Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Mundur Sejenak #74


__ADS_3

Situasi kota pada petang menjelang malam ini benar-benar dibuat sangat rentan dengan adanya tiga kasus perampokan dalam waktu yang cukup singkat. Masyarakat berlindung di tempat-tempat aman dan nyaman, serta beberapa tempat krusial seperti rumah sakit, balaikota, dan beberapa tempat publik dijaga sangat ketat oleh pihak berwajib dengan persenjataan lengkap.


Untuk situasi perampokan yang terjadi di Bank Central Metro sedikit mereda, namun belum selesai. Para tawanan berhasil dibebaskan dan diselamatkan, tetapi beberapa lagi gagal untuk diselamatkan karena menjadi korban di antara baku tembak yang sempat terjadi. Beberapa warga sipil yang terluka berhasil dilarikan ke rumah sakit dan langsung mendapatkan perawatan intensif di sana.


Sedangkan perampokan yang terjadi di Shandy Shell dan Paletown belum juga reda. Pihak negosiator milik kepolisian masih memperjuangkan nyawa para sandera untuk diselamatkan. Untuk saat ini, kepolisian tidak ada pilihan lain selain menuruti apa yang menjadi keinginan para pelaku.


"Bagaimana status di sana?" Prawira bertanya kepada dua anggota negosiator yang berada di Paletown dan Shandy Shell


"Belum menemui titik terang," jawab negosiator yang berada di Shandy Shell.


"Masih sulit, pak," jawab negosiator yang berada di Paletown.


"Sementara kita coba kabulkan permintaan mereka, dan objektif kita adalah para tawanan itu selamat!" tegas Prawira.


Posisi Prawira saat ini berada di dalam dari sebuah mobil karavan milik polisi yang terparkir tidak jauh dari Bank Central Metro, tempat perampokan pertama terjadi. Dirinya benar-benar dibuat pusing, lantaran harus menangani tiga kasus yang sama namun dengan skala yang cukup besar dalam waktu yang bersamaan.


"Pak, rekan-rekan aparat telah siap, tinggal menunggu arahan!" seorang aparat dengan pakaian taktis serba hitam dengan perlengkapan senjata yang terlihat menyeramkan datang dan melapor kepada Prawira.


"Tahan terlebih dahulu sampai pada sandera di Shandy Shell dan Paletown berhasil diselamatkan!" sahut Prawira mempertegaskan hal tersebut.


"Baik, pak!"


Sampai saat ini, bagian dalam dari gedung yang ada di depan mobil karavan Prawira masih dikuasai oleh para pelaku. Prawira yakin kalau para pelaku di dalam sana dapat dengan mudah berkomunikasi dengan para pelaku yang sedang membuat kasus yang sama di dua wilayah lainnya. Maka dari itu dirinya tidak ingin mengambil risiko terlalu tinggi untuk melakukan eksekusi terhadap pelaku-pelaku di dalam sana. Karena dirinya berasumsi jika itu ia lakukan, maka nyawa para tawanan yang berada di dua wilayah yang berbeda itu bisa menjadi taruhannya.

__ADS_1


"Sialan!"


BraakK!!


Lagi-lagi Prawira menggebrak sebuah meja di dalam mobil karavan itu dengan cukup keras. Dirinya benar-benar dibuat kesal karena merasa sedang dipermainkan oleh Clone Nostra, lebih tepatnya kepolisian yang sedang dipermainkan.


"Maaf, pak. Jika saya boleh menyarankan, kita turuti permintaan salah satu pelaku yang menginginkan kita untuk tarik mundur." Netty berbicara dengan intonasi yang cukup lembut dan meminta maaf sebelumnya berbicara.


Memang salah satu dari pelaku ada yang meminta agar pihak kepolisian mundur dan mereka dapat melarikan diri begitu saja. Permintaan itu sempat diucap oleh salah satu pelaku di dalam sana ketika terjadi sebuah negosiasi sebelum para tawanan di dalam gedung itu berhasil di selamatkan.


"Jika terus seperti ini, kita dapat dengan mudah dipecah belah oleh mereka. Kita juga belum tahu apakah ada bagian dari mereka di luar dari kasus yang sedang terjadi ini, dan apa yang rencanakan oleh mereka selanjutnya," lanjut Netty yang kini berdiri dekat di sampingnya.


Prawira mulai memikirkan hal tersebut, dan kemudian menghubungi Garwig untuk mengusulkan saran dari Netty. Dirinya menggunakan ponsel miliknya untuk menghubungi Garwig.


Tetapi tampaknya saran tersebut sedikit ditolak oleh Garwig namun juga sedikit diterima. Sepertinya Garwig memiliki rencananya sendiri.


"Kita tidak akan mundur sepenuhnya. Setelah sandera aman, kita tabrak mereka yang ada di dalam!" ucap Prawira tampak cukup berambisi besar untuk segera memberikan pelajaran kepada orang-orang bersenjata yang ada di dalam gedung. Ia beranjak keluar dari mobil karavan dengan rompi dan perlengkapannya.


"Kau tunggu di sini saja, aku membutuhkanmu di sini!" ucap Prawira kepada Netty yang mengikutinya sampai pintu belakang mobil karavan.


"Berhati-hatilah, dan kembali dengan selamat!" sahut Netty dengan tatapan cemas itu.


Prawira berbalik dan tersenyum kepada wanita itu sembari berkata, "tentu aku akan berhati-hati," dan kemudian beranjak pergi ke arah di mana sudah ada para anggotanya yang berbaris di balik barikade mobil baja yang dibuat untuk menutupi dari pandangan dalam gedung.

__ADS_1


Para aparat yang berjumlah lebih dari tiga puluh orang itu tampak sudah siap berbaris di sana. Mereka hanya tinggal menunggu arahan selanjutnya dari Prawira. Tak hanya tiga puluh orang di sana yang Prawira siapkan, namun juga terdapat puluhan aparat juga yang bersiaga di barisan terluar perimeter yang siap masuk jika diperlukan.


Prawira memberikan koordinasi serta arahannya di hadapan para anggotanya. Dirinya menyusun rencana yang akan ia lakukan untuk menyergap masuk ke dalam gedung, dan kemudian mengambil alih kembali gedung itu serta meringkus para pelaku.


Namun sebelum rencana penyergapan itu dilakukan, Prawira memberikan arahan untuk mundur terlebih dahulu dan membuat para pelaku berpikir bahwa kepolisian menuruti keinginan mereka.


"Apapun yang terjadi, lumpuhkan mereka dan tangkap mereka hidup-hidup jika bisa! Utamakan keselamatan diri dan rekan-rekan kalian, dan jangan kembali jika ada rekan kalian yang tertinggal!" suara lantang Prawira menggelegar di depan para anggotanya. Dirinya benar-benar sangat mempertegas hal tersebut kepada rekan-rekan aparatnya.


Semua koordinasi dan pengarahan telah dilakukan dan selesai. Kini yang tersisa hanyalah masalah waktu, dirinya harus bersabar terlebih dahulu dan menunggu informasi lebih lanjut mengenai para tawanan yang ada di dua tempat kejadian yang lain.


***


Lima belas menit telah berlalu, dan waktu setempat menunjukkan pukul tujuh malam. Suasana malam yang sangat tenang diwarnai dengan situasi yang cukup mengerikan. Belum ada informasi lebih lanjut mengenai keberhasilan atau kegagalan tim negosiator untuk membebaskan sandera. Prawira masih menunggu informasi dari mereka, dan menjalankan rencananya.


Untuk sementara waktu, pihak kepolisian memilih untuk mundur dari lokasi kejadian sejauh beberapa blok sampai tidak dapat dilihat oleh para pelaku. Prawira dan unit-unit taktisnya telah bersiap di beberapa sudut gang dan gedung-gedung kota. Pihaknya sudah benar-benar siap untuk melakukan penyergapan mengarah gedung Bank Central Metro yang masih dikuasai oleh pelaku.


Helikopter milik kepolisian memberikan laporan bahwa terdapat lebih dari tiga puluh orang berada di dalam gedung. Mendengar laporan itu, Prawira dibuat cukup gemetaran. Karena dirinya tahu dan yakin bahwa jumlah itu tidak sampai lima persen dari total jumlah Clone Nostra.


"Izin memberikan laporan, pak. Sandera dari perampokan bank Shandy Shell dan juga Paletown telah berhasil diamankan, serta kami izin tarik mundur sejenak sesuai dengan permintaan para pelaku."


Laporan dari tim negosiator yang sudah ditunggu-tunggu sedari tadi pun akhirnya terdengar melalui radio komunikasi milik Prawira.


"Baik, semua bersiap di posisi!" pinta Prawira dengan intonasi bicara yang terdengar begitu tenang dan dingin kepada seluruh anggotanya yang akan terlibat melalui radio tersebut.

__ADS_1


.


Bersambung.


__ADS_2