Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Memilih Orang Kepercayaan #68


__ADS_3

Krikk ... Krikk ... Krikk ...!!!


Kesunyian malam yang begitu tenang di Pulau La Luna. Udara dingin laut terasa cukup merasuk ke tulang. Prime mendapatkan sebuah laporan penting dari rekan satu regunya yaitu Flix. Laporan itu mengenai pergerakan Clone Nostra di pulau.


"Apakah kau serius dengan yang kau katakan?" tanya Prime. Flix menemuinya di tenda pertemuan yang cukup besar. Di sana Flix melaporkan hasil patroli dan berjaganya kepada Prime.


"Ya, aku tidak main-main dengan yang ku katakan ini." Flix membentangkan sebuah kertas yang berupa peta pulau di atas sebuah meja.


"Beberapa dari mereka terpantau mengisi beberapa titik perbukitan yang menjadi posisi paling krusial dalam jangkauan kita. Mereka juga terlihat bersenjata lengkap, dan terindikasi sedang melakukan pantauan terhadap kamp milik kita saat ini."


Flix melaporkan hal tersebut sembari menunjuk beberapa posisi yang ia sebutkan pada peta yang terbentang di atas meja. Mendengar laporan ini, Prime tertegun dan terdiam membisu karena mengetahui risiko dan bahaya yang sangat tinggi ini.


"Berapa jumlah mereka?" tanya Prime duduk di sebuah kursi kayu.


"Yang terpantau hanya ada 30 orang bersenjata, namun ku yakin ada lebih dari itu ... mungkin dua sampai tiga kali lipatnya." Flix menjawab pertanyaan itu, dan kembali membuat Prime terdiam.


30 orang?! Tentu jumlah yang sangat tidak sebanding dengan regu milik Prime yang hanya terdiri dari 14 personel terlatih termasuk dirinya.


"Aku menyarankan agar kita untuk segera mundur dan kembali ke kota, Pak." Flix mengutarakan sarannya, namun langsung dibantah oleh Prime, "tidak bisa, kita mendapatkan tugas baru dari Garwig," ucapnya.


"Nicolaus berada di sebuah vila di pulau ini, dan Berlin beserta Ashgard berniat untuk menemuinya. Dan kita ... mendapatkan tugas untuk membantu Ashgard sekaligus mengawasi Garwig," lanjut Prime.


"Berlin?! Apa tujuannya menemuinya?" tanya Flix penasaran dan sedikit terheran dengan niat Berlin.


"Aku tidak tahu, Garwig bilang ada masalah internal antara Berlin dan Nicolaus," jawab Prime. "Yang jelas kita mendapat tugas baru," lanjutnya.


Mendengar hal itu adalah tugas dari atasannya, Flix tidak bisa membantahnya. Ia hanya ingin mengingatkan beberapa hal dengan berkata, "baiklah jika seperti itu. Apa rencanamu kedepannya, Pak? Tentu keselamatan rekan-rekan juga dipertaruhkan dalam misi ini. Dan apakah persediaan kita cukup?"

__ADS_1


"Kurasa cukup, dan semoga saja cukup." Prime menjawab soal persediaan itu sembari melirik ke sebuah papan catatan yang tergeletak di pinggir meja.


***


Di keesokan harinya, tepatnya berada di Penjara Federal. Berlin mengunjungi seseorang yang cukup berharga baginya, meskipun seseorang itu pernah menjadi sosok musuh baginya dan juga pernah meneror serta melukai istrinya yaitu Nadia.


Ya, seseorang yang ia temui adalah Carlos Gates Matrix. Orang yang pernah menjadi petinggi dari Mafioso, dan orang yang pernah memiliki niat untuk membunuh Berlin. Namun meski begitu Carlos tetaplah saudara Berlin, walau tak sedarah namun mereka berdua tetap lahir dan berasal dari keluarga yang sama.


"Bagaimana kabarmu, Carlos? Lama tak jumpa, ya?" ucap Berlin menemui Carlos di ruang khusus pertemuan antara tamu dan narapidana. Di dalam ruangan tersebut terdapat empat penjaga atau sipir penjara di masing-masing sudut ruangan yang menjaga serta mengawasi Carlos.


"Yah ... seperti yang kau ketahui, keras dan dinginnya penjara itu seperti apa. Memang sangat tidak nyaman, tetapi lama-kelamaan juga terbiasa." Carlos menjawab dan terlihat lebih mudah untuk tersenyum dibandingkan dirinya yang dahulu. Namun sikap dan intonasinya ketika berbicara masih saja terkesan dingin.


"Bagaimana dengan dirimu dan juga keluargamu, Berlin? Kabar baik, 'kan?" tanya Carlos menatap Berlin yang duduk tepat di hadapannya.


Berlin mengulas sedikit senyumnya dan kemudian menjawab, "baik."


Belum selang beberapa detik setelah Berlin menjawab pertanyaan itu. Carlos kembali bertanya, "bagaimana dengan Nadia? Selama ini dia bahagia, 'kan?!" tanyanya dengan tatapan tulus begitu ingin tahu kepada Berlin.


Tampaknya Carlos masih menyimpan rasa bersalah yang sangat dalam kepada Nadia. Dirinya pernah membuat wanita yang ia sukai itu terluka di saat insiden kekacauan Mafioso, bahkan sempat membahayakan nyawa wanita itu akibat keegoisan hatinya.


"Kau masih memikirkan kejadian yang sudah berlalu?" tanya Berlin menghela napas.


"Aku belum sempat mengucapkan permintaan maaf padanya secara langsung atas kejadian itu," jawab Carlos dengan pandangan yang masih tertunduk.


"Kurasa sebelum kau mengucapkan permintaan maaf padanya secara langsung, dia sudah lebih dahulu memaafkan mu, Carlos. Bahkan dia sudah melupakan kejadian itu," ucap Berlin.


"Aku benar-benar merasa bersalah karena telah membuat wanita sebaik dirinya terluka dan trauma atas tindakan serta keegoisan ku. Aku masih tidak bisa melupakan kejadian-kejadian itu."

__ADS_1


"Aku juga ... lagi dan lagi berterima kasih padamu, Berlin. Padahal ... waktu itu ... kau memiliki kesempatan untuk bisa membunuhku di sana. Tetapi ... justru kau malah tidak melakukannya."


Carlos benar-benar telah berubah semenjak mendekam di penjara, bahkan sikapnya ketika berbicara tidak seperti dahulu yang terkesan dingin dan acuh tak acuh.


"Aku tidak melakukannya karena kau adalah saudaraku, Carlos. Meskipun kita tidak sedarah, namun kita tetaplah satu keluarga. Dan meski niatku memang benar sangat ingin membunuhmu kala itu, tetapi hatiku menentang keputusan tersebut," sahut Berlin menatap saudara laki-lakinya dengan serius.


Carlos sedikit tersenyum dan berkata, "maafkan aku sekali lagi, aku belum bisa membalas kebaikanmu kala itu, Berlin."


Di tengah pembicaraan itu, salah satu sipir penjara mendekati keduanya dan memberitahukan bahwa waktu pertemuan mereka tersisa lima menit lagi. Dalam sisa waktu yang cukup singkat ini, Berlin tidak ingin berbasa-basi lagi mengenai tujuannya menemui sang saudara.


"Carlos, sebenarnya ada suatu alasan yang membuatku datang menemuimu hari ini." Dengan tatapan yang sangat serius, Berlin berbicara sembari mengatupkan kedua tangannya di atas meja.


"Aku ingin ... memohon sedikit kerjasama denganmu," lanjutnya dengan nada sedikit berbisik.


***


Setelah selesai membuat pertemuan dengan saudaranya yaitu Carlos. Pada sore harinya, Berlin membuat pertemuan dengan seorang anggota polisi wanita di Kediaman Gates. Tentu pada pertemuan ini dirinya tidak sendiri, terdapat orang ketiga yaitu Prawira yang berperan sebagai petinggi kepolisian.


Polisi wanita itu rupanya adalah Siska, orang yang memiliki kedekatan dengan Nadia. Ia terlihat cukup kebingungan dengan Berlin yang memintanya untuk bertemu di sini. Apalagi Berlin juga mengikutsertakan Prawira pada pertemuan ini.


"Ada apa, Berlin? Apakah ada yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Siska kepada Berlin yang duduk di sebuah single sofa, sedangkan di sampingnya terdapat Prawira.


"Ya, aku ingin memohon bantuan dan sedikit kerjasama padamu, Siska." Tanpa basa-basi, Berlin langsung menjawab pada inti dari tujuannya di sini.


Bantuan? Kerjasama? Siska terlihat bingung dengan hal itu, namun tidak dengan Prawira. Sebelum Berlin bertemu dan berbicara dengan Siska di sini, dirinya sudah lebih dahulu berbicara dengan Prawira serta menyampaikan tujuannya menemui salah satu anggota polisi terbaik itu.


"Aku membutuhkan mu ... sebagai orang yang dekat dengan Nadia, aku butuh seseorang yang dapat menemani sekaligus menjaganya selama aku pergi."

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2