Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Kesempatan Untuk Memperbaiki? #147


__ADS_3

Beberapa menit berlalu, bahkan sudah hampir satu jam lebih Berlin berbincang dengan Garwig. Dirinya menerima banyak informasi soal tawaran pekerjaan yang diberikan oleh Garwig padanya. Sebuah pekerjaan yang sepertinya akan memiliki peran yang sangat penting dalam keamanan nasional, dan tentunya sebuah pekerjaan yang tampaknya akan memiliki tanggung jawab yang besar. Namun lain dari tanggung jawab yang besar, upah atau gaji juga tentunya juga sangat besar. Tak hanya upah atau gaji yang ditawarkan, dalam pekerjaan yang ditawarkan juga memiliki beberapa jaminan mengenai kesehatan.


Garwig sangat berharap Berlin beserta rekan-rekannya mau dan menerima tawarannya. Namun, Berlin tampaknya masih berpikir-pikir sebelum membuat keputusan serta jawaban. Di sisi lain, dirinya juga harus membicarakan hal ini dengan teman-temannya terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan.


Setelah mendengar semua hal tentang pekerjaan yang ditawarkan oleh Garwig padanya. Berlin pun memberikan sebuah jawaban yang menggantung yakni dengan berkata, "aku belum bisa memutuskannya sekarang, Garwig."


Garwig menghela napas dengan terulas senyuman tipis di raut wajahnya mendengar jawaban tersebut, "baiklah, aku tahu dan aku paham, Berlin. Aku akan memberimu waktu," ucapnya, dan kemudian pembicaraan mengenai lowongan pekerjaan yang ditawarkan oleh Garwig telah menemui titik akhir.


Keheningan tercipta sejenak, sebelum kemudian Berlin berbicara, "Garwig, bisakah aku meminta tolong padamu?" ucapnya.


Berlin mengambil sebuah amplop berisikan surat yang ia tulis dengan tangannya sendiri dari dalam saku celananya, dan meletakkan surat tersebut di atas meja sembari berkata, "aku ingin mempercepat soal ini."


Garwig menerima amplop putih itu, dan kemudian membaca isi surat yang ditulis oleh Berlin, tentu dirinya membaca isi surat tersebut atas perizinan yang Berlin berikan.


"Apa kau yakin? Setelah aku menyetujui surat mu ini, dia akan bisa bebas dalam waktu tiga hari sembari menunggu putusan resmi pengadilan," ucap Garwig menerima dan telah membaca isi dari surat tersebut.


Berlin mengangguk, dirinya sangat serius atas keputusan yang ia tulis dalam surat itu. Tidak ada keraguan dalam dirinya, "ya, bisakah kau memprosesnya?" tanyanya.


Garwig tersenyum dan menjawab, "kau tahu siapa aku, 'kan? Jelas tentu saja aku bisa memprosesnya!"


"Terima kasih," sahut Berlin dengan senyuman yang tersungging.

__ADS_1


Merasa urusannya sudah selesai, dan pembicaraan dirinya dengan Garwig telah berada di titik akhir. Berlin pun memutuskan untuk segera pergi dari sana, ia memanggil kedua rekannya yang tampaknya tengah asyik memakan camilan roti bakar mereka di meja ujung.


"Bos manggil, tuh! Kayaknya udah selesai," celetuk Kimmy melirik ke arah Berlin yang duduk jauh darinya.


"Oh, ya? Oke, oke!" sahut Adam dengan mulut masih mengunyah makanan, dan kemudian langsung meminum habis segelas minuman sodanya dalam waktu yang cepat.


Kedua temannya itu segera sigap berjalan ke arah Berlin dengan langkah cepat. Kimmy sempat melirik ke arah Adam yang berjalan di sampingnya, dan dirinya melihat teman laki-lakinya itu masih sibuk mengunyah, "habisin yang ada di mulutmu!"


"Iwya, sawbar," jawab Adam, dan masih mengunyah. Namun ia akhirnya menelan makanannya.


"Kalian sudah kenyang?" celetuk Berlin bertanya kepada kedua rekannya. Sedangkan Garwig hanya tertawa mendengar pertanyaan tersebut, begitu pula dengan kedua rekannya yang kini berdiri tepat di sampingnya.


"Berlin, kau benar-benar tidak ingin memesan sesuatu? Mumpung aku yang traktir," tanya Garwig.


***


Prawira dan Carlos sempat berbicara dan bertanya banyak hal kepada Kibo Gates Hadi, sebelum kemudian mereka berdua meninggalkan sosok pria bernama Kibo itu di dalam ruangan interogasi yang dijaga sangat ketat oleh aparat taktis.


Keduanya berjalan menuju ke sebuah tanah lapang yang sangat luas di tengah-tengah Federal. Ketika berjalan melalui lahan yang terbuka dan sangat luas itu, Carlos tiba-tiba saja bertanya, "sebenarnya ... apa tujuan Berlin? Mengapa dia sampai memberiku tugas yang sangat membutuhkan kepercayaan tingkat tinggi?"


"Bukankah seharusnya dia tahu? Kalau aku adalah orang jahat yang bisa saja berbuat macam-macam seperti membunuh Nadia dan mengkhianati kontrak itu. Lagipula, setelah melakukan tindakan penghianat itu, aku masih bisa melarikan diri dan menjauh dari negara ini," lanjut Carlos.

__ADS_1


Carlos cukup dibuat terheran-heran oleh tindakan dan keputusan yang diambil atau dibuat oleh Berlin untuknya. Berlin memberinya tugas atau sebuah misi dengan kontrak tertulis di atas kertas. Misi atau tugasnya adalah melindungi sosok Nadia ketika situasu yang buruk dari yang terburuk terjadi, seperti contohnya adalah situasi penyerangan atau penjajahan yang dilakukan oleh Clone Nostra satu hari yang lalu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh laki-laki yang saat ini berjalan berdampingan dengannya tanpa sebuah borgol. Prawira dibuat tersenyum dan menjawab, "tetapi kau tidak melakukannya, bukan?" ucapnya dengan nada sedikit menyindir, dan liriknya yang tertuju kepada Carlos di sampingnya.


Carlos terdiam setelah mendengar apa yang dikatakan oleh Prawira, karena memang benar dirinya tak melakukan apa yang baru saja ia katakan.


"Iya, kau benar," jawab Carlos dengan nada dan sikap berbicara yang terdengar sungguh takzim.


Prawira hanya tersenyum sendiri mendengar jawaban dari Carlos. Dirinya merasa terdapat perubahan yang sangat besar dari dalam diri Carlos. Benar-benar tidak seperti Carlos di saat masih bersama dengan Mafioso dahulu.


"Carlos, jika kau bisa terbebas dari hukuman penjaramu. Apa yang ingin serta akan kau lakukan?" tanya Prawira.


Langkah Carlos tiba-tiba saja terhenti di tengah-tengah sebuah lapangan basket yang biasa digunakan untuk para narapidana berolahraga. Pertanyaan itu tampaknya membuat dirinya terdiam cukup lama di sana, di bawah cahaya mentari pagi yang begitu cerah meskipun cuacanya sedikit berawan.


Tanpa menatap sosok Prawira yang berdiri di sampingnya. Carlos menjawab pertanyaan itu dengan berkata, "jika ada kesempatan untuk itu, aku ingin memperbaiki kepercayaan dan hubungan yang telah ku rusak sebelumnya."


Setelah memberikan jawaban tersebut, Carlos berjalan pergi begitu saja meninggalkan Prawira yang masih berdiri tertegun di sana, sebelum kemudian sebuah senyuman tersungging pada wajah Prawira.


"Kurasa kau akan memiliki kesempatan itu, Carlos." Prawira bergumam dengan sendirinya, intonasi atau nada bicaranya tidak terlalu keras dan tidak dapat didengar oleh Carlos yang sudah beberapa langkah jauh di depannya, sebelum kemudian dirinya mengejar langkah laki-laki berbaju hitam itu.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2