Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Terima Kasih #92


__ADS_3

Pada pukul tiga lebih tiga puluh menit pagi, helikopter milik pihak medis mendarat di Pulau La Luna tepat waktu. Helikopter tersebut menjemput orang-orang yang terluka berat, dan kemudian terbang kembali membawa mereka yang terluka langsung ke Rumah Sakit Pusat untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.


Sedangkan Ashgard dan beberapa aparat lainnya akan menunggu jemputan kedua yang akan datang pada pukul empat pagi. Lagi-lagi hal yang membosankan bagi Berlin, yaitu dirinya harus menunggu. Namun untuk kali ini, dirinya dapat lebih lega daripada sebelumnya yang harus kepikiran soal rekan-rekannya yang terluka.


Suasana pagi buta yang begitu sunyi dan tenang. Angin laut berhembus cukup kencang ke darat, dan menerpa tubuh serta rambut hitam milik Berlin yang tengah terduduk di atas sebuah batang pohon yang tertidur. Kondisi langit saat ini benar-benar gelap gulita tanpa adanya bintang ataupun cahaya bulan yang bersinar.


Di tempat itu, Berlin tampak sedang menikmati suasana serta pemandangan pantai berpasir putih yang indah. Entah mengapa tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya untuk membawa Nadia ke tempat ini. Dirinya tahu betul bagaimana istrinya yang begitu suka dengan pemandangan alam.


"Permisi. Maaf, apakah aku boleh duduk dengan anda?" suara perempuan terdengar dari belakangnya, suara yang cukup asing di telinganya.


Ternyata perempuan itu adalah Luna yang tiba-tiba saja datang ke tempat yang sama dengan Berlin. Menyadari kehadiran orang lain di dekatnya, Berlin sedikit bergeser ke ujung kayu dan kemudian berkata, "tentu, silakan."


Dengan perlahan Luna duduk di sebelah Berlin, tentu dengan adanya jarak di antara mereka berdua. Angin yang berhembus kencang membuat rambutnya yang berwarna cokelat berkibar-kibar.


"Aku ingin berterima kasih dengan anda, dan juga dengan kalian semua. Berkat kalian, sebagian dari kami dapat bebas dari tirani orang-orang berbaju putih itu." Luna benar-benar terlihat tulus ketika berbicara dan berterima kasih kepada Berlin. Ia sedikit tertunduk dan berbicara dengan intonasi yang begitu lembut.


Namun Berlin hanya diam, karena dirinya tidak tahu harus berbicara apa. Apalagi memang tujuan awalnya datang ke pulau adalah untuk menghadapi Nicolaus, dan dirinya tidak memiliki niatan awal untuk menyelamatkan penduduk pulau dari tirani Clone Nostra di pulau itu.


"Aku juga berterima kasih kepada anda, karena telah menjaga dan membawa Mavi pulang dengan selamat," lanjut Luna menoleh dan menatap ke arah lelaki di sampingnya.


"Jika begitu, maka kau berterima kasih kepada orang yang salah. Berterima kasihlah kepada rekan-rekan ku bukan kepada diriku, karena mereka yang menjaga Mavi selama kami menjalankan aksi." Berlin menyela dan menyanggah apa yang dikatakan oleh Luna kepadanya.


Memang berdasarkan apa yang terjadi di lapangan, Berlin lebih terfokuskan kepada Nicolaus dibandingkan harus terus bersama dengan Mavi serta membebaskan para budak di sana.


"Ku dengar anda melakukan sesuatu yang gila selama aksi? Apakah itu benar?" cetus Luna tiba-tiba bertanya dengan kedua mata yang berbinar-binar penasaran.


Berlin tersenyum tipis mendengar pertanyaan itu. Sepertinya kabar mengenai tindakan-tindakan yang ia ambil selama aksi tersebar begitu cepat.

__ADS_1


"Aku memang orang yang gila dalam melakukan sebuah tindakan, jadi jangan tiru hal tersebut." Berlin menjawab dengan sikap dan nada bicara yang begitu tenang.


"Dan tolong jangan terlalu formal ketika berbicara, aku tidak begitu biasa mendengarnya," lanjut Berlin.


"Baiklah," perempuan itu tersenyum lebar ketika mendengar permintaan Berlin.


Berlin merasa suasana malam menjelang pagi di pulau memanglah sangat dingin, lebih dingin daripada suasana pagi di kediamannya sendiri. Ketenangan yang diwarnai dengan deru ombak yang tiada hentinya sudah bagaikan terapi batin bagi yang mendengar serta menikmati suasananya.


"Jadi ... an--maksudku ... kamu akan pulang setelah ini?" celetuk Luna sedikit kikuk karena mengubah gaya bicaranya yang awalnya formal menjadi non-formal sesuai dengan permintaan Berlin. Terlihat raut wajahnya cukup sedih karena mengetahui dirinya akan berpisah dengan orang-orang baru ini.


"Ya, kami hanya sedang menunggu penjemputan untuk dapat kembali ke kota," jawab Berlin dengan santainya.


"Apakah ... anda--kamu ... akan mengunjungi pulau ini lagi?" tanya Luna lagi, terlihat raut wajah yang seolah menyimpan harapan untuk lelaki itu kembali datang mengunjungi pulau.


Berlin menoleh dan menatap paras cantik milik perempuan itu sebelum kemudian menjawab, "pulau ini sangat menarik untuk dijadikan tempat berwisata, jadi kemungkinan besar aku akan mengunjungi pulau ini lagi."


"Tempat wisata, ya?" gumam Luna tersenyum dengan sendirinya. Wajahnya tampak begitu ceria, apalagi setelah mendengar jawaban Berlin.


"Mungkin kami akan membuat sebuah perombakan besar setelah semua permasalahan yang menimpa kami selama bertahun-tahun." Luna berbicara mengenai sebuah ide yang tiba-tiba terlintas dalam benaknya. Sebuah ide tentang rencana untuk merubah Pulau La Luna menjadi tempat yang ramah dan indah untuk dikunjungi berbagai wisatawan dari luar.


"Namun ... aku tidak yakin akan semudah itu," lanjut Luna tertunduk dan tiba-tiba memasang wajah pesimis.


"Mengapa kau berbicara seolah apa yang ingin kau lakukan tidak berhasil?" sahut Berlin bertanya.


"Bagaimana jika penjajah seperti orang-orang berpakaian putih itu datang lagi?" Luna menatap Berlin dengan penuh kekhawatiran sebelum kemudian ia kembali menundukkan wajahnya dan lanjut berkata, "kami tidak memiliki kuasa untuk melindungi semua yang ada di pulau ini."


"Kami bukanlah bagian dari sebuah negara ataupun wilayah yurisdiksi manapun. Dengan begitu, itu menjadikan posisi kami dan pulau ini menjadi tanah yang mungkin akan diincar oleh banyak pihak yang tidak bertanggung jawab."

__ADS_1


Berlin terdiam ketika mendengar kalimat-kalimat terakhir yang tercetus oleh lisan tipis milik Luna. Apa yang dikatakan oleh Luna sangatlah benar, dan hal itu mungkin menjadi salah satu alasan mengapa Clone Nostra sangat menguasai pulau.


"Mungkin ... jika boleh, aku ingin berusaha membantu persoalan itu," cetus Berlin.


"Maksud anda?" Luna terlihat bingung dengan maksud dari perkataan Berlin.


Berlin menoleh dan melihat ke arah perempuan itu lalu berkata, "aku punya kenalan dalam pemerintahan, yang mungkin dapat membantu kalian."


"Tentu aku tidak ingin tempat yang indah ini jatuh ke tangan yang salah, dan berakhir seperti dengan Clone Nostra lagi. Itu sangat disayangkan sekali," lanjut Berlin sedikit memandang ke bawah dan kemudian mengulas senyuman tipisnya.


"Jika aku bisa meminta, apakah anda mau menjadi orang yang mengelola pulau ini?" celetuk Luna yang tentunya membuat Berlin sangat terkejut dan geleng-geleng kepala.


"Pufftt ..!!" Berlin tertawa mendengar permintaan yang terdengar konyol baginya, "aku? Orang seperti diriku mengelola pulau ini? Jangan mengada-ada," ucapnya.


"Yang seharusnya mengelola pulau ini adalah kalian, orang atau penduduk asli pulau," lanjut Berlin tersenyum kepada Luna.


"Hehehe," Luna tertawa canggung setelah bertanya dan meminta hal yang tidak mungkin itu, "iya, sih. Anda benar," ucapnya kemudian.


"Terima kasih," lanjut Luna kembali mengucapkan kata 'terima kasih' kepada lelaki yang duduk di sampingnya.


"Untuk apa?" sahut spontan Berlin.


"Untuk segalanya," sahut Luna sembari mengulas senyuman manisnya ke arah Berlin.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2