
Setelah bertemu dengan Berlin dan beberapa rekannya, serta telah mengetahui apa permasalahan yang saat ini sedang dihadapi oleh Ashgard. Garwig kembali ke meja kerjanya, berada di Gedung Balaikota, dan mulai melakukan apa yang seharusnya ia lakukan.
Beberapa orang dipanggil untuk menghadap kepada dirinya di ruangan tersebut. Satu-persatu orang masuk dan keluar dari ruangannya setelah mendapatkan beberapa perintah serta arahan darinya.
Beberapa waktu berlalu, dan rencana yang dimiliki oleh Garwig perlahan dikerjakan oleh orang-orang utusannya. Pria itu hanya duduk di balik meja kerjanya, dan memantau segala pergerakan yang dilakukan oleh orang-orang utusannya melalui beberapa perangkat yang ada di mejanya.
Setelah kurang lebih satu jam telah berlalu. Garwig melihat beberapa berita yang dibagikan di sosial media, dan juga disiarkan di televisi pada ruang kerjanya. Berita-berita yang diangkat perlahan mulai berubah, bukan lagi membahas soal Ashgard, melainkan membahas soal persidangan yang telah dilaksanakan kemarin serta hasilnya.
Tok ... Tok ...!
Pintu ruangan kembali diketuk oleh seseorang, sampai Garwig berkata, "masuk!"
Siska berjalan memasuki ruangan dengan membawakan sebuah kabar soal, "topik pemberitaan perlahan berhasil dialihkan, sesuai dengan rencana."
Garwig tersenyum dan berbicara, "bagus, terus lakukan hingga hari eksekusi Tokyo El Claunius tiba."
"Baik," jawab Siska menunduk patuh, kemudian segera kembali beranjak pergi dari ruangan tersebut.
Garwig mengambil sebuah ponsel miliknya yang tergeletak tepat di samping sebuah laptop di atas meja kerjanya, dan kemudian menghubungi Berlin untuk memberikan kabar baik ini.
__ADS_1
***
Pada sore hari ini Berlin berada di Kediaman Ashgard, terlihat sedang berbincang beberapa hal di ruang tengah. Tidak semua rekannya berkumpul pada saat ini, karena beberapa dari mereka ada yang asyik menikmati waktu libur yang diberikan. Dalam perbincangan tersebut, Berlin juga menyampaikan kepada rekan-rekannya mengenai topik pemberitaan yang perlahan sudah mulai teralihkan. Kabar mengenai hal tersebut ia terima langsung dari Garwig, dengan berbagai bukti yang dapat ia saksikan langsung melalui televisi ataupun sosial media.
Berita yang disiarkan di televisi ruang tengah telah berganti, tidak membahas apapun mengenai sekelompok orang dengan mantel hitam kemarin. Pengalihan topik pemberitaan dilakukan secara perlahan, dan hal itu dapat dirasakan oleh Berlin serta rekan-rekannya.
"Sepertinya permasalahan mulai teratasi dengan baik, sisanya tinggal kitanya saja yang harus bisa memanfaatkan sampai pemberitaan ini benar-benar tenggelam." Adam berbicara kepada beberapa rekannya yang hadir di ruang tengah itu.
"Ya, ingatkan mereka yang tidak ada di sini untuk tetap jangan sampai terlalu mencolok. Karena mau bagaimanapun juga, aku yakin para media tetap akan mencari tahu apapun itu tentang kita," ucap Berlin, seperti biasa dengan sikapnya yang begitu tenang.
"Kau juga harus berhati-hati, Berlin ...! Foto yang pertama kali tersebar di media meskipun dengan kualitas yang sangat buruk, namun menggambarkan jelas ciri-ciri serta perawakan dirimu." Kimmy beranjak berdiri dari duduknya di salah satu sofa panjang yang ada di ruang tengah, dan berbicara mengingatkan lelaki itu.
Setelah perbincangan singkat dengan rekan-rekannya, Berlin kemudian berpamitan dengan mereka sebelum akhirnya beranjak pergi dari kediaman tersebut, bersama dengan Adam tentunya. Lelaki itu melakukan perjalanan untuk kembali ke kediaman ternyamannya, dan berniat untuk melanjutkan waktu beristirahatnya.
Namun dalam perjalanan, Berlin mendapatkan sebuah pesan singkat dari rumah sakit, lebih tepatnya dari seorang dokter yang merawat serta menangani cedera kakinya. Dalam pesan singkat itu, Berlin mendapatkan perintah untuk kembali melakukan pemeriksaan, dan jadwal pemeriksaan akan dilakukan di kemudian hari.
Melihat adanya kabar yang bisa dibilang menjadi sebuah harapan baginya, apalagi Berlin sendiri sudah tidak terlalu nyaman dengan perban yang masih membalut di pergelangan kaki kanannya, dan harus berjalan menggunakan alat bantu seperti tongkat. Tentu dirinya ingin segera kembali normal, karena masih ada banyak rencana yang ingin ia lakukan bersama dengan istri dan juga putrinya. Apalagi Berlin sempat membuat beberapa janji untuk mengajak istri serta putrinya untuk pergi berlibur. Janji tersebut ia buat sudah sangat lama dan jauh sebelum peristiwa Pulau La Luna.
"Ada apa, Bos?" tanya Adam, terlihat cukup penasaran dengan pesan yang masuk pada ponsel milik Berlin.
__ADS_1
"Kabar untuk melakukan pemeriksaan, semoga saja ... aku segera diizinkan untuk berjalan dengan normal kembali," jawab Berlin.
Adam terlihat tersenyum senang dan juga tentunya mendoakan serta mengharapkan hal yang sama, "semoga! Pasti tidak akan lama lagi," ucapnya.
***
Penjara Federal, adalah tempat yang sangat ditakuti oleh kebanyakan pelaku tindak kriminal. Karena di dalam tempat itu, segala hukuman akan dilaksanakan, dan bermacam-macam pelaku kriminal mendekam serta menjalani hukuman mereka. Tentu orang-orang yang terkurung di dalamnya bukanlah orang biasa. Mereka adalah penjahat kelas kakap, dan tentu sangat berbahaya. Mereka adalah orang-orang yang sudah tidak memiliki hati nurani. Salah satu dari sekian banyaknya tahanan di tempat tersebut adalah Tokyo El Claunius.
Tokyo El Claunius, pria itu terlihat sedang mendekam di dalam sebuah sel tahanan yang berlapiskan beton tebal serta baja yang hampir mustahil untuk ditembus atau dihancurkan. Pria berbaju tahanan berwarna merah itu sedang menghabiskan sisa-sisa waktunya, karena dalam hitungan jam nyawanya akan dieksekusi oleh para eksekutor.
Namun meski kematian sudah berada di depan mata. Ekspresi serta tatapan Tokyo tidak berubah. Ekspresi wajah yang dingin namun menyimpan hasrat yang sungguh mengerikan masih saja terlihat, begitu pula dengan tatapannya yang tajam. Bahkan ketika ia mendengar hukuman yang ia terima di depan meja hijau, pria itu tidak berekspresi sama sekali, benar-benar datar dengan tatapannya yang terus saja tajam.
Seorang sipir penjara dengan pakaian taktis mendatangi selnya, dan membawakannya makan malam. Makanan yang dingin, di atas piring besi yang semakin mengurangi nafsu makan ketika melihatnya. Piring besi itu diletakkan tepat di dalam ruangan dan di depan pintu melalui sebuah celah kecil yang ada pada pintu baja tersebut.
Beberapa waktu telah berlalu, namun Tokyo masih tidak bereaksi. Pria itu hanya duduk di lantai menghadap dinding membelakangi pintu serta makan malamnya, dan tidak bergeming dari posisinya.
.
Bersambung.
__ADS_1