Ashgard : Ambisi Dan Tujuan

Ashgard : Ambisi Dan Tujuan
Tersorot Media #146


__ADS_3

"Mau pesan sesuatu?" tanya Garwig menawarkan Berlin untuk memesan salah satu dari sekian menu yang ada di atas meja tersebut.


Berlin yang duduk di kursi roda itu tampaknya tidak begitu tertarik dengan tawaran yang diberikan padanya. Ia menggeleng dan mengatakan, "katakan saja apa yang ingin kau bicarakan denganku, Garwig ...!"


"Kau memang Berlin yang ku kenal, tidak mau berbasa-basi," gumam Garwig tersenyum.


Garwig mengatupkan kedua tangannya di atas meja, dan mulai berbicara empat mata dengan Berlin mengenai topik pembicaraan yang akan ia bahas. Meskipun tempat yang ia pilih adalah kantin, namun pada saat ini kantin tersebut lebih diramaikan oleh orang-orang atau anak buahnya.


"Berlin, apakah kau sudah mengetahui berita apa yang tengah viral saat ini?" tanya Garwig.


Dengan spontan Berlin menjawab, "berita soal walikota adalah penghianat, 'kan?"


"Ya, itu ada benarnya juga, sih. Namun ... sepertinya kau belum mengetahui ini, Berlin." Garwig mengambil sebuah koran yang ia simpan di balik jubah atau mantel yang ia gunakan.


Koran tersebut adalah koran terbaru yang baru saja diterbitkan pagi ini. Garwig meletakkan koran itu di atas meja, sehingga Berlin dapat melihat berita apa yang tengah ramai.


DEG.


Berlin tertegun dan terdiam, dirinya benar-benar dibuat sangat terkejut dengan berita yang ia baca dan ia lihat pada surat kabar yang diterbitkan pagi ini. Sesaat kemudian, tatapannya tajam dan serius mengarah kepada Garwig yang duduk bersebrangan dengannya.


"Kau tidak bercanda soal ini?" cetus Berlin bertanya dengan intonasi yang sangat serius.


Garwig menggelengkan kepalanya dan menjawab, "tidak, aku pun juga cukup dibuat kaget saat menerima berita ini untuk pertama kalinya."


"Namun memang apa yang kau lakukan kemarin adalah tindakan yang sangat nekat, dan sepertinya kau benar-benar telah menarik banyak perhatian, tak hanya perhatian para aparat di sana, Berlin."

__ADS_1


Berita yang tertulis dan tergambar pada halaman pertama koran tersebut adalah berita yang mengabarkan soal tindakan nekat yang diambil oleh Berlin kemarin. Potret atau foto Berlin bersama Kimmy dapat terlihat jelas di depan halaman Gedung Balaikota, dan tampak berdiri di belakang Tokyo yang tengah berlutut di depannya.


"Dan asal kau tahu, jalanan depan rumah sakit kini dipenuhi dengan wartawan yang tampaknya hendak mewawancarai dirimu, Berlin."


Apa yang dikatakan oleh Garwig memang benar. Kini jalanan tepat di depan rumah sakit sangat ramai akan wartawan. Hanya saja mereka tertahan dan tidak dapat masuk serta mendekat karena penjagaan dari aparat milik Garwig yang begitu ketat. Bahkan mereka juga dilarang untuk melakukan pemotretan ke arah kantin yang digunakan oleh Garwig untuk berbincang dengan Berlin.


"Aku tidak menyangka akan hal ini, namun aku tidak peduli," ucap Berlin dengan sikap dan intonasi yang terkesan dingin, sebelum kemudian melemparkan sebuah pertanyaan yakni, "apakah hanya itu yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Tidak," sahut Garwig dengan sedikit tegas, sebelum kemudian dirinya langsung berbicara pada topik utama yang ingin ia bicarakan dengan Berlin.


"Berlin, apa rencanamu untuk Ashgard setelah ini?" tanya Garwig dengan tatapan yang sungguh serius.


Berlin diam dengan pandangan sedikit tertunduk ke arah meja kosong itu. Tampaknya ia tengah berpikir untuk jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Garwig, dan sebelumnya belum terpikirkan sama sekali olehnya mengenai rencana selanjutnya untuk Ashgard.


Apakah Ashgard akan tetap menjadi sebuah kelompok kriminal dengan pendiriannya sendiri? Atau justru Berlin malah menyelesaikan kelompok yang ia bangun? Atau justru dirinya yang akan mengundurkan diri dari kelompok tersebut?


Dengan wajah sedikit bingung untuk menentukan. Berlin hanya menjawab, "aku tidak memiliki rencana apapun, untuk sementara semuanya ku biarkan mengalir saja seperti air."


"Baiklah ...! Namun bagaimana dengan dirimu sendiri, Berlin? Apa rencana untuk karirmu kedepannya?" sahut Garwig dan kemudian kembali menanyakan pertanyaan kepada Berlin.


Berlin kembali harus dibuat berpikir untuk menjawabnya. Namun tanpa berpikir lama, dirinya pun memberikan jawaban dengan berkata, "untuk soal itu ... aku belum bisa menentukan kedepannya aku akan mengambil pekerjaan apa. Tetapi yang jelas, aku akan melakukan apapun selama itu baik dan halal."


Garwig tersenyum mendengar jawaban tersebut, dan dirinya dapat melihat bahwa Berlin yang sekarang memang sudah benar-benar berubah dibandingkan dengan Berlin yang dahulu. Dalam hatinya sempat menebak, mungkin ini efek atau dampak dari kehadiran sosok Nadia dalam kehidupan Berlin.


"Kurasa aku bisa membantumu soal itu, Berlin. Tujuan awalku datang menemui dirimu adalah untuk menawarkan satu hal soal lowongan pekerjaan yang mungkin bisa kau ambil, atau lebih tepatnya ... mungkin bisa Ashgard ambil." Garwig berbicara dengan tatapan yang sangat serius kepada Berlin yang duduk di hadapannya.

__ADS_1


"Pekerjaan? Mengapa kau menawarkannya padaku?" sahut Berlin dengan tatapan tajamnya. Sebelumnya dirinya memang sempat mengambil sebuah tawaran pekerjaan untuk Ashgard dari Prawira. Namun peran Ashgard pada pekerjaan tersebut tampaknya tidak begitu diperhatikan, dan Berlin memutuskan untuk memberhentikan kontrak secara sepihak dengan pihak kepolisian.


"Aku menawarkannya padamu, karena memang aku butuh orang serta pihak yang dapat ku percayai dalam pekerjaan ini," jawab Garwig.


"Katakan, dan buatlah aku tertarik dengan tawaranmu!" sahut Berlin, tampaknya dirinya sangat serius dalam hal tersebut dan tidak ingin melewatkan satu informasi mengenai pekerjaan yang ditawarkan oleh Garwig padanya.


***


Di waktu yang sama namun di tempat yang berbeda. Prawira bersama dengan Carlos tampak sedang menemui seseorang dari pihak Cassano yakni Kibo Gates Hadi. Mereka berdua sepertinya sedang menginterogasi sosok pria dengan marga dari keluarga besar Gates itu di sebuah ruang interogasi.


"Kita bertemu lagi ya, Carlos." Kibo langsung menyapa kehadiran Carlos di ruangan tersebut.


"Ternyata kau masih sama seperti yang dahulu, ya? Masih keras kepala untuk setia dengan Nicolaus," sahut Carlos duduk di sebuah kursi kecil tepat di hadapan Kibo yang juga duduk di kursi.


Kibo adalah sosok pria yang menjadi tangan kanan atau orang kepercayaan Nicolaus ketika kelompok bernama Mafioso masih ada. Carlos sangat mengenal pria tersebut dari kelompok Mafioso itu.


"Kibo, kau benar-benar memalukan keluarga besar kita ...! Kau tahu konsekuensi atas semua tindakan yang kau lakukan, bukan? Aku tak perlu menjelaskannya, karena kau adalah mantan jenderal kepolisian, dan sudah semestinya kau tahu!"


Prawira benar-benar bersikap sangat tegas terhadap pria itu, apalagi sosok pria yang ada di hadapannya kini adalah mantan jenderal kepolisian pada masanya. Kibo Gates Hadi dan Bagas Gates Lacartus adalah dua petinggi kepolisian yang mendapat pemberhentian tanpa dengan hormat atas perintah Garwig, dan disetujui oleh Prawira karena telah bertindak melenceng dalam mendidik anggota serta dalam melaksanakan beberapa tugasnya.


Beberapa hari setelah pemberhentiannya, sosok pria bernama Kibo dan Bagas itu menghilang begitu saja. Tetapi Bagas dinyatakan tewas setelah peristiwa yang terjadi akibat ulah Mafioso, namun tidak dengan Kibo yang ternyata masih selamat.


Namun di detik ini, dan di kesempatan kali ini. Prawira tampak cukup berambisi untuk tidak melepaskan sosok Kibo yang bisa menjadi sosok yang sangat berbahaya. Dirinya akan segera menjatuhkan hukuman seberat-beratnya atas segala perbuatan yang dilakukan oleh Kibo.


.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2