
Peperangan dan baku tembak yang sempat mereda, kini kembali tersulut dan memanas. Dua kelompok yakni Cassano dan Red Rascals menyerang secara frontal dengan kekuatan yang tak bisa dipungkiri juga.
Dari jumlah personel yang mereka miliki dapat mengimbangi dan sebanding dengan jumlah personel yang dibawa oleh Garwig dan Prawira. Dari segi persenjataan pun juga tidak dapat diragukan.
Garwig kembali dibuat harus memutar otak untuk menghadapi apa yang terjadi kali ini. Dirinya tak menyangka akan mendapat serangan kejutan dari mereka, yang ternyata adalah kelompok aliansi milik Clone Nostra. Di sisi lain, dirinya menerima laporan mengenai menghilangnya dua petinggi dari Clone Nostra yakni Tokyo El Claunius dan Farres El Claunius.
"Pak, mereka terlalu banyak, sedangkan personel kita banyak yang terluka dan tidak dalam kondisi prima. Ini terlalu merugikan," ucap seorang aparat pria berseragam militer yang berlari menghampiri Garwig di halaman belakang.
"Hubungkan aku dengan markas pusat!" pinta Garwig kepada satu aparatnya itu.
Sebuah radio komunikasi yang berada di tas ransel yang dibawa oleh aparat itu pun digunakan Garwig untuk menghubungi markas pusat. Beberapa menit ia gunakan untuk menghubungi markas pusat, dan menambah sebuah rencana untuk mengatasi situasi darurat ini.
Sedangkan di dalam gedung, Berlin masih duduk di salah satu sudut aula dan belum melakukan sebuah tindakan apapun. Apalagi posisinya saat ini terkekang oleh dua pengawal baru atas perintah Garwig dan Prawira. Itu sudah cukup membuat dirinya risih seolah setiap gerak-gerik yang ia buat diawasi dan dijaga oleh Prime dan Flix.
"Bisakah kalian jangan terlalu serius begitu? Jujur saja aku sangat risih dengan keputusan dari atasan kalian," ucap Berlin, namun dirinya terlihat cukup patuh dengan Prawira dan Garwig.
"Sudahlah, Berlin. Ini juga demi kebaikan dirimu," sahut Kimmy sembari mengobati sebuah luka tembak di bahu kiri milik Adam. Ia tampaknya cukup setuju dengan perintah Garwig dan Prawira, karena dirinya tahu kalau Berlin itu adalah orang yang keras kepala dan biasanya gegabah.
"Ngomong-ngomong, seragam kalian keren juga jika dilihat dari dekat, ya ...?!" celetuk Aryo melirik setiap inci pada seragam yang dipakai oleh Prime dan Flix. Tak hanya seragam, ia juga tampaknya cukup tertarik dengan senapan serbu yang dibawa oleh keduanya.
__ADS_1
"Bos, kau baik-baik saja, 'kan?" tanya Sasha melihat Berlin yang hanya duduk bersandar pada dinding sembari memejamkan matanya.
Di kala di luar gedung itu tengah terjadi baku tembak yang hebat dengan aparat-aparat yang terus berusaha mempertahankan gedung. Ashgard justru memilih untuk tenang sejenak di dalam sana. Berdasarkan jumlah tentu Ashgard tidak ada apa-apanya dibandingkan oleh Cassano dan Red Rascals. Jadi Berlin memutuskan untuk diam sejenak bersama dengan rekan-rekannya di salah satu sudut aula utama gedung tersebut.
"Maafkan aku, kalian jadi ikut terjebak di sini," ucap Berlin kepada kelima rekannya yang tersisa dari total tiga belas anggota Ashgard.
Apa yang dikatakan oleh Berlin memang benar. Posisi mereka benar-benar terkunci di dalam gedung ini, dan di dalam konflik yang terjadi. Jika mereka keluar dari sana, maka sudah dipastikan mereka akan mati dengan Cassano dan Red Rascals yang tengah menyerang gedung. Namun bertahan pun sepertinya akan sulit, apalagi situasi Personel Gabungan cukup terdesak setelah beberapa dari mereka tumbang menjadi korban.
Aryo terkekeh kecil mendengar permintaan maaf itu dan berkata, "kau tidak perlu meminta maaf, bos. Kami sudah terbiasa dengan situasi yang seperti ini, dan sudah seharusnya kami terus berada di dekatmu."
"Ya, apapun yang terjadi kami akan melindungi, Berlin!" timpal Kimmy menatap ke arah Berlin sebelum kemudian mengulas senyuman padanya.
Prime dan Flix saling melirik setelah menyaksikan betapa solidnya orang-orang itu terhadap Berlin. Mereka berdua tahu bahwa pada awalnya dahulu Ashgard adalah kelompok kecil yang bergerak dalam kriminalitas. Namun mereka tidak menyangka dengan kepercayaan dan kesetiaan yang berhasil terbangun dalam kelompok tersebut.
"Bos, biasanya ... di saat-saat seperti ini ... kau selalu memiliki rencana-rencana dadakan dan mengejutkan. Apakah saat ini kepalamu benar-benar buntu soal itu?" celetuk Adam sesaat setelah Kimmy selesai membalutkan perban pada bahu kirinya. Ia tampaknya justru ingin memanas-manasi Berlin untuk mengambil sebuah keputusan.
Prime yang berdiri di depan Berlin melirik ke arah Flix yang berdiri tepat di sisinya, begitu pula dengan Flix yang melirik tajam ke arahnya. Seolah keduanya berkomunikasi melalui lirikan dan tatapan itu yang bertanya-tanya, "mereka mau ngapain?"
Berlin melirik tajam ke arah Adam yang tengah bersandar pada pilar di dekatnya, dan menjawab, "tidak ada rencana waras, hanya rencana gila yang terbesit dalam benak ku."
__ADS_1
"Rencana seperti apa itu?!" cetus Aryo mendekati Berlin dan menatap penasaran pria itu.
Prime kembali melirik ke arah Flix di sampingnya dan berbisik, "perasaanku tidak enak," kepadanya.
***
"Bagaimana? Apakah aku bisa melihat apa yang terjadi di luar sana?" cetus Tokyo menghampiri Farres yang duduk manis sembari sibuk dengan laptop miliknya di atas dari sebuah meja.
"Hei, perjanjian kita tidak seperti ini, ya! Kalau kau menentang perjanjian kontrak yang sudah dibuat, aku bis--"
DOR ...!!!
"Berisik! Lebih baik kau diam saja!" tegas Tokyo dengan intonasi pelan namun mengancam setelah melancarkan satu tembakan tepat di dinding samping kepala dari seseorang yang duduk terikat di belakangnya.
Rupanya seseorang tersebut adalah Boni Jackson, yang kini sepertinya menjadi tawanan pribadi dari Tokyo dan Farres. Berkat sosok Boni, dirinya bersama dengan Farres dapat menemukan dan masuk ke dalam sebuah ruangan khusus milik walikota. Dengan berada di ruangan tersebut, mereka tidak akan mudah dilacak oleh berbagai teknologi yang dimiliki oleh pihak kepolisian maupun militer.
"Mereka menyerang telak tempat ini, dan berhasil membuat para aparat itu bergelimpangan," ucap Farres setelah berhasil menampilkan sebuah rekaman gambar pada laptopnya yang ditangkap secara real time melalui beberapa kamera pengawas yang masih aktif di sudut-sudut area Gedung Balaikota.
Tokyo dapat menyaksikan dua kelompok aliansinya melakukan penyerangan secara frontal dan telak ke arah gedung putih tersebut. Senyuman licik pun terpampang jelas pada wajahnya setelah menyaksikan sepertinya rencana yang ia miliki berjalan semestinya.
__ADS_1
.
Bersambung.