
"Apa papa akan baik-baik saja?" cetus Akira bertanya, anak itu saat ini sedang berada di mobil perjalanan menuju ke Pusat Kota. Dirinya berada di mobil yang sama dengan Alana di kursi depan, Helena di kursi belakang bersama dengan anak itu, dan Kimmy sebagai pengemudi.
Terlihat sekali dari kedua mata anak itu, bahwa dirinya memang sangat mengkhawatirkan sosok papa yakni Berlin. Bahkan sempat ada suatu momen dimana Akira secara tiba-tiba melirik dan melihat ke arah Kimmy dengan tatapan cemas.
"Kamu jangan khawatir, dia akan baik-baik saja, sayang." Helena merangkul serta memeluk tubuh mungil anak itu dengan penuh kelembutan.
Mendengar pertanyaan yang sempat dilontarkan oleh Akira, membuat Kimmy sedikit berkaca-kaca. Lantaran dirinya tahu bahkan mendengar sendiri detik-detik di mana Berlin hilang dari radio komunikasi. Tak hanya itu, Kimmy juga mendapatkan kabar soal Berlin yang hilang kontak melalui beberapa rekannya yang berbicara langsung kepadanya melalui radio komunikasi tersebut. Semua itu dapat ia dengar tanpa harus terdengar oleh tiga penumpang pentingnya berkat sebuah earphone yang menempel pada salah satu telinganya.
"Berlin, kumohon ... jagalah dirimu," batin Kimmy sembari terus fokus menyetir.
...
Setelah melalui perbatasan antara Distrik Timur dan Pusat Kota. Tak harus memakan waktu lagi, mereka akhirnya sampai juga di Rumah Sakit Pusat. Kimmy dan rombongannya langsung menurunkan anak-anak itu di sana.
"Kimmy, ya? Terima kasih telah membawa kami ke sini," ucap Helena sesaat setelah turun dari mobil yang dikendarai oleh Kimmy, dalam gendongannya terdapat Akira yang tampak masih mencemaskan keadaan papanya yakni Berlin.
Sedangkan Alana, sesampainya di zona aman tersebut dirinya langsung mengarahkan anak-anak asuhnya untuk masuk ke dalam dan menuju ke pusat data diri pengungsian. Tak sendirian, tentu dirinya juga dibantu oleh dua rekan pekerja wanitanya untuk mengarahkan anak-anak itu.
"Kurasa berterima kasihlah kepada Berlin nanti, karena tanpa keputusan darinya ... kami tidak akan tahu keadaan serta situasi kalian seperti apa di sana," ucap Kimmy dengan ramahnya.
Setelah selesai dengan tugasnya untuk membawa anak-anak itu ke tempat aman, sesuai dengan amanah serta tugas yang diberikan oleh Berlin. Kimmy beserta ketiga rombongan mobilnya langsung bergegas untuk kembali ke Distrik Timur. Tanpa mempedulikan batas kecepatan kendaraan yang ia kendarai. Kimmy melaju begitu kencang di lalu lintas yang sepi.
"Berlin, apapun kondisimu kumohon bertahanlah!" gumamnya, kedua matanya seolah ingin menangis namun tertahan. Hatinya benar-benar dibuat khawatir semenjak tidak ada kontak komunikasi dari Berlin.
***
"Arghh ...!!!"
Berlin tersadar dirinya tergeletak di tepian jalan setelah pingsan beberapa detik sejak kecelakaan dan benturan keras yang ia terima. Sekujur tubuhnya terasa sangat sakit, terutama pada lengan sebelah kiri miliknya yang berdarah. Tak hanya itu, dahi bagian kanannya juga ikut terluka dan berdarah.
Menyadari dirinya masih dalam situasi dikejar-kejar oleh orang-orang Clone Nostra itu. Berlin segera berdiri sekuat tenaga, meskipun salah satu dari kakinya terasa cukup sakit jika dibuat untuk berdiri.
__ADS_1
Dengan langkah yang cukup tertatih-tatih. Berlin segera pergi menuju ke arah sela-sela bangunan pertokoan di pinggir jalan itu.
Sesaat kemudian tepat setelah Berlin masuk ke dalam gang-gang kecil di sana. Beberapa kendaraan yang sebelumnya mengejar langsung sampai di lokasi, tepat di dekat dengan motor miliknya yang sudah hancur bahkan terbakar.
"Seharusnya dia tak jauh dari sini."
"Cepat cari dia!"
"Aku ingin kalian bawa dia hidup-hidup!"
Suara lantang yang tampaknya adalah orang yang memimpin regu milik Clone Nostra yang ada di distrik ini dapat didengar oleh Berlin. Saat ini dirinya sedang bersembunyi di balik gelapnya sela-sela bangunan serta gedung-gedung perkotaan. Melihat kondisi lukanya, tampaknya Berlin sangat kesulitan jika harus berlari.
"Sial ...! Aku kehilangannya," Berlin meraba kantong di balik jubah hitam yang ia pakai, bahkan sampai memastikan isi saku pada celananya. Namun dirinya tak menemukan keberadaan radio komunikasi miliknya, bahkan dirinya juga kehilangan pistol yang hampir selalu menempel pada ikat pinggangnya.
Di kala ia merogoh salah satu saku pada celananya. Berlin menemukan ponsel genggam miliknya, dan hendak segera menggunakan ponsel tersebut untuk menghubungi rekan-rekannya.
"Sial ...!!" gusarnya kemudian menghela napas berat. Ponsel yang hendak ia gunakan ternyata sudah sepenuhnya pecah dan rusak, bahkan tidak dapat dihidupkan kembali.
Tanpa senjata, tanpa alat komunikasi, dan dirinya dihadapkan dengan sepuluh orang lebih dari pihak Clone Nostra yang mengejarnya, dan mereka semua bersenjata.
"Periksa setiap gang yang ada! Dia pasti belum jauh."
Suara orang-orang yang mengejar itu semakin dekat. Mereka berada di mulut suatu gang di antara sela-sela bangunan itu, tepatnya adalah gang yang digunakan Berlin bersembunyi.
Mendengar suara langkah mereka semakin mendekat, Berlin segera beranjak pergi dari tempat persembunyiannya. Meskipun dengan langkah tertatih, dirinya tetap saja berusaha untuk terus melarikan diri dari kejaran komplotan bersenjata itu.
TAP ... TAP ... TAP ...!!!
Dengan langkah tertatih dan luka yang berdarah-darah, Berlin terus berjalan di jalanan gang yang sempit itu sembari berharap agar dirinya dapat menjauh dari komplotan itu.
Namun langkah Berlin tiba-tiba dan secara terpaksa harus terhenti karena suatu hal yakni, "celaka, jalan buntu?!"
__ADS_1
Hanya ada satu jalan yang dapat dilalui oleh Berlin, yaitu jalan yang ia lewati sebelumnya atau dengan kata lain dirinya harus putar balik. Namun dengan begitu, dirinya juga harus terpaksa menghadapi komplotan bersenjata yang masih mengejarnya tepat di belakang.
Mengetahui kedatangan komplotan pengejar semakin mendekat. Berlin mengambil posisi bersembunyi di balik dari sebuah sela-sela dinding kecil yang ada tak jauh di sana. Di dekatnya juga terdapat banyak sekali peranti-peranti seperti beberapa kotak kayu dan kardus yang bertumpuk.
"Tadi dia mengarah ke sini, masa menghilang begitu saja?"
"Itu tidak mungkin sekali."
"Cepat cari dia! Dan aku mau kalian tangkap dia hidup-hidup, kita memerlukannya!"
Suara-suara percakapan orang-orang itu semakin terdengar jelas, yang artinya mereka semakin mendekat. Berlin sepertinya tak mau pasrah begitu saja, meskipun dirinya tahu bahwa posisinya saat ini sangat dirugikan. Tanpa adanya senjata dan alat komunikasi, sedangkan komplotan itu bersenjata dan jumlah mereka yang lebih banyak darinya.
Berlin memejamkan matanya sejenak, dan secara tiba-tiba dirinya terbayang-bayang oleh sosok Nadia, serta anak kecil bernama Akira yang telah ia buatkan sebuah janji sebelum akhirnya pergi dari panti asuhan itu dan berpisah dengannya.
*
Flashback ON, beberapa waktu sebelumnya.
"Di luar sana masih banyak orang jahat yang harus papa atasi, dan Akira tahu sendiri kalau itu adalah hal yang berbahaya. Papa mau Akira ikut sama Bunda Helena dan Kak Alana untuk sementara, nanti setelah semuanya selesai ... Papa akan temui Akira lagi, ya?"
Dengan sedikit penjelasan seperti itu, tampaknya anak itu paham. Akira yang sebelumnya mengalihkan pandangannya dari Berlin sembari menaruh dagunya pada bahu kiri pria itu, kini mulai beralih untuk menatap wajah sosok pria yang ia panggil sebagai 'Papa' baginya.
"Papa janji ...?" ucap Akira dengan kedua mata besar miliknya yang sungguh lucu.
Berlin tersenyum, wajahnya begitu dekat dengan wajah gadis itu, "janji!" ucapnya.
Flashback OFF.
*
Berlin perlahan membuka kembali kedua matanya sembari bergumam, "ini bukanlah akhir, bahkan mungkin aku belum memulainya," ucapnya dengan sendiri, yang tiba-tiba teringat soal rencana-rencana kedepannya dengan Nadia dan Akira setelah kekacauan ini reda bahkan selesai.
__ADS_1
.
Bersambung.