
Nadia menceritakan semua apa yang ia dengar tentang kabar yang ia terima dari Helena kepada Berlin. Pria itu begitu saksama mendengarkan semua yang diceritakan oleh istrinya. Tak lupa, Berlin juga menyeka air mata yang membasahi pipi milik sang istri, sekaligus menenangkannya dengan sedikit pelukan.
Dengan lembut dan perlahan, Berlin mencium kening milik Nadia dan kemudian berkata, "aku paham situasinya, tetapi khawatirkan juga kondisi dirimu sendiri."
"Berlin, lakukan sesuatu ...!" pinta Nadia dengan tatapan berkaca-kaca dan sangat dekat pada wajah lelakinya.
"Aku ingin dan aku bisa pergi ke sana, sayang. Namun apakah kamu mengizinkanku?" sahut Berlin, yang langsung membuat Nadia terdiam sejenak.
Berlin tak lupa dengan janji yang sempat ia buat beberapa waktu yang lalu dengan istrinya. Maka dari itu, dirinya meminta izin tersebut kepada Nadia.
"Siska ... mungkin kita bisa bilang kepada Siska agar polisi ke sana--" ucapan Nadia terpotong dengan Berlin yang tiba-tiba berbicara, "aku tidak yakin polisi ke sana dan membawa mereka ke tempat aman."
Sontak ucapan tersebut cukup membuat Nadia tertegun, namun wanita itu terlihat tidak heran dengan sikap Berlin yang tampak tidak begitu percaya dengan kepolisian.
"Mengapa begitu ...?" tanya ibu hamil itu dengan tatapan cemasnya yang masih terlihat.
"Aku yakin kepolisian sedang sibuk saat ini, bahkan Prawira saja sulit dihubungi," jawab Berlin beranjak berdiri dan melangkah ke dekat jendela kamar. Tatapannya tidak dapat menyembunyikan rasa ketidak percayaannya terhadap instansi kepolisian.
Berlin kembali menoleh untuk menatap Nadia yang terlihat hanya diam seolah sedang berpikir. Dirinya kembali duduk tepat di samping istrinya, dan kemudian merangkulnya sembari berkata, "jika kamu mengizinkanku untuk pergi, maka aku akan pergi ke sana dan membawa mereka ke tempat aman."
Wanita itu tampak diam dan berpikir. Di detik ini tampaknya Nadia berada di titik bimbang. Dirinya memikirkan keselamatan Alana, Helena beserta anak-anak yang ada di panti asuhan, terutama Akira. Namun di sisi lain, ia juga memikirkan keselamatan suaminya yakni Berlin jika dirinya memberikan izin tersebut.
Tanpa harus mendengar kata-kata yang terucap melalui bibir manis milik sang istri, Berlin sudah lebih dahulu mengetahui serta memahami bagaimana perasaan wanitanya. Ekspresi serta kedua bola mata indah milik Nadia tidak dapat menyembunyikan hal tersebut.
"Jangan terlalu mengkhawatirkan diriku, kamu tahu sendiri kalau aku sudah banyak melewati hal-hal seperti ini," kata Berlin kemudian tersenyum dan sedikit berusaha untuk menghibur bumil itu.
Laki-laki itu lebih mendekatkan wajahnya untuk menatap paras cantik milik sang istri yang sedikit tertunduk sendu, dan kemudian berkata, "aku janji akan membawa Akira kembali dengan selamat," ucapnya dengan tatapan yang begitu mendalam pada kedua mata milik Nadia.
***
Setelah cukup lama, akhirnya Berlin mendapatkan izin dari Nadia untuk pergi ke Distrik Timur. Dirinya pun langsung menemui ketiga rekan kepercayaannya, dan mengumpulkan kembali rekan-rekannya untuk segera bergegas berangkat. Namun sebelum berangkat, Berlin berpamitan terlebih dahulu kepada istrinya di kamar rawat inap.
"Aku izin berangkat, ya?" ucap Berlin berpamitan kepada Nadia dengan intonasi yang sungguh lembut.
"Berhati-hatilah, dan kumohon bawa Akira kembali dengan selamat ...!" tatapan penuh dengan harapan sangat terlihat pada kedua mata milik Nadia.
"Itu pasti ...!" sahut Berlin sesaat setelah memberikan kecupan manisnya di kening milik sang istri. Namun Nadia secara tiba-tiba memeluk tubuh milik lelakinya dengan cukup erat.
Berlin tersenyum ketika calon ibu muda itu memeluk dirinya dengan cukup erat, "jangan khawatir, aku akan segera kembali bersama dengan Akira dan yang lainnya," ucapnya sembari membelai lembut wanitanya dan kemudian melepaskan pelukan tersebut.
__ADS_1
"Ingat untuk tetap utamakan kondisimu, ya ..!? Jangan terlalu pusing memikirkan sesuatu," lanjut Berlin ketika melepas pelukannya.
Nadia mengangguk pelan dan mencoba untuk tersenyum meskipun cukup berat untuk ia lakukan karena kekhawatirannya yang masih cukup mendalam. Namun dengan aura ketenangan yang Berlin tunjukkan, tampaknya cukup dapat membuat hati Nadia sedikit lebih tenang daripada sebelumnya.
Berlin menoleh ke arah jam dinding di ruangan yang menunjukkan pukul enam lebih lima menit. Sudah cukup lama, dan dirinya juga harus segera berangkat sebelum semuanya terlambat.
Tetapi ketika Berlin hendak melangkah pergi, salah satu tangannya tiba-tiba saja digenggam oleh Nadia dengan cukup erat seolah tidak menginginkan dirinya pergi. Tampaknya kebimbangan masih melanda hati Nadia yang sudah memberikan keputusan untuk mengizinkan Berlin pergi ke panti asuhan.
Berlin tersenyum sembari menoleh sembari menatap dalam-dalam wajah galau sang istri, dan kemudian....
CUP!
"Hmph--"
Nadia sangat terkejut dengan tindakan sang suami yang secara tiba-tiba membungkam bibir manisnya yang berwarna merah muda itu dengan sebuah ciuman.
Sesaat kemudian Berlin melepaskan ciumannya dan bertanya, "sudah merasa lebih baik?"
Bumil itu tidak dapat menyembunyikan paras cantiknya yang berhasil dibuat merona dengan tindakan yang dilakukan oleh lelakinya. Sedangkan Berlin sendiri tersenyum bahkan sempat tertawa kecil ketika melihat ekspresi yang imut baginya.
Nadia mengangguk menjawab pertanyaan dari lelakinya tanpa mengatakan sepatah katapun. Wajah tersipu itu berhasil membuatnya bungkam dan kehabisan kata-kata.
***
Pukul 06:05 pagi.
Garwig bersama dengan beberapa rekan militernya kini sedang berada dalam perjalanan menuju ke Gedung Balaikota dengan menggunakan mobil baja milik pihak militer. Dirinya beserta seluruh personelnya kini telah sangat siap untuk menghadapi segala situasi.
"Pak, laporan dari udara, terpantau banyak sekali orang-orang Clone Nostra di area kompleks elite sekitar Balaikota," ucap salah satu dari beberapa personel di dalam kendaraan perang itu.
"Jumlah?" sahut Garwig.
"Lebih dari lima puluh."
"Sudah dipastikan akan terjadi peperangan sesaat lagi, persiapkan diri kalian!" titah Garwig sembari mempersiapkan sebuah senapan serbu miliknya.
Terpantau satu batalion dari pihak Garwig tengah bergerak dari Pusat Kota mengarah ke Gedung Balaikota. Objektif mereka adalah mengambil alih gedung itu, dan mengamankan beberapa tawanan yang ditahan di sana.
Mereka bergerak dengan beberapa perlengkapan alutsista ringan yang dibawa oleh pihak militer milik Garwig. Tampaknya dirinya tidak ingin memberikan ampun kepada kelompok atau sindikat bernama Clone Nostra itu.
__ADS_1
"Kali ini tidak akan ku beri napas bagi kalian, Clone Nostra ...!" gumam Garwig dengan sendirinya. Tatapannya begitu ambisius dan membara.
...
Taman Kota.
"Sebagai pihak kita telah ikut bersama personel gabungan menuju ke Balaikota."
Seorang polisi terlihat sedang melaporkan hal tersebut kepada Prawira yang tengah berada di tenda rapat. Saat ini dirinya bersama dengan pihak kepolisian miliknya tengah menunggu saat yang tepat untuk bergerak, sesuai dengan rencana yang sebelumnya telah disusun oleh Garwig.
"Baik, kalian juga harus bersiap! Kita akan berangkat sesaat lagi," ucap Prawira sedikit menoleh ke belakang, dan kemudian mengalihkan kembali pandangannya mengarah ke sebuah peta besar yang terbentang di atas meja depannya.
Anggota polisi itupun beranjak pergi setelah memberikan hormatnya dan menerima izin dari Prawira untuk pergi.
*
Flashback ON, beberapa menit sebelumnya.
"Aku akan bergerak dan membuka serangan secara frontal dengan menyerang mereka di Gedung Balaikota. Sedangkan di saat yang bersamaan, Paletown akan kami ambil alih dengan beberapa regu yang sudah kami tempatkan di sana."
"Di saat itu juga, aku ingin pihakmu masuk sebagai gelombang kedua dan memperkuat barisan belakang kami."
Garwig berbicara di depan Prawira sembari menunjuk-nunjuk pada peta yang terbentang di atas meja itu. Rencana yang terdengar simpel dan klasik, namun Prawira memilih untuk mempercayainya.
Flashback OFF
*
Prawira mengingat singkat apa yang direncanakan oleh Garwig. Rencana yang begitu simpel dan terdengar sangat klasik. Namun Prawira yakin dengan keputusan yang telah dibuat oleh rekannya itu.
"Permisi, pak. Ini data informasi yang sebelumnya sempat anda inginkan, kami telah menemukan beberapa identitas dan nama yang terindikasi sebagai pendiri atau petinggi Clone Nostra."
Secara tiba-tiba Netty datang memasuki tendanya sembari membawa lampiran data-data informasi yang ia sebutkan. Prawira menerima lampiran tersebut dan membaca beberapa informasi termasuk identitas yang disebutkan.
"Tokyo El Claunius, Farres El Claunius, Doma El Claunius, Karina El Claunius." Keempat nama itu tertera jelas pada empat lembar kertas yang diberikan oleh Netty, beserta data-data diri mereka.
"Claunius, ya? Marga yang cukup asing," gumam Prawira mengerutkan dahinya.
.
__ADS_1
Bersambung.