
"Habisi mereka yang membangkang dan melawan! Jangan beri ampun!" titah Farres terdengar sangat lantang kepada seluruh personelnya.
Clone Nostra benar-benar mengendalikan segalanya. Tiga wilayah telah mereka dapatkan dan berhasil dikuasai, termasuk dengan Gedung Balaikota. Seluruh aparatur pemerintah beserta para aparat yang berjaga di gedung tersebut terpaksa menjadi tawanan mereka. Bagi mereka yang melawan dan tidak mengikuti perintah serta keinginan dari pihak Clone Nostra, maka mereka akan dihabisi ditempat tanpa ampun.
Berawal dari Gedung Balaikota dan area sekitarnya. Clone Nostra mulai berani untuk melebarkan sayap serta wilayah kekuasaannya. Mereka merambah ke arah Distrik Timur dan Distrik Barat serta mengambil alih wilayah tersebut, sebelum melakukan inisiasi terakhir yaitu menguasai Distrik Pusat.
Ambisi tersendiri bersumber dari Tokyo yang sangat ingin menguasai beberapa wilayah penting. Setelah Shandy Shell dan Paletown berhasil ia kuasai dalam sekejap. Sekarang giliran Kota Metro yang cukup sulit untuk ditaklukkan.
Sepertinya tidak hanya aparat saja yang melakukan perlawanan terhadap tindakan yang dibuat oleh Clone Nostra. Melainkan dari beberapa gelombang masyarakat turut memusuhi serta memberikan perlawanan mereka terhadap sindikat tersebut. Meskipun mereka tahu jika akhir dari nyawa mereka kemungkinan besar berada di tangan Clone Nostra yang tidak segan menghalalkan segala cara untuk menyingkirkan para pengganggu.
Di sisi lain, ada juga gelombang masyarakat yang takut terhadap invasi berskala besar yang dilakukan oleh Clone Nostra. Wajar bagi mereka menyimpan ketakutan tersebut, namun ketakutan itu mengantarkan mereka ke perbudakan yang tak lama kemudian dilakukan oleh pihak Clone Nostra terhadap beberapa masyarakat yang mereka tawan.
"Bos, sepertinya di timur lebih banyak anak-anak dibandingkan orang dewasa. Apakah kau ingin menjadikan mereka sebagai tawanan?" tanya seorang pria bernama Doma yang terlihat sangat tunduk kepada Tokyo.
"Lakukan saja! Jika mereka melawan, maka bunuh ditempat!" kata-kata itu langsung keluar dari mulut Tokyo tanpa adanya belas kasih sama sekali dari dalam hatinya ketika mengucap.
"Baik." Doma pun bergegas pergi dari hadapan Tokyo, dan melaksanakan apa yang pria itu perintahkan.
"Karina, bagaimana dengan pertemuan ku dengan'nya'? Apakah kau sudah menyiapkannya?" celetuk Tokyo seolah akan melakukan pertemuan dengan seseorang yang penting.
"Aku sudah mengaturnya, dan pertemuan itu akan dilakukan tepat pukul lima." Karina datang mendekatinya dari belakang dan kemudian memeluk pria itu dari belakang sembari menjawab pertanyaannya.
"Bagus, setelah pertemuan itu, kita dapat fokuskan seluruh kekuatan kita untuk menginvasi pusat kota," gumam Tokyo dengan sendirinya. Hati dan pikirannya kini telah dikuasai oleh niat jahat yang ingin menguasai segalanya. Ambisinya begitu membara ketika harus melawan para aparat apalagi pemerintah.
***
__ADS_1
"Prime, Berlin, dan semuanya. Terima kasih banyak atas segala bantuan serta usaha yang kalian berikan. Kami akan sangat menantikan kedatangan kalian kembali ke pulau ini." Mavi berbicara mewakili seluruh penduduk di desa itu.
Tepat pada pukul empat pagi, dua buah kapal milik militer bersandar di Pelabuhan Utara pulau. Ashgard beserta regu milik Prime telah berkemas dan siap untuk kembali ke kota.
Sebelum pergi meninggalkan pulau. Prime dan Berlin melangkah mendekat ke arah Mavi, dan kemudian berjabatan tangan dengan pria itu.
"Terima kasih kembali, karena telah menerima kami sepanjang kami di sini," ucap Prime kepada Mavi sembari mengulas senyumannya yang ramah.
"Aku juga berterima kasih pada kalian semua yang telah menghargai kehadiran Ashgard yang tiba-tiba datang ke sini. Secara personal, aku juga ingin berterima kasih padamu, Mavi. Karena tanpa peranmu, mungkin kami akan sangat kesulitan untuk mengetahui segala medan di pulau ini," ucap Berlin.
Luna melangkah dan berhenti tepat di sisi Mavi dengan wajah ceria namun juga bercampur dengan sedikit kesedihan ketika melihat ke arah Berlin yang telah berkemas.
"Anu! Ka-kami akan sangat menantikan kunjungan kalian ke pulau ini!" cetus Luna dengan sedikit canggung dan berbicara mengarah Berlin.
Berlin merasa senang setelah menerima banyaknya kata serta ucapan 'terima kasih' yang juga ditujukan padanya, karena di sisi lain ini adalah kali pertama sepanjang hidupnya menerima kata ucapan tersebut dari orang yang benar-benar tidak ia kenali.
...
Pukul 04:15 pagi, Lautan Lepas.
Beberapa saat kemudian, dan Berlin juga tidak ingin berlama-lama lagi. Ashgard sepenuhnya telah berada di atas kapal yang sudah perlahan berlabuh menjauh dari pelabuhan tersebut. Ashgard berada di kapal pertama, sedangkan regu aparat yang dipimpin oleh Prime berada di kapal kedua.
Angin laut berhembus begitu kencang, dan ombak awal hari yang tidak dapat tenang. Ombak lautan terus menghantam kapal dengan cukup keras, sehingga menyebabkan guncangan yang cukup besar.
Jujur saja, ini pengalaman pertama bagi Berlin terombang-ambing di tengah lautan. Pengalaman pertama yang sudah langsung dihadapkan dengan ombak yang sepertinya tidak cukup bersahabat.
__ADS_1
"Tenang saja, ketika matahari terbit ombaknya akan perlahan memelan," cetus Adam yang tiba-tiba berada di samping Berlin yang tengah memandangi lautan di dek atas kapal.
"Adam, bagaimana menurutmu?" cetus Berlin bertanya.
"Soal pengalaman naik kapal?" sahut Adam karena bingung dengan apa maksud yang dituju oleh pertanyaan tersebut.
Berlin menggelengkan kepalanya seraya menoleh dan menatap serius rekan kepercayaannya itu sebelum kemudian menjawab, "soal Clone Nostra."
Adam menghela napas sejenak dan kemudian berkata, "aku sudah mendengar beritanya dari Prime. Katanya Clone Nostra telah menguasai hampir keseluruhan yuridiksi wilayah pemerintah Metro."
"Jika memang apa yang terjadi di lapangan seperti itu, maka kekuatan mereka tidak diragukan lagi," lanjutnya.
Raut wajah yang dipenuhi dengan rasa khawatir dan gelisah yang tidak ada habisnya dapat disaksikan pada wajah tampan milik Berlin. Tidak ada henti-hentinya ia mengerutkan dahinya dan selalu terlihat memikirkan sesuatu.
"Tetapi jika memang itu yang terjadi, aku yakin pemerintah tidak akan diam saja. Bukankah seharusnya begitu?" cetus Adam.
"Ya, terakhir aku menghubungi Garwig, dia sedang mempersiapkan personel militer untuk menangani situasi," sahut Berlin namun menyimpan suatu kegelisahan serta keraguan tersendiri.
Kini di dalam benaknya, Berlin tidak dapat lepas untuk memikirkan bagaimana tentang kondisi istrinya yaitu Nadia. Apakah dia baik-baik saja? Dan apakah kini dia berada di tempat yang aman? Pertanyaan-pertanyaan itu selalu terlintas dalam pikirannya tanpa henti.
Tak hanya itu, Berlin juga memikirkan soal bagaimana keadaan orang-orang terdekatnya sekaligus menjadi orang yang berharga untuknya, yaitu Akira dan yang lainnya. Apakah mereka juga baik-baik saja? Dan apakah mereka saat ini berada di tempat yang aman?
"Setelah kita bersandar di pelabuhan. Apakah kau memiliki rencana? Dan ke mana kita akan pergi?" Adam bertanya demikian dengan tatapan serta mimik wajah yang begitu serius ke arah Berlin di sampingnya.
Berlin yang sebelumnya sedikit menunduk karena memikirkan beberapa hal itu, kini mengangkat kembali kepalanya dan kemudian menjawab, "aku ingin memastikan sesuatu," jawabnya dengan raut wajah dipenuhi kekhawatiran.
__ADS_1
.
Bersambung.