Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Ambisi dan Ego #224


__ADS_3

"Informan kita telah menangkap beberapa gambar dan mendapatkan beberapa informasi." Seorang wanita berjaket merah menyerahkan sebuah tablet yang ia bawa kepada Felix, dan membiarkan laki-laki itu untuk melihat isi tablet miliknya.


Masih di tempat yang sama, di sebuah gudang persenjataan. Felix terlihat sedang mempersiapkan anak-anak buahnya yang terlihat sudah siap, berkumpul di dalam gudang tersebut dengan persenjataan yang sudah lengkap. Tak hanya senjata api seperti pistol saja yang mereka bawa, melainkan mereka juga dilengkapi oleh beberapa senapan serbu seperti layaknya sebuah pasukan yang akan melakukan serangan untuk memperebutkan teritorial musuh.


Di tengah ia melihat-lihat masing-masing senjata yang akan dibawa, tiba-tiba saja rekan wanitanya datang dengan membawakan kabar. Felix pun menerima tablet milik rekannya, dan melihat beberapa potret gambar yang ditampilkan jelas pada layar perangkat tersebut.


"Rombongan mobil tahanan itu sudah bergerak, ya ...?" gumam Felix, tersenyum tipis setelah melihat beberapa potret gambar yang ada pada layar tablet tersebut.


Gambar-gambar yang ditampilkan adalah gambar yang diambil dari kejauhan. Beberapa gambar tersebut memperlihatkan adanya kendaraan-kendaraan taktis milik pihak aparat yang berjalan melalui jalanan sepi di tengah kota. Di antara kendaraan-kendaraan itu terlihat sebuah mobil tahanan yang berlapis baja.


Clovis berjalan menghampiri Felix dan rekan wanitanya, dan langsung diberitahu oleh laki-laki berjaket merah itu, "Clovis, siapkan orang-orang mu ...! Kita akan berangkat," ucap Felix, sebelum kemudian beranjak kembali menuju ke depan orang-orangnya untuk mempersiapkan mereka agar berangkat.


Laki-laki berjaket putih itu juga sempat melihat apa yang ada pada tablet yang kini dipegang oleh wanita berjaket merah tersebut. Melihat hal yang ditunggu-tunggu, Clovis pun segera beranjak sedikit menjauh dan menggunakan radio komunikasi miliknya sembari berbicara, "semuanya bersiap di posisi! Kita akan bergerak sesaat lagi."


"BAIK, DENGARKAN! Waktu kita untuk bermain sudah tiba, dan ini saatnya bagi kita untuk menunjukkan intensitas besar kita!" seru Felix dengan lugas dan tegas berdiri di depan orang-orangnya. Saking tegas dan tingginya nada bicaranya, suara hujan yang begitu deras saja sampai kalah.


"Ini juga menjadi kesempatan kita untuk melebarkan sayap!" lanjut Felix.

__ADS_1


Clovis yang berdiri tepat di pintu gudang seketika dibuat terdiam, tertegun, dan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Felix, semuanya. Ia merasa bahwa Felix mengatakan semua itu atas dasar ambisi serta niatnya sendiri, apalagi dengan intonasi bicaranya yang meninggi dan sikapnya yang sangat menonjolkan keegoisannya.


"Semuanya, aku harap kalian juga siap untuk hal lain. Karena sepertinya mereka tidak akan sejalan dengan pemikiran kita." Clovis meraih radio komunikasi miliknya dari dalam saku, kemudian menekan tombol bicara itu dan berbicara dengan nada berbisik setelah memastikan bahwa tidak ada orang di sekelilingnya atau di dekatnya.


"Ambil senjata dan perlengkapan kalian, dan segera pergi serta jalankan sesuai dengan rencana kita! Cepat!" titah Felix terdengar lantang.


Orang-orang berjaket merah itu langsung bergerak mengambil persenjataan dan perlengkapan mereka, sebelum kemudian berlari menuju ke masing-masing mobil dan motor yang terparkir di depan gudang untuk segera beranjak pergi dari gudang tersebut. Jumlah mereka sangatlah banyak, lebih dari tiga puluh orang, dan jumlah itu belum jumlah keseluruhan personel yang dimiliki Red Rascals.


"Sebaiknya kau dan pihakmu juga segera berangkat!" ujar Felix, berbicara tajam ketika berjalan melalui Clovis yang berdiri di ambang pintu gudang yang terbuka lebar.


Clovis hanya diam mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki berjaket merah yang kini berjalan di bawah guyuran derasnya air hujan, dan naik ke atas sebuah motor trail miliknya yang terparkir di depan gudang.


Clovis juga turut berjalan menerabas derasnya air hujan, membiarkan tubuhnya basah kuyup, melangkah menuju ke mobil SUV berwarna putih miliknya dan kemudian menjawab, "aman."


"Saatnya kita bergerak!" lanjutnya setelah berada di kursi kemudi mobil SUV putih itu.


***

__ADS_1


Persidangan dimulai pada pukul sepuluh. Seluruh pihak yang terlibat telah ada di dalam ruang sidang, begitupula dengan seorang hakim yang sudah berada di atas mimbarnya. Seorang tersangka terlihat didudukan di sebuah kursi kecil yang berada tepat di depan mimbar hakim. Tokyo El Claunius, pria berbahaya itu duduk di kursi dengan keadaan kedua tangan dan kaki yang terborgol kencang. Di belakang pria berbaju oranye itu terdapat dua aparat taktis berseragam serba hitam dengan masing-masing senapan serbu yang bergelantungan di badan kekar mereka berdua.


Situasi dan suasana persidangan berlangsung dengan sangat tenang. Banyak sekali tuntutan yang dilampirkan, dan juga pasal-pasal yang telah dilanggar oleh tersangka. Meskipun Tokyo El Claunius memiliki pengacara yang ada di pihaknya. Namun sepertinya pengacara tersebut tidak akan bisa melindungi atau sedikit meringankan hukuman yang akan diterima oleh Tokyo. Mau sehebat-hebatnya pengacara yang ada di pihaknya, tetapi dengan segala pasal serta tuntutan dan pelanggaran yang dilakukan Tokyo, membuatnya sangat sulit untuk ditolong.


Garwig berdiri dan bersandar di dinding sebelah pintu masuk ruang sidang. Pria berjas hitam itu menyaksikan persidangan dari jarak kejauhan, di belakang tempat duduk para saksi atau orang-orang yang menyaksikan persidangan yang sedang berlangsung.


"Menurutmu ... apakah hukuman Tokyo akan sedikit diringankan? Atau justru langsung dijatuhi hukuman berat," cetus Prawira yang baru saja memasuki ruang sidang, dan kemudian langsung bertemu dengan Garwig.


"Biar hukum yang menentukan," jawab singkat Garwig sambil bersedekap.


"Bagaimana situasi di luar?" lanjut Garwig, bertanya sembari menoleh kepada rekannya yang juga ikut bersandar pada dinding yang sama.


Prawira melihat ke sekeliling ruangan yang dijaga sangat ketat oleh aparat-aparat taktis miliknya dan juga Garwig. Mereka berjaga dan berdiri di setiap sudut ruang sidang, dengan senapan yang setia melekat pada tubuh mereka.


"Sejauh ini aman terkendali, belum terpantau indikasi pergerakan-pergerakan dari si merah seperti yang sudah kita ketahui dari buku itu," jawab Prawira, dengan intonasi bicara yang terdengar sungguh rendah.


Garwig menghela napas dan terlihat cukup gelisah, "entah kenapa ... firasatku tidak enak. Semoga saja anggota-anggota kita tidak ada yang lengah," ucapnya.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2