Gadis Somplak Penakluk Hati CEO

Gadis Somplak Penakluk Hati CEO
eps 106


__ADS_3

Sayang apa sudah selesai, terus kita kemana ?" tanya Inge


"Kita akan masuk ke gedung itu, Karena mereka memang sudah menunggu kedatangan kita," jawab Devan


Saat mereka sampai di sana, sudah ada beberapa orang yang berbadan besar menghampiri mereka, mereka sepertinya suruhan Wira untuk menjemput mereka dan membewanya menuju ke ruangan yang telah di tentukan.


mereka tidak memeriksa Devan dan Inge, karena mereka pikir gak mungkin juga mereka mempunyai senjata, palingan hanya belati dan pisau saja. Mereka tidak terlalu khawatir akan itu karena mereka punya senjata api dan sekali tembak Devan dan Inge tidak dapat menggunakan pisaunya itu.


Devan dan Inge di tuntun menuju sebuah ruangan yang sedikit lebih besar dari ruangan lain, Sepertinya gedung itu memang masih di pakai buat memproduksi produk-produk milik perusahaan Wira.


Devan hanya tersenyum saat Wira menyambutnya layaknya teman.


"Akhirnya kamu datang juga Devan, saya sudah menunggu kamu dari tadi, tapi kenapa kamu bawa gadis kampungmu itu kemari," ucap wira sambil mengode ke arah orang-orangnya agar memisahkan Inge dari Devan.


Inge menurut saja apa yang di lakukan oleh mereka, kerena memang Devan sudah memperingatkannya agar mengikuti alurnya dulu.


"Apa yang Om mau, kenapa om menculik mama dan papa saya," tanya Devan seolah-olah dia lemah.


"Kamu pasti tau apa yang saya mau Devan, kamu harus membebaskan Angel dan menikahinya," ujar Wira


"Om punya urusan sama saya kenapa om bawa-bawa mama papa saya," tanya Devan


"Kalau tidak seperti ini kamu gak akan menuruti kemauan Angel untuk menikahinya." ujar Wira.


"Kenapa om begitu yakin kalau saya mau menikahi Angel karena om menyekap papa dan mama saya, kalau saya masih gak mau gimana," tanya Devan Santai, Wira sudah gerah dengan sikap Devan yang seolah-olah tidak ada khawatir-khawatirnya dengan keselamatan orang tuanya itu.


"Kalau kamu gak mau, saya akan menyiksa mereka," ujar Wira.


"Coba saja kalau Om bisa ," tantangnya


"Kamu menantang saya ?, jangan salahkan Saya kalau mereka tidak bernyawa lagi," ucapnya.


"Saya ingin melihat bagaimana om bisa membuat mereka tidak bernyawa, sedangkan mereka saja tidak di sini, jangan-jangan om hanya mempermainkan saya ya," ucap Devan santai.

__ADS_1


Wira sudah sangat emosi di remehkan oleh Devan begitu, bisa-bisanya dia di sepelekan oleh bocah itu.Dia pun mengambil ponselnya lalu menghubungi anak buahnya yang menjaga orang tuanya Devan di ruang bawah tanah.


Sudah dua kali Wira menelpon tapi tidak di angkat, dan yang ketiga kalinya baru di angkat.


"Ha...halo bos.."


"Kenapa sama suara kamu," tanya Wira mulai khawatir dengan apa yang di dengarnya.


"Kami di serang bos, dan tawanan sudah di bawa pergi oleh mereka," ujar orang yang di seberang telpon, Wira melihat ke arah Devan. Devan tersenyum mengejek kearahnya.


"Bunuh wanita itu," suruh Wira pada anak buahnya, tapi sebelum mereka bergerak, Inge sudah lebih dulu membalikkan keadaan, bukan dia lagi yang berada di bawah ancaman pisau tapi pria berbadan besar itu sudah di bawah ancaman Pistol yang berada di tangannya.


Ada tiga orang lagi berada di sana yang memegang senjata Api, mereka hendak menembak kearah Inge tapi Devan sudah lebih dulu menembak tangan mereka sehingga senjata di tangan mereka terlepas dan jatuh ke lantai.


Mereka meraung kesakitan terkena timah panas itu, sekarang giliran Wira yang ketakutan setengah mati. Dia tidak menyangka kalau Devan dan wanita itu bukan orang sembarangan.


Wira terduduk lemas di kursinya, Inge sudah mengikat para anak buahnya Wira di sebuah tiang yang ada di tengah-tengah gedung, dia kemudian berjalan menghampiri Devan dan duduk di pangkuannya.


"Biar aku saja sayang," ucap Inge lalu menghampiri Wira yang sudah gemeteran itu.


Devan tersenyum melihat tingkah kekasihnya itu sudah seperti aktris Film laga saja.


"Pak Wira yang terhormat, tadi kamu menyuruh kekasihku untuk membebaskan putrimu dan menikahinya dengan sangat berani, sekarang di mana keberanian mu itu," ucapnya lembut tapi menakutkan.


Inge mulai mengelus -ngelus wajah Wira dengan ujung pistolnya. Wira semakin takut hingga terkencing di celana.


"Se..sebenarnya si..siapa kamu se..sebenarnya ?" tanya Wira terbata-bata karena perlakuan Inge itu.


"Kan tadi kamu sudah bilang kalau aku ini gadis kampung, ya itulah kenyataannya," ujar Inge masih lembut. tapi bagi Wira malah melihatnya semakin seram.


"Sekarang kamu pilih mau masuk penjara atau rumah sakit atau ada satu pilihan lagi yang membuat kamu bisa istirahat tenang tanpa memikirkan masalah ini lagi," ucap Inge, Wira semakin ketakutan, Devan pun bergidik mendengar kata-kata lembut Inge tapi mematikan itu. Wira terdiam tidak bisa bicara apa-apa.


"Kenapa diam ," bentaknya. Wira kaget spontan menjawab

__ADS_1


"Masuk penjara ," ujarnya


"Kamu dengar kan sayang, pak Wira ini mau menemani putrinya di balik jeruji besi, tapi apa menurutmu itu pantas ?" tanya Inge pada Devan.


"Terserah kamu sayang, aku tau apa yang kamu putuskan adalah keputusan yang benar.


" Oke..sepertinya pak Wira ini pantas berada di sana, tapi..." Wira semakin tegang mendengar kata-kata gadis itu.


Duarr...


Inge menembak kaki sebelah kiri Wira sehingga Wira berteriak kesakitan terkena besi panas itu.


Devan kaget dengan apa yang di lakukan oleh kekasihnya itu. Dia meresa ngeri dengan kelakuan Inge yang sudah seperti psikopat saja.


"Sayang kenapa kamu menembak dia," tanya Devan gak menyangka akan hal itu.


"Abisnya aku kesal sih dia menyuruh kamu menikah sama si Angel-Angel itu, kan dia tau kalau kamu itu milik ku," ujar Inge cemberut.


"Lagian sayang kan, aku sudah capek-capek bawa pistol tapi tidak di gunakan, kamu sih sudah tadi menembak dua orang itu," ujar Inge sambil menunjuk kearah mereka.


Devan menelan Salivanya, mendengar Wira menyuruhnya saja untuk menikahi Angel sudah membuat Inge seperti itu, apa lagi Devan nantinya benar-benar menikah sama orang lain ya, bisa bener apa yang di katakan Oleh Dion, mungkin dia akan di mutilasi oleh Inge.


Tak lama kemudian sudah datang beberapa polisi yang segera memborgol mereka, ternyata pasukan Ninja itu sudah menghubungi mereka, dan mengerahkan pasukannya untuk pergi dari sana.


Devan hanya tersenyum ke arah Inge sambil menghampirinya dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Jangan kesal lagi, aku gak akan pernah melakukan itu," ujar Devan


"Aku percaya kok sama kamu, tapi aku gak percaya sama wanita-wanita diluaran sana yang bisa menahan pandangannya ke arah kamu,"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Like dan Coment yang banyak ya 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2