Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Lokasi Sudah Diberikan #179


__ADS_3

Di hari berikutnya, lebih tepatnya di hari Senin yang cerah ini. Di pagi harinya, Berlin bersama dengan rekan-rekannya mendapatkan kabar dari Garwig untuk menemuinya di suatu tempat pada pukul sebelas. Melalui ponselnya, ia telah mendapatkan titik lokasi yang diberikan oleh Garwig. Namun sebelum itu, Berlin perlu menunggu terlebih dahulu di halaman vila miliknya, agar seluruh rekannya berkumpul.


Ketika rekan-rekannya sudah berkumpul. Berlin merasakan ada yang sedikit berbeda dari mereka semua, apalagi sikap mereka ketika berhadapan dengan dirinya. Mereka terlihat sangat ramah, patuh, dan sopan sekali ketika bertemu dengannya, yang justru membuat dirinya menaruh sedikit rasa curiga.


"Hari ini kalian terlihat berbeda sekali. Apakah kalian menginginkan sesuatu dariku?" tanya Berlin, berdiri menggunakan tongkatnya tepat di hadapan rekan-rekannya ketika berkumpul di pekarangan rumahnya.


"Tidak ada, kami tidak memiliki maksud apapun di balik semua ini, Bos." Adam melangkah untuk lebih dekat kepada Berlin, dan menjawab pertanyaan itu.


Berlin pun melangkah, beranjak menghampiri sebuah taman di halamannya, dan berdiri di dekat sebuah pot bunga yang berukuran besar. Langkahnya diikuti oleh Adam, juga diikuti oleh Kimmy.


"Pagi, bos!"


"Selamat pagi, bos!"


Ketika ia berjalan, beberapa rekannya terlihat menyapa ramah dirinya, bahkan mereka tidak segan memberikan hormat dengan cara sedikit menundukkan kepala.


"Kalian nih aneh, ya? Apakah terjadi sesuatu kepada kalian kemarin?" cetus Berlin, terheran-heran dengan sikap rekan-rekannya. Karena selama ia di Ashgard, dirinya sangat jarang sekali melihat rekan-rekannya bersikap seperti itu.


Kimmy dan Adam terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Berlin, terlebih ketika melihat lelaki itu cukup kebingungan melihat rekan-rekannya tiba-tiba bersikap cukup takzim kepada dirinya. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Kimmy pun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi di hari kemarin, sehingga membuat sikap dari rekan-rekannya berubah seperti kala ini.


Wanita itu berbicara semuanya, menceritakan apa yang sempat terjadi dalam pembicaraan kemarin. Berlin bersandar pada pot bunga yang berukuran amat besar itu, mendengarkan apa yang diceritakan oleh Kimmy. Kimmy berbicara dengan jujur, tidak ada yang direkayasa, memberitahukan semua yang sempat terjadi kemarin kepada Berlin.


"Jadi itu yang kalian bahas? Pantas saja sikap mereka jadi terlihat sopan sekali di hadapanku," ucap Berlin setelah mendengar apa yang dijelaskan oleh Kimmy, pandangannya sedikit tertunduk, dan tertawa kecil seraya menorehkan senyuman tipis.


"Papa!!"

__ADS_1


Anak perempuan itu tiba-tiba saja berlari kecil melalui teras dan halaman, kemudian memeluk kedua kaki Berlin sebelum akhirnya mendongakkan kepalanya, menatap pria itu dan bertanya, "Papa mau ke mana?" Beberapa detik kemudian, Nadia dengan berpakaian dress santai berwarna merah muda itupun ikut muncul mengikuti langkah-langkah kecil putrinya.


Kemunculan istri dan putrinya, sontak sempat menjadi pusat perhatian teman-temannya. Apalagi Kimmy dan Adam yang saat ini juga berada dekat dengannya, yang berarti juga dekat dengan sosok kecil Akira itu.


"Lucunya ...!" cetus Sasha.


"Akira cantik banget ...!" ujar Kina, mengomentari dan memuji Akira kecil yang mengenakan dress berwarna senada dengan Nadia.


"Iya! Sama seperti ibunya!" timpal Vhalen.


Terdengar lamat-lamat suara dari rekan-rekannya wanitanya ketika melihat kehadiran mereka berdua.


"Papa mau pergi untuk mengurus sesuatu yang penting, jadi kamu di rumah sama Mama dahulu, ya! Enggak sampai malam, kok!" ucap Berlin, sedikit menunduk, meraih dan mengusap lembut kepala putrinya. Intonasinya ketika berbicara pun terdengar lembut dan ramah, apalagi ketika berhadapan dengan anak-anak yang berhasil membuat dirinya tersenyum hangat. Sesaat kemudian, pandangan lelaki itu terangkat, dan tertuju kepada istrinya yang saat ini sudah berada di hadapannya.


Pandangan Akira yang sebelumnya menatap kepada Berlin, tiba-tiba saja melirik ke samping dan tertuju kepada sosok Kimmy dengan tatapan penasaran. Kimmy yang sedari tadi melihat anak itu, kemudian bersikap ramah dan menyapanya, "hai, Akira!" ujarnya, sedikit menunduk, dan tersenyum ramah. Akira terlihat malu-malu, hanya membalas dengan lambaian tangan.


"Baik, bos ...!" jawab Kimmy dan Adam, tersenyum hangat, kemudian beranjak menjauhi Berlin yang sedang bersama dengan istri dan putrinya. Mereka berdua pun mempersiapkan rekan-rekannya, naik ke kendaraan masing-masing, dan bersiap untuk berangkat ke lokasi yang sudah diberitahu oleh Garwig.


"Beneran nggak sampai malam?" tanya Nadia, tatapannya seolah ingin memastikan janji yang dibuat oleh suaminya dengan putrinya.


Berlin melangkah satu langkah agar lebih dekat dengan istrinya, tanpa menggunakan tongkat bantunya yang ia sandarkan di pot bunga. Tatapannya dalam ketika melakukan kontak mata dengan istrinya, sebelum kemudian teralih kembali kepada Akira yang berada di sampingnya, dan kemudian tersenyum.


"Iya, tidak sampai malam, jam enam aku sudah sampai rumah dan kita bisa makan malam bersama," ucapnya.


"Sungguh?!" Akira berseru, terlihat senang mendengar apa yang dikatakannya.

__ADS_1


"Iya, sayang." Berlin harus sedikit berjongkok untuk dapat bertatapan dengan putrinya.


"Papa enggak bohong, 'kan?" tanya Akira, tatapannya terkesan lembut, memastikan perkataan lelaki itu benar.


Berlin tersenyum, menjawab, "tidak, Papa tidak berbohong. Papa janji ...!" ucapnya, mengulurkan jari kelingking, dan membuat ikatan janji kelingking dengan Akira. Gadis kecil itu tertawa-tawa kecil dan terlihat sangat senang, apalagi ketika melakukan ikatan janji kelingking itu, "janji!" serunya.


Berlin ikut tersenyum, meraih dan mengelus lembut puncak kepala milik Akira, sebelum kemudian kembali berdiri dan beralih untuk menatap kepada sang istri.


Nadia mendekatkan wajahnya, menatap lembut suaminya dan berkata, "kamu sudah membuat janji, jangan ingkari janji itu, ya ...!" ucapnya, dengan intonasi yang sungguh lembut sembari meraih dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pundak milik Berlin.


"Tidak, aku tidak akan mengingkarinya ...!" sahut Berlin, mengulas senyumannya, sebelum kemudian mengecup lembut kening milik Nadia. Ketika perlukan itu ia lakukan untuk istrinya, tiba-tiba saja Akira berseru, "Papa! Papa aku juga mau, dong! Masa cuma Mama yang dapat?!"


Berlin cukup terkejut mendengar permintaan itu. Dirinya terkekeh, dan kemudian melakukan hal yang sama dengan Nadia kepada Akira. Ia memberikan kecupan manis itu pada kening milik putrinya. Anak itu terlihat senang sekali, senyuman pada paras cantiknya seolah tidak akan pudar.


"Ya sudah kalau begitu, aku berangkat, ya ...!" cetus Berlin, dan kemudian dijawab oleh Nadia dengan berkata, "hati-hati di manapun kamu berada, ya ...!


Tak hanya Nadia, namun Akira juga turut menyampaikan, "Papa hati-hati, ya! Jangan pulang malam-malam! Dan jangan bohong!!!" ucapnya sembari melangkah, berpindah ke samping dari Nadia, dengan senyuman yang masih terpampang.


"Iya, sayang ...!" sahut Berlin, tertawa dan tersenyum kepada putrinya.


Pria itu kemudian mengambil kembali tongkatnya, dan melangkah menuju ke mobil SUV hitam yang di sana sudah siap tiga rekan kepercayaannya. Selain pada mobil tersebut, rekan-rekannya juga terlihat sudah siap di atas kendaraan mereka masing-masing, yakni dua buah mobil lain dan beberapa motor.


"Dadah!! Papa, Dadah!!!!" teriak Akira berdiri tepat di sebelah Nadia, berseru antusias, dan melambaikan tangannya ketika rombongan itu perlahan bertolak pergi dari pekarangan vila.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2