
Berlin melangkah menaiki anak tangga, dan berjalan kembali menuju ke ruang kerjanya bersama dengan Asep. Dirinya telah menerima laporan mengenai pergerakan sebuah kelompok bernama Red Rascals di Area Pelabuhan. Berdasarkan laporan tersebut, Berlin menerima beberapa informasi dan bukti yang sepertinya penting. Karena selain laporan tertulis, dirinya juga menerima kiriman gambar yang dikirim dari salah satu rekannya yakni Bobi.
"Ada di mana Kimmy dan Adam saat ini?" tanya Berlin sembari berjalan, membuka pintu, dan masuk ke dalam ruang kerjanya bersama dengan Asep.
"Kimmy dan timnya terus mengikuti pergerakan mereka, sedangkan Adam dan timnya masih berkeliaran di Distrik Barat." Asep menjawab pertanyaan tersebut, masuk dan kemudian berdiri berhadapan dengan Berlin.
"Bisakah aku meminta radio komunikasi ku?" cetus Berlin.
Asep pun langsung mengambil sebuah radio komunikasi kecil yang ia simpan di dalam saku celana panjangnya, dan kemudian memberikannya kepada Berlin.
"Hubungi mereka untuk masuk ke frekuensi gabungan, ada sedikit arahan yang ingin aku berikan!" ucap Berlin sembari menerima radio tersebut, dan mengotak-atik untuk mengganti frekuensinya.
Asep menggunakan radio komunikasi miliknya untuk memberitahu Kimmy dan Adam yang berada di frekuensi radio lain. Tanpa membutuhkan waktu lama, rekan-rekannya langsung berpindah frekuensi dan masuk ke dalam frekuensi gabungan seperti apa yang diminta oleh Berlin.
"Apakah suaraku terdengar jelas?" ucap Berlin sembari menekan tombol bicara pada radio yang ia genggam.
"Jelas!"
"Aman."
Jawab rekan-rekannya yang sudah berada di dalam frekuensi radio yang sama.
Karena rekan-rekannya kini sudah terkumpul di dalam satu frekuensi yang sama, dan tidak ada kendala suara. Berlin pun langsung menyampaikan arahan yang ingin ia sampaikan.
"Baik, dengarkan!"
"Aku sudah menerima semua laporan dari kalian, dan aku sedikit tahu bagaimana situasi di sana, terutama di pelabuhan kota."
"Aku akan tunjuk empat orang yang akan terus memantau pergerakan mereka, sisanya tetap di lokasi dan posisi masing-masing dan bersiap jika memang terjadi sesuatu di luar rencana."
Situasi pada radio komunikasi tersebut benar-benar sunyi, selain hanya Berlin yang berbicara di sana. Sesuai dengan rencana yang tiba-tiba saja terlintas dalam benaknya. Berlin pun menunjuk empat orang yang akan menjadi satu tim penguntit.
"Adam, Kent, Bobi, Faris. Kalian berempat akan mengisi posisi Kimmy, sedangkan yang lainnya akan sedikit tarik mundur. Apakah sudah jelas?" ucap Berlin, hendak mengakhiri semua kalimatnya.
__ADS_1
"Jelas, bos," sahut Adam, suaranya terdengar jelas melalui radio tersebut.
"Komando tim akan ada di tangan Adam," lanjut Berlin, sebelum kemudian mengakhiri dan mematikan radio komunikasi setelah dirasa cukup dan selesai.
"Bos, apakah tidak apa dengan hanya mengirim empat orang?" tanya Asep, setelah melihat Berlin selesai dengan radio komunikasinya.
Berlin melangkah ke arah pintu dengan tongkatnya, dan berdiri di ambang pintu tersebut sembari menjawab, "empat orang cukup, lagipula ini misi pengintaian, bukan penyerangan," ucapnya sebelum kemudian beranjak pergi dari sana.
"Tetapi bukankah akan sangat berisiko untuk mereka berempat?" tanya Asep, segera menyusul langkah Berlin yang perlahan menuruni anak tangga.
"Maka dari itu aku meminta yang lain untuk tetap bersiaga di posisi mereka masing-masing. Aku tahu, dan aku tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan tanpa adanya antisipasi." Berlin menghentikan langkahnya ketika sudah menginjak lantai dasar, berbalik bada dan menjawab pertanyaan tersebut.
Berlin pun menatap serius rekannya itu dan kemudian berkata, "sepertinya aku butuh peranmu di balik komputer itu, aku ingin kau memindai beberapa kamera pengawas kepolisian yang tersebar di kota."
"Baik, serahkan saja padaku!" sahut Asep dengan kepala dan pandangan sedikit tertunduk, menerima perintah tersebut dan kemudian beranjak pergi kembali naik ke lantai dua untuk menuju ke ruang kerjanya.
"Apakah terjadi sesuatu?" suara Carlos tiba-tiba saja terdengar, melangkah masuk melalui pintu kaca belakang dengan sebuah lampiran kontrak di tangannya, dan kemudian langsung sampai di ruang tengah serta bertemu dengan Berlin yang berdiri di sisi ruangan tepat di bawah anak tangga.
Berlin melangkah menuju ke ruang tengah dan menjawab, "kami menemukan visual dari Red Rascals dan Clone Nostra."
"Ya, Kimmy melihat satu orang dari Clone Nostra di pelabuhan, dan dalam kondisi dikelilingi oleh orang-orang dari Red Rascals. Jika melihat atau mendengar deskripsi itu, apa pendapatmu?" jawab Berlin, menatap dan kemudian melemparkan pertanyaan kepada saudaranya.
Carlos bersandar pada sofa yang didudukinya dan kemudian menjawab, "sudah pasti mereka memiliki tujuan yang bisa berbahaya."
"Kau tahu soal persidangan yang akan datang, 'kan?" cetus Berlin, menatap tajam dan serius laki-laki yang duduk berhadapan dengan dirinya.
Carlos mengangguk pelan, "ya, persidangan Tokyo El Claunius, 'kan? Aku tahu itu akan dilaksanakan beberapa hari lagi."
"Lalu bagaimana menurutmu, apalagi dengan bukti bahwa Clone Nostra dan Red Rascals bertemu?" sahut Berlin, kembali menanyakan hal tersebut.
Carlos menghela napas dan menjawab, "sepertinya aku memikirkan apa yang kau pikirkan, Berlin."
"Mencurigai kalau pertemuan mereka pasti ada kaitannya dengan persidangan, 'kan?!" cetus kedua lelaki itu secara bersamaan dan spontan, seolah saling menebak pikiran satu sama lain.
__ADS_1
"Ya, kemungkinan ... tebakan itu bisa saja terjadi, namun bukankah itu terlalu cepat untuk menyimpulkan?" lanjut Carlos berbicara.
"Kau tidak salah, namun dengan bukti-bukti yang saat ini sudah kami dapatkan, presentase kemungkinan untuk ke sana cukuplah tinggi," jawab Berlin tidak ada sepersekian detik setelah Carlos selesai bertanya.
Keduanya sama-sama bersandar santai pada masing-masing sofa panjang yang mereka duduki. Dalam beberapa waktu, keheningan di antara keduanya pun kembali tercipta. Carlos beranjak meraih segelas air mineral miliknya yang sedari tadi tidak berpindah berada di atas meja kaca, dan kemudian meminumnya.
"Carlos, bagaimana dengan kontrak itu? Apakah kau sudah membuat keputusan?" tanya Berlin, mengambil topik pembicaraan sekaligus memastikan apakah lampiran kontrak yang ia berikan masih saja tidak dihiraukan.
Carlos meraih lampiran kontrak yang ia letakkan tepat di sampingnya, dan kemudian meletakkan lampiran tersebut tepat di atas meja kaca.
Berlin kemudian meraih lampiran kontrak itu, dan kemudian memeriksa halaman paling akhir serta kolom tanda tangan sang penerima kontrak. Kedua alisnya terangkat ketika memeriksa halaman terakhir, dan kemudian tersenyum tipis.
"Apakah benar ini keputusanmu, Carlos Gates?" tanya Berlin menatap santai dan menyebutkan nama lengkap asli saudara laki-lakinya, tanpa marga Matrix.
"Ya, itu keputusan ku, dan aku membuat keputusan tersebut berdasarkan keinginan diriku sendiri," jawab Carlos.
Berlin melihat sebuah tanda tangan di atas nama Carlos Gates pada halaman terakhir lampiran kontrak tersebut, yang berarti sosok Calros bersedia untuk bergabung dengan dirinya dan siap mematuhi segala aturan yang ada.
Berlin sempat tertawa kecil dan tersenyum senang ketika melihat tanda tangan saudaranya yang tertera jelas di sana.
"Baiklah, kalau begitu ... apakah kau siap menerima tugas pertamamu?" cetus Berlin, tersenyum tipis dan menatap serius laki-laki yang duduk berhadapan dengan dirinya.
"Tugas? Apa tugas tersebut?" sahut Carlos, terlihat cukup tegang setelah mendengar apa yang Berlin katakan.
Berlin kemudian tertawa kecil dan tersenyum tipis sembari berkata, "tenang saja, aku yakin kau bisa mengambil serta mengerjakan tugas yang akan ku berikan ini."
"Berdasarkan data yang ku miliki, ternyata ada beberapa hal yang menarik tentang dirimu, Carlos."
"Langsung saja katakan, apa tugasnya ...!" sahut Carlos, terlihat cukup tidak sabar untuk mendengar seperti apa tugas perdana yang akan ia terima.
"Aku membutuhkan informan, seorang informan yang dapat diandalkan."
.
__ADS_1
Bersambung.