
Siang hari yang cerah, Kantor Polisi Pusat.
"Ashgard sudah berangkat tepat pagi tadi, dan kini sudah berada di pulau bergabung dengan regu milik Prime." Netty memberikan laporan informasi tersebut kepada Prawira di ruang kerjanya.
Prawira terlihat sedang sangat sibuk dengan beberapa dokumen di atas meja kerjanya. Ia menghela napas dan bersandar pada sandaran kursinya dan berkata, "benar-benar sudah berangkat, ya? Apakah dia meninggalkan pesan?"
"Ya, tepat sebelum berangkat, Berlin meninggalkan pesan untuk anda melalui Garwig, Pak." Netty kemudian menyerahkan secarik kertas kepada Prawira.
Prawira menerima dan lalu membaca isi dari secarik surat yang ia terima. Pesan yang tertulis pada secarik kertas itu cukuplah singkat, dan mudah untuk dipahami. Isi pesan tersebut bertuliskan, "apapun yang terjadi padaku di pulau, aku percayakan Siska untuk menjaganya. Namun jika aku tidak kembali, atau terjadi sesuatu yang buruk padaku, maka aku sangat memohon padamu untuk juga ikut menjaganya. Terima kasih."
"Kau bicara apa, sih, Berlin?" gumam Prawira menggelengkan kepala dengan sendirinya setelah membaca surat itu.
Prawira meletakkan kembali secarik kertas itu di atas mejanya, dan bertanya mengenai Clone Nostra kepada Netty. "Bagaimana perkembangan kita mengenai Clone Nostra?" tanyanya.
"Kami berhasil mengindikasi adanya pergerakan dari Clone Nostra, namun tidak hanya pada satu wilayah saja. Paletown, Shandy Shell, dan Kota Metro, kami mengindikasi adanya pergerakan mereka di ketiga wilayah ini, dan pergerakan mereka cukup massive namun masih sulit untuk diterka apa tujuannya."
Mendengar jawaban yang keluar dari mulut Netty, membuat Prawira berpikir mengenai pengambilan keputusan apa yang harus ia ambil. Pihak kepolisian masih minim informasi, dan tidak diketahui apa tujuan sebenarnya Clone Nostra.
"Apakah kepolisian Shandy Shell dan Paletown sudah mengetahui hal ini?" tanya Prawira menatap serius wanita yang saat ini masih berdiri di hadapannya.
"Sudah, pak." Netty menjawab dengan cukup singkat dan lugas.
"Hubungkan aku dengan pihak kepolisian Shandy Shell dan Paletown!" pinta Prawira dengan tegas.
"Baik!" sahut Netty kemudian segera beranjak pergi untuk melaksanakan perintah tersebut.
Prawira pun segera menghubungi pihaknya yang berada di kedua wilayah tersebut, dan membicarakan soal langkah serta keputusan yang akan ia ambil. Ia menggunakan sarana komunikasi jarak jauh melalui sebuah layar monitor di sebuah ruang pertemuan, dan membicarakan hal tersebut dengan rekan aparatnya yang berada di kedua wilayah itu.
***
__ADS_1
Dua jam berlalu sejak Prawira menghubungi pihaknya yang berada di kedua wilayah yang berbeda. Kepolisian yang dengan gencar melakukan patroli dengan tujuan mencari orang-orang Clone Nostra itu.
Prawira sendiri telah memutuskan untuk segera mencari dan meringkus orang-orang dari Clone Nostra yang telah berkeliaran. Meskipun dirinya belum tahu pasti apa tujuan dari Clone Nostra, tetapi untuk sementara ia tampaknya tidak begitu mempedulikan hal tersebut.
Kabar mengenai pergerakan dari pihak kepolisian yang sudah semakin massive ini sampai ke telinga Tokyo yang masih berada di pulau. Seorang informan yang sama kembali padanya dan menyampaikan mengenai kabar itu padanya.
"Kepolisian Metro sudah bergerak, ya?" Tokyo sempat sedikit tertawa kecil dan kemudian tersenyum sini dengan sendirinya, "sepertinya ... ini akan menjadi hal yang seru," lanjutnya.
"Beritahu Farres untuk segera melakukan beberapa tindakan sesuai dengan rencana yang sudah ada!" pinta Tokyo kepada pria itu.
"Aku akan segera ke sana setelahnya," lanjutnya dan kemudian beranjak pergi begitu saja menuju ke gudang yang berada tepat di sebelah vila.
Dengan cepat pria itu melaksanakan perintah yang diberikan oleh Tokyo padanya. Hanya perlu dalam kurun waktu dua puluh lima menit, kabar dan pesan yang diperintahkan oleh Tokyo telah sampai ke telinga Farres.
Mendengar perintah yang mutlak dan tidak dapat ditolak itu. Farres langsung saja memberikan arahan kepada sebagian anak buahnya untuk melakukan sebuah aksi kriminal yang sudah direncanakan oleh Tokyo. Kehadiran Doma sangat membantunya untuk bisa terus mengkoordinasi dan memberikan arahan kepada seluruh anak buahnya yang berjumlah lebih dari seratus orang, dan kini mereka semua telah tersebar di berbagai penjuru.
"Mau lakukan hari ini dan siang ini juga?" tanya Doma menghampiri Farres yang tengah berdiri di tepi tebing dan memandangi ke arah Danau Shandy Shell yang berada cukup jauh darinya.
"Tokyo menyuruh kita untuk segera melakukan aksi rencana pertama kita, yang berarti adalah ..." Belum selesai Doma berbicara, Farres langsung menyambar dengan mengatakan, "ya, perampokan berskala besar."
"Dan sesaat setelahnya kita harus siap untuk segera mengeksekusi langkah selanjutnya yang sangat berdekatan dengan langkah awal," lanjutnya sembari menoleh dan menatap tajam pria berkulit sawo matang dan berpakaian rapi serba putih yang kini berada tepat di sampingnya.
"Dengan jumlah personel yang dapat menandingi satu batalion, kurasa kita bisa melaluinya tanpa adanya kendala dari para aparat itu. Apalagi kita juga memiliki kelompok aliansi yang berjumlah total lebih dari seratus orang," ucap Doma.
"Namun aku ragu kita dapat melaluinya tanpa ada kendala sama sekali. Kurasa kau benar, kendala kita bukanlah para aparat yang sudah pasti akan menjadi musuh kita kelak. Melainkan ... para penganggu dari luar kelompok kita yang tidak diprediksi kehadirannya, atau mungkin ... para penganggu dari dalam kita sendiri." Farres sedikit menyangkal pemikiran Doma yang menurutnya cukup naif.
"Dari dalam? Maksudmu ... penghianat?!" cetus Doma menoleh dan menatap tajam Farres di sampingnya.
Farres tersenyum tipis dan berkata, "aku senang kau cepat memahaminya, Dom," sembari memberikan lirikan santai saja kepada pria di sampingnya.
__ADS_1
"Jangan mencurigai aku begitu, kau tenang saja aku tidak seberani itu untuk melakukan sebuah penghianatan," celetuk Farres sembari menghela napas ketika mendapati lirikan Doma yang penuh dengan kecurigaan.
"Aku hanyalah ... seorang pengecut," lanjut Farres lalu melemparkan kembali tatapannya ke arah pemandangan alam di depannya.
"Lalu apa yang membuatmu berpikiran seperti itu?" tanya Dom sembari melipat kedua lengannya di atas dada.
"Ayolah, Dom. Jangan terlalu naif di dunia yang kejam ini," sahut Farres.
"Dalam sebuah organisasi ... kurasa wajar jika terjadi sebuah penghianatan. Semakin besar organisasi atau kelompok tersebut, maka semakin besar pula presentase terjadinya penghianatan."
"Maka menurutku wajar jika Ashgard begitu solid dan kompak, karena jumlah mereka tidak banyak dan lebih mudah untuk mengatur orang-orang yang sedikit seperti itu."
Farres memberikan jawaban mengenai pertanyaan Doma berdasarkan pemikirannya sendiri, dan mengutip Ashgard dalam jawabannya.
"Dan soal penghianatan yang mungkin saja bisa terjadi di dalam kelompok kita ini sudah dipikirkan oleh Tokyo jauh sebelum kita berhasil menguasai pulau," lanjutnya.
"Ternyata Tokyo telah memikirkan sampai soal penghianatan yang padahal belum tentu terjadi, ya? Aku justru tidak kepikiran," gumam Doma dengan pandangan sedikit tertunduk.
"Memberikan kepercayaan terhadap seseorang boleh saja, namun jangan sepenuhnya dan berlebihan. Karena kau tidak akan pernah tahu apa yang ada di dalam benak orang yang menerima kepercayaanmu itu," ucap Farres dengan intonasi bicara yang sangat serius kepada rekannya.
"Apalagi ketika kau memberikan kepercayaan itu kepada penjahat seperti kita-kita ini. Jika memang begitu, kau telah salah mempercayai orang, Dom," lanjutnya sembari melempar tatapan serius nan tajam terhadap rekannya.
Farres kembali membuang pandangannya dari hadapan rekannya dan kemudian berbicara lagi, "kau mungkin tidak akan mempercayaiku lagi setelah aku berkata seperti ini. Tetapi itu tidak masalah bagiku, karena aku ingin kau tidak terlalu naif terhadap rekan kriminalmu, dan agar kau dapat lebih waspada terhadap rekanmu sendiri, Dom."
Farres akhirnya mengakhiri obrolan yang menurutnya cukup berat itu setelah melihat Doma sedikit melamun dan berpikir. Dirinya mengalihkan pembicaraan pada perintah yang diberikan oleh Tokyo padanya.
"Sudahlah, lebih baik kita persiapan untuk menjalankan perintah Tokyo." Farres mengajak rekannya untuk kembali ke sebuah gudang besar yang tidak jauh dari tempatnya berada. Di dalam gudang tersebut terdapat banyak anak buahnya, dan juga berbagai perlengkapan persenjataan.
.
__ADS_1
Bersambung.