
"Asep sudah menjelaskannya padaku, jadi ... apa kau akan membicarakannya kepada kami?"
Di tengah Berlin sedang sendirian di ruang kerja miliknya yang berada di Markas Ashgard. Tiba-tiba ketiga rekan kepercayaannya masuk ke dalam ruangannya, dan Adam berbicara demikian di hadapan Berlin.
Asep sedikit tersenyum dan sedikit menunduk serta tertawa kecil sembari berkata, "maaf, Bos. Aku sudah memberitahu mereka, hehe."
"Menurutku kau benar-benar gila, Berlin. Apakah kau tidak memikirkan risikonya?" cetus Kimmy memasang muka terheran-heran bercampur sedikit khawatir.
Berlin menghela napas dan tidak bisa mengelak karena ternyata ketiga rekannya sudah tahu soal niat serta rencananya untuk pergi ke Pulau La Luna.
"Aku tahu, aku tahu semua risiko yang mungkin akan terjadi, bahkan aku juga tahu kalau aku bisa saja mati di sana." Berlin menjawab perkataan Kimmy dengan sikap yang terlihat tidak begitu memedulikan segala risiko tersebut.
Tentu melihat sikap acuh tak acuh terhadap segala bahaya yang mungkin akan terjadi, itu membuat Kimmy cukup kesal dan marah. Namun Adam menengahi keduanya dengan berkata, "Berlin, apa kau yakin dengan keputusan mu?"
"Kau tahu? Kami akan selalu mengikuti keputusan mu, apapun itu. Maka dari itu, apa kau sadar? Kau akan membawa rekan-rekan mu ke dalam situasi yang berbahaya."
Berlin hanya bisa terdiam ketika Adam berbicara. Apa yang dikatakan oleh Adam memang tidak salah, dan itu cukup untuk membuat Berlin membisu.
"Meski begitu, kurasa ... situasi itu yang mungkin teman-teman kita cari," sela Asep tiba-tiba.
"Ya ... mungkin ... itu ada benarnya," gumam Adam sedikit setuju dengan pendapat Asep yang tiba-tiba itu. "Yang terpenting, apapun keputusanmu, kami akan selalu mengikutinya, Berlin," lanjutnya.
"Kalau aku jadi dirimu, mungkin ... aku akan mengambil keputusan yang sama, yaitu menemui orang yang membunuh orang tuaku," gumam Kimmy sedikit tertunduk lalu menghela napas.
Berlin sedikit tersenyum dan merasa lega setelah mengetahui kalau teman-teman akan selalu mendukung segala keputusannya. Dirinya juga berterima kasih kepada Asep yang sudah membantunya untuk membicarakan dengan rekan-rekannya.
***
Gelapnya langit malam kembali menjelang. Situasi kota di malam ini dipenuhi dengan para aparat yang terus berpatroli, bahkan tempat-tempat 'malam' juga mereka datangi seolah sedang mencari sesuatu. Ya, sejak kejadian terakhir di pelabuhan beberapa waktu yang lalu. Pihak berwajib begitu waspada terhadap sindikat bernama Clone Nostra ini. Mereka benar-benar terlihat terus mencari di mana Clone Nostra berada di kota ini.
__ADS_1
Keberadaan Clone Nostra memang belum bisa dipastikan dan diketahui oleh Prawira dan pihaknya. Namun Prawira tidak ingin kecolongan lagi. Dirinya cukup berambisi untuk segera menemukan di mana Clone Nostra berada, jika memang kelompok itu sudah menyusup masuk. Akan tetapi, mencari sindikat besar itu sudah seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Sangat-sangat sulit.
"Wilayah Kota Metro, padang rerumputan Shandy Shell, dan area pegungungan serta pemukiman Paletown. Ketiganya sudah dalam jangkauan semua unit patroli kita. Helikopter pun juga sudah mengudara untuk menyisir setiap sudut kota."
Prawira menerima laporan itu langsung dari mulut Netty yang datang menghadapnya di ruang kerjanya. Sekertarisnya satu-satunya itu juga turut memberikan catatan laporan mengenai patroli para anggota sepanjang hari ini.
Di tengah Prawira sedang membaca-baca catatan itu. Tiba-tiba saja ponsel miliknya bergetar yang menandakan adanya pesan baru yang masuk.
"Berlin?"
Rupanya Berlin-lah sang pengirim pesan itu. Pesan itu berisikan tentang permintaan untuk bertemu secara non-formal. Berlin mengajaknya untuk bertemu di sebuah tempat yang menjadi saksi bisu berdirinya Keluarga Besar Gates. Ya, Kediaman Gates, Berlin memilih tempat itu untuk melakukan pertemuan dengannya.
"Netty, bisakah kau mengambil alih mejaku untuk sementara waktu?" tanya Prawira beranjak dari kursinya.
"Te-tentu, namun ... memangnya ada apa, Pak?" sahut Netty sedikit terkejut dengan perintah yang secara tiba-tiba itu. Dirinya juga memasang wajah sedikit bingung.
Ketika sampai di depan pintu, ia menghentikan langkahnya ketika melihat wajah Netty yang sedikit mengkhawatirkan dirinya.
"Tenang saja, aku akan bertemu dengan Berlin di kediaman keluarga. Tidak perlu cemas, hanya sebentar, kok!" ucapnya dengan sedikit menoleh untuk dapat melihat paras manis Netty yang masih berdiri diam di sana.
"Ba-baik!" sahut Netty sedikit kikuk seraya menundukkan kepalanya.
***
Prawira mengendarai mobil pribadinya menuju ke Kediaman Gates. Sepanjang perjalanan ia dapat menyaksikan betapa ramainya suasana kota pada malam hari ini. Banyak sekali masyarakat yang menghabiskan waktu luang mereka di malam hari ini. Suasana damai yang begitu indah di mana orang-orang tampak sibuk dengan aktivitas mereka masing-masing.
Ketika sampai di kediaman. Prawira cukup dibuat terkejut saat mendapati sebuah mobil Jeep hitam yang sangat tidak asing di matanya. Tak hanya mobil milik Berlin saja yang terparkir di halaman, namun juga terdapat satu buah mobil yang sangat ia kenal.
"Garwig?"
__ADS_1
Ya, mobil Jeep tersebut milik Garwig. Prawira sedikit heran mengapa juga ada Garwig yang datang, namun ia tidak begitu menghiraukan hal itu. Dirinya berjalan ke arah teras dan langsung saja masuk ke dalam kediaman.
"Akhirnya kau datang juga! Kami sudah menunggumu," celetuk Garwig menyambut kedatangan Prawira.
Prawira cukup dibuat terkejut dengan kehadiran Garwig yang sudah berada di ruang tamu itu bersama dengan Berlin. Dirinya tidak menduga Garwig juga ikut hadir di sini.
"Maaf meminta untuk bertemu dengan kalian secara tiba-tiba, dan aku yakin pasti ini cukup menyita waktu sibuk kalian," ujar Berlin setelah tahu kedua orang itu kini ada di hadapannya.
"Tidak masalah," sahut Prawira sembari memasang senyumnya.
"Jadi, ada yang ingin kau bicarakan, Berlin?" ucap Garwig.
"Aku ingin berbicara soal beberapa hal, salah satunya tentang Nicolaus."
Nicolaus? Tentu jawaban Berlin cukup membuat kedua orang penting di hadapannya bertanya-tanya, terutama Prawira. Ia menduga Berlin sudah mengetahui tentang potongan rekaman yang tersimpan dalam sebuah flashdisk yang dia temukan beberapa waktu yang lalu.
"Soal Nicolaus?" gumam Garwig.
"Ya, dan aku sangat berharap ... kalian tidak menyembunyikan sesuatu lagi dariku," jawaban Berlin cukup membuat Prawira dan Garwig tertegun ketika mendengarnya.
Garwig mengangguk dan sedikit mengulas senyumnya ketika mendengar hal tersebut. "Kurasa ... kami tidak bisa melakukan hal itu lagi kepadamu yang sudah dewasa ini, Berlin," ucapnya.
"Ya, dan maafkan kami karena sempat merahasiakan beberapa hal di belakangmu," timpal Prawira sedikit tertunduk dan cukup merasa bersalah di dalam hatinya.
Berlin hanya menghela napas mendengar apa yang diucap oleh dua pria itu. Meskipun kepercayaannya terhadap dua orang itu cukup berkurang. Namun dirinya tetap mencoba untuk percaya kepada perkataan mereka dengan alasan karena mereka adalah keluarganya.
.
Bersambung.
__ADS_1