ada bersamanya di waktu yang akan sangat penting bagi dirinya juga kelompoknya.


Tak lama kemudian. Tiga orang, dua orang pria dan satu orang wanita datang dari balik pintu besar di hadapannya. Ketiga orang itu duduk di meja bundar yang sudah ada di ruangan tersebut.


"Apakah kamu menunggu lama, sayang?" tanya wanita tersebut kepadanya.


Tokyo ikut duduk bersama rekan-rekannya di meja bundar tersebut dan menjawab, "tidak terlalu, kalian datang tidak begitu lama namun juga tidak begitu cepat."


Tampaknya wanita itu memang sangatlah dekat dengan Tokyo. Sedangkan dua pria yang kini ada di ruangan tersebut, adalah dua pria yang sempat bertemu di kapal. Ya, mereka berdua adalah Dom, dan pria berjaket hitam yang memiliki peran atau misi untuk mengikuti Berlin dari kemarin.


"Farres, aku sangat mengharapkan hal-hal menarik dari informasi yang akan kau sampaikan!" ucap Tokyo dengan intonasi begitu datar namun sikap yang dingin. Ia berbicara kepada pria berjaket hitam itu yang duduk di meja yang sama.


"Tentu saja aku memiliki informasi yang sangatlah menarik, informasi yang akan ku sampaikan ini berkaitan dengan Nadia atau istri Berlin." Dengan sangat senang hati Farres menjawab perkataan tersebut.


"Nadia? Memangnya apa yang kau ketahui soal wanita sialan itu? Dan apa pentingnya untuk kita?" sela Dom.


"Tentu ... mungkin ini penting untuk pergerakan kita nantinya," sahut Farres.


"Katakan saja, jangan basa-basi!" sela Tokyo yang tampaknya sangat menginginkan informasi yang akan diucapkan oleh Farres.


Farres tampak tersenyum licik, dan kemudian menjawab, "wanita itu ... dia tengah mengandung anak pertama Berlin."


"Lalu apa pentingnya untuk kita?!" sahut Dom.


"Eits, tunggu dahulu! Jika memang Ashgard, atau Berlin menganggu serta menghalangi jalan kita. Maka mungkin saja, kita bisa gunakan Nadia nantinya sebagai pelancar rencana-rencana kita." Farres langsung menyangkal keraguan Dom dengan pikiran-pikiran jahatnya yang sedari tadi sudah berkeliaran di kepalanya.


Tokyo hanya diam saja mendengar apa yang dikatakan oleh Farres. Namun dalam diamnya. Ia sedang memikirkan rencana-rencana jahat, yang mungkin juga dipikirkan oleh rekannya yaitu Farres. Atau bahkan di luar dari nalar rekan-rekannya.


"Itu informasi yang sangat menarik, dan aku suka dengan cara berpikir mu," gumam Tokyo lalu menyeringai senang namun juga menyimpan kelicikan tersendiri.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2